#DAY15 : Tergopoh-gopoh Ikuti Jasad Mele

Cerita sebelumnya wajib dibaca di sini!
mayat
Ilustrasi diambil dari kompas.com
SETELAH Bang Udin dan beberapa rekannya bisa menenangkan Om Yonis, secara perlahan kantong jenazah yang berisi jasad Mele ditutup. Reseleting dari bagian kaki pelan-pelan dinaikkan sampai ke bagian kepala sehingga menutup rapat jasad Mele yang ada si dalamnya.
” Tolong ayahnya dipapah ya! Dibantu sampai ke atas dan dibawa pakai mobil patroli saja,”kata Bang Udin memberikan arahan kepada petugas polisi yang mendampingi Om Yonis.
Sementara itu, Bang Aad dan beberapa rekannya sedari tadi sudah sibuk mengamankan lokasi dan menghalau warga yang ingin lebih dekat melihat langsung evakuasi Mele.
Bang Aad sudah memberikan jalur sendiri agar Tim Inafis leluasa bergerak menuju mobil yang diparkir di pinggir jalan raya, tidak jauh dari Jembatan Sei Ladi.
Suasana sekarang sudah agak tenang. Om Yonis sudah berdiri kembali di samping kanan Bang Udin. Dia memang tampak sangat lunglai. Lengannya dipegangi seorang anggota polisi yang ditugaskan menjaga Om Yonis dari awal.
Di dekat kantong jenazah, sudah bersiap-siap Bang Udin dan satu rekannya yang akan mengangkat jasad Mele. Bang Udin berada di bagian kepala, sedangkan rekannya di bagian kaki. Karena tubuh Mele mungil, sepertinya dua orang ini sudah cukup kuat mengangkat jasadnya.
“Hitungan kedua kita bergerak ya,” kata Bang Udin memberikan instruksi.
“Bismillah….,” kata itu terdengar dari Bang Udin saat mengangkat jasad Mele yang ada di dalam kantong jenazah.
Langkah kaki Bang Udin begitu cepat dan sigap. Rekannya yang berada di belakangnya juga mengikuti kesigapan Bang Udin. Mereka berjalan sangat cepat seolah tidak ingin membuang waktu.
Sementara Om Yonis yang didampingi seorang anggota polisi kali ini juga tampak lebih semangat. Dia bahkan berlari-lari kecil agar tidak jauh ketinggalan dari jasad putrinya yang sedang digotong.
Di lokasi, aku melihat seorang anggota Inafis ditemani dua polisi tetap tinggal di di sana. Mereka mulai memasang garis polisi dan meneliti lebih detail lagi untuk mencari barang bukti yang ada di sekitar tempat kejadian.
Saya dan para awak media pun bergerak tidak kalah cepat.
“Dirga siapa ya yang sudah stand by di RSBP?” tanyaku pada Dirga untuk memastikan ada rekan wartawan lain dari X-File yang sudah berada di RSBP, sehingga peliputan kejadian ini benar-benar komprehensif dan tidak ada momen yang tertinggal.
“Sepertinya belum ada Mbak,” jawabnya singkat.
“Ooo kalau begitu kita harus gerak cepat. Kalau bisa sebelum jasad Mele tiba di RSBP, kita sudah ada di sana,” kataku sambil terus berjalan sangat cepat, bahkan bisa dikatakan berlari kecil.
Aku dan Dirga sekarang berada sedikit di depan rombongan Bang Udin. Dirga masih menyempatkan memotret momen saat jenazah Mele digotong.
Aku pun menyempatkan diri menelepon Mas Jaya untuk memerintahkan satu wartawan ke RSBP karena jasad Mele akan dibawa ke sana.
BERSAMBUNG… 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s