Strategi Jitu Rencanakan Pendidikan Anak: Mixing Asuransi dan Investasi

harris1

SAAT kita bertanya kepada anak-anak kita,”Kakak dan adik kalau sudah besar mau jadi apa?”

Pastinya mereka akan memberikan jawaban yang beragam. Ada yang ingin jadi dokter, pilot, astronot, polisi, tentara, guru, dan banyak lagi.

Sungguh keinginan dan cita-cita yang luar biasa. Rasanya sangat jarang orang tua di dunia ini yang tidak ingin melihat anak-anak mereka bisa sekolah dengan baik dan menggapai semua cita-cita fantastis mereka.

Sedari kecil saat pertama kita mendengar cita-cita buah hati kita, walaupun nantinya cita-cita itu bisa saja berubah sejalan dengan bertambahnya usia anak, tentu sebagai orangtua, kita langsung berfikir dan menetapkan strategi bagaimana caranya agar anak-anak kita bisa mewujudkan cita-citanya.

Saya yakin salah satu hal utama yang terbersit dalam benak orang tua adalah soal biaya pendidikan. Menyiapkan dana pendidikan untuk masa depan anak, caranya memang bisa beragam.

Salah satunya adalah membeli premi asuransi yang banyak ditawarkan. Pada tulisan ini saya memaparkan pengalaman mempersiapkan pendidikan anak dengan asuransi plus investasi properti.

Asuransi, khususnya kesehatan dan pendidikan, memang kian popular sebagai salah satu strategi finansial mempersiapkan masa depan dan “Kekuatan Anak Bangsa”.

Saya sendiri sudah mempersiapkan finansial pendidikan anak secara tidak langsung sejak saya masih lajang alias belum menikah. Tepatnya saat umur saya 27 tahun pada 2007 lalu.

Ketika itu saya memutuskan untuk membeli satu premi kesehatan yang didalamnya sudah termasuk investasi yang ditawarkan salah satu asuransi dengan besaran premi  Rp 350.000 sebulan dalam jangka waktu 10 tahun.

Jujur saja, saya membeli premi itu selain untuk jaga-jaga jika terjadi musibah, lebih pada rencana finansial masa depan.

Saat itu saya berfikir, dengan premi Rp 350.000 selama 10 tahun, pada 2017 nanti saya akan sudah punya tabungan lebih kurang Rp 50 juta, jika semua berjalan seperti yang dijanjikan pihak asuransi.

Jika saya menikah pada usia 28 tahun dan memiliki anak satu tahun kemudian, maka pada tahun 2017 anak saya akan masuk ke jenjang sekolah dasar (SD).

Saya memang menginginkan sekolah yang terbaik untuk anak saya yang pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. K

enyataannya, apa yang telah saya rencanakan memang akan terjadi. Anak saya yang sulung, tahun depan memang akan masuk SD dan tahun depan pula, masa kontrak asuransi saya akan berakhir.

Artinya, saya bisa mengklaim secara utuh asuransi tersebut. Sejauh ini, saya memang tidak pernah mengklaim apapun kepada pihak asuransi karena Alhamdulillah kesehatan saya tetap prima.

Kalaupun saya sakit, hanya sakit ringan yang biayanya sudah ditanggung oleh asuransi kesehatan dari kantor saya bekerja. Lalu, apakah dengan hanya klaim asuransi nantinya biaya pendidikan anak akan tercukupi?

Pastinya tidak. Untuk mempersiapkan dana lanjutan pendidikan anak saya, saya dan suami sepakat berinvestasi di bidang properti, khususnya rumah sewa dan kos. Di Batam, bisnis sewa rumah memang terbilang sangat prospek.

Kami mulai membeli satu rumah sewa siap huni pada 2011 lalu. Saat itu kami memiliki tabungan yang cukup lumayan tapi memang tidak mencukupi untuk membeli rumah tersebut secara tunai tanpa pinjaman.

Kami pun memberanikan diri untuk meminjam modal usaha di salah satu bank dalam jangka waktu pendek, hanya dua tahun. Besaran cicilannya sekitar Rp 5 juta per bulannya.

Dengan gaji kami berdua plus pendapatan dari uang sewa yang besarnya Rp 1.250.000 sebulan, pembayaran cicilan utang bank tersebut tidaklah begitu berat.

Lagipula, utang tersebut lunas pada tahun 2013 dimana usia anak kami masih balita.

Beban biaya untuknya pun belum begitu besar.  Mengapa kami berinvestasi rumah sewa? T

ujuannya adalah, hasil dari rumah sewa yang diterima setiap bulan itulah yang akan kami gunakan untuk membayar biaya bulanan sekolah anak kami yang sulung.

