Suku Laut : “Berakhirnya Generasi Air Asin”

Berakhirnya Generasi Air Asin

PERNAHKAH terbayang hidup dalam sebuah sampan di atas lautan selama bertahun-tahun dan menempuh seluruh proses kehidupan di dalamnya? Tidak hanya makan, minum, buang air, tapi juga berhubungan intim dan melahirkan. Mungkin bagi kita yang terbiasa hidup menetap dalam sebuah rumah di daratan, hal tersebut terasa begitu berat dilakukan.
Tapi itulah yang terjadi dalam kehidupan suku laut Kepulauan Riau bertahun-tahun dari generasi ke generasi. Mulai dari lahir, besar, makan, tidur, memasak, menikah, dan proses reproduksi pun dilakukan di atas sampan yang mereka istilahkan dengan kajang.
Kajang adalah sebuah sampan kecil yang hanya berukuran 3×1 meter. Di bagian atasnya diberi sirap atau atap dari daun kelapa dengan tinggi sekitar 75 cm. Di atas sampan itulah, mereka membagi setiap bagian menjadi ruang layaknya ruah di daratan. Bedanya, stiap ruang tidak berdinding hanya dibatasi dengan perlengkapan hidup.
Dapur, diletakkan di bagian belakang sampan. Untuk memasak mereka menggunakan lempengan besi sebagai alas kayu bakar. Sedangkan untuk tungkunya mereka gunakan kaleng bekas yang bagian sampingnya diberi lubang untuk memasukkan kayu bakar. Lebar tungku tersebut hanya sekitar 15 cm. Api mereka dapatkan dengan menggunakan gesekan batu atau kayu.
Sementara untuk istirahat, mereka jadikan bagian tengah sampan, yang merupakan bagian terlebar, sebagai tempat menggelar tikar. Di atas sampan yang berukuran kecil tersebut, bisa dihuni satu keluarga dengan jumlah anak tiga sampai lima orang.
Bagaimana mereka tidur? Jangan pernah membayangkan mereka tidur dengan posisi terlentang dan datar dari ujung kaki sampai kepala. Agar sampan bisa memuat tidur semua anggota keluarga, mereka beristirahat dengan posisi badan melengkung, kepala di sisi kanan sementara kaki di sisi kiri.
Pola hidup yang dijalani suku laut itu, telah mempengaruhi postur tubuh mereka. Rata-rata tinggi suku laut tidak lebih dari 1,4 meter. Tidak diketahui secara pasti asal suku laut. Menurut ketua adapt yang saat ini bermukim di desa Air Mas Pulau Tanjung Sauh, Kelurahan Ngenang, Kecamatan Nongsa, Batam, Den, suku laut berasal dari Bugis yang telah merantau mengarungi perairan Indonesia sajak ratusan tahun lalu, secara berkelompok-kelompok.
Karena arus laut, kelompok-kelompok tersebut tersebar hampir ke semua bagian  Indonesia. Beberapa kelompok terdampar di perairan Dabo Singkep, Kabupaten Lingga. Orang tua Pak Den, sapaan akrab Den, dari Dabo Singkep mendayung sampan sambil mencari ikan yang merupakan mata pencaharian utama menelusuri pulau-pulau yang ada di Kepulauan Riau.
Den (40) yang lahirnya masih di atas kajang menceritakan, satu kelompok suku laut bisa mencapai 30-an kajang. Satu kajang biasanya dihuni satu keluarga yang anak-anaknya masih kecil, dibawah 10 tahun. Jika anak, terutama laki-laki, telah beranjak remaja akan dibuatkan kajang sendiri oleh sang asyah.
Di atas kajang itulah kehidupan mandiri seorang suku laut dimulai. Si remaja akan belajar mencari ikan sendiri guna memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk memasak sendiri. Di atas kajang itu pula, ia akan mulai mencari pasangan hidup dan hidup bersama membentuk keluarga baru. Begitu seterusnya siklus kehidupan suku laut berjalan.
Kelompok suku laut akan mendarat di satu pulau ketika mereka hendak mengambil air bersih, mengebumikan anggota kelompok yang meninggal, dan menjual ikan hasil tangkapannya. Tidak ada pulau tetap yang mereka singgahi, dimana mereka memerlukan kebutuhan hidup, disana mereka akan berlabu.
Sebelum tahun 1990, suku laut adalah kelompok masyarakat yang tidak mengetahui perhitungan uang. Mereka menjual ikan-ikan kepada para toke (penadah) dan langsung menukarkannya dengan barang kebutuhan pokok, mulai dari beras, sayur, jajanan, pakaian, dan lainnya. (sri murni/ika maya susanti)

