Tetap Survive Walau Mengindap HIV/AIDS

Tetap Survive Meski Mengidap HIV/AIDS
Alrojak Pilih Jadi Aktivis

KAGET, bingung, dan stres kerap mendera seseorang yang baru mengetahui dirinya positif terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Bahkan tidak sedikit yang ingin mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
Begitu juga yang dirasakan Alrojak. Pria kelahiran 20 Januari 1954 itu, begitu putus asah ketika 14 tahun lalu diberitahu seorang dokter bahwa dirinya positif terinfeksi virus yang sampai sekarang belum adalah obat penyembuhnya.
“Rasanya tidak karu-karuan,”katanya singkat mengenang masa lalunya yang tidak secerah saat ini. Kepada Tribun, lelaki mengaku cukup lama berada dalam lembah keputusasaan. Untungnya, sebelum divonis, ia telah mengetahui seluk beluk tentang penyakit HIV/AIDS.
“Sebelum saya memeriksakan diri, saya sudah sering ikut aktivitas penanggulangan HIV/AIDS. Sehingga saya tahu bagaimana mengatasinya. Walaupun begitu, perasaan kaget dan putus asa pernah menimpa saya,”ujar Rojak seraya mengaku, sejujurnya ia tidak tahu secara pasti kapan terjangkiti virus HIV.
Namun, kata dokter yang pernah memeriksanya, virus itu sudah bersarang ditubuhnya sejak 14 tahun lalu. “Saya periksa ke dokternya baru dua tahun lalu,”akunya. Bagaimana pria bertinggi 162 cm itu bisa terjangkit? Ia tidak ingin memaparkan secara ditail. Kemungkinan tertularnya dikarenakan pola pergaulan masa lalunya.
Rojak, yang sudah lama tidak lagi didampingi istri dan anaknya, memiliki ketegaran yang luar biasa. Semangat hidupnya tetap tinggi. Baginya, HIV/AIDS bukanlah suatu halangan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan, penyakit itu ia jadikan motivator hidup untuk lebih giat bekerja.
Setelah mengetahui dirinya menjadi salah satu pengidap HIV/AIDS, semakin memantanpkan Rojak untuk menjadi aktivis memerangi penyebarluasan virus tersebut. Melalui organisasi Gaya Batam, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) HIV/AIDS khusus untuk gay, waria, dan lesbi, secara aktif ia ikut melakukan pencerahan kepada masyarakat agar mengetahui secara jelas apa dan bagaimana HIV/AIDS itu.
Dengan demikian, pencegahan bisa dilakukan setiap individu karena virus itu bisa menyerang siapa saja mulai dari janin dalam kandungan, bayi, balita, remaja, sampai yang sudah uzur. “Bagaimana biar tidak tertular, ya hindarilah berhubungan seks bebas, setialah hanya kepada satu pasangan yang sehat, dan hindari narkoba terutama yang menggunakan jarum suntik,”jelas Rojak.
Dari ratusan ODHA (orang dengan HIV/AIDS) yang ada di Batam, Rojak salah satu yang sangat terbuka kepada masyarakat. Ia tidak merasa malu atau rendah diri dengan kondisinya. Keterbukaannya sebagai satu jawaban untuk menyadarkan masyarakat bahwa ODHA bisa hidup sehat dan berguna sebagaimana orang-orang yang masih dalam kondisi sehat. Meskipun diperkirakan sudah 14 tahun virus HIV hidup di tubuhnya, Rojak tetap terlihat sehat dan bisa bekerja. “Kalau pun sakit, hanya flu dan pusing-pusing karena kecapaian,” ujar pria yang kini menjabat sebagai Manager Kasus di Gaya Batam itu semangat.
Rojak menyadari, penderita HIV/AIDS memang tidak semuanya bisa sesehat dirinya. Tidak sedikit rekannya meregang nyawa karena terlambat ditangani. Dari data Gaya Batam, dalam setahun ini terdapat tiga orang waria yang meninggal karena HIV/AIDS. Sementara sembilan orang masih dalam perawatan dan delapan orang memilih untuk pulang ke kampung halaman. Diatara pengidap HIV/AIDS yang ditangani Gaya Batam, mayoritas adalah waria. Sementara kaum gay-nya tiga orang yang positif. “Kalau gay rata-rata berpendidikan dan sadar akan bahaya HIV/AIDS. Dan mereka selalu memeriksakan diri. Tapi kalau waria, karena tuntutan kebutuhan ekonomi yang penting mereka mendapatkan duit sehingga kadang-kadang tidak peduli kesehatan. Tahu-tahu mereka sudah dalam kondisi kronis,”papar Rojak.
HIV/AIDS bukanlah penyakit yang menakutkan seperti yang dibanyangkan banyak orang selama ini. ODHA masih bisa bekerja seperti biasa dalam waktu yang lama, seperti yang dialami Rozak. Dengan mengkonsumsi ARV (Anti Retriviral), obat yang menghambat perkembangbiakan virus HIV dalam tubuh, seorang ODHA bisa bertahan hidup layaknya orang sehat.
Selama dua tahun mengkonsumsi ARV, CD4 (ketahanan tubuh)nya yang sebelumnya sangat rendah hanya 40 (manusia normal 1200), kini telah bertambah menjadi 200. Rojak bertekad menyadarkan masyarakat bahwa ODHA bukanlah orang yang menakutkan. Banyak keuntungan yang ia dapat dengan membuka diri. Undangan menjadi nara sumber berbagai media dan pertemuan di seluruh Indonesia acap kali singgah ke dirinya.
Ia yang tidak pernah bermimpi bisa keliling Indonesia, akhirnya bisa menjelajah. “Sejak tahu saya HIV positif, saya semakin giat dan lebih memaknai hidup. Saya berjanji pada diri saya sendiri, saya tidak akan menularkan virus ini kepada orang lain,”tekad Rozak (sri murni)

Yang Beri Kena AIDS Juga Tidak…
* Bagikan 3.000 Pita
* Peringatan Hari Aids se-Dunia

