#DAY4 : Air Mata Pertama untuk Mele

Cerita sebelumnya wajib dibaca di sini!
crying
Ilustrasi diambil dari Pinterest
KENING ibu penjaga warung yang daritadi aku tanya tentang tempat tinggal Pak Yonis tampak berkerut. Dia coba-coba mengingat alamat pasti ayah Mele tersebut.
Setelah beberapa saat sempat diam karena berpikir, dia pun buka suara, “Aduh dek, saya gak tahu alamat pasti nya. Tapi arahnya itu dari jalan sini lurus aja, sampai ke simpang yang ketiga, belok kanan dan lurus lagi. Nanti ada ada jalan menanjak kemudian belok kanan lagi. Di situ ada pos kamling, coba tanya aja di sana ya!”
“Berarti masih jauh ya Buk?”tanyaku lagi agak ragu.
“Lumayan, kira-kira satu kilolah,” jawabnya sambil menunjuk jalan lurus yang arahnya membelakangi warungnya.
Well… Perjuanganku mencari rumah Mele masih lumayan panjang. Setelah mengucapkan terimakasih, aku pamitan dengan si ibuk warung. Aku langsung starter motor dan melaju pelan.
Di kampung ini tidak bisa naik motor ngebut karena jalanan masih tanah. Apalagi siang tadi baru diguyur hujan, jalannya menjadi super licin. Beberapa kali ban motorku pun terselip dan hampir jatuh terpeleset.
Suasana di kampung ini agak sepi, karena hari memang sudah akan magrib. Deretan rumah di kanan dan kiri jalan yang tampak tidak rapih tersusun, pintunya hampir tertutup semua. Orang-orangpun sudah jarang yang berada di luar rumah.
“Wah pasti kemalaman ni aku. Semoga rumahnya ketemu,” gumamku sambil tetap memacu motor secepat yang aku bisa.
Azan magrib berkumandang, saat motorku sampai ke pos kamling yang dimaksud si ibuk warung. Suara azan itu begitu keras kudengar. Itu berarti, suaranya berasal dari masjid atau musholah yang pasti tidak jauh dari pos ini.
Aku pun melihat sekeliling, siapa tahu ada orang jalan yang bisa aku tanya. Ah, beruntungnya aku. Aku melihat seorang lelaki muda yang sedang naik motor, memakai baju koko, sarung, dan peci hitam.
“Kayaknya ini cowok mau ke musholah atau masjid. Aku ikuti ah,” kataku dalam hati.
Aku memutuskan untuk mengikuti pria muda itu sekaligus menemukan masjid atau musholah. Aku juga ingin sholat magrib di musholah. Siapa tahu di sana aku bisa sekaligus mendapatkan petunjuk tentang rumah Mele.
Setelah lima menit mengikuti motor pria tadi, seperti dugaanku, dia pun sampai di musholah. Aku pun langsung memakirkan motorku di areal depan musholah. Tidak jauh dari parkiran motor, terdapat papan bertuliskan “Di sini sedang dibangun Musholah Al-Mu’min“. Bangunan tempat sholat ini tidak begitu besar, sekitar 30×30 meter. Beberapa bagian juga tampak belum rampung. Bahan-bahan bangunan masih berserak di bagian depan, samping, dan belakang musholah. Sebagian dinding luar musholah sudah mulai dicat dengan warna hijau.
Aku langsung mencari tempat wudhu wanita. Sementara dari dalam musholah terdengar suara komat, tanda sholat berjamaah akan segera dimulai. Beberapa shaf barisan laki-laki dan perempuan sudah mulah terbentuk rapih.
Meskipun bangunan ini belum rampung, tapi sudah difungsikan secara maksimal. Jemaah sholat magribnya pun lumayan, lebih dari setengah ruangan terisi. Di sini tersedia beberapa mukenah yang bisa dipakai jemaah seperti saya yang tidak membawa perlengkapan sholat. Dengan khusuk aku sholat berjemaah bersama yang lain.
Setelah sholat usai, diikuti dengan zikir dan doa. Tak kusangka, selepas itu, suara pengumuman terdengar dari barisan depan yang disampaikan oleh seorang laki-laki. Dia memakai pengeras suara agar terdengar sampai belakang dan terdengar pula dari luar musholah. Yang tak kusangka lagi, isi pengumuman itu ternyata tentang seorang anak dari warga mereka yang hilang yakni Mele.
“Bapak-bapak dan ibu-ibu warga Tiban Kampung, anak kita Mele belum ditemukan sampai sekarang. Keluarga Pak Yonis dan beberapa warga sudah sejak sore tadi menyebar selebaran berita kehilangan. Selebaran sudah disebar ke banyak tempat. Sudah juga di-posting ke media sosial dan sudah ramai menyebar keman-mana. Pak Yonis juga sudah melapor ke Polsek Sekupang. Mari kita berdoa dan terus membantu mencari Anak kita, Mele,” begitu isi penguman yang disampaikan.
Pengumuman itu memang memecah kegaduhan di dalam musholah. Masing-masing orang jadi riuh ikut membicarakan hilangnya Mele.
Masih duduk bersila dan dalam balutan mukenah, aku pun bertanya kepada seorang jemaah  wanita yang masih muda, lebih mudah dariku dan duduk di sampingku.
“Mbak, maaf, mbak tahu dimana rumah Mele?”
Bukannya menjawab pertanyaanku, dia justru balik bertanya,”lah kakak darimana, kok gak tahu rumah Mele?”
“Aku bukan orang sini. Aku wartawan dari Media X-File. Aku mau ketemu dengan keluarga Mele,” kataku menjawab.
“Ooo wartawan!” Serunya sambil mengangguk.