Kehidupan Laut Itu Mulai Memudar

SIKLUS perjalanan hidup di atas kajang, kini memang tidak seperti dahulu lagi. Sejak 1990, pemerintah Batam melalui program-program pemberdayaan masyarakat pulau dan pesisir mulai membenahi mereka.
Penyuluhan tentang hidup yang lebih sehat pun marak dilakukan. Bahkan rumah-rumah tepi laut mulai dibangunkan di sekitar pulau Tanjung Sauh, yang letaknya  sekitar 2 jam dari Batam dengan menggunakan pompong (kapal kayu).
Mereka pun kemudian menetap dalam sebuah rumah di tepi laut di beberapa pulau yang letaknya di tengah-tengah laut. Ada tiga pulau yang kini menjadi central kehidupan suku laut yakni Tanjung Sauh, Kubung, dan Todak yang letaknya tak jauh dari Pulau Ngenang dan berada di dalam lingkungan pemerintahan Kelurahan Ngenang, Kecamatan Nongsa.
“Awalnya tinggal di darat memang agak bingung karena belum terbiasa. Awalnya kami juga masih menganggap rumah di darat hanya sebagai persinggahan sementara dan tetap masih banyak tinggal di laut. Bahkan bisa berbulan-bulan baru pulang ke rumah yang dibangun pemerintah,”ungkap Jaiyah, istri Den.
Karena masih belum menganggap rumah di darat sebagai tempat tinggal utama, wanita paruh baya ini masih melahirkan 10 dari 14 anaknya di atas kajang. Bahkan ia, suami dan seluruh anaknya pernah tinggal satu kajang.
Jaiyah bercerita, sampai anaknya yang ke-11 lahir, ia tidak mengenal adanya seorang bidan atau dokter yang menyentuhnya ketikan melahirkan. Satu-satunya orang yang menolong adalah dukun kampong termasuk sang suami. Anak-anaknya yang lahir di atas kajang juga tidak merasakan mandi pertama dengan air tawar melainkan air asing dari lautan.
Menurut Ketua RW 1 Ngenang Taufik, ketika pertama kali pemerintah membuatkan masyarakat suku laut rumah di darat, mereka tidak mau menempatinya Alasannya, masyarakat takut melihat atap rumah yang terlalu tinggi. Ini karena mereka terbiasa tinggal di atap yang pendek.
Kini apabila suku laut ditanya lebih enak mana tinggal di atas kajang atau di dalam rumah, jawabannya, “Enak sekarang bisa lihat tv,” kata Den dan Jaiyah serempak.
Listrik memang telah menyentuh sendi kehidupan beberapa masyarakat suku laut saat ini. Dengan tenaga diesel dan bahan bakar tiga liter solar setiap malam, rumah Den dan sebuah rumah di sebelahnya hingga sekitar pukul 22.00 WIB sempat merasakan terangnya sinar lampu dan menikmati tayangan sinetron televisi.
Mulai sirnanya siklus kehidupan masyarakat air asin, kini mulai tampak. Perubahan pola hidup membuat mereka tidak lagi menyenangi perjalanan jauh mencari ikan dengan menggunakan sampan.
Sendi-sendi dunia modern yang telah menyentuh mereka, telah mengajarkan satu hal, kehidupan daratan lebih nyaman ketimbang harus terombang ambing di atas lautan luas. Bahkan, tiga putra-putri Den termuda yang saat ini berusia antara empat sampai 10 tahun tidak lagi betah jika harus mencari ikan seharian.
“Anak saya paling kecil sekarang sering menangis kalau diajak mincing seharian. Katanya panas dan tidak enak. Enakan di rumah bisa nonton tv,”ungkap Jaiyah lagi.
Jika memasuki tiga pulau yang menjadi central kehidupan suku laut (Todak, Tanjung Sauh, dan Kubung) akan sangat sedikit ditemui kajang-kajang, karena kendaraan menangkap ikan mereka telah berubah dengan boat bertenaga mesin.
Kalaupun masih menemukan kajang, hanya milik beberapa keluarga yang belum mampu membeli boat mesin. Rata-rata mereka mencari ikan hanya dalam sehari atau semalam dan kembali lagi ke rumah daratan. Tidak seperti dahulu yang bisa berbulan-bulan mengelilingi lautan.
Terkecuali pada musim-musin tertentu, seperti musim angina utara. Mereka akan pergi secara berkelompok ke perairan yang jauh dari tempat tinggal dan bisa memakan waktu berbulan-bulan. Sementara rumah mereka ditinggalkan begitu saja. Bagi suku laut, tidak ada perbedaan gender dalam mencari nafkah. Baik wanita maupun pria turut serta ke laut.
Apalagi, sendi-seni agama, Islam dan Kristen, telah juga menyentuh kehidupan mereka. Dari ajaran yang disampaikan Ustadz dan Pastur telah membuat kehidupan mereka layak seperti halnya masyarakat kebanyakan. Satu budaya yang mungkin akan terus lekat pada mereka, menjadi pencari ikan.
Kehidupan yang telah melangka moderen memang mulai ditapaki oleh masyarakat suku laut. Tak hanya televisi, hanphone pun sudah mereka miliki. Bahkan saat kru sebuah stasiun televisi meliput kehidupan suku laut di Air Mas, mereka sudah bisa berkata untung rugi.
Alkisah, ada sekelompok kru sebuah stasiun televisi swasta yang ingin menayangkan tentang kehidupan suku laut. Seusai para kru tv ini mengambil gambar dengan kamera foto dan kamera video, masyarakat yang merasa dirinya dijepret dan disyuting dengan terus terang meminta uang kepada para kru tv tersebut. Bahkan, saat melihat ayam mereka ikut dijepret mereka meminta uang tambahan karena telah memotret ayam mereka.
“Itu kejadiannya sekitar setahun yang lalu,”ujar Jaiyah yang merasa malu atas tindakan warga di kelompoknya. (sri murni/ika maya susanti)