RAUT wajah Roma (bukan nama sebenarnya) langsung bete ketika seorang petugas polisi yang diberinya pita merah, sebagai tanda kepedulian terhadap HIV/AIDS, menanyakan,”Yang beri kena AIDS juga tak?”.
Mendengar pertanyaan itu, Roma mengetahui dirinya berstatus HIV positif langsung terdiam. Melihat rekannya merasa sedikit shok, seorang rekan Roma yang berdiri di sampingnya buru-buru menjawab “Ya nggaklah Pak.” Ia pun langsung memasangkan pita merah kepada petugas di persimpangan lampu merah Lippo Bank, Nagoya itu.
“Dia mau gak ya terima pita merah ini kalau saya bilang saya kena HIV?”tanya Roma kepada rekan wanitanya.
Apa yang dilakukan oknum petugas itu, bagi Roma merupakan bentuk diskriminasi yang kerap dilakukan warga kepada para ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Padahal, ungkap Roma pada Tribun yang menemuinya di lampu merah Lippo Bank Nagoya, Jumat (1/12), jika ia terima pita merah dari seorang ODHA apakah lantas ia akan tertular HIV juga.
“Perlakuan seperti itu memang sudah biasa. Ternyata sampai sekarang masih banyak orang yang menganggap ODHA tidak layak hidup bersama masyarakat,”ujar Roma lagi.
Apa yang dilakukan Roma dan kawan-kawan aktivis HIV/AIDS kemarin, merupakan bentuk peringatan Hari AIDS se-Dunia yang jatuh setiap tanggal 1 Desember. Di Batam, perayaan hari AIDS tersebut dilakukan dengan membagi-bagikan pita merah dan brosur yang berisikan tentang HIV/AIDS.
Pembagian pita merah dan brosur dilakukan oleh dua LSM yakni Batam Plus, sebuah organisasi kelompok dukungan sebaya, dan LSM Yayasan Pembinaan Asuhan Bunda (YPAB). Para aktivis tidak sekedar membagikan pita, tapi sekaligus menyematkannya kepada masyarakat yang kebetulang melintas di persimpangan lampu merah Lippo Bank, Simpang Jam, dan pusat perbelanjaan Nagoya Hill Mall.
Sebanyak 3000 pita dan ribuan brosur dibagikan kepada masyarakat. Jika masyarakat di negara lain membagikan pita berwarna merah, tapi khusus di Indonesia, pita tidaklah berwarna merah melainkan merah putih. “Warna pita merah putih memang khusus di Indonesia. Maknanya sama dengan pita merah di negara-negara lain yakni sebagai wujud kepedulian terhadap HIV/AIDS). (nix)

Anakku Juga Positif HIV

TAK pernah terlintas dalam benak Hilton (bukan nama sebenarny) memiliki buah hati yang juga positif terinveksi HIV. Virus yang menurunkan kekebalan tubuh ini bersarang pada Paris, panggil saja demikian, ternyata sudah bersarang di tubuh putra semata wayang Hilton sejak bayi. Hanya saja, ia baru mengetahui anak kesayangannya itu terjangkit ketika berumur dua tahun.
Meskipun Paris yang kini berusia tiga tahun positif terinveksi, tetapi tidak lantas membuatnya lemah. Seperti anak-anak seusianya, Paris tetap bermain bersama rekan-rekannya tanpa ada diskriminasi.
Hanya saja, menurut penuturan Hilton, buah hatinya itu tidak bisa terlalu lelah dan terkena hujan. HIV yang telah hidup dalam tubuhnya tidak jarang membuat Paris cepat terserang batuk dan pilek.
“Anak-anak tetangga tidak pernah mengolok-olok dia. Dia tetap diajak bermain. Para orang tua tetangga saya pun sayang dengan Paris dan mau menggendongnya,”aku Hilton yang tinggal di kawasan Batam Centre.
Perlakuan para tetangga terhadap Paris membuat hati Hilton gembira. Perjuangannya melawan diskriminasi yang pernah ia rasakan ketika pertama kali mengetahuinya terjangkit HIV ternyata tidak sia-sia.
Hilton yang kini beru berusia 22 tahun menceritakan, ketika tetangga mengetahui penyakit yang dideritanya adalah HIV, diskriminasi memang sempat terjadi. “Aku gak boleh dekat-dekat dengan anak-anak mereka. Kalau aku mau menggendong salah satu anak disana, ibunya pasti bilang jangan karena anggapan mereka penyakitku bisa menular ke anak itu. Apalagi kalau sudah melihat bagian tubuhku ada yang luka, mereka pasti menjauh,” kenang wanita bertubuh mungil yang mengetahui positif HIV awal 2004 lalu, dengan santai.
Bahkan tetangga-tetangga juga pernah menyuruh suami dan keluarganya memulangkan Hiton ke kampung karena dianggap mereka penyakit HIV tidak akan bisa sembuh.
“Aku terinveksi virus HIV dari suami. Pertama kali mengetahui positif HIV pada awal 2004. Ketika itu, aku sering sakit-sakitan batuk dan mencret yang tidak kunjung sembuh. Juga mengindap mag yang biasanya rasa nyeri hilang ketika minum obat, tapi saat itu aku heran kok tidak sembuh-sembuh padahal sudah minum banyak obat. Dan biasanya tiga jenis penyakitku itu bisa sembu setelah diobati dokter dengan resep. Bahkan saking badannya lemah, aku terpaksa diobname di rumah sakit,”kenang Hilton.
“Waktu itu, suamiku tidak cerita apa-apa tentang penyakitnya. Sebelum aku sakit, dia sudah sakit-sakitan lebih dulu. Dia juga sudah berobat ke Jakarta. Sepulangnya darisana pun dia gak pernah cerita tentang penyakitnya. Barulah ketika aku sakit parah, dan dia melihat mulutku sudah penu dengan jamur dan sekujur badanku tumbuh bisul-bisul benanah. Dan aku pun sudah tidak bisa ngapain-ngapain lagi termasuk bangun dari tempat tidur, dia baru beritahu aku kalau dia kena HIV positif. Waktu itu kondisiku memang sangat parah, sampai-sampai aku berpikir tidak akan bisa hidup lagi,”tuturnya lagi.
Kini penderitaan yang cukup parah itu bisa dilalui Hilton bersama suami dan anaknya. Setelah mengkonsumsi obat, berat badannya yang dahulu hanya 25 kg dengan jumlah CD4 9, kini sudah mulai meningkat.
Hilton yang memiliki tinggi sekitar 160 cm itu, sekarang telah memiliki berat badan 37 kg. Ia pun tidak lagi terbaring di tempat tidur, melainkan ikut menjadi aktivis di bidang HIV/AIDS dan membantu rekan-rekannya menumbuhkan semangat hidup.
Terjangkit HIV/AIDS bukanlah akhir dari segalanya. Dengan konsumsi obat teratur, pertumbuhan virus bisa ditekan dan hidup seperti masyarakat normal lainnya. (nix)

