24 Jam Bersama Gubernur Kepri

Tulisan ini saya hadirkan sebagai upaya berbagi pengalaman liputan mengikuti calon Gubernur Kepri Ismeth Abdullah pada Pilkada 2005 lalu. Sekarang yang bersangkutan sudah menjadi Gubernur dan akan berakhir 2010 mendatang. Semoga berbagi pengalaman ini bermanfaat ya……. Have Fun

Nekat Nerobos Masuk

HARI kedua Tribun mengikuti kegiatan Cagup Kepri Ismeth Abdullah di detik-detik pencoblosan, terasa lebih ringan. Ismeth yang di hari sebelumnya cukup sulit didekati dan dilihat secara langsung gerak-geriknya, mulai Rabu (29/6) sore lebih membuka diri.
Tribun, yang sebelumnya telah dijanjikan Ismeth untuk dapat memotret kesehariannya di rumah pada siang hari, ternyata sampai pukul 17.00 WIB, belum juga bisa masuk ke rumah berpagar kuning yang terletak di Kompleks Bukit Indah Suka Jadi, tepatnya jalan Bukit Indah Raya I No 18.
Para pengawal yang menjaga di depan pagar, tetap meminta Tribun untuk menunggu di rumah tunggu yang terletak di sebelah kanan rumah berpintu pagar besi bercat coklat tersebut. Nekat masuk, itulah yang harus dilakukan. Saat pintu pagar tidak lagi dijaga dan tidak terkunci, Tribun pun menyelinap ke pekarangan rumah.
Begitu membuka pintu pagar, nampak dua Toyota Crawn hitam berplat BM 2829 XJ dan BM 1945 XF. Masih berdiamnya Crawn Berplat BM 2829 di car port, sekaligus menandakan si tuan rumah, Ismeth Abdullah, tidak pergi kemana-mana. “Bapak lebih sering berpergian dengan menggunakan Crawn ketimbang Land Cruiser–tumpangan Ismeth yang lain,” ujar salah seorang staf yang bekerja di rumah tersebut yang ketika itu sedang duduk santai di bersama dua orang lainnya, di depan pintu samping yang sekaligus sebagai ruang garasi.
Tidak hanya Tribun yang nekat menerobos masuk, beberapa tamu lainnya juga melakukan hal yang sama. Bahkan dalam hitungan lima menit, lima tamu yang sebelumnya menunggu di rumah sebelah, sudah berpindah tempat, duduk di lantai garasi bersama beberapa staf itu. Kontan saja, garasi yang tadinya sepi, menjadi ramai.
Melihat tindakan nekat beberapa tamu, salah seorang staf keluar dari dapur dan langsung menuju pagar dan mengunci pintu. Tidak lama kemudian, tamu yang duduk di garasi diminta pindah dan menunggu di ruang belakang.
“Pak….pak…pak, jangan disitu. Ibu Aida mau masuk. Tunggu di belakang saja,” kata pria berambut cepak dan bertubuh tegap, yang terakhir diketahui namanya, Ujang. Suasana yang awalnya hening, menjadi agak gaduh. Setelah garasi dibersihkan dari penungguan tamu, pintu pagar pun didorong dan terbuka.
Honda Civic Silver berplat 2547 masuk ke pekarangan. Seketika, para pengawal yang berseragam hitam-hitam dan berambut cepak, sibuk menyambut kedatangan Aida. Ada yang membukakan pintu mobil, ada yang memegangi tas tangan Aida, ada pula yang menerima bebera berkas dari wanita yang ketika itu mengenakan busana krim dengan jilbab kuning berbunga.
“Ibu apa kabar? Bisakan Tribun memotret keseharian Bapak sore ini,” sapa Tribun saraya bersalaman dengan Aida. Wanita yang baru saja pulang dari Lapas Batam itu, langsung menuju ruang tamu dari pintu depan dan menyampaikan keinginan Tribun. Beberapa menit kemudian, Tribun pun berbincang dengan Ismeth. (nix)

