Mimpi Berjalan, Penyakitkah?

TERBANGUN tengah malam, berjalan keluar kamar, mengambil susu, bermain dengan boneka, dan bahkan menangis sendirian di luar rumah, menjadi aktivitas harian Nurnadiah Nufus. Putri semata wayang pasangan Didin dan Yani yang kini berusia hampir tiga tahun itu, mengalami kebiasaan mimpi jalan atau sleep walking.
Gadis cilik yang kerap disapa Neng ini, menurut pengakuan Didin, sudah mengalami sleep walking sejak usia dua tahun. “Kami (Didin dan istri) sempat tertawa terbahak ketika beberapa malam lalu melihat Neng yang tidur di kamar, tiba-tiba keluar ke ruang keluarga sambil membawa kain dan menggulung-gulungnya yang kemudian dijadikan bantal. Di depan tv, ia tertidur lagi berbantalkan kain yang dibawanya. Selama aktivitas jalan tersebut, Neng masih dalam keadaan tidur,” cerita Didin yang kemudian menambahkan, “Neng ini persis seperti saya dulu waktu kecil.”
Baik Didin maupun Yani, selama ini memang tidak pernah memusingkan kebiasaan anaknya itu. Bahkan aktivitas Neng sering menjadi hiburan di saat mereka belum tertidur. Mereka juga tidak menganggap mimpi jalannya bocah berkulit kuning langsat tersebut, sebagai penyakit atau kelainan. Semuanya faktor keturunan karena sang ayah pun berkebiasaan sama saat seusia Neng.
Pengakuan Yani, satu malam putrinya bisa mengalami sleep walking beberapa kali. Namun, aktivitas di bawah alam sadar tersebut sampai saat ini tidak pernah mengganggu aktivitas Neng saat sadar.
Hari-hari bocah kelahiran 22 November 2002 itu, tetap dipenuhi keceriaan, keceriwisan, dan canda gurau. Ia juga dikenal sangat mudah akrab dengan lingkungan, terutama kepada anak-anak sebayanya. “Kami hanya menjaga dan memperhatikan saat Neng melakukan aktivitas sleep walking,” kata Yani.


Sleep Walking Bukan Penyakit

MIMPI jalan atau sleep walking, bukanlah sebuah penyakit atau kelainan jiwa. Demikian ditegaskan Ilma Psi, psikolog anak Batam.  Lulusan Psikolog UI yang kini membuka praktek Rafelita di Ruko Palm Spring itu berpendapat, sleep walking, tidak ubahnya sebuah mimpi biasa yang terjadi pada orang dewasa.
Perlu diketahui, tidur manusia dibagi dalam empat fase. Pertama, fase memejamkan mata dan belum mengantuk. Mata, jiwa dan raga masih dalam keadaan sadar sepenuhnya. Selanjutnya, fase mengantuk atau pertengahan tidur, bisa juga disebut tidur ayam. Dimana kita sudah mulai tertidur tetapi  masih bisa mendengar sayup suara atau kejadian lain di sekitar.
Ketiga adalah fase sleep, dimana mata, jiwa dan raga sudah tertidur. Hanya saja, pada fase ini seseorang belum mengalami tidur yang sangat nyenyak dan masih mudah dibangunkan. Terakhir, fase deep sleep atau tidur nyenyak. Inilah fase tertinggi kepulasan tidur seseorang. Mata, jiwa, dan raga sudah tidak lagi mendengar apapun. Pada fase puncak ini, seseorang sulit dibangunkan.
Selama tidur, seseorang akan mengalami semua fase secara fluktuasi. Walaupun sudah sampai tahap deep sleep, secara tiba-tiba bisa kembali ke fase kedua atau ketiga. Sebenarnya, mimpi itu terjadi bukan saat kita berada di fase deep sleep. Melainkan interfal dari fase pertama sampai keempat.
Maka, tidak mengherankan, saat kita bangun tidur merasa mendengar sesuatu ketika tidur tetapi tidak bisa melihatnya atau berbuat sesuatu. Ini terjadi karena kita berada dalam interval fase tidur, dimana telinga bisa mendengar tetapi raga tidak bisa berbuat apa-apa kerena memang belum memiliki kemampuan untuk itu.
Sleep walking, juga terjadi di antara fase-fase tersebut dan tidak ubahnya seperti mimpi. Hasrat ke ingin buang air, haus, atau bermain, sering muncul saat tidur. Bagi orang dewasa, pengontrolan antara hasrat dan gerak fisik bisa dilakukan dengan baik. Mereka bisa membedakan bahwa hasrat itu muncul sewaktu sedang tidur.
Sementara tidak demikian pada anak-anak. Mereka belum bisa mengontrol hasrat yang timbul ketika tidur. Sehingga, fisik mereka masih tetap meladeni hasrat meskipun sedang berada di bawah alam sadar.
Jadi tidak mengherankan kalau anak-anak terkadang bangun dari tidur dan pipis di sebelah ranjang. Dalam fikiran mereka, seolah telah berada di kamar mandir. Tidak mengherankan juga kalau anak-anak tiba-tiba bangun tidur dan berjalan membuka pintu, mengambil mainan, bahkan ada yang mengambil air minum atau susunya di dapur. Semua itu mereka lakukan masih dalam keadaan tidur dan tidak sadarkan diri.
Anak-anak, belum bisa memisahkan antara daya hayal atau imajinasi dengan dunia nyatanya. Oleh sebab itu, mereka selalu merasa tetap berada di alam nyata. (nix)