HIV/AIDS di Batam Terus Meningkat

DARI tahun 1994 hingga Juli 2004, jumlah pengidap HIV/AIDS di Batam terus meningkat. Ini terlihat dari meningkatnya kasus yang ditangani oleh Yayasan Pembinaan Asuhan Bunda (YPAB), sebuah lembaga konseling bagi penderita HIV/AIDS.
Data yang dikeluarkan oleh YPAB dari 1994 hingga Juli 2004 ini, menunjukan meningkatan yang signifikan. Pada 1994, pengidap HIV yang ditangani hanya 6 kasus. Namun, pada 2003, menjadi 16 kasus. Dan pertengahan 2004 ini, 11 orang posisif dinyatakan mengidap HIV.
Peningkatan jumlah penderita AIDS juga cukup besar. Dari 2 orang pada 1997, menjadi 22 orang pada 2003. Dan pertengahan 2004 ini, 14 orang yang dinyatakan positif menderita AIDS.
Selama 10 tahun menjadi konseling, 35 orang diantara penderita AIDS telah meninggal dunia. Menurut keterangan Dr M Yamin, seorang konseling, yang ditemui di kantor YPAB, Pelita, Batam, Selasa (3/8), kasus HIV/AIDS 83 persen disebabkan oleh kebiasaan berganti-ganti pasangan dalam melakukan hubungan intim. Sembilan persen lainnya, disebabkan hubungan sejenis atau homoseksual, lima persen disebabkan jarum suntik dan obat-obatan terlarang, sedangkan tiga persen lagi penularan dari ibu ke anak yang dikandungnya.
Bila dinasionalkan, selama 2003, jumlah kematian akibat HIV/AIDS di Batam termasuk yang tertinggi, disamping Jatim dan Bali. Diantara penderita AIDS, Yamin melanjutkan, pekerja seksual menduduki posisi teratas. Selain itu, jumlah pengidap HIV/AIDS lebih banyak laki-laki ketimbang perempuan.
Yamin memprediksikan jumlah pengidap HIV/AIDS di Batam akan terus meningkat, bila dilihat dari pola hidup dan pergaulan yang dijalani masyarakat. Dengan semakin maraknya industri seks dan semakin banyaknya kaum laki-laki yang doyan jajan, maka masyarakat akan rentan dengan HIV/AIDS.
“Kasihan anak dan istri setia menunggu suami pulan, namun suaminya suka jajan di luar. Akibatnya, tidak hanya suami yang rentan HIV/AIDS, tapi istri dan anak juga bisa terkena,” ungkap Yamin. (nix)

Ciri-ciri Orang yang Terjangkit HIV/AIDS

Fase pertama
Belum terlihat gejala apapun meskipun sudah positif terinveksi HIV melalui tes darah.
Fase kedua
Belum terlihat gejalan penyakit tetapi sudah bisa menularkan kepada orang lain. Berlansung sekitar 2-10 tahun setelah terinfeksi HIV.
Fase ketiga

Mulai muncul gejala-gejala awal penyakit antara lain keringat yang berlebihan pada waktu malam, diare terus menerus, pembengkakan kelenjar getah bening, flu yang tidak sembuh-sembuh, nafsu makan berkurang dan badan menjadi lemah, serta berat badan terus berkurang. Pada fase ketiga ini sistem kekebalan tubuh mulai berkurang tetapi belum pada tahap AIDS
Fase keempat
Sudah masuk pada fase AIDS dan kekebalan tubuh sangat berkurang. Mulai ada infeksi oportunistik yaitu kanker, khususnya sariawan, kanker kulit atau sarcoma kaposi, infeksi paru-paru yang menyebabkan radang paru-paru dan kesulitan bernafas, infeksi usus yang menyebabkan diare parah berminggu-minggu, dan infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental dan sakit kepala. (nix/ dari berbagai sumber)

