My Story Today

Bukan Sekedar Curhat…….

Halaman ini aku buat di blog, bukan sekedar untuk curhat-curhatan. Tetapi jauh dari itu, aku sedang belajar menulis sebuah novel. Mungkin dengan aku menulis apa dan bagaimana aku setiap harinya, aku bisa sukses menyelesaikan novel yang kugarap. (Selama ini belum ada yang selesai. Mohon doa dan dukungannya ya……)

Minggu (4/5/2008)

Guys…..aku mulai cerita ku dari hari ini ya! Kenapa hari ini, ya karena aku baru sempat hari ini. Niatnya seh da lama tapi kemarin-kemarin gak ada waktu. Bukan sok sibuk, tapi emang lagi padat kegiatan.

Sebelum lebih jauh mengenal kehidupan sehari-hariku, aku ingin semuanya tahu dahulu siapakah aku. Nama lengkapku (pemberian ibu and bapakku) Sri Murni. Tapi sejak kuliah aku lebih beken dipanggil Menix. Bahkan nama asliku sudah banyak yang tidak tahu. Termasuk para dosen ku dulu di Jurusan Hubungan Internasional Fisipol Universitas Riau, Pekanbaru.

Orang-orang yang tahu pasti nama asliku itu, hanyalah keluarga dan teman-temanku yang kenal aku sampai jenjang SMA. Jadi aku memiliki beberapa panggilan sesuai lokasi. Kalau di rumah, aku lebih akrab disapa Yik (panggilan dari kecil) tapi sekarang beberapa anggota keluargaku juga udah ikut-ikutan manggil aku menix.

Kalau teman-teman sekolah SD-ku dulu memanggil aku dengan nama Sri. Tapi teman-teman SMP lebih suka menyapaku dengan nama lengkap Sri Murni. Dan kawan-kawan di SMA (tepatnya di Sekolah Menengah Industri Pariwisata Sandhy Putra Telkom) Medan, senang menamaiku dengan Murni.

Nama itu, menurut sebagai orang sebenarnya mengandung makna yang berat. Ya…walaupun banyak orang yang bernama sama seperti aku. Sri berarti dewi padi atau dewi kesuburan dan kesejahteraan. Sementara Murni maknanya asli, bersih, dan jujur. (semoga aku bisa berbuat sesuai dengan nama yang aku sandang….Hehehe)

Aku lahir dan besar sampai menamatkan SMP (SMP N Rambutan) di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Ibuku sukses  mengeluarkan aku dari rahimnya tepat di waktu fajar pada 12 Januari 1981.

Di antara sembilan anaknya, aku terbilang anak yang agak sulit  proses kelahirannya. Ya mungkin karena aku paling akhir, mungkin banyak permintaan dan yang pasti usia ibuku ketika itu sudah tidak mudah lagi.  Dari sisi medis seh hal yang wajar.

Kata Ibuku, semua anaknya (10 orang) kecuali aku, lahir hanya dengan bantuan bidan kampung di rumah saja. Tapi aku, terpaksa ibuku harus dilarikan ke rumah sakit umum Tebing Tinggi. Untungnya, aku tidak terlalu menyulitkan karena tidak lama terbaring di ruang bersalin, eh….anak bungsunya telah lahir. Hihihi……

Ada cerita sedih dari 10 anak yang dilahirkan ibuku. Ia terpaksa kehilangan anak keduanya (perempuan) yang ketika diasuh kembali oleh Allah baru berusia dua bulan. Gak jelas apa penyebabnya, tapi kata ibuku, alm kakakku itu sakit.

Ibuku yang bernama Rubinem, bagiku, benar-benar wanita super. Ia lahir pada 31 Desember 1941 dan menikah dengan ayahku, Samirun, yang lahir pada  1931.  Meskipun berbeda usia 10 tahun, keduanya rukun dan selama aku hidup tidak pernah  melihat mereka bertengkar.

Tapi sayang, ibuku hanya bisa didampingi suaminya sampai 1993, karena Allah juga mengasuh kembali ayahku. Bagi ibuku, ayahku adalah suami ketiga. Tapi ini bukanlah poliandri. Ketika ibuku berusia 10 tahun, pengaruh penjajahan jepang masih terasa. Untuk menghindari buasnya nafsu para tentara Jepang, ibuku terpaksa dinikahkan dengan dua orang.

Menurut istilah orang-orang dulu, pernikahan itu disebut Nikah Gantung alias nikah tanpa persentuhan. Ibuku menikah hanya untuk menanggalkan status lajangnya, meskipun ketika itu usianya baru 10 tahun dan belum mendapatkan mensturasi.

Tidak lama menikah, ibuku bercerai. Nikahnya dulu tanpa surat loh, hanya ijab kabul secara Islam saja. Karena nikahnya nikah gantung, ibuku tidak begitu mengenal suami pertama dan keduanya. Bahkan begitu ijab kabul langsung pulang ke rumah masing-masing.

Hal serupa juga dilakukan ayahku. Demi menyelamatkan status lajangnya seorang anak perempuan sekampungnya, ayahku menikah gantung juga dengan istri pertamanya. Mereka tidak pernah hidup serumah. Bedanya, sampai sekarang kami mengenal baik mantan istri ayahku dan kami menganggapnya seperti ibu angkat. Kami memanggilnya Bulek.

 

21 Mei 2008

Maaf guys…..baru bisa menyapa kembali. Soalnya memang lagi repot ne. Padahal hari pertama aku berniat menulis hari-hari ku di blog ini, aku berjanji akan terus meng-upgrade cerita ku. Tapi apa mau dikata, kesibukan menelantarkan  janjiku itu.

Aku lanjutkan cerita soal ibu and bapakku. Ibuku memang wanita super.  Sekitar 10 tahun, ia ber…. 

Bersambung……………………….

3 thoughts on “My Story Today

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s