Karena Faktor Keturunan

PENGALAMAN selama ini membuktikan, sleep walking pada anak-anak mayoritas disebabkan faktor keturunan. Orang tua yang masa kecilny sering mengalami mimpi jalan, kemungkinan anak-anaknya pun bisa mengalami hal serupa. Tapi ini tidaklah mutlak dan hanya kecenderungan.
Faktor keturunan lebih dikarenakan adanya susunan saraf otak anak yang menyerupai orang tuanya. Sehingga kemungkinan mengalami kebiasaan yang sama itu memang cukup besar. Pada faktor bawaan ini, ada saraf-saraf otak yang terjaga saat tidur memasuki fase kedua, ketiga, dan  keempat. Terjaga itu, bisa dalam bentuk terbangun atau melakukan sleep walking.
Sleep walking sangat lumrah terjadi pada anak-anak usia dua sampai tujuh tahun. Sebenarnya, menurut Ilma, kemungkinan sleep walking itu bisa saja dialami sejak sebelum dua tahun. Tapi karena pada usia itu anak-anak belum bisa berjalan, sleep walking hanya dalam bentuk igauan. Kebiasaan mimpi jalan akan hilang seiring pertumbuhan usia anak, karena mereka sudah bisa membedakan dan mengontrol mana imajinasi dan kenyataan.
Sekali lagi, tegas Ilma, sleep walking bukanlah penyakit. Ini tidak ubahnya seperti mimpi tapi mimpi yang kompleks karena diikuti gerak raga, bukan hanya jiwa yang berimajinasi. “Mimpi bukanlah penyakit. Sleep walking tidak ubahnya seperti mimpi, karena itu tidak bisa dikatakan sebagai penyakit atau kelainan,” ujar Ilma ketika ditemui di Bandara Hang Nadim, Sabtu (29/10). (nix)

Jangan Pernah Dibangunkan

SAAT putra-putri Anda mengalami mimpi jalan, satu hal yang paling pantang dilakukan adalah membangunkannya. Ilma menyarankan, biarkan mereka tetap tertidur dan melakukan aktifitas yang diinginkan.
Orang tua, hanya bertugas menjaga agar anak-anak tidak sampai melakukan tindakan yang berbahaya, seperti keluar rumah atau mengambil senjata tajam. Apabila dibangunkan, akan sangat mengganggu jalannya tidur si anak.
Sleep walking adalah aktifitas yang selalu berulang. Dalam satu malam, bisa lebih dari satu kejadikan. Jika setiap bermimpi, anak dibangunkan, bisa dibayangkan berapa kali dia harus terjaga. Lama-kelamaan, hal tersebut akan berdampak negatif. Anak menjadi susah tidur sepanjang malam.
Orang tua harus mengetahui, kebiasaan apa yang dilakukan anaknya ketika mimpi jalan, apakah ke kamar mandi, minum susu, bermain, dan lainnya. Kalau aktifitasnya tidak berbahaya, bimbinglah si anak memenuhi hasratnya. Bila selesai, tuntun kembali mereka ke tempat tidur guna melanjutkan istirahatnya.
Selama ini, belum ada terjadi gangguan jiwa atau fisik berkelanjutan karena sleep walking. Tidak perlu dilakukan terapi atau pengobatan apapun selaku aktivitas sleep walkingnya tidak berbahaya. (nix)

Ikuti Hasrat Anak
Tips Menghadapi Si Mimpi Jalan
* Pelajari apa yang dilakukan anak ketika sleep walking
* Bimbing mereka untuk mendapatkan hasrat yang diinginkan, asalkan bukan hal yang berbahaya
* Jangan pernah bangunan anak ketika mereka mengalami mimpi jalan
* Tuntun kembali anak ke tempat tidur setelah hasratnya tercapai
* Sleep walking bukanlah penyakit atau kelainan. Mimpi jalan tidak ubahnya seperti mimpi dan mimpi bukanlah penyakit. (nix)

One thought on “Mimpi Berjalan, Penyakitkah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s