23 Napi Batam Positif HIV

Batam, Tribun- Sebanyak 23 orang narapidana (Napi) di Lembaga Permasyarakatan Batam terlah positif terinfeksi virus HIV. Ke-23 ODHA (Orang Dengan HIV/AID) tersebut sampai saat ini belum mendapatkan pengobatan intensif untuk menghambat perkembangan virus di dalam tubuh mereka.
Kepala Lembaga Permasyarakatan Klas IIA Batam P Kunto Wiryanto menjelaskan, kepastian terinfeksinya para penghuni LP tersebut setelah dilakukan test HIV/AIDS yang dilakukan para sukarelawan dari Yayasan Pembinaan Asuhan Bunda (YPAB), sebuah lembaga konseling bagi penderita HIV/AIDS yang bermarkas di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, beberapa waktu lalu.
Namun sampai sekarang, Kunto mengaku, pihaknya belum diberitahu identitas para ODHA tersebut. Sehingga, pengobatan belum bisa dilakukan.
“Siapa saja yang terinfeksi virus HIV belum diberitahu oleh YPAB karena ini menyangkut privasi seseorang. Para relawan pun berhak merahasiakan siapa mereka kepada kami. Pengobatan lanjutan, akan diserahkan kepada para relawan tersebut. Namun sampai sekarang memang belum dilakukan,” ujar Kunto ketika ditemui Tribun saat kunjungan para wartawan yang mengikuti pelatihan HIV/AIDS, Rabu (8/2).
Ke-23 ODHA di LP sampai sekarang masih ditempatkan bercampur dengan para penghuni lainnya. Tidak ada kamar khusus bagi mereka. Test HIV yang dilakukan beberapa waktu lalu itu, diikuti oleh 712 orang dari 1313 penghuni LP. Selain diketahui 23 telah berstatus ODHA, juga diketahui 44 orang terkena hepatitis. Para penderita hepatitis, saat ini telah dikumpulkan di satu sel.
Buang, salah satu konselor YPAB yang menangani kasus HIV di LP mengatakan, mayoritas ODHA adalah pengguna narkoba. Kemungkinan besar, tertularnya virus tersebut melalui jarum suntik yang dipakai saat mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Buang juga mengungkapkan, ODHA tersebut masih berusia muda sekitar 20-an tahun.
Untuk mengantisipasi penyebaran virus di dalam LP, dilakukan penyuluhan rutin setiap hari Senin dan Kamis. Penyuluhan dilakukan secara berkelompok berdasarkan blok dan kamar. Diharapkan, para penghuni LP yang belum bersedia melakukan tes HIV untuk mengikuti konseling guna mendapatkan gambaran yang jelas tentang penyakit HIV/AIDS. (nix)

Harapan Anak-anak ODHA (1)
Tulip Ingin Sekolah…..

PENYAKIT HIV/AIDS yang didera seseorang, tidak lantas membuat para ODHA (orang dengan HIV/AIDS) berputus asa. Dengan terapi dan pengobatan secara teratur, virus tersebut bisa ditekan pertumbuhannya sehingga mereka bisa hidup sehat layaknya orang-orang yang negatif HIV. Bahkan seorang ODHA sangat memungkinkan melahirkan seorang bayi yang negatif HIV. Bagaimana kehidupan anak-anak yang lahir dari wanita ODHA di Batam? Wartawan Tribun Sri Murni menelusurinya dan menyajikannya menjadi tulisan bersambung.

SUDAH hampir dua tahun ini, Tulip (nama samaran) tidak bisa berlari-lari dan bermain bersama teman-teman sebayanya. Gadis cilik berusia 5,5 tahun ini terpaksa menjali hari-harinya di rumah dengan derita penyakit aportunis yang menderanya akibat melemahnya sistem kekebalan tubuh dikarenakan virus HIV yang sudah bersarang di tubuh bertinggi 70 cm itu.
Rintihan sakit, panas, dan gatal terus saja dilontarkan Tulip. Nani (49), juga nama samaran, nenek Tulip pun tidak henti-hentinya menggosok-gosok dada dan punggung bocah yang hanya memiliki berat delapan kg itu.
Apa yang dilakukan Nani sudah menjadi rutinitas setiap saat kapanpun dan dimanapun jika memang Tulip merintih sakit. Bahkan, tidak jarang wanita berambut putih itu harus rela tidak tidur semalaman guna menjaga dan menggosok dada cucunya itu.
“Kalau dadanya tidak sakit, biar bisa tidur Tulip ini minta telinganya dibelai-belai dengan menggunakan beberapa helai kapas. Kalau tidak dia tidak akan bisa tidur,”kata Nani seraya terus menggosok pelan dada Tulip yang juga terus merintih sakit.
Bocah yang lahir 30 Oktober 2000, sudah satu tahun lebih menderita terus diserang berbagai penyakit yang berbeda-beda silih berganti. Puncaknya, terjadi pada april 2006 lalu.
Ketika itu, Tulip jatuh sakit dan sangat parah. Batuk, kulit gatal-gatal, diare tak kunjung sembuh, dan tumbuh jamur di sekitar mulutnya. Sang Nenek dan anggota keluarga lain tidak tahu apa yang diderita cucu yang sudah sejak bayi dirawatnya itu.
Beranggapan Tulip menderita sakit biasa, Nani pun membawanya ke klinik dokter di dekat rumah tinggalnya dan Tulip dirawat inap selama dua malam.
Karena perawatan di klinik tersebut memerlukan biaya besar, dua malam Rp 1,6 juta, Nani pun berinisiatif memindahkan perawatan cucunya ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam.
Di RSBK, Tulip diperiksa darahnya. Alangkah kagetnya Nani ketika diberitahu seorang suster bahwa cucunya itu telah terinfeksi HIV positif. “Sebelum mengatakan itu, suster tersebut kelihatan takut dan bingung untuk menyampaikannya. Saya bilang ke dia, saya bisa terima kenyataan apa saja tentang Tulip. Alamak, terkejut saya dengan apa yang disampaikan suster dan saya terus menangis. Saya bertanya-tanya pada diri sendiri kok bisalah cucu saya yang masih sekecil ini terkena penyakit itu,”kenang Nina dengan mata yang berkaca-kaca.
Setelah mendapatkan penjelasan dari suster tersebut tentang penyakit Tulip, apa dan bagaimana HIV itu menjangkiti seseorang, Nina baru teringat akan satu peristiwa yang pernah menimpah, sebut saja Sari, ibu kandung Tulip.
Tahun 2003, saat keluarga Nina masih tinggal di Bangka, Sari tiba-tiba jatuh sakit. Gejalanya sangat mirip dengan Tulip, batuk tidak sembuh-sembuh, mulutnya berjamur, kulitnya gatal-gatal dan diare berkepanjangan. Badannya lemas dan tidak bisa lagi bangun dari tempat tidur.
Tanpa mengetahui penyakit apa yang sedang diderita, Sari dibawah ke rumah sakit. “Dokter di Bangka hanya mengatakan Sari terkena penyakit komplikasi. Tidak lama dia dirawat, kurang lebih satu bulan, badannya langsung kurus kering dan tinggal tulang dan kulit. Ia pun meninggal tepat satu bulan setelah dirawat di rumah sakit tersebut,”tutur Nina seraya menghapus air mata yang mulai menetes di pipinya.
Karena derita Sari mirip dengan Tulip, Nina pun berkesimpulan bahwa putri keduanya itu meninggal karena HIV meskipun tidak pernah dilakukan tes darah selama ia masih hidup.
“Saya yakin Sari tertular virus dari suaminya karena saya tahu suaminya memang suka pergi ke tempat pelacuran sementara Sari hanya kerja di salah satu kantor. Satu hal yang membuat saya khawatir, cucu saya satu lagi yakni abang Tulip jangan-jangan juga bernasip sama. Tapi saya tidak bisa memeriksakannya karena dia diasuh ayah Tulip di Bangka,”ungkap Nina yang sampai sekarang masih merahasiakan penyakit Tulip kepada ayah dan keluarga mereka karena takut akan stigma.
Tulip, hanyalah satu contoh dari sekian banyak anak yang lahir dari wanita ODHA di Batam (penulis sengaja tidak menyebutkan angkanya karena pertambahan terjadi hampir setiap hari) tanpa diketahui status kesehatannya sejak dalam kandungan. Sehingga, mereka lahir sebagai anak dengan HIV positif tanpa bisa dilakukan pencegahan secara dini.
Nasib serupa juga dialami Kamboja, panggil saja begitu. Bocah perempuan berusia 2,5 tahun itu, positif terinfeksi HIV dari ibunya Rani (bukan nama sebenarnya). Rani (21) mengetahui positif HIV ketika usia Kamboja masih dua bulan.
“Awalnya suami saya memeriksakan diri ke dokter di Jakarta dan hasilnya positif. Tapi dia tidak mau cerita sampai tiga bulan kemudian. Itupun setelah melihat aku terbaring di rumah sakit dalam keadaan parah dan mulutku berjamur,”cerita Rani.
Ia pun menjalani pemeriksanaan darah, setelah sebelumnya mengikuti konseling di YPAB, dan hasilnya positif dengan hasil CD4 hanya 9 dan telah terjadi penurunan berat badan dari 38 kg menjadi 25 kg.
Beberapa hari setelah tes tersebut, konselor YPAB meminta kesediaan pasangan tersebut memeriksakan Kamboja. Bisa ditebak, status bocah berkulit coklat itu juga positif.
Masih beruntung, kondisi Kamboja jauh lebih sehat dari Tulip. Bahkan bisa dikatakan ia tidak terkena panyakit aportunis apapun. Dan jumlah CD4-nya masih tinggi, lebih 700.
Kamboja telah mengikuti tes darah dua kali. Pertama dilakukan saat usianya tiga bulan dan hasilnya positif karena antibody dalam tubuhnya masih antibody bawaan sang ibu. Untuk memastikan status kesehatannya, ia dites lagi pada Februari 2006 lalu saat usianya 19 bulan dan hasilnya memang HIV positif.
Karena CD-4 yang masih tinggi, Kamboja tidak diberikan terapi ARV. Sementara Tulip yang memang sempat nge-drop sampai sekarang terus mengikuti terapi ARV. “Aku mau sekolah_..”pinta Tulip ketika ditanya apa kemauannya saat ini. (sri murni)

