Rubuhnya Masjid Al-Muttaqin

Dibangun Saat Konfrontasi dengan Malaysia

BELASAN warga RW 07 Kampung Teluk Mata Ikan Kelurahan Sambau Kecamatan Nongsa, masih sibuk mengangkat kayu-kayu dari reruntuhan Masjid Al-Muttaqin yang rubuh pada Selasa (5/2) lalu sekitar pukul 21.45 WIB. Terik matahari yang cukup menyengat seolah tidak mereka rasakan. Satu tekad yang hendak diwujudkan, “Secepatnya mesjid itu harus dibangun kembali.”
“Kami bingung dek, mau salat dimana? Pokoknya mesjid harus cepat berdiri walaupun dari kayu bekas,”kata Herlambang, Ketua RT 1/RW 7 Teluk Mata Ikan pada Tribun yang menyambangi masjid tersebut, Minggu (10/2).
Setelah rubuhnya masjid Al-Muttaqin, warga setempat memang kehilangan satu-satunya rumah ibadah yang mereka miliki. Disanalah biasanya warga dari 4 RT yang jumlahnya sekitar 500 kepala keluarga (KK), melaksanakan salat berjamaah mulai Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, Isa, Salat Jumat, sampai salat setahun sekali Idul Fitri dan Idul Adha.
Meskipun bangunan fisik mesjid yang sebelum runtuh memiliki luas bangunan 12×15 meter tidak lagi berdiri, dan hanya menyisahkan lantai keramik yang dipenuhi pasir dan reruntuhan beton, namun semangan salat berjamaah warga tidak pernah pudar.
Rabu (6/2) pagi hari, sekitar tujuh jam setelah bangunan mesjid runtuh, warga masih tetap melaksanakan salat Subuh berjamaah di bawah pohon-pohon kelapa yang mengelilingi halaman rumah Allah itu. Hanya saja, mulai pagi itu sampai dua hari lalu, tidak lagi terdengar suara Azan yang menggema. Sebab, panggilan salat yang dilakukan muazin mulai Rabu sampai Jumat lalu, hanya menggunakan suara diri tanpa sound system.
“Ya gak dengar lagi azannya, wong sound system-nya banyak yang hancur. Tapi karena sudah terbiasa bangun subuh, kami tetap ke mesjid untuk salat,”tutur Herlambang yang mengaku sangat kehilangan mesjid tersebut sama seperti kehilangan rumah sendiri.
Untungnya, runtuhan beton hanya merusak dua corong sound system dan tetap menyelamatkan tape sebagai sumber pengeras suara. Sehingga, dengan sedikit perbaikan dan penambahan speaker yang dipinjamkan warga setempat, pada Jumat siang ketika solat Jumat hendak dilaksanakan, pengeras suara sudah dapat digunakan. Salat tetap berlangsung ramai di atas lantai mesjid yang kini hanya beratapkan terpal berukuran 8×7 meter dan sedikit diteduhi pohon-pohon kelapa.
Ketika Tribun berkunjung, terlihat warga sudah mulai mendirikan kembali masjid Al-Muttaqin. Namun tidak dengan beton, melainkan hanya dari kayu dan papan yang masih bisa diselamatkan dari reruntuhan bangunan masjid sebelumnya. Sebagai atapnya, warga menggunakan seng yang juga bekas dari masjid tersebut.
Dari penuturan Usman, seorang warga yang tinggal di depan masjid Al-Muttaqin, direncanakan bangunan kayu itu hanya bersifat sementara. Masjid Al-Muttaqin nantinya hanya tinggal kenangan karena lokasi pengganti sudah disediakan.
Tanah penggantinya adalah milik Usman yang lokasinya sekitar 50 meter dari lokasi masjid sebelumnya. “Warga tidak bisa membanguna di lahan yang sama karena memang tanahnya pasir sehingga pondasinya tidak bisa kuat. Lagipula terlalu dekat dengan lokasi galian pasir,”jelas pria yang sejak lahir tinggal di Teluk Mata Ikan.
Bagi warga setempat, Masjid Al-Muttaqin tidak sekedar tempat beribadah. Usianya yang sudah 48 tahun, memiliki arti yang dalam. Masjid tersebut dibangun pada tahun 1960 dan dulunya masih berstatus mushalah.
Pembangunan tempat ibadah itu dilakukan oleh seorang marinir berpangkat sersan bermarga Saragih. Uniknya, Sersan Saragih ternyata bukanlah seorang muslim, melainkan penganut agama Kristen.
“Tahun 60 kan masa konfrontasi dengan Malaysia jadi di sepanjang pantai Nongsa termasuk Teluk Mata Ikan banyak ditempatkan Angkatan Laut RI. Salah satunya Sersan Saragih yang beragama Kristen. Mungkin karena dia dulu merasa kasihan melihat warga sini yang kalau mau salat harus pergi jauh ke Batu Besar atau Nongsa. Makanya dia berembuk dengan warga setempat untuk membangun musholah dari kayu,”cerita Usman yang lahir pada 1951 itu. (sri murni)