Bujuk Fatria  untuk Difoto

SEHARI sebelum pencoblosan, Rabu (29/6), Calon Gubernur (Cagub) Ismeth Abdullah masih disibukkan dengan tamu-tamunya. Sepulang dari mengunjungi Pesantren Darul Falah, bapak tiga anak itu, silih berganti menerima tamu di ruang tamu yang berukuran 3×4 meter. Sedikitnya, 50 orang dari berbagai kalangan telah menduduki kursi kayu berlapis baldu kuning yang terletak di ruang paling depan rumah berpagar beton dan bercat kuning itu.
Rumah selama beberapa bulan ini digunakan Ismeth untuk menerima tamu, menurut pengakuan pria kelahiran 1959 itu, bukanlah miliknya sendiri, melainkan punya putra bungsunya, Dany yang kini sedang di luar kota.
“Selama tujuh tahun bertugus menjadi ketua Badan Otorita Batam, saya belum sempat bangun rumah di Batam. Sejak mengundurkan diri sebagai ketua OB beberapa bulan lalu, untuk sementara waktu, saya dan ibu (Aida Zulaikha, red) tinggal di rumah anak bungsu kami, Dany,” cerita Ismeth mengawali perbincangan dengan Tribun selepas sholat Magrib berjamaah bersama Aida, Rabu (29/6).
Ismeth yang waktu itu mengenakan teluk belangan warnah putih dan celana panjang dan kopiah hitam, merasa cukup letih beberapa hari ini. Selepas masa kampanye, dirinya harus melakukan koordinasi-koordinasi secara intensif dengan tim kampanye. Di sela-sela kesibukannya itu, ia menyempatkan diri pulang ke Jakarta menjenguk orang tua dan anak bungsunya.
“Selama kampanye, saya memang tidak sempat ke Jakarta. Berhubung waktu luang, saya dan ibu sempatkan pergi,” kata Ismeth. “Eh…anak saya yang bungsu, Fatria , petang ini sampai Batam. Dia itu sudah 11 tahun kami tinggal sendirian di Jakarta. Untungnya, anaknya mandiri dan tidak manja,” Aida yang baru keluar dari kamar menimpali.
Rasa bangga, begitulah yang tercermin dari ungkapan Aida ketika menceritakan perihal Fatria Chairany yang kini menjadi mahasiswi semester dua, Fakultas Hukum Universitas Indonesia. “Fatria  itu, aktif sekali di kampus. Dia ikut kegiatan senat dan mengajar bahasa Inggris di beberapa lembaga kursus. Ya….sudah bisa mencari uang sendirilah,” sambung wanita yang telah berganti busana jubah berwarna orange itu.
Obrolan keluarga itu tidak berlangsung lama. Setelah bersanatai sejenak di sofa L yang berbahan kain berwarna krem, Ismeth pun turun dari lantai atas ke ruang kerjanya yang ada di lantai satu. Lantai dua merupakan ruang privasi keluarga Ismeth. Di lantai ini, hanya terdapat dua raung yakni kamar tidur utama dan ruang keluarga. Tidak banyak perabot yang terpampang disana. Ruang keluarga, hanya berisikan satu set sofa L dan satu unit televisi ukuran 29 inc, lengkap dengan sub woofer dan pemutar DVD. Juga satu set meja makan dengan jumlah kursi empat buah.
Berselang beberapa menit setelah sholat, tepatnya sekitar pukul 18.50, Fatria yang sudah dinanti kedua orang tuanya pun, mengucapkan Assalamualakum. Aida yang sudah menunggu di ruang makan bawah, langsung menghujani putrinya itu dengan ciuman dan pelukan.
Fatria  yang terkesan malu-malu, agak keberatan ketika ibunya meminta berfoto bersama. Ia pun langsung lari ke lantai dua yang kemudian diikuti Aida. Sempat terdengar kegaduan di lantai atas. Suara penolakan Fatria  untuk difoto pun sampai ke lantai bawah, dimana Tribun menunggu.
Tidak lama kemudian, Aida masuk ke ruang kerja Ismeth dan kembali lagi ke lantai atas. Ismeth pun mengikuti langkah Aida. Dari lantai atas, terdengar lagi suara bujukan Ismeth yang meminta Fatria  bersedia difoto bersama. Ternyata, gadis yang kini berusia 19 tahun itu, tidak bisa  menolak permintaan sang ayah. (nix)