Wisata Budaya yang Potensial

KEHIDUPAN suku laut memang sudah berubah, tetapi cerita dan budaya melaut mereka belum akan sirna. Cerita tentang kajang dan siklus hidup mereka di masa lalu merupakan suatu potensi wisata budaya milik bangsa Indonesia.
Di Pulau Todak, Tanjung Sauh, dan Kubung, kita masih bisa melihat bagiamana aktivitas mereka menjalankan kehidupan sehari-hari. Melihat bagaimana kepintaran mereka menangkap ikan hanya dengan menggunakan tombak dan menikmati indahnya malam di atas pelantar yang bermandikan sinar bulan dan bintang.
Pemandangan anak-anak suku laut yang banyak mengenyam pendidikan di Pulau Ngenang bisa disaksikan setiap pagi dan sore. Dengan sampan kayuh, mereka mengayuh sampannya untuk berangkat dan pulang dari SDN 006 Ngenang. (sri murni/ika maya susanti)

4 thoughts on “Suku Laut : “Berakhirnya Generasi Air Asin”

  1. Mbak Menix … Sekarang sekilak sudah mulai kerjasama dengan orang “suku laut ” di Kampung Melayu Tiang Wangkang … 200 meter belok kanan , sebelum jembatan 1.

    Mampir dong .. kita siap untuk xpd kayak ke pulau terdekat .. cheers… masih inget kan kayak xpd 30k….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s