#DAY18 : Mama… Sabar ya, Mele Sudah Gak Ada

Cerita sebelumnya wajib dibaca di sini!

crying
Ilustrasi diambil dari Pinterest

SETELAH terbebas dari kemacetan lalulintas yang disebabkan kecelakaan “tabrak kambing”, mobil Inafis dan mobil patroli melaju begitu kencang.

Lalulintas menuju RSBP memang sedang sepi karen tengah hari. RS ini letaknya tidak begitu jauh dari Pelabuhan Laut Sekupang. Bisa dikatakan berada di seberang pelabuhan. Hanya saja, posisi RS agak menjorok ke dalam dan terletak di dataran yang lebih tinggi.
Begitu memasuki pintu gerbang RS, kedua mobil itu langsung melaju menuju areal kamar mayat. Mobil Inafis langsung berhenti tidak jauh dari pintu makar mayat, sementara mobil patroli berhenti di halaman parkir yang juga tidak begitu jauh dari pintu kamar mayat.
Aku juga mengikuti monil patroli dan memarkirkan motor di dekatnya. Di belakangku sudah tampak rombongan awak media lainnya, termasuk bang Andi.
Di halaman depan kamar mayat, sudah ramai orang. Aku megenali satu sosok yang pernah aku temui di rumah keluarg Mele, malam kemarin. Ya, dia adalah Om Sadri, abang dari ayah Mele.
Tidak jauh dari Om Sadri, ada seorang wanita berjilbab yang dipapah seorang wanita berjibab lainnya. Wanita itu menangis lumayan keras, dan bisa dikatakan agak meraung.
Matanya sembab dan wajahnya memerah. Di tangannya ada sapu tangan putih yang kerap dia gunakan untuk menghapus air matanya. Aku menduga, itu pasti Tante Tati, ibunda Mele.
Dengan dipapah, dia berjalan gontai mendekati mobil Inafis yang baru sampai. Tidak hanya dia, hampir semua orang yang ada di sana juga mendekati mobil tersebut.
Namun, seorang anggota polisi yang berada di lokasi menghalau langkah mereka.
“Bapak-ibu, tolong-tolong di sini saja. Duduk saja dulu di teras,” kata petugas itu sambil menunjuk deretan kursi yang ada di teras di depan kamar jenazah.
Sementara itu, Om Yonis keluar dari mobil patroli yang membawanya dari Sei Ladi. Dia langsung berlari menuju wanita yang sedang menangis.
“Mama… Sabar ya, Mele sudah gak ada,” kata Om Yonis kepada istrinya.
Tante Tati tidak memberikan respon apa-apa melainkan jatuh terkulai dan pingsan. Sontak Om Yonis dan orang-orang yang ada di sini kaget. Om Yonis dibantu oleh Om Sadri, seorang anggota polisi yang bertugas, dan kerabat lainnya menggotong Tante Tanti ke kursi yang ada di teras di depan kamar jenazah.
“Tolong jangan terlalu ramai di sini. Tolong ambilkan air,”kata polisi meminta kepada siapa saja yang ada di sana untuk mengambilkan air minum.
Seorang kerabat pun dengan sigap mengambil sebotol air dari dalam tasnya. Sang polisi kemudian meminta Om Yonis untuk mendudukan istrinya di kursi dan memeganginya. Kemudian mencoba menyadarkan Tante Tati dengan mengusap air ke wajahnya.
Sementara itu, Bang Udin tampak membuka pintu belakang mobil Inafis. Dia bersama dua rekannya menggotong kantong jenazah Mele dan membawanya langsung ke dalam kamar jenazah.
Bersambung…
Advertisements

One thought on “#DAY18 : Mama… Sabar ya, Mele Sudah Gak Ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s