Harapan Anak-Anak yang Terjangkit HIV/AIDS (2)
Si Ibu Tak Boleh Menyusui

KASUS penularan HIV secara vertikal dari ibu ke bayi di Batam memang tergolong tinggi. Jika sampai awal Mei lalu telah terditeksi sembilan anak HIV positif, rentang hingga pertengahan Juni terdapat tiga wanita hamil yang baru mengetahui status HIV.
Seperti yang dikatakan dr Francisca L Tanzil, salah satu dokter RSBK yang aktif menangani HIV/AIDS, jumlah anak yang terinfeksi HIV positif tidak bisa dipatok untuk waktu lama karena hampir setiap minggu pertambahan bisa terjadi. Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Admajaya ini juga mengungkapkan, penjaringan secara dini ODHA yang hamil pernah dilakukan selama tahun 2005.
Penjaringan dilakukan masih bersifat gerilya yakni lewat klinik-klinik kebidanan, Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB) dan RSBK. Para bidan dan dokter yang ada di pusat-pusat kesehatan tersebut diminta memberikan penyuluhan kepada setiap wanita hamil yang kontrol untuk secara sukarela melakukan tes HIV.
Sampai akhir 2005, tercatat sudah 84 wanita hamil yang mengikuti konseling dan melakukan tes HIV. Hasilnya dua orang HIV positif. Untung satu diantaranya yakni pasangan Eka dan Ika mengikuti program medis dan saat ini memiliki putra Lajang yang dalam darahnya tidak terditeksi virus HIV.
Tindakan pencegahan dini memang tidak bisa ditawar, mengingat besarnya angka penularan HIV tiap tahun juga disumbang oleh kasus penularan dari ibu ke bayinya. Memang tidak semua ODHA hamil akan menulari virus HIV kepada si anak. Tetapi itu semua tergantung pengetahuan tentang proses reproduksi.
Pada kehamilan setidaknya terdapat tiga potensi penularan, yaitu saat bayi dalam kandungan, proses kelahiran, dan ketika disusui. Di dalam kandungan, memang ada kemungkinan HIV dapat menginfeksi janin dengan cara menyusup melalui plasenta.
Jika terjadi luka atau kelainan pada rahim yang mengakibatkan robeknya bagian plasenta virus yang ukurannya super imut, hanya 1/250 mikron, mampu menembus sawar plasenta untuk kemudian mencapai janin.
Bila selama kandungan tidak ada kebocoran plasenta, kemungkinan transmisi terbesar terjadi saat proses kelahiran. Menurut penelitian, kemungkinan terbesar penularan virus dari ibu ke anak memang pada saat persalinan normal yakni mencapai 40 sampai 80 persen.
Besarnya angka kemungkinan itu karena banyaknya faktor penyebab penularan. Pada persalinan normal, misalnya, bayi dapat terinfeksi dari darah atau cairan vagina yang terpapar pada jalan pernapasan atau tertelan oleh bayi.
Juga kemungkinan terjadinya perlukaan dinding vagina saat persalinan. Penggunaan elektroda pada kepala janin, penggunaan vakum atau forsep, atau pemotongan kerangkang untuk melebarkan jalan lahir (episiotomi) adalah beberapa hal yang bisa menyebabkan kelukaan.
Saat pelukaan terjadi yang mengakibatkan keluarnya darah dari tubuh si ibu, bisa saja darah tersebut masuk ke tubuh bayi. Resiko besar penularan juga bisa terjadi pada kelahiran prematur dan ketuban pecah dini sebelum persalinan.
Karena tinginya kemungkinan penularan terjadi saat persalinan, sangat disarankan seorang ODHA hamil melakukan persalinan dengan sesar.
Tranmisi ketiga, adalah saat bayi sudah lahir. Ancaman datang dari air susu ibu. Jika wanita yang tidak mengetahui dirinya teriveksi HIV positif, tidak akan ada kendala bagi dirinya menyusui si kecil.
Perlu diingat, dalam cairan asi yang merupakan makanan utama bayi terdapat virus HIV bagi wanita yang sudah terinfeksi HIV. Virus kemudian bisa bertransmisi melalui peradangan payudara (mastitis), luka di puting, lesi di mukosa mulut bayi, atau lemahnya respons imunitas bayi. Karena itu, tidak bisa ditawar lagi, bayi harus disusui dengan susu formula. (sri murni)

