#DAY19: Derai Air Mata Duka di antara Kerabat Mele

Cerita sebelumnya wajib dibaca di sini!

air mata
Foto diambil dari Jakarta Islamic Centre

SUASANA sempat hening ketika jasad Mele sudah dibawah masuk ke kamar jenazah oleh Bang Udin dan dua rekannya.

Pintu kamar mayat itu kemudian ditutup rapat dan di depannya dijaga seorang anggota polisi.
Aku melihat di teras kamar mayat, Om Yonis masih merangkul istrinya, Tante Tati, yang terkulai pingsan.
Dia mulai sadar. Matanya terbuka namun tatapannya kosong. Air matanya terus menetes. Tiada suara apapun yang keluar dari bibir Tante Tati. Sesekali dia memejamkan matanya dan ketika itu pula tetesan air semakin bercucuran dari balik kelopak matanya yang tertutup.
Om Yonis yang merangkulnya terus membelai punggung sang istri dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya berusaha menghapus air mata Tante Tati dengan sapu tangan putih yang sebelumnya dipegang Tante Tati.
Sapu tangan sudah tampak basah dan warnanya pun sudah kekuningan setelah berada di tangan Om Yonis. Itu karena tangan Om Yonis memang kotor terkena tanah ketika tersungkur meratapi jasad Mele di Sei Ladi tadi tadi.
“Ma…. Istiqhfar ya Ma… Istiqhfar…. Astagfirullahaladzim…. Astagfirullahaladzim,” kata-kata itu kerap diucapkan Om Yonis sembari membimbing istrinya untuk mengulang kalimat Allah tersebut.
Om Sadri dan istrinya juga setia menemani Om Yonis dan Tante Tati yang sedang berduka.
Sementara itu, para kerabat sudah tampak sibuk masing-masing dengan ponsel mereka. Kelihatannya mereka sedang sibuk memberikan kabar duka ini kepada sanak saudara dan teman yang tidak berada di lokasi.
Dalam perbincangan mereka melalui pesawat telepon, aku melihat air mata mereka berderai. Duka ini sungguh mengejutkan. Mele yang selama ini dikenal begitu baik, periang, dan tidak neko-neko, harus pergi untuk selamanya dengan cara yang sangat tidak wajar.
Aku, Dirga, dan para awak media menyaksikan semua ini juga dengan perasaan duka. Meski begitu, kami tetap mengabadikan sekecil apapun momen mengharukan ini baik dalam bentuk foto maupun video.
Tidak berselang lama, pintu kamar jenazah terdengar dibuka. Bang Udin bersama Kasad Reskrim Polresta Barelang Kompol Dipta keluar dari sana.
Aku bersama semua wartawan langsung menyerbu keduanya.
Bersambung…
Advertisements

One thought on “#DAY19: Derai Air Mata Duka di antara Kerabat Mele

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s