Refleksi Perjalanan Tiga Benua: Australia, Asia, dan Eropa

The Venezia
In a biggest bridge of Venezia

Berebut Bagasi di Landasan Bandara Canberra-Australia

Perjalanan dari Indonesia-Australia-China-Rusia-dan ke berbagai negara Eropa membawa cerita menarik dari banyak sisi, mulai dari pengalaman terbang, kehidupan di kampus, kehidupan sehari-hari, sampai benturan budaya. Semua cerita menarik selama perjalanan dan kehidupan saya di Australia dan Eropa akan dipaparkan dalam tulisan bersambung ini.

Kesempatan saya berpergian ke luar negeri (Australia dan Eropa) kali ini bukan karena pekerjaan saya sebagai wartawan Tribun, melainkan untuk menambah ilmu dengan melanjutkan pendidikan S2 dengan jurusan Master of Art International Relation (MAIR) di The Australian National University (ANU yang menjadi universitas milik negara Australia. Saya berkesempatan kuliah ke luar negeri setelah lulus seleksi beasiswa dari The Institute of International Education (IIE), sebuah yayasan pemberi beasiswa dari Amerika Serikat yang dimotori oleh Ford Foundation. Ford Foundation sendiri dicikalbalaki oleh perusahaan mobil terbesar Amerika Geral Ford.

Jakarta-Canberra merupakan penerbangan internasional pertama saya selama 30 tahun saya hidup. Ini terjadi pada 23 Maret 2011 lalu. Dari Jakarta saya berangkat dengan pesawat Garuda Indonesia pukul 22.05 WIB. Alhamdulillah pesawat ini terbang sesuai jadwal. GA 712 yang saya tumpangi menggunakan pesawat berbadan besar yakni Airbuss 330 yang muatannya sekitar 200-an orang dengan posisi tempat duduknya 2-4-2, maksudnya, cabin dibagi tiga bagian. Di sisi kiri dan kanan terdapat dua seat, sementara di bagian tengah 4 seat.

Saran saya, jika ingin terbang dengan santai dan apabila pesawat tidak penuh, mintalah tempat duduk di bagian tengah karena Anda akan bisa tidur dengan merentangkan kaki di 4 kursi di bagian tersebut. Sayangnya, saya sendiri ketika berangkat meminta duduk di sisi kanan dan dekat jendela, dengan asumsi agar bisa melihat keluar. Ternyata saya salah karena selama terbang tidak ada matahari alias malam.

Untuk penerbangan internasional, layanan Garuda sangat menyenangkan dan tidak membosankan karena setiap tempat duduk telah dilengkapi fasilitas hiburan seperti monitor di depan setiap tempat duduk . Dengan fasilitas ini Anda bisa main game, nonton film-film terbaru baik Hollywood, bollywood, maupun produksi Indonesia. Banyak genre yang disediakan, mulai dari komedi, horor, romantis, drama keluarga, sampai action. TIdak ketinggalan tontonan untuk anak-anak. Jika tidak ingin melihat tayangan video, Anda bisa sekedar mendengarkan musik atau membaca majalah.

Pesawat dari Jakarta tidak langsung ke ibukota Australia melainkan harus berhenti di Sydney. Australia memang memiliki kebijakan penerbangan dimana pesawat dari luar Australia tidak akan diizinkan langsung mendarat di ibukota melainkan harus berhenti di kota-kota lain di Australia seperti Sydney, Melbourne, Pert, dan lainnya. Dari bandara di kota-kota tersebut, kemudian dilanjutkan dengan pesawat lain ke Canberra.

Dari Jakarta ke Sydney memakan waktu sekitar 6 jam 10 menit. Jika berangkat dari Jakarta pukul 22.00 maka akan tiba di Sydney sekitar pukul 04.00 WIB. Namun begitu mendarat di Bandara Kingsport Smith Sydney, Anda akan mendapati matahari sudah tinggi karena waktu setempat menunjukan pukul 08.15. Perbedaan waktu antara Jakarta dan Sydney sekitar empat jam saat musim panas dana tiga jam saat musim dingin. Sebelum mendarat, Anda akan mendapatkan sarapan pagi dari Garuda. Untuk kelas ekonomi seperti yang pernah saya alami, menunya hanya terbagi dua yakni western (daging dan kentang) dan Indonesia (nasi goring). Setelah sarapan, Anda akan dibagikan holder card, semacam kartu masuk Australia yang berisi tentang diri Anda dan barang bawaan. Kartu ini harus Anda isi sebelum pesawat mendarat agar tidak repot saat urusan pemeriksaan barang.

Jangan Bawa Cairan ke Kabin

Perlu diingat, untuk barang bawaan di dalam pesawat, jangan membawa cairan apapun yang isinya lebih dari 100 ml. Jika ada obat-obatan, lengkapilah dengan resep dokter. Sebaiknya barang cairan, makanan olahan (rendang, sayur, dll), buah, obat-obatan, diletakan di bagasi. Jika dibawa ke kabin, urusannya bisa repot. Termasuk jangan membawa air minum baik mineral maupun bentuk lainnya karena petugas bandara akan meminta Anda meminum minuman tersebut sampai habis atau meninggalkannya di konter pemeriksaan. Jangan khawatir takut haus atau lapar karena selama penerbangan, Garuda akan memberikan makanan dan minuman yang cukup untuk penumpangnya.

Begitu mendarat di Kingsport Smith Airport,  harus memasang mata ke segala penjuru untuk membaca petunjuk arah atau bisa pula langsung mengikuti penumpang lain untuk pengecekan imigrasi. Semua petunjuk terpampang di dinding, lantai dan plafon. Selama proses pemeriksaan imigrasi, tunjukanlah paspor dan holder card. Setