#DAY6 : Berkaca dari Pembunuhan Wanita Muda

Cerita sebelumnya wajib dibaca di sini!

mysterious murder
Sketsa diolah dari NEWSMEN.

DARI teras tempat aku dan Om Sadri duduk, kudengar suara isak tangis yang begitu lirih dan menyayat hati. Di sela isak tangis itu, sesekali terdengar suara memanggil-manggil nama, “Mele… Mele anakku, dimana kamu sayang….”.

Suara lirih itu bisa aku dengar jelas karena pintu depan yang ada di samping kursi teras tempat kami duduk terbuka separuh. Lalu lintas udara dari dalam rumah dan sebaliknya membawa suara lirih itu. Aku pun terbawa sedih mendengar rintihan dan tangisan ibu Mele itu.
Dengan suara pelan dan nyaris berbisik, aku sampaikan keinginanku kepada Om Sadri untuk bertemu langsung ibu Mele yang bernama Tati. Aku tahu nama tersebut setelah sebelumnya menanyakannya kepada Om Sadri tentang identitas ibu dan adik-adik Mele. Mele adalah anak sulung dari tempat bersaudara. Dia punya dua adik perempuan yang duduk di bangku SMP kelas dua dan di bangku SD kelas 5. Dia juga memiliki  satu adik laki-laki yang masih berumur empat tahun.
“Om, boleh saya melihat keadaan ibunda Mele di dalam,” kataku kepada Om Sadri.
Mendengar permintaanku itu, dia terdiam. Aku tahu, dia pasti mempertimbangkan baik dan buruknya. Sambil berpikir untuk memberi jawaban iya dan tidak, dia masih sempat menghisap rokoknya dengan sekali tarikan yang tidak begitu panjang, lalu menghengbuskan asapnya perlahan ke udara.
“Kayaknya untuk sekarang lebih baik tidak dek. Emosinya tidak stabil,” kata Om Sadri penuh pertimbangan.
“Siapa yang menemani Tante Tati di dalam Om?” tanyaku memastikan.
Om Sadri menjelaskan bahwa ibu Mele ditemani oleh tiga adik Mele dan Tante Rina, istri Om Sadri sendiri.
“Kondisi ini memang sangat mengkhawatirkan. Semua keluarga takut kejadian buruk menimpah Mele. Apalagi sekarang kejahatan di Batam merajalela,” kata Om Sadri penuh kecemasan.
Aku sangat memahami apa yang dirasakan keluarga ini. Aku juga sangat paham dengan kekhawatiran akan keselamatan Mele. Aku tahu, saat ini Batam memang sedang mencekam karena aksi begal dimana-mana. Penemuan mayat korban pembunuhan juga menjadi sangat sering terjadi. Bahkan yang paling menggemparkan adalah dua kasus pembunuhan wanita muda yang terjadi pada Juli dan Augustus lalu.
Pada Juli lalu, seorang wanita muda bernama Sari asal Palembang ditemukan tak bernyawa di semak-semak tidak jauh dari jalan raya, Bukit Harimau, Sekupang. Kondisinya sungguh mengenaskan karena ada dua luka tusukan di lehernya. Tidak jauh dari mayat tersebut, juga ditemukan sepeda motor milik korban.
Satu bulan berikutnya, mayat seorang wanita muda kembali ditemukan di parit di bawah bukit di daerah Baloi. Nama wanita muda itu adalah Cinta. Kondisi mayat juga hampir sama yakni luka benda tajam di bagian leher. Sepeda motor wanita ini juga ditemukan di tempat lain.
Kedua kasus tersebut belum diketahui siapa pelakunya. Dan hari ini, seorang remaja wanita, Mele, menghilang tanpa jejak sementara sepeda motornya sudah ditemukan.
Tak terasa, obrolanku dengan Om Sadri sudah berlangsung hampir dua jam. Jam di tanganku pun sudah menunjukkan hampir pukul sembilan.  “Sudah lumayan malam juga ternyata,” aku membatin. Aku merasa, saat ini tidak ada lagi yang bisa aku lakukan di rumah ini karena semua orang sedang menunggu kabar.
