Berziarah Sejarah ke Makam Putri Dahlia di Subang Mas dan Menikmati Pesona Pantai Tunjuk yang Pasirnya Terus Bergerak

dsc_3721

SAYA ‘jatuh cinta’ dengan satu pulau di Batam. Namanya Pulau Subang Mas.

Selain punya muatan sejarah karena terkait dengan cerita keluarga Kerajaan Daik-Lingga dan memiliki panorama pantai yang memesona, keramahtamahan masyarakat nelayan pulau ini memang bikin kita betah.

Ditambah lagi, hidangan masakan kampong original Melayu yang bikin ‘ngences’.

Sudah cukup lama saya bertandang ke pulau ini untuk kali pertama, yakni 10 tahun silam, tepatnya 2006. Saat itu saya dan seorang teman, Ika Maya Susanti, mendapat tugas dari kantor untuk menjelajah pulau-pulau kecil yang ada di sekitar Batam. Maka ‘terdamparlah’ kami di pulau ini untuk melihat kehidupan masyarakat dan potensi pariwisata yang dimilikinya.

Setelah kunjungan perdana itu, hampir setiap tahun saya menyempatkan berkunjung kesana. Bahkan, tidak sedikit teman-teman yang saya bawa kesana dan mereka memang berpendapat serupa dengan saya. Pulaunya asik dan masyarakatnya menyenangkan. Kedatangan saya terakhir kali, beberapa bulan lalu saat seorang teman ‘bule’ berkunjung ke Batam dan ingin melihat kehidupan warga nelayan plus pemandangan pantai yang menyegarkan mata.

Pulau Subang Mas terletak tidak begitu jauh dari Rempang. Untuk sampai ke pulau ini, ada dua jalur laut yang bisa ditempu.

Pertama, dari pelabuhan rakyat Telaga Punggur. Dari sini kita bisa menyewa pompong atau pancung. Pancung adalah sebuah sampan kayu bermesin yang berukuran sedang. Tidak ada pancung regular ke pulau Subang Mas. Pancung yang bisa kita sewa adalah milik warga setempat. Jarak tempu dari Punggur ke sana sekitar 40 menit. Biaya sewanya kurang lebih Rp200 ribuan.

crim0166

Kedua, jalur laut dari Pelabuhan Rakyat Desa Rempang Cate dan Tebing Tinggi. Namun, sebelum kita mencapai pelabuhan di dua desa tersebut, kita harus menempuh jalur darat mengendarai motor atau mobil pribadi dari Jembatan 4 Barelang. Dari jembatan ini,  kemudian masuk ke daerah Desa Rempang Cate dengan jarak  tempuh sekitar 20 menit. Atau bisa ke Desa Tebing Tinggi, telaknya sebelum Rempang Cate belok ke kiri, dengan jarak tempuh yang hampir sama.

subang

Foto: Pulau Subang Mas

Dari Pelabuhan Rempang Cate atau Tebing Tinggi ke Pulau Subang Mas, kita harus menyewa pancung  milik warga. Jarak tempunya sekitar 20 menit dengan biaya sewa kurang lebih Rp 150 ribuan.

Nyantai di Pantai Permata

Sesampainya di Subang Mas, kita bisa minta langsung diantarkan ke Pantai Permata. Pantai ini bisa dikatakan masih ‘perawan’ karena memang jarang didatangi tamu. Hamparan pantainya cukup luas dan memiliki pasir putih nan bersih. Kalaupun ada sampah, adalah sampah organik berupa dedaunan dan rantingranting dari pohon-pohon yang ada di sekitar pantai.

Di beberapa bagian, terdapat batu-batu besar yang bisa dijadikan tempat duduk atau ber-selfie dan wifie. Batu-batu besar disini memiliki bentuk-bentuk yang unik dan konon ada hubungannya dengan sejarah Putri Dahlia dari kerajaan Daik-Lingga.

crim0089

Foto: Pantai Permata Pulau Subang Mas

Di bagian atas pantai ini, saat ini sudah tersedia beberapa tempat duduk layaknya café sederhana lengkap dengan meja bundar dan atapnya. Café ini dikelola seorang warga setempat.