Harapan Anak-Anak yang Terjangkit HIV/AIDS (3)
Berhubungan Harus Pakai Kondom

TIDAK seperti pasangan sehat yang bisa memiliki anak kapan pun baik direncanakan ataupun tidak. Pasangan ODHA harus melakukan perencanaan dan mengikuti petunjuk medis jika menginginkan bayi yang negatif HIV, meskipun sekali lagi, tidak menjamin 100 persen.
Dr Siska menerangkan, sebelum pasangan ODHA memutuskan memiliki anak disarankan untuk memeriksakan kesehatan masing-masin, baik tingkat kesuburan maupun kondisi kesehatan fisik kedua pihak, tertutama si calon ibu.
Sebab, pemeriksaan awal akan menjadi pertimbangan dan kajian dokter tentang penyakit-penyakit aportunis yang kemungkinan muncul selama masa kehamilan. Satu hal paling utama yang harus dimiliki pasangan adalah kesiapan mental dengan segala kondisi apapun yang bakal terjadi.
Karena itu, sebelum benar-benar memutuskan hendak memiliki momongan, kedua belah pihak musti mendapatkan informasi yang benar. Ini bisa didapatkan lewat konseling dan konsultasi dengan dokter kandungan.
Jika beberapa hal diatas telah terpenuhi, pasangan tinggal mengikuti petunjuk medis bagaimana proses pembuahan yang tergolong aman. Masih dari penjelasan dr Siska, jika pasangan sama-sama positif terinfeksi HIV, hubungan suami istri tetap dilakukan dengan menggunakan kondom.
Lakukan hubungan di saat istri masa subur. Agar sperma bisa membuahi sel telur, kondom yang digunakan pada ujungnya diberi lubang kecil. Penggunaan kondom pada pasangan yang sama-sama ODHA bertujuan untuk mencegah resiko terinfeksi ulang antar kedua pihak.
Jika kondom diberi lubang pada ujungnya yang berfungsi sebagai jalan keluar bagi sperma, tetap bisa melindungi bagian alat reproduksi lainnya saat terjadi gesekan. Hubungan tanpa kondom, bisa saja dilakukan dengan tujuan pembuahan. Tapi disarankan tidak dilakukan sering, hanya beberapa kali saja saat masa subur.
Perlu dingat bahwa virus HIV hanya terdapat di darah, cairan sperma, dan carian vagina. Sementara sperma dan sel telur itu sendiri tidak disarangi virus HIV. Sebab itu, janin yang ada dalam rahim yang dibungkus plasenta bisa tidak terinfeksi HIV jika memang tidak terjadi kebocoran pada pembungkus janin tersebut.
Lalu bagaimana jika salah satu pasangan HIV positif sementara satunya lagi HIV negatif?
Menjawab cara pembuahan pada pasangan sero diskordan (satu HIV positif dan lainnya HIV negatif) dalam buku HIV, Kehamilan, dan Kesehatan Perempuan yang diterbitkan Yayasan Spiritia 2005 dipaparkan, masih belum ada jalan terbaik bagi pasangan tersebut melakukan pembuahan secara normal.
Pasangan sero diskordan ditegaskan tetap harus melakukan hubungan suami istri dengan menggunakan kondom. Sekalipun untuk tujuan pembuahan, agar tetap aman dari infeksi HIV.
Bila si wanita yang HIV negatif, kemungkinan tertular dari hubungan seks tanpa kondom memang tergantung banyak hal, termasuk veral load dalam cairan sperma si laki-lakinya. Perlu diingat, veral load yang tidak terditeksi dalam darah bukan berarti tidak ada dalam cairan sperma.
Demikian sebaliknya, jika yang HIV negatinya adalah laki-laki, penularan juga tergantung pada veral load HIV yang ada di dalam cairan vagina si wanita. Sama halnya dengan sebelumnya, veral load yang tidak terditeksi dalam darah bukan berarti tidak terditeksi pada cairan vagina.
Disebutkan juga, lelaki yang tidak disunat memiliki resiko tertular lebih tinggi karena sel dalam kutup penis lebih rentan terhadap infeksi HIV. Terlepas dari factor resiko tersebut, HIV sebenarnya cukup sulit menularkan. Secaara statistik adalah lebih sulit menularkan HIV ketimbang membuahi dan menjadikan seorang wanita hamil.
Kemungkinan percobaan sangat singkat untuk pembuahan waktu masa paling subur wanita dapat berisoko cukup rendah bila pasangan HIV positifnya memiliki veral load yang tidak terditeksi.
Namun, tetap saja resiko penularan daaari satu kali hubungan tanpa kondom tetap ada. Jadi, seorang wanita dapat hamil dari satu kali hubungan seks tanpa kondom, tapi juga bisa menjadi HIV positif dari satu kali hubungan seks tersebut. (sri murni)