Aku harus beranjak dari sini dan harus menyelesaikan pekerjaanku merangkai semua informasi hingga menjadi berita. Aku juga harus menelepon Kapolsek Sekupang untuk meminta keterangannya agar tulisanku lebih kuat.
Aku pun berniat pamit kepada Om Sadri. Sebelum aku pamitan, kami sempat bertukar nomor telepon dan aku memintanya untuk menghungiku jika ada perkembangan informasi. Aku pun mohon agar dia nantinya sudi menerima panggilan telepon dariku untuk menanyakan kabar terbaru tentang Mele.
“Om, karena sudah malam, saya permisi pamit dulu ya. Saya sebenarnya sangat ingin bertemu dengan Tante Tati dan ingin memberikan dukungan untuknya,” kataku pada Om Sadri sebagai penutup pembicaraan sekaligus berharap agar diizinkan melihat kondisi ibu Mele.
“Iyalah dek, sudah malam. Hati-hati di jalan karena sekarang sedang rawan kejahatan,” jawab Om Sadri tanpa ada menyinggung permintaanku untuk bisa bertemu Tante Tati.
Sambil beranjak pelan dari kursi dan melangkah sangat perlahan arah ke pagar, aku masih menyempatkan diri melihat ke dalam rumah dari balik pintu depan yang terbuka separuh. Dari longokanku ke balik pintu, aku melihat ruang tamu. Di sana ada sofa kulit warna krim yang berukuran cukup besar. Di atas sofa itu, aku sempat melihat seorang wanita berkerudung coklat sedang dipeluk oleh seorang wanita lainnya yang berkerudung merah marun. Aku menduga, wanita yang sedang dipeluk itu adalah ibu Mele. Sementara wanita yang memeluknya ada istri Om Sadri. Di sebelah wanita yang dipeluk itu ada seorang remaja putri yang tampak menangis.
“Hati-hati ya dek. Jalanan licin dan sepi,” kata Om Sadri mengulang peringatannya untukku. Di mengikuti langkahku menuju pintu pagar yang sedaritadi tidak ditutup.
Aku mengucapkan terimakasih atas perhatiannya itu dan atas sikap terbukanya karena sudah menerimaku.
Aku memutar motorku menuju jalan pulang. Malam itu memang suasana lumayan sepi. Rumah-rumah warga Tiban Kampung sudah banyak yang tutup. Namun, masih ada sejumlah warga yang duduk-duduk di warung, musholah, dan pos kamling. Keberadaan mereka sungguh menenteramkan hatiku yang mengendarai motor seorang diri.
Lebih tentram lagi karena sepanjang jalan di kampung ini memiliki penerangan yang cukup. Sepertinya warga swadaya membuat lampu penerangan jalan di depan rumah mereka masing-masing. Aku menduga swadaya karena tiang lampu yang dipasang adalah tiang lampu jalan berukuran kecil dan tidak begitu tinggi.
Malam-malam begini, aku harus balik ke kantorku karena ada hal penting soal kasus Mele yang harus aku diskusikan dengan Mas Jaya. Di malam bagini, aku juga harus melintasi waduk Sei Ladi karena tidak ada jalan lain untuk sampai ke kantor selain melewati waduk satu ini.
Satu hal yang membuatku agak tenang saat melewati Sei Ladi malam ini adalah bahwa aku tidak harus melintasi jembatannya yang terkenal angker itu. Melainkan aku melewati sisi pinggiran lain dari waduk Sei Ladi yang tidak ada jembatannya di sana.
BERSAMBUNG…
Advertisements

One thought on “#DAY6 : Berkaca dari Pembunuhan Wanita Muda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s