Jika semuanya berjalan lancar seperti rencana, berarti untuk biaya masuk sekolah SD anak sulung kami sudah terselesaikan dengan pencairan asuransi kesehatan plus investasi yang sudah saya mulai sejak 2007 lalu.

Sementara biaya sekolah setiap bulannya bisa diambil dari investasi properti yang sudah kami lakukan.

Strategi ini juga kami terapkan untuk anak kami yang kedua yang kini masih berusia tiga tahun.

Setelah membaca dan mempelajari skema asuransi yang ditawarkan AJB Bumiputera 1912, khususnya untuk produk ‘Mitra Cerdas’, tidak ada salahnya untuk mencoba mengikuti strategi lain dalam mempersiapkan rencana pendidikan anak.

Apalagi, sejauh ini biaya pendidikan anak yang kami siapkan baru sebatas untuk tingkat sekolah dasar, sementara untuk SMP, SMA sampai ke perguruan tinggi, kami memang masih mengandalkan investasi properti yang jumlahnya terus bertambah.

Dari yang saya baca, Mitra Cerdas memiliki beberapa keunggulan, seperti:

1. Ada jaminan pembayaran biaya pendidikan secara bertahap sesuai dengan usia dan jenjang pendidikan anak yang dinamakan Dana Kelangsungan Belajar (DKB), baik saat tertanggung masih hidup maupun ketika sudah meninggal dunia.

2. Ada jaminan perolehan hasil investasi minimal 4,5 persen per tahun dari akumulasi premi tahungan.

3. Ada tambahan hasil ivestasi jika dana investasi yang diperoleh AJB melebihi investasi yang dijamin pada poin dua.

4. Jika tertanggung meninggal dunia, maka akan diberikan satunan kematian 100 persen dari uang pertanggungan dan ahli waris dibebaskan dari premi selama masa kontrak.

Skema pembayaran premi yang ditawarkan juga cukup fleksibel, mulai triwulan alias tiga bulanan, semesteran, tahunan, sekaligus dan tunggal.

Apapun skema yang dipilih, kontrak asuransi sudah ditetapkan minimal tiga tahun dan maksimal 17 tahun.

Jika dihitung-hitung secara finansial, yang ditawarkan Mitra Cerdas sangat menarik, apalagi jika sudah mengikutinya sejak anak usia nol tahun.

Saya mendapatkan contoh skema premi tahunan yang besarnya Rp 5.445.000 dengan masa kontrak 17 tahun, maka DKB yang akan dibayarkan disesuaikan dengan jenjang pendidikan anak, dengan rincian:

  • Saat anak usia 4 tahun atau masuk TK, DKB yang dibayarkan Rp 2.500.000
  • Saat anak usia 6 tahun atau masuk SD, DKB yang dibayarkan Rp 5.000.000
  • Saat anak usia 12 tahun atau masuk SLTP, DKB yang dibayarkan Rp 10.000.000
  • Saat anak usia 15 tahun atau masuk SLTA, DKB yang dibayarkan Rp 15.000.000
  • Saat anak berusia 18 tahun atau masuk ke Perguruan Tinggi akan disediakan beasiswa sebesar Rp 20 juta plus bonus Rp 3.750.000. Beasiswa ini bisa diambil berkala, misalnya triwulan, semesteran, tahunan atau bisa pula sekaligus.

Well…., jika dihitung-hitung dengan usia anak saya sekarang, rasanya belum terlambat untuk mempersiapkan dana rencana pendidikan dengan ikut program Mitra Cerdas.

Terlepas nantinya ada kemungkinan untuk mendapatkan beasiswa dari sumber-sumber lain, tetapi setidaknya di saat anak membutuhkan dukungan finansial untuk pendidikannya, kita sebagai orang tua sudah menyiapkannya.

Jika ada yang beranggapan, “Lebih baik menabung sendiri ketimbang ikut asuransi,” bisa jadi ada benarnya karena kapanpun uang yang kita tabung bisa kita gunakan tanpa harus memikirkan jatuh tempo. Tapi apakah kita cukup disiplin dalam menabung dan menggunakan tabungan sesuai dengan niat awal kita? Jawabannya ada di diri Anda! “The Smarter Parents The Smarter Kids Will Be”

facebook: https://www.facebook.com/sri.murni

Twitter: @menixnews

Tulisan ini sudah lebih dulu saya upload di : http://www.kompasiana.com/menix/strategi-jitu-rencanakan-pendidikan-anak-mixing-asuransi-dan-investasi-properti_57acaddc927e619b2b80985c


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s