#DAY2: Bau Mayat di Bajuku

Cerita sebelumnya harus dibaca di sini!

mayat
Ilustrasi diambil dari kompas.com

MASIH di Sabtu sore, 26 September 2015. Kala aku sedang larut memikirkan dua pembunuhan wanita yang terjadi dua bulan belakangan, Juli dan Agustus, tiba-tiba getaran HP-ku menyentakkan kekhusukanku.

“Ah Mas Jaya rupanya,” kataku dalam hati begitu melihat di layar HP tertulis Mas Jaya. Dia adalah editor desk (bidang) kriminal di Media X-File, tempat aku bekerja hampir satu dasawarsa.

“Halo Mas Jaya,” kataku saat mengangkat telepon itu dengan rasa agak kesal. Kesal karena setiap kali telepon berdering dan sumbernya dari pria ini, pasti ada tugas peliputan yang harus aku lakukan. Dia seperti orang yang tidak peduli kata siang dan malam, kata lelah dan letih, kecuali kata sakit dan terbaring.
Sebelum dia menjawab salamku, aku sudah tahu, pasti dia akan menyuruhku menangani kasus remaja yang hilang ini.
“Halo Ria, kamu sudah lihat selebaran orang hilang yang ramai di Medsos? Ternyata dia anak SMA di Batam. Kamu harus kejar ini. Temui keluarganya dan gali secara detail bagaimana kok dia bisa hilang. Jangan lupa akses kepolisian,” suaranya langsung menyerocos tanpa koma dan titik. Betul kan dugaanku.
“Iya Mas Jaya. Aku baru saja melihatnya di Facebook. Aku juga baru sampai rumah setelah ikut pengangkatan mayat tadi. Aku ambil nafas dan mandi dulalah ya. Baru juga sampai. Badanku masih bau mayat,”jawabku gak mau kalah panjang.
Beginilah resiko pekerjaanku sebagai jurnalis yang ditempatkan di desk kriminal. Kalau sedang banyak kasus kriminal, sangat susah untuk beristirahat. Apalagi, tenaga jurnalis di kantorku tidaklah begitu banyak sehingga setiap orang harus bekerja ekstra keras.
Dari pagi tadi aku dan seorang teman dari media lain, baru saja mengikuti operasi Kepolisian Resort Kota (Polresta) Barelang dalam pengangkatan mayat seorang pria paruh baya. Mayat itu ditemukan membusuk dari semak belukar di Tanjungbemban, Batubesar, Nongsa.
Saking busuknya mayat itu, rasanya sekujur badanku ini bau mayat semua. Setelah dari lapangan dan singgah ke kantor untuk absensi, aku memang berniat untuk pulang dan mandi, lalu istirahat.
Well, rencana istirahatku yang pasti tidak akan berhasil karena tugas selanjutnya sudah menanti. Lagian, kalau tak mandi dulu, rasanya tidak pede juga bertemu orangtua yang sedang berduka karena lehilangan anak gadisnya. Pastinya aroma bau mayat dari tubuhku akan mengganggu orang yang berada di dekatku.
Sebenarnya, aku bisa meminta bantuan rekanku yang sama-sama tugas di desk kriminal untuk menggantikanku menangani kasus remaja hilang ini. Tapi, hari ini sungguh tidak mungkin karena sejak pagi dia sudah minta izin tidak masuk kerja karena menunggui anaknya yang masuk rumah sakit. Ya mau tidak mau akulah yang harus ke lapangan lagi.
Tanpa pikir panjang, aku bergegas mandi ala tentara. Maksudnya, cepat kilat dan bersih.
Sambil mengenakan baju dan jilbab segi empatku, aku sempatkan ngemil biskuit yang ada di meja rias. Lumayanlah sebagai pengganjal perutku yang sejak tadi berbunyi kruk..kruk. Cacing-cacing di dalamnya pun seolah-olah unjuk rasa minta diberi sesajen.
Sebelum aku starter motorku lagi, aku sempatkan untuk menelepon satu di antara nomor telepon yang ada di selebaran remaja putri yang hilang itu. Dia bernama Mele dan tinggal di daerah Tiban.
Aku pilih nomor telepon yang paling atas.
“Halo….”suara seorang pria mengangkat telepon setelah beberapa kali nada panggil dari HP-ku tak dijawab-jawab.
” Halo, selamat sore Pak. Ini dengan Ria dari media X-File”
“Ya, ada apa Mbak,” tanyanya dengan ketus.
“Maaf kalau boleh tahu ini dengan siapanya Mele ya? Saya dapat nomor Bapak dari selebaran Mele yang hilang,” tanyaku.
“Oh, ini dengan Yonis, ayah Mele,” jawabnya singkat dan nada yang lebih ketus. Nada bicara ketusnya bisa aku pahami, mungkin dia merasa terganggu dengan teleponku karena dia sedang dalam keadaan susah.
“Begini Pak, saya ingin menanyakan tentang hilangnya Mele dan….”belum lagi aku selesai berkata, suara di ujung sana langsung menyambar,” Mbak datang saja ke rumah saya. Ada istri saya di rumah.” Kemudian “nginnnnnngggg” nada suara telepon diputus pun terdengar.
“Huuuu, sepertinya aku akan menghadapi orang yang kurang ramah sore ini,”kataku membatin.
Usai percakapan di telepon itu, aku bergegas mengambil ransel yang masih ada di atas meja kerjaku di dalam rumah.
Setelahnya, di depan pintu rumahku, aku kenakan sepatu sport-ku dan langsung kukunci pintu depan. Di Batam, aku memang hidup seorang diri karena merantau. Aku tinggal di daerah Bengkong, di rumah sederhana yang aku beli secara cicilan dari Bank Tabungan Negara (BTN).
Setelah semuanya beres, kukenakan helm dan “Bismillahirohmanirohim” aku melaju di atas motor bebek milikku.
Sambil memacu motor dengan kecepatan yang lumayan, di atas 70 km/jam, pikiranku terus berputar membayangkan letak alamat keluarga Mele di Tiban. Aku terus mencari dan mengira-ngira jalan mana yang kira-kira paling mudah dan cepat untuk mencapai rumah tersebut.
BERSAMBUNG…
Advertisements

One thought on “#DAY2: Bau Mayat di Bajuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s