#DAY3 : Melintasi Jembatan Sei Ladi yang Angker

Cerita sebelumnya wajib dibaca di sini!
Dam-sei-ladi1
Foto diambil dari metrobatam.com
JARAK rumahku di Bengkong dengan tempat tinggal Mele di Tiban Kampung memang tidak dekat. Setidaknya aku harus melewati tiga simpang lampu merah, dimana jarak antar masing-masing simpang cukup jauh.
Aku juga harus melewati simpang utama yang ada di tengah-tengah Kota Batam yang disebut Simpang Jam. Selepas itu, aku harus melewati satu jembatan panjang yang membentang di atas waduk besar yang selama ini menjadi sumber air besih warga Batam yakni Waduk Sei Ladi. Jembatan Sei Ladi ini terkenal paling angker.
Selama ini, sering ditemukan mayat dibuang di sekitaran area Dam Sei Ladi. Selain itu, entah sudah berapa banyak orang tenggelam di dam ini. Tidak mengherankan memang, banyak cerita serem-serem dari para pengguna jalan di jembatan ini. Ceritanya, ada yang pernah bertemu dengan hantu anak-anak, ada pula yang pernah bertemu hantu perempuan.
Aku sendiri memang kerap merinding kalau melewati jembatan ini, apalagi kalau lewatnya pas magrib dan malam.
Sesudah melewati Jembatan Sei Ladi, aku juga harus melalui satu hutan yang memang tidak begitu luas tapi lumayan lebat dan sunyi. Namanya Hutan Sei Ladi, sesuai dengan nama waduknya, lantaran hutan ini memang mengintari waduk.
Setelah mengendarai motor sekitar 10 menit,  aku sampai di Simpang Jam. Aku harus berhenti karena lampu di jalurku sedang merah. Aku lihat jam di tanganku, sudah pukul 17.10 WIB. Meski sedang ingin buru-buru supaya tidak kemalaman cari alamat Mele, di atas motor yang aku topang pakai kaki kiriku, aku masih sempat memikirkan Simpang Jam yang kini sudah kehilangan ciri khasnya.
Dulu, Simpang ini memiliki satu tugu jam besar yang diletakkan di salah satu sisi persimpangan. Jamnya berfungsi dengan baik dan selalu aku jadikan acuan jika berhenti di simpang ini. Aku tidak perlu menggulung sedikit jaketku hanya untuk melihat jam karena sudah ada di depan mata.
Karena ada tugu jam besarnya, maka simpang ini dinakamakan Simpang Jam. Namun sudah sejak beberapa tahun lalu, desain simpang ini diubah. Tuguhnya dibuang dan tentu saja bersama dengan jamnya sekalian. Sekarang yang ada hanya taman-taman di penggiran simpang dan lalu lintas kendaraan yang tidak pernah sepi.
“Tiiiiiiinnnnnnn, woi jalan!” Klakson keras dan teriakan seorang pria terdengar keras sekali dari belakangku. Oh, ternyata sudah lampu hijau dan aku tidak menyadarinya.
Tidak mau mendengar klakson yang lebih keras dan teriakan orang yang lebih banyak lagi, aku langsung memacu motorku.
Cuaca sore itu tidak begitu cerah. Awan hitam tampak bergelayutan di langit. Aku berdoa dengan teramat sangat di dalam hatiku agar tidak turun hujan sebelum aku temukan alamat rumah Mele.
Mengapa aku berdoa dengan teramat sangat? Karena di Batam ini cuaca sangat susah diprediksi. Bahkan, beda blok rumah sudah beda cuaca. Satu blok bisa diguyur hujan lebat, tapi begitu keluar dari blok itu, ternyata cuaca panas tanpa bekas hujan sedikitpun. Bahkan di Simpang Jam sekalipun, aku pernah alami satu sisi jalan sebelah sini hujan, sedangkan di sisi jalan depan sana panas.
Ah, dengan ngelanturnya pikiranku tentang cuaca di Batam, aku sampai juga di perkampungan Tiban Kampung. Ini adalah perkampungan kavling, bukan perumahan yang dibangun developer. Sehingga, rumah-rumah di sini tidak tertata rapih. Jalannya pun masih tanah alias belum diaspal.
Cari blok dan nomor rumah di sini memang agak lebih susah ketimbang perumahan. Lebih parahnya lagi, aku tidak tahu blok dan nomor rumah Mele karena yang ada di selebaran hanyalah Tiban Kampung.
Sementara ayah Mele yang aku telepon sebelum berangkat tadi tidak menyebutkan alamatnya karena keburu menutup telepon. Bekal yang kupunya hanyalah nama Mele dan ayahnya, Yonis.
Karena hari sudah sore, aku tidak ingin membuang-buang waktu. Jika situasi sudah begini, aku selalu mengandalkan feeling dan ilmu bertanya.  Tepat di persimpangan pertama dari gerbang masuk Tiban Kampung, aku berhenti di sebuah warung yang menjual kebutuhan harian. Tujuanku pastilah bertanya alamat Mele.
Agar bertanyanya enak, aku beli permen di warung ini. Lagian aku memang butuh permen sebagai teman di dalam tugasku ini.
“Buk ada permen?”tanyaku kepada seorang wanita paruh baya yang kebetulan duduk di bangku kayu di depan warung itu.
” Ada dek, ambillah sendiri di toples itu,”jawabnya seraya memberitahu harganya 6 biji seribu rupiah.
Setelah mengambil permen rasa mint, sambil memberikan uang seribu perak ke si ibu, aku bertanya lebih lanjut.
“Buk maaf mau tanya ni. Ibuk tahu alamat Pak Yonis? Anaknya perempuan. Namanya Mele. Dia sekolah SMA. Katanya tinggal di Tiban Kampung ini.”
Kening si ibuk langsung berkerut dan menunjukkan ekspresi sedang mengingat-ingat.
“Ooo Pak Yonis, iya iya, saya tahu. Dulu tinggal dekat blok ini. Dulu dia menyewa di sini, tapi sekarang sudah pindah ke dalam sana, di rumahnya sendiri,” jawabnya sambil bangkit dari tempat duduknya.
“Kenapa dek? Adek siapanya?” Tanyanya penasaran.
“Gak ada apa-apa Buk, cuma pengin main saja. Ibuk tahu alamat pasti rumahnya sekarang?” Jawabku sambil bertanya lebih detail.
BERSAMBUNG…
Advertisements

5 thoughts on “#DAY3 : Melintasi Jembatan Sei Ladi yang Angker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s