Harapan Anak-anak yang Terjangkit HIV/AIDS (4)
Cuci Sperma atau Insiminasi Semprit

KEMAJUAN teknologi kedokteran telah memungkinan seorang ODHA laki-laki bisa memiliki anak kandung tanpa menulari virus tersebut kepada si istri atau anak itu sendiri. Caranya, dengan insiminasi sperma ke sel telur pasangan wanitanya. Cara ini disebut juga dengan intracytoplasmic sperma injection (ICSI).
Metode yang biasanya digunakan bagi pria tidak subur untuk mendapatkan keturunan itu, bisa dilakukan jika HIV positifnya adalah pria sementara si wanita berstatus HIV negatif.
Sebelum dilakukan injeksi, sperma harus dicuci terlebih dahulu, tentunya dengan menggunakan alat khusus dan dikerjakan tim medis. Pencucian dimaksudkan untuk memisahkan sperma (tidak mengandung virus HIV) dari air mani yang didalamnya terdapat virus.
Sperma yang telah dicuci harus benar-benar diperiksa dan terbebas dari virus yang kemungkinan menempel padanya. Tes ini bisa dilakukan dengan alat veral load yang sangat peka (batas terditeksi 50). Kemudian, dengan menggunakan kateter (selang) sperma tersebut diinjek ke sel telur wanita.
Pilihan lain selain ICSI, bisa menggunakan metode bayi tabung, terutama jika jumlah sperma rendah.
Tentang proses cuci sperma ini, pernah dilakukan dr Augusto Semprini di Milan Italia pada 1997. Hasilnya, dari 470 inseminasi yang dilakukan, 250 ibu berhasil hamil dan 187 anak dilahirkan. Baik ibu maupun anak, semua tidak terinfeksi.
Cara lain yang lebih sederhana bisa ditempuh pasangan sero diskordan dimana yang laki-lakinya HIV negatif dan si wanita HIV positif yakni melalui inseminiasi semprit. Metode ini bisa dilakukan sendiri dengan memakai alat semprit plastik.
Pada saat pasangan perempuan dalam masa paling subur, air mani laki-laki harus disemprotkan sedalam mungkin ke dalam vagina. Lebih dahulu, harus dihitung kapan masa paling subur si wanita. Biasanya terjadi pada 14 hari sebelum masa haid.
Ada beberapa cara mengumpulkan air mani, satu diantaranya dengan melakukan hubungan seks dengan menggunakan kondom. Tetapi kondom tersebut tidak boleh dilumasi dengan pelicin yang mengandung spermatisida dan bisa mematikan sperma. Atau bisa juga dengan cara beronani.
Setelah terkumpul, sperma tersebut dimasukkan ke vagina perempuan dengan menggunakan semprit.
Sebelum hamil, calon ibu memang harus benar-benar dalam keadaan sehat. Jika sedang didera penyakit-penyakit aportunis seperti toksoplasma, tuberkulosis, atau kandidiasis vulvovaginal, dan lainnya harus disembuhkan terlebih dahulu.
Sekali lagi, memiliki anak atau tidak merupakan pilihan, begitu juga metode atau cara untuk mendapatkannya, semuanya tergantung diri ODHA sendiri. Satu saran, baiknya apapun keputusan yang diambil telah melalui pendiskusian baik secara medis maupun mental. (sri murni)