Ismail Selamat dari Runtuhan

BEGITU mendengar Masjid Al-Muttaqin Teluk Mata Ikan runtuh, Ismail (26) yang tinggal di sebelah rumah ibadah itu langsung mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Allah SWT. Loh kok?
Jangan salah duga, ungkapan syukur itu bukan karena ia senang dengan musibah yang menghilangkan satu-satunya tempat beribadah warga, melainkan ia sangat senang karena masih diberi berkah keselamatan dan kesempatan hidup oleh Tuhan.
Ismail yang sehari-harinya bekerja di Nongsa Villa, adalah jemaah Masjid Al-Muttaqin yang terakhir kali menggunakan masjid. Pada malam terjadinya musibah, Selasa (5/2), sekitar 45 menit sebelum kejadian tepatnya pukul 21.00, Ismail baru saja usai menunaikan salat Isha.
Malam itu, ia memang tidak dapat mengikuti salat berjamaah seperti biasa karena ada pekerjaan tambahan. Tidak ada pirasat atau perasaat apapun pada waktu itu. “Setelah saya salat, saya tutup pintu masjid, mematikan sebagian lampunya, dan saya pulang untuk tidur,”cerita lajang berkulit coklat itu.
Alangkah kagetnya ia, saat masih tidur nyenyak, adik perempuannya membangunkan dan mengatakan masjid yang hanya berjarak 3 meter dari rumahnya rubuh sekitar pukul 21.45 WIB. “Waktu saya tahu masjid rubuh, alangkah bersyukurnya saya karena sudah keluar sebelumnya. Kalau tidak, saya tertimpa bangunan dan mungkin tidak bernyawa lagi,”ungkap pemilik rambut ikat itu yang mengaku sedih karena kehilangan tempat ibadah.
“Selama ini kan kalau salat disitu. Sekarang gak ada tempat salat yang nyaman. Waktu Jumatan lalu saya pergi salat di Nongsa,”tambahnya.
Meskipun ia selamat dari musibah tersebut, ternyata musibah lain telah menderanya pada Kamis lalu. Ketika hendak mengikuti doa bersama untuk masjid Al-Muttaqin, pria bertubuh sedang itu kecelakaan motor yang mengakibatkan kaki kanannya luka dan dijahit sebanayk 37 jahitan.
Rubuhnya masjid Al-Muttaqin, bagi masyarakat setempat dijadikan satu fenomena tersendiri. Cerita-cerita mimpi yang dikaitkan dengan tanda-tanda kerubuhan masjidpun bermunculan. Seorang warga menceritakan, beberapa hari sebelum masjid rubuh dirinya pernah bermimpi di halaman masjid dijadikan tempat pembuatan papan penutup liang lahat.
Sementara seorang warga lainnya mengatakan, dirinya sempat bermimpi di depan masjid terdengar suara bayi menangis dan anak-anak yang meminta makan. Lalu, kedua mimpi tersebut diterjemahkan agar warga melakukan doa selamat untuk masjid.
“Kami pun sepakat membuat doa selamat di halaman masjid Kamis malam lalu. Walaupun masjid sudah rubuh, doa bersama tetap penting,”kata Usman, seorang warga yang rumhanya di depan masjid.
Terlepas dari mimpi-mimpi warga, secara konstruksi masjid Al-Muttaqin memang tidak memiliki pondasi yang standar. Usman menceritakan, pemugaran bangunan dari kayu menjadi beton dilakukan dua tahun lalu.
Awalnya warga tidak berniat mengubah seluruh bangunan termasuk kubah menjadi beton, melainkan hanya dindingnya, tetapi karena dana bantuan yang mengalir cukup besar, pengubahan pun dilakukan.
Sayang, pembetonan justru dilakukan dari bagian dinding sampai kubuh. Sementara pondasinya tidak diubah. “Waktu dibeton pondasinya masih pondasi ceker ayam yang hanya mampu menahan beban kayu. Tidak ada pengecoran pondasi dan besi-besi pondasi,”aku Usman.  Paranyanya lagi, lahan di bawah masjid tersebut adalah pasir tanpa ada tanah atau lumpur yang bisa menahan beban beton. Selain faktor kontruksi, diduga rubuhnya masjid dipicu pengerukan pasir yang dilakukan warga. Lokasinya memang sangat dekat, hanya berjarak lima meter dari masjid tersebut. (sri murni)

