#DAY7 : Hembusan Angin yang Bikin Merinding

Cerita sebelumnya wajib dibaca di sini!

wind

UDARA malam saat aku mendekati Waduk Sei Ladi terasa begitu dingin. Angin bertiup kencang dan menggoyahkan motorku yang kupacu dengan kecepatan 80 km per jam.

Hembusan angin itu juga membuat berisik dahan-dahan pohon karena saling bersikutan. Badanku terasa merinding. Namun, merinding kali ini bukan karena ada unsur takut dari cerita serem Sei Ladi yang menghantui, tetapi lantaran hembusan angin malam yang memang menusuk kalbu.

Angin seperti ini memang lumrah di Batam, apalagi cuaca memang sedang mendung. Lalu lintas memang cukup sepi, hanya ada beberapa motor yang melintas searah denganku.

Ketika sampai di sisi Waduk Sei Ladi, aku dikagetkan dengan getaran hand phone yang aku simpan di saku celana samping kiri. Ponselku memang sengaja aku setting vibrant sejak di Musholah Tiban Kampung ,magrib tadi.

“Waduh, di tempat gelap begini kalau aku menepi dan mengangkat telepon pastilah berbahaya,”kataku membatin.

Aku pun membiarkan saja ponsel terus bergetar di sepanjang perjalanan. Sampai akhirnya aku sampai di depan Kampus Universitas Internasional Batam (UIB). Tepat di sisi kiri pintu keluar kampus ini ada sebuah halte bus. Cocok untukku berhenti dan menerima panggilan telepon. Di halte itu, ada beberapa mahasiswa yang berdiri dan sepertinya sedang menunggu jemputan.

Aku pun menepikan motor di sisi sebelah kanan halte, tepat di samping trotoar jalan. Posisi ini aku pilih agar kakiku yang pendek ini bisa aku jejakkan di atas trotoar yang posisinya lebih tinggi dari jalan. Dengan begitu, kakiku bisa agak santai menopang motor.

“Ah ternyata Mas Jaya yang telepon,”gumamku ketika melihat ke layar hand phone dan di sana tertera nama Mas Jaya.

“Ya Mas? Aku lagi di jalan mau ke kantor ni,”kataku tanpa mengucapkan salam maupun kata HALO, melainkan to the point saja. Gaya komunikasi seperti ini memang sudah sangat sering aku lakukan jika menerima panggilan telepon dari Mas Jaya. Sebab, aku sudah hafal apa yang akan dia tanyakan dan dia inginkan.

“Ria, posisi persis kamu dimana?”tanya Mas Jaya  dengan suara ketusnya.

“Ya Mas, persisnya saya di halte depan kampus UIB. Gemana Mas?”aku bertanya balik dan memastikan tidak ada perintah lanjutan sebelum aku sampai ke kantor.

“Ooo sip kalau begitu. Saya tunggu di kantor. Oh iya, itu Kapolsek Sekupang tadi sudah dihubungi oleh Denny untuk kasus Mele yang hilang, jadi kamu tidak usah telepon lagi. Segera saja menuju kantor ya!”kata Mas Jaya nerocos. Walaupun nerocos, setidaknya dia sudah mengabarkan kabar baik dan meringankan beban kerjaku malam ini.

Setelah beres menerima panggilan telepon dari Mas Jaya, aku langsung memacu motorku lagi dan menuju ke kantor yang berlokasi di Batuampar. Kalau dari Sei Ladi, jaraknya sekitar 15 menit dengan kecepatan normal, 60 km per jam.

Di sepanjang jalan, di atas motor, aku terus memikirkan nasib Mele. Pikirannya memang tidak bisa dilepaskan dari dua kasus pembunuhan wanita muda yang sebelumnya terjadi. Aku sangat takut jika nantinya mendengar kabar Mele ternyata bernasib sama seperti Sari dan Cinta.

“CIIIIIIITTTTT BRAAAAKKKKK,”tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras mengagetkan pikiranku.

Ah ternyata suara keras rem dan dentuman seperti benda jatuh itu berasal dari truk kontainer yang melaju cukup kencang, kemudian harus mengerem mendadak karena terhalang dengan lampu merah yang menyala di Simpang Jam.

BERSAMBUNG…

Advertisements

One thought on “#DAY7 : Hembusan Angin yang Bikin Merinding

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s