Harapan Anak-anak yang Terjangkit HIV/AIDS (5)
BISA DAPAT SUBSIDI BIAYA SESAR

RASA cemas dan was-was kini sedang mendera Intan (24) bukan nama sebenarnya. Wanita kelahiran 29 Januari 1981 yang tengah hamil delapan bulan ini sangat takut jika bayinya tidak bisa hidup sehat setelah dilahirkan.
Ketakutan itu tidak pernah bisa ia buang dari fikirannya sejak 1 Juni lalu, dimana ia dinyatakan positif terinfeksi HIV oleh salah seorang konselor YPAB berdasarkan hasil tes labor yang dilakukannya.
Meskipun Intan sudah mengetahui ada kemungkinan bayinya akan negatif HIV jika mengikuti prosedur medis guna mencegah penularan virus dari ibu ke bayi, tetapi tetap saja kecemasan itu terus merasukinya. Bahkan, karena beban fikirannya itu, berat badannya terus menyusut sampai lima kg. Padahal dengan kondisinya yang sedang hamil, seharusnya berat badan Intan mengalami pertambahan.
“Berdasarkan hasil tes, CD4 saya memang masih tinggi 900. Saya pun sudah mengikuti terapi ARV. Hanya saja saya sangat takut kalau waktu melahirkan nanti saya tidak memiliki dana yang cukup, sehingga saya tidak bisa sesar,”ujarnya.
Apalagi, sejak pertengahan Juni lalu, ia harus menanggung sendiri beban hidup yang sedang dijalaninya. Suami tercinta, panggil saja Andi (38) sudah lebih dahulu meninggalkannya untuk selamanya karena derita penyakit aportunis yang diakibatkan dari virus HIV.
“Tidak lama mas Andi sakit. Hanya satu bulan setelah tes HIV, Tuhan memanggilnya,”ungkap Intan sambil mengelus-elus perutnya dengan mimik muka yang sedih.
Keterbatasan dana, itulah salah satu kendala yang dihadapi para ODHA untuk mendapatkan keturunan yang negatif HIV. Biaya operasi sesar yang jumlahnya tidak sedikit, minimal Rp 7 juta, itupun belum termasuk pengobatan penyakit opurtunis yang disebabkan pasca sesar, membuat tidak sedikit ODHA mengurungkan niat mereka memiliki keturunan.
Untunglah Intan yang kini hidup bersama anggota keluarga almarhum Andi mendapatkan dukungan penuh dari mereka. Tidak seperti ODHA lain yang memilih menutup status penyakitnya menjadi rahasia seumur hidup, Intan sangat terbuka kepada keluarga Andi.
Status pasangan ini sudah diketahui anggota keluarga lain sejak Andi masih hidup. “Yang tahu memang tidak banyak hanya sebatas keluarga utama saja, orang tua Andi dan saudara kandungnya. Sementara keluarga saya memang tidak saya beritahu juga para tetangga,”kata Intan seraya menambahkan, mertua dan kakak iparnya juga sangat aktif berkonsultasi dengan dokter di RSBK. Terkadang, informasi bagaimana menjaga kesehatan kandungan seorang ODHA yang hamil justru datang dari anggota keluarga.
“Satu hal yang membuat saya tetap kuat, mereka tidak pernah mendiskriminasikan saya. Semuanya masih tetap berjalan seperti biasa dan saya tidak pernah merasa diasingkan.”
Keresahaan Intan dan ODHA lainnya adalah sangat wajar. Mengingat sampai saat ini belum ada kebijakan khusus dari pemerintah daerah kota Batam maupun Provinsi Kepri untuk membantu biaya operasi sesar para ODHA.
Pengalaman RSBK sendiri yang Desember lalu melakukan operasi sesar kepada Ika, ibu kandung Lajang yang sampai saat ini dalam darahnya tidak teriteksi virus HIV posisif padahal orang tuanya berstatus HIV positif, harus mencari sendiri dana operasi tersebut.
Dr Siska menceritakan, tiga bulan sebelum Ika dioperasi pihaknya telah mencarikan dana subsidi. Proposal pun dibuat dan diajukan ke Global Fund melalui Dinas Kesehatan Kota Batam. Dinas inilah yang selanjutnya meneruskan proposal tersebut ke Departemen Kesehatan di Jakarta guna mendapatkan dana tersebut.
Namun demikian, peluang seorang ODHA mendapatkan bantuan biaya sesar tetap saja terbuka. Ketua Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Provinsi Kepri Rahman Usman menyebutkan, walaupun sampai sekarang tidak ada anggaran khusus dari APBD untuk membantu operasi sesar, tetapi hihaknya siap mencarikan dana-dana segar dari pihak-pihak lain.
Syaratnya, si ODHA harus memiliki dokumen lengkap tentang status kesehatannya. Juga ada rekomendasi dari rumah sakit yang hendak menangani operasi sesarnya. Agar lebih kuat lagi, ada aktivis LSM yang mendampinginya.
“Saya akan mencarikan dana untuk ODHA yang memerlukan operasi sesar. Jika dokumennya lengkap, saya lebih mudah untuk memintakan dana-dana dari Pemko atau pengusaha yang ada di Batam,”ujar Rahman. (sri murni)

Tidak Mau Cerita Ke Orang Lain

RASA takut dikucilkan, masih terus mendera Angles, bukan nama sebenarnya. Wanita berkulit putih berusia 21 tahun ini, tetap tidak ingin memberitahukan status HIV positifnya kepada orang lain, termasuk keluarga dan tetangga.
“Yang tahu saya menderita penyakit ini (HIV positif) hanya suami dan rekan-rekan sesama ODHA (orang dengan HIV/AIDS),”kata Angles yang ditemui Tribun beberapa waktu lalu di kediamannya, kawasan Batam Centre.
Wanita yang kini tergabung dalam kelompok dukungan HIV?AIDS ini, bersyukur, HIV hanya bersarang di tubuhnya dan tidak menulari sang suami yang sampai sekarang masih berstatus HIV negatif.
Satu hal yang senantiasa membuat hidup Angles tetap dipenuhi spirit dan motivasi, adalah sikap dan kasih sayang dari suami yang tidak pernah berubah, meskipun ia bukanlah istri yang terbilang 100 persen sehat.
“Suami saya bisa mengerti. Dia tidak pernah marah dengan penyakit saya ini. Dia tetap sayang. Itulah membuat saya bertahan dan tetap tidak mau menceritakan penyakit saya kepada siapapun,”tutur Angles.
Wanita yang pernah bekerja di Singapura itu mengaku, terinveksi HIV akibat pergaulan. Ia mengetahui status positif HIV pada 2001 lalu. Ketika itu, ia terserang sakit flu dan dibawa berobat suaminya ke Singapura.
“Disana kesehatan saya di tes semuanya dan tidak ada gangguan. Kemudian dokter disana meminta saya untuk tes HIV. Juga atas persetujuan suami, saya pun di tes. Hasilnya memang positif,”kenangnya.
Beruntungnya, Angles ditangani sejak dini. Begitu mengetahui statusnya positif HIV, ia langsung mengkonsumsi ARV, salah satu jenis obat yang berfungsi menekan pertumbuhan virus. Sehingga, ia tidak sempat mengalami penderitaan parah seperti kebanyakan ODHA yang mengetahui positif HIV setelah kondisi tubuhnya benar-benar lemah.
Wanita berpostur sedang ini, termasuk wanita yang sangat tabah dan santai menjalani setiap cobaan hidup. Namun, di balik senyumnya yang ramah, ia menyimpan keinginan hadirnya seorang buah hati.
“Saya menikah sejak 2000. Sebelum tahu saya terinveksi saya memang belum diberi momongan oleh Tuhan. Dari dulu saya sangat ingin punya momongan. Tapi semenjaka tahu saya teriveksi HIV, saya dan suami membuat kesepakatan tidak memiliki anak. Alasannya, karena saya takut masa depan anak kami tidak terjamin,”aku Angles. (nix)

4 thoughts on “Tetap Survive Walau Mengindap HIV/AIDS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s