Makan Malam Jam Dua Pagi

WALAUPUN, Ismeth sudah perpergian ke banyak tempat malam itu, ternyata tempat makan malamnya tetap di rumah. Kurang lebih pukul 01.05 WIB dini hari, Crawn hitam Ismeth memasuki car port kediamannya di Sukajadi.
Setelah bersantai dan berbincang beberapa saat dengan para stafnya dan hidangan makan malam pun sudah siap disajikan, pria yang masih mengenakan kopiah itu, mulai melahap makan malamnya.
“Bapak kalau makan malam tunggu semua kerjaan selesai dulu. Makan malam dini hari, itu sudah biasa,” kata Agus, kepala rumah tangga kediaman Ismeth. Makan malamnya yang sudah pagi itu sekaligus sebagai santap saur.
Ismeth merupakan sosok muslim yang jarang meninggalkan kebiasaan berpuasa Senin dan Kamis. “Sudah lama saya selalu puasa Senin dan Kamis. Tapi waktu masa kampanye, karena selalu berteriak dan berorasi, terkadang tidak kuat untuk puasa. Tapi hari ini, saya puasa,” kata Ismeth yang ditemui Tribun selepas sholat Subuh, Kamis (30/6). (nix)
Papa Jangan Kemana-mana Banyak Bom

MATAHARI mulai memancarkan sinarnya. Jam pun telah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Dari orari yang terpasang di rumah kediaman Ismeth, terdengar komunikasi dari pihak kepolisian. “Pencoblosan di Nongsa sudah dimulai,” sepenggal kalimat itu, menandai pertarungan Ismeth-Sani dengan dua kandidat lainnya Nyat-Soerya dan Rizal Firman telah dimulai.
Sementara itu, Ismeth yang mengenakan sarung liris-liris biru dan kaus putih oblong masih duduk santai sambil menonton siaran tv di ruang keluarga lantai dua. Terdengar pintu kamar mereka terbuka. “Papa jangan kemana-mana banyak bom,” pesan itu begitu saja muncul dari bibir Aida Ismeth yang baru keluar dari kamar.
Tidak terdengar jawaban dari Ismeth. Padahal, selepas solat subuh, ia sempat berujar pada Tribun, atas keinginannya berkeliling ke Karimun dan Tanjungpinang menunjau TPS. Tak lama setelah Aida menyampaikan pesarnnya, terdengar dering telepon.
“Tadi ibunya ibu (mertua perempuan Ismeth, red) menelepon. Memberi doa restu dan semangat untuk saya,” ungkap Ismeth sesaat sebelum meninggalkan rumah menuju TPS 3 yang berlokasi di Kompleks Palapa Kecamatan Tanjung Pinggir, Sekupang. Ia bersama Aida dan didampingi Fatria berangkat dari rumah sekitar pukul 08.20. (nix)

Di Kediamannya, Ismeth Unggul Tiga Suara

Batam, Tribun- Mayoritas suara masyarakat Batam, sepertinya memang milik Cagub Ismeth dan Sani, termasuk di kediamannya, Kompleks Bukit Indah Sukajadi. Dari 604 kertas suara sah di empat tempat pemungutan suara (TPS) yang dibuka di perumahan elit tersebut, Ismeth unggul tipis, hanya tiga suara, dari saingan beratnya, pasangan Nyat Kadir dan Soerya Respationo.
Ismeth-Sani berhasil mengumpulkan 293 suara, sedangkan Nyat-Soerya sebanyak 290 suara. Sementara pasangan Cagub bernomor urut 1, Rizal-Firman, hanya mendapatkan 17 suara. Pencoblosan di empat TPS yang letaknya berjejer di kompleks Ruko Sukajadi, berjalan aman.
TPS dibuka sejak pukul 07.00 WIB. TPS Sukajadi yang bernomor urut 1,2,3, dan 4 merupakan tempat pemilihan dengan daftar pemilih tetap (DPT) yang mencapat angka 1915 orang. Sayangnya, menurut Nurhadi selaku Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) TPS 4, yang mencoblos tidak sampai setengahnya. Dari data yang berhasil dikumpulkan Tribun, keempat TPS tersebut hanya dicoblosi 602 pemilih. Ini dikarenakan, lanjut pria itu, kebanyakan pemilih merupakan warga yang tidak tetap. Sehingga, ketika didaftar banyak sedangkan kekita pemilihan berlangsung mereka sudah tidak tinggal di Sukajadi lagi. (nix)

2 thoughts on “24 Jam Bersama Gubernur Kepri

  1. tetep kak menix yang perkasa.
    Tetep semangat Kak, maaf waktu jumpa tadi belum sempet cerita-cerita. Payah kalau jadi buruh kak;->

    Salam Hormat

    Angga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s