Diperlukan Dana Rp 200 Juta, Pemko Batam Belum Menyumbang

RUBUHNYA
Mesjid Al-Muttaqin Teluk Mata Ikan, ternyata belum menggugah Pemko Batam untuk memberikan bantuan apapun, termasuk belum ada perwakilan Pemko Batam yang datang ke lokasi, kecuali pihak Kelurahan Sambau dan Kecamatan Nongsa.
Wali Kota Batam Ahmad Dahlan sendiri, saat ini sedang tidak berada di tempat karena sedang melakukan perjalanan Umrah sejak beberapa hari lalu. Kabag Humas Pemko Batam Yusfa Hendri yang ditemui Tribun di tempat kerjanya, Senin (11/2) lalu mengatakan, belum ada kepastian berapa besar sumbangan yang akan diberikan untuk pembangunan kembali Mesjid Al-Muttaqin.
“Kami memang belum ada kunjungan karena Pak Wali sedang Umrah. Besaran sumabangan juga belum tahu,”kata Yusfa singkat. Jika dilihat dari kebiasaan Pemko Batam dalam membantu pembangunan rumah ibadah, besarnya sumbangan antara Rp 5 juta sampai Rp 10 juta.
Sementara dari lokasi mesjid, saat ini telah terbangun tempat beribadah alakadar. Dengan bergotong royong pada Minggu (10/2) lalu, warga setempat telah berhasil mendirikan mesjid Al-Muttaqin “bayangan” di lokasi yang sama. Namun, kondisinya sangat memprihatinkan karena hanya berupa tonggak-tonggak kayu yang diberi atap seng dan tidak memiliki dinding. Semua bahan bangunan diambil warga dari sisa-sisa material bekas runtuhan mesjid yang masih bisa digunakan. Sementara lantainya masih tetap menggunakan lantai keramik bekas mesjid yang sudah rubuh.
Meskipun demikian, warga merasa sangat senang karena sudah memiliki tempat ibadah. “Walaupun sederhana, sudah ada tempat untuk sholat berjamaah,”kata Usman, salah satu pengurus mesjid pada Tribun, kemarin.
Setelah berdirinya mesjid Al-Muttaqin “bayangan”, warga sudah mulai lagi melaksanakan rutinitas salat berjamaah seperti biasa.
Usman menceritakan, sampai saat ini belum ada sumbangan yang sampai ke panitia pembangunan mesjid. Pada Senin malam lalu, telah dilakukan musyawarah guna membangun kembali mesjid tersebut. “Dari laporan yang disampaikan panitia memang belum ada sumbangan,”tambah Usman.
Untuk pembangunan mesjid yang sesungguhnya, warga telah menetapkan lokasi lain. Mesjid dengan nama sama tidak akan dibangun di lokasi serupa karena memang kondisi lahannya berpasir. Selain itu juga sangat dekat, hanya lima meter, dengan lokasi galian pasir yang kini sudah berbentuk kubangan dalam seluas kurang lebih 50 meter persegi.
“Ditakutkan kalau dibangun di lokasi serupa, bangunan tidak akan kuat dan bisa amruk lagi,”ujar Usman. Lokasi baru yang dipilih adalah tanah milik Usman sendiri. Tempatnya tidak begitu jauh, sekitar 50 meter dari lokasi lama dan lahannya adalah tanah keras yang lebih kuat. Untuk pembangunan mesjid tersebut, diperkirakan akan memakan dana sekitar Rp 200 juta. (sri murni)

Warga Patungan Material

SETELAH genap sepekan robohnya Mesjid Al-Muttaqin Mata Teluk Ikan, akhirnya Pemko Batam memberikan bantuan untuk pembangunan kembali mesjid sebesar Rp 10 juta.
Bantuan diserahkan langsung Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika yang didampingi bagian kesejahteraan masyarakat (Kesra) dan Humas Pemko Batam, Selasa (13/2). Ria bersama rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 14.10 WIB. Begitu hadir, mereka langsung disambut Ketua RW 07 Teluk Mata Ikan Kelurahan Sambau Kecamatan Nongsa Raja Gani, yang tidak lain adalah anggota DPRD Batam dan didampingi beberapa orang warga setempat.
Di lokasi, Ria sempat melakukan salat sunat dua rakaat dan berkeliling melihat kondisi lingkungan mesjid. Ia beribadah di bawah Mesjid Al-Muttaqin “bayangan” yang hanya memiliki kayu penyangga dan atap seng alakadarnya, tanpa dilengkapi dinding. Material yang digunakan untuk membangunnya diambil warga dari sisa-sisa reruntuhan bangunan mesjid yang amruk pada Selasa (5/2) lalu sekitar pukul 21.45 WIB. Untungnya, lantai mesjid roboh itu tidak hancur sehingga masih dapat digunaan sebagai lantai salat para jamaah mesjid.
Di sela-sela kunjungannya, Ria mengungkapkan kepada sejumlah wartawan yang turut menyertai turut prihatin dengan musibah tersebut. Terlebih lagi, mesjid Al-Muttaqin merupakan rumah ibadah yang dibangun oleh masyarakat setempat dan memiliki arti yang sangat penting.
Sampai sekarang, warga setempat terus berupaya mengumpulkan dana guna membangun kembali rumah ibadah mereka. Beberapa pihak telah memberikan sumbangan berupa dana. Sementara warga sendiri, dengan bahu membahu menyumbangkan material yang diperlukan. Ada yang menghibahkan pasir, semen, seng, kayu, dan lainnya.
Di tempat serupa, Raja Gani mengungkapkan, pihaknya sedang berupaya mengumpulkan dana dan material yang diperlukan agar pembangunan kembali Mesjid Al-Muttaqin bisa dilakukan sesegera mungkin. (sri murni)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s