Jika sebelum datang ke pantai ini memberitahukan pengelola café, maka pengunjung bisa memesan aneka makanan seafood asli masakan warga Subang Mas yang segar, hasil tangkapan para nelayan.

Beberapa menu yang bisa dipesan di antaranya sotong masak hitam, ikan asam pedas, cumi-cumi goreng, dan udang, dan ketam.

Yang suka berenang, begitu sampai Pantai Permata bisa langsung ‘nyebur’ ke laut. Snorkeling juga bisa dilakukan, dengan catatan alat-alatnya dibawa sendiri.

Sebagai catatan, dianjurkan berkunjung ke Pantai Permata tidak di saat musim utara yang, biasanya berlangsung sekitar akhir dan awal tahun. Sebab, saat musim utara tidak dianjurkan berenang karena arus laut cukup kuat dan anginnya juga kencang. Ditambah lagi, biasanya pantai sedikit kotor lantaran adanya limbah oli kiriman (terbawa angin) dari daerah lain.

Jika hendak menikmati pantai lain yang tak kalah indah, bisa jalan kaki atau naik sampan mengitari sudut lain dari pulau Subang Mas.

Di sana ada Pantai Manda yang juga memiliki pasir yang putih bersih.

pantai-manda

Foto: Pantau Manda di Pulau Subangmas

Di sekitar Pantai Manda ini terdapat telaga air tawar yang tidak pernah kering. Meskipun letaknya hanya beberapa meter dari laut, telaga ini menyimpan air tawar untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Subang Mas.

Menurut warga setempat, saat musim kemarau dimana sumur-sumur warga di Subang Mas kering, telaga ini tetap berisi. Wargapun berbondong-bondong ambil air kesana.

“Meskipun kami ambil air terus menerus disana, telaganya tidak pernah kering walau itu musim kemarau,”kata Eliz, seorang warga Subang Mas.

Wisata Sejarah:  Ziarah Makam Engkuputri Dahlia

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, Pulau Subang Mas ini memang kerap dikaitkan dengan sejarah Kerajaan Daik-Lingga.

Tidak jauh dari Pantai Permata, terdapat Komplek Makam Engkuputri Dahlia beserta panglima, dayang pengasuh, dan  para pengawalnya.

putri-dahlia3

Foto: Komplek Makam Engkuputri Dahlia

Menurut Pak Senin, warga Subang Mas yang menjadi juru kunci makam tersebut, konon terdapat satu bahtera atau kapal yang membawa Putri Dahlia berlayar dari Penyengat yang kemudian karam di Subang Mas.

Jika dilihat dari sejarah Kerajaan Daik-Lingga, memang terdapat nama Putri Dahlia dan diyakini sang Putri wafat karena bahteranya karam di Subang Mas.

Penemuan komplek makam ini juga terbilang baru, sekitar 1997 lalu.

putri-dahlia2

Foto: Gerbang Komplek Makam Engkuputri Dahlia

Pak Senin menceritakan, awalnya warga Subang Mas tidak mengetahui adanya makam keramat Putri Dahlia karena memang sebelum 1997, tidak ditemukan makam di sana.

Keberadaan makam terungkap ketika ada seorang wanita bernama Beti dari Penghujan, Bintan, datang ke Subang Mas mencari Senin. Dua hari sebelum bulan Ramadan 29 November 1997,  Beti menemui Senin karena mendapatkan mimpi harus mencari Makam Putri Dahlia di Subang Mas. Jika tidak ketemu, Beti tidak akan bisa bicara.

Saat menyusuri pantai yang masih sederetan dengan Pantai Permata, Beti menunjukan lokasi makam dimaksud. Secara mengejutkan, memang terdapat nisan yang dipercayai sebagai milik Putri Dahlia, dayang pengasuh dan panglima.  Beti kemudian meminta kedua makam tersebut diberi kain kuning, seperti permintaan Putri Dahlia dalam mimpi Beti.