Si gadis muda itu tidak langsung menjawab pertanyaanku. Di justru mencolek wanita tengah baya yang ada si sampingnya.
“Mama… Ini ada kakak wartawan tanya rumah Mele,” katanya kepada perempuan di sebelahnya yang ternyata adalah ibunya.
“Ooo kamu wartawan? Rumah Mele tidak jauh dari sini. Ibu dan adiknya biasanya sholat magrib di sini, tapi hari ini tidak tampak. Mungkin sholat di rumah karena sedang sedih,”kata wanita tengah baya yang punya paras ayu itu.
“Kalau ayahnya ada gak buk di musholah ini?”tanyaku lagi.
“Ayahnya pun tak tampak sholat Magrib di sini hari ini. Mungkin masih di kantor polisi atau sedang cari Mele,”jawabnya dengan raut wajah yang sedih.
Dia melanjutkan,”Tadi sebelum magrib, kami dengar kabar motor Mele sudah ditemukan, tapi Melenya belum. Gemana cerita motor ditemukan, kami tidak paham.”
Dalam perbincangan kami yang singkat itu, dia juga memberitahukan arah dan ciri-ciri rumah Mele.
“Ternyata cerita hilangnya Mele sudah seperti ini di lapangan. Sepeda motor ditemukan tapi orangnya tidak. Sungguh menarik,”aku membatin.
Berbekal cerita wanita di musholah itu, yang namanya sempat kutanyakan adalah Rosmini, aku menghubungi Mas Jaya untuk melaporkan segala temuan informasi baru dan perkembangan kasus hilangnya Mele dari lapangan. Laporan ini sangat penting supaya beritanya bisa ditayangkan langsung dan running di portal x-file.com.
X-File adalah media massa yang besar di Batam. Dia tidak hanya menerbitkan koran setiap harinya, tetapi juga sudah merajai berita-berita online di sini. Sehingga, tuntutan agar informasi cepat disampaikan ke redaksi adalah sesuatu yang mutlak karena portal memerlukan informasi setiap detiknya.
Selepas melaporkan perkembangan terkini kasus Mele, aku kembali memacu motorku mencari alamat Mele sesuai dengan arahan Ibu Rosmini. Benar, aku menemukan rumah Mele tidak jauh dari musholah. Rumahnya berada di sudut atau hook. Ukurannya lumayan besar dan dicat warna oranye, dengan kombinasi putih pada bagian jendela, pintu, dan kusennya.
Ada pagar hitam berdesain minimalis yang membatasi rumah itu dengan jalan kampung. Dari balik pagar aku melihat seorang pria agak tua sedang duduk di kursi teras. Pandangannya tampak jauh menerawang ke langit. Ada sebatang rokok di tangannya. Sekali aku lihat dia menghisap rokok itu dengan menarik panjang ke dalam, kemudian menahannya sejenak, lalu melepaskan asapnya perlahan-lahan ke udara.
“Assalamualaikum…Pak,”kataku dari balik pagar dengan nada agak keras karena takut pria itu tidak dengar. Ternyata salamku tadi memecah lamunannya yang khusuk.
Agak tergagap dia pun menjawab,”Walaikumsalam, siapa ya?”
Pria itu langsung meletakan batang rokoknya di asbak yang ada di atas meja. Dia berjalan menuju pagar di mana saya berdiri.
“Siapa ya?” tanyanya mengulang sambil membuka gerendel kunci pagar. Sekarang dia berada di depanku tanpa penghalang.
Aku pun mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. Begitu juga dirinya. Namanya adalah Sadri. Dia merupakan abang dari ayah Mele atau bisa disebut paman atau om.
Setelah berbasa-basi soal nama, aku menjelaskan kepadanya maskud kedatanganku.
“Ooo adek dari Media X-File ya? Ayo masuk kita ngobrol di teras,”ajaknya.
Sambil berjalan, aku melihat sebuah taman rumah yang mungil ada di depan dan samping teras. Walau mungil, tamannya tertata rapih. Ada rumput-rumput hijau dan bunga-bunga, namun didominasi oleh bunga mawar. Ada satu pohon besar di depan teras yang menjadi salah satu penanda rumah ini yakni pohon jambu air yang kebetulan sedang beruah lebat.
Ada dua kursi di teras ini. Keduanya terbuat dari besi warna hitam selaras dengan warna pagarnya. Kursi itu dipadu dengan busa berkain baldu berwarna merah marun dengan motif bunga pakis. Ada sebuah meja kecil bulat yang juga terbuat dari besi yang memisahkan tempat dudukku dengan kursi Om Sadri. Aku sengaja langsung memanggilnya Om Sadri agar terasa lebih akrab.
“Om, ada kabar terbaru tentang Mele?”tanyaku setelah kami berdua saling  bercerita sedikit soal pekerjaan dan hujan deras yang mengguyur Batam siang tadi yang menyebabkan jalan di Tiban Kampung ini menjadi licin.
“Belum ada. Tadi ayahnya menelepon dari kantor polisi kalau motor Mele sudah ditemukan sebelum magrib tadi. Tapi sayangnya Mele belum diketahui keberadaannya,”jawab Om Sadri dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ibunya sudah menangis terus sejak sore tadi. Apalagi saat tahu motornya ditemukan tapi Melenya tidak ada,”sambungnya lagi dengan air mata yang sudah di pelupuk mata.
BERSAMBUNG . . .
Advertisements

2 thoughts on “#DAY4 : Air Mata Pertama untuk Mele

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s