#DAY16 : Duka Kedua di Hari yang Sama

tabrakan
Kecelakaan tabrak kambing. Sketsa diambil dari Dreamstime.com

 

DENGAN sigap dan cekatan, Bang Udin dan rekannya menggotong kantong jenazah berisi mayat Mele menuju mobil Inafis yang diparkir di tapi jalan, tidak jauh dari Jembatan Sei Ladi.

Bang Udin tampak ngos-ngosan dan berkeringat karena berjalan cepat dan dengan jarak yang lumayan jauh, sekitar 200 meter. Kondisi jalannya pun semak belukar dan dengan kontur tanah yang tidak rata, melainkan agak berbukit.
Sesekali aku lihat kaki Bang Udin terbelit rumput yang menghalangi jalannya. Kadang juga dia tersandung kerikil. Meskipun demikian, rintangan kecil itu tak sampai membuatnya jatuh. Selain itu, sinar matahari pun memang mulai terasa terik.
Aku dan Dirga berjalan cepat mendahului mereka dengan harapan supaya lekas sampai di tempat parkiran motor dan bisa mengikuti mobil Inafis ke RSBP.
Sesampainya di tapi jalan, aku lihat, dua anggota polisi sudah siap siaga di mobil Inafis. Mobilnya berupa van berwarna Merah. Pintu belakangnya sudah terbuka lebar.
Seorang petugas polisi sudah berada di dalam mobil, dan satu orang lagi berada di depan pintu belakang mobil. Sementara supir sudah standby dengan mesin mobil yang dinyalakan.
Sebuah mobil jenazah yang aku lihat parkir ketika aku sampai di lokasi ini sudah tidak terlihat lagi. Kemungkinan itu adalah mobil jenazah rumah sakit dan sudah kembali ke tempatnya karena tidak digunakan di sini.
Di belakang mobil Inafis, ada satu mobil patroli. Di samping mobil patroli inilah aku memakirkan motorku.
Aku pun langsung standby di atas motor. Aku melihat rombongan Bang Udin sudah semakin dekat dan tinggal beberapa langkah lagi. Kulihat Dirga berdiri di dekat mobil Inafis karena ingin mengabadikan momen saat jenazah Mele dimasukkan ke mobil.
Di pinggir jalan ini suasana sangat ramai. Entah berapa banyak pengendara yang berhenti di lokasi. Aku lihat, di tengah jalan sudah ada beberapa Polantas yang sibuk mengatur lalulintas dan mengarahkan siapapun yang lewat untuk terus berjalan.
Mereka melarang pengendara berhenti dan menyaksikan kejadian ini.
Namun, tidak semua pengendara mematuhi perintah Polantas. Beberapa bahkan sengaja memakirkan kendaraan agak jauh dari lokasi, kemudian berlari-lari mendekati mobil Inafis agar bisa menyaksika apa yang terjadi secara langsung.
Banyak pula yang saling bertanya, apa yang sebenarnya terjadi sehingga bisa ramai sekali di sini.
“Ada apa ya kok ramai kali?,” seorang ibu yang membonceng anaknya dengan logat Batam sempat menghampiri aku dan bertanya. Belum sempat aku jawab, si ibu segera disuruh pergi oleh Polantas.
“Terus jalan Bu…. Terus jalan… Jangan berhenti di sini. Tidak ada apa-apa… Jalan..jalan,” begitu perintah sang Polantas.
“Minggir-minggir… Jangan terlalu dekat,” tiba-tiba suara bas Bang Udin terdengar begitu akan sampai ke pintu mobil Inafis. Keramaian warga dan rasa ingin tahu mereka yang begitu tinggi memang agak mengganggu tugas kepolisian di lapangan tapi hal itu sulit dihindari.
Bang Udin langsung memasukkan jasad Mele ke dalam mobil dibantu dengan dua petugas yang ada di sana. Kemudian, dia bersama satu rekannya pun langsung ikut masuk ke dalam mobil tersebut. Ada tiga orang yang bersama jasad Mele di dalam mobil.
Begitu Bang Udin dan rekannya masuk mobil, pintu langsung ditutup oleh petugas yang berada depan pintu belakang mobil. Mobilpun langsung melaju kencang.
Aku tak mau ketinggalan. Aku langsung memacu motorku. Aku juga sempat menyaksikan Om Yonis dibawa dengan mobil patroli mengikuti mobil Inafis. Dia duduk di bangku depan. Aku berada di belakang mobil patroli tersebut, sementara Dirga masih di belakangku.
Perjalanan kami menuju RSBP awalnya terbilang lancar karena lalulintas memang sedang sepi di jam-jam menjelang tengah hari seperti ini.
Namun, kelancaran berlalu lintas ternyata tidak berlangsung lama. Tepat mendekati Simpang Empat Sei Harapan, kami terhenti.
Masyallah! Ternyata di simpang tersebut baru terjadi kecelakaan tabrak kambing antara dua motor metik.
“Ya Allah begitu banyak duka setengah hari ini aku saksikan,” kataku membatin.
Aku lihat dua motor yang baru kecelakaan itu masih berada di tengah persimpangan dengan korban yang masih tergeletak. Sungguh kejadian yang memilukan hati dan perasaan.
Aku lihat mobil ambulans yang sebelumnya parkir di lokasi penemuan jasad Mele sudah ada di sini.
Suara jeritan kesakitan kudengar dari kejauhan. Karena aku terhalang mobil patroli yang ada di depanku, aku mencoba menyelipkan motor di antara kendaraan yang sama-sama berhenti, agar aku bisa melihat apa yang terjadi lebih jelas.
Astaqhfirullah, ternyata tidak hanya dua sosok yang terkapar di tengah persimpangan itu. Di dekat motor yang renyek itu ada seorang wanita berhijab yang sedang menjerit-jerit kesakitan.
Posisinya duduk dan wajahnya tampak berdarah-darah. Sambil menangis menahan sakit, dia mencoba mendekati salah satu pria yang masih tergeletak di atas aspal yang tidak begitu jauh darinya.
“Ya Allah…. Apakah dua pria itu masih hidup?”
Bersambung. . .
Advertisements

One thought on “#DAY16 : Duka Kedua di Hari yang Sama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s