Keesokan harinya, saat Senin membersihkan areal makam yang ketika itu masih semak belukar, ditemukan batu nisan lainnya. Nisan yang ‘bermunculan’ ada yang terbuat dari kayu dan ada pula dari batu.

Karena sejarah makam ini jelas dan telah diteliti kaitannya dengan Kerajaan Daik Lingga, maka Pemerintah Kota Batam telah melengkapi makam ini dengan bangunan yang layak dan memagarinya dan menjadikannya sebagai salah satu peninggalan sejarah. Makam ini dipercantik dengan cat dan dekorasi kain warna kuning.

Setiap tahun, tidak sedikit orang yang datang ke makam ini untuk berziarah, termasuk pelancong dari Singapura dan Malaysia.

Uniknya Pantai Tunjuk, Pasirnya Selalu Bergerak

Di seberang Pulau Subang Mas, terdapat satu pulau lagi yang memiliki pantai yang indah dan bersih. Namanya Pulau Tunjuk atau Telunjuk. Disebut Pulau Tunjuk karena  bentuknya mirip jari telunjuk.

pantai-tunjuk

Foto: Pulau Tunjuk

Dari Subang Mas ke pulau ini, bisa ditempuh dengan naik sampan bermesin berukuran kecil dengan jarak tempuh sekitar 10 menit. Dari kejauhan, hamparan pasir putih memang sudah tampak menyambut pengunjung yang datang. Ditambah lagi lambaian nyiur kelapa dan pepohonan yang rindang di tepi pantai.

Sebelum tahun 2000-an, pulau Tunjuk ramai dihuni penduduk. Sekolah SD pun sempat dibangun disana. Namun, karena angin kencang dan gelombang laut yang kerap merusak pemukiman warga, lambat laut penduduk di sana mulai meninggalkan Pulau Tunjuk dan pindah ke Pulau Subang Mas maupun ke pulau-pulau lainnya.

Alhasil, kini hanya segelintir penduduk yang masih tinggal di sana. Itupun mereka tidak tinggal di pinggir laut melainkan ke tengah pulau agar terhindar dari hempasan angin dan gelombang yang kuat.

pulau-telunjuk2

Foto: Pulau Tunjuk

Keistimewaan utama pantai di pulau ini, selain bersih dan putih, pasirnya terus bergerak.  Pergerakan yang dimaksud, kata warga setempat, kadang-kadang pasir di pantai ini terlihat sangat luas dan memanjang ke arah laut, tapi tidak jarang pasir di pantai tampak menyempit, hingga luasnya hanya beberapa meter.

Meluas dan menyempitnya ukuran pantai tersebut, menurut saya, karena adanya pasang naik dan pasang surut. Jika air laut sedang surut, pantainya tampak luas. Begitu pula sebaliknya, jika air pasang, pantainya menyempit..

Saat saya utarakan pendapat tersebut, seorang warga setempat bernama Alex, menyangkalnya. Menurut pria yang kerap mengamati Pulau Tunjuk tersebut, teori  surut dan pasang naik tidak selalu sejalan untuk pantai di pulau ini.

tunjuk

Foto: Pulau Tunjuk

Sering kali air surut, pasir di pantai tetap kelihatan menyempit bahkan hilang dari pantai. Namun, setelah air pasang, naik justru pasir itu kembali terlihat luas.

Karena tidak stabilnya keberadaan pasir di pantai ini, warga setempat tidak membolehkan pengunjung untuk bersantai lama-lama di areal pasir yang terlalu dekat dengan laut.

Warga khawatir, jika pasir ‘menghilang’ pengunjung bisa tenggelam terbawa air lait.

“Itu makanya kami warga kampung tidak membolehkan siapapun duduk dan bersantai di pasir yang terlalu dekat dengan air laut. Kalau mau duduk santai agak jauh ke darat. Ditakutkan kalau dekat ke laut, nanti pasirnya menghilang dan kita bisa terbawa air laut,”cerita Alex. (sri murni)

 


2 thoughts on “Berziarah Sejarah ke Makam Putri Dahlia di Subang Mas dan Menikmati Pesona Pantai Tunjuk yang Pasirnya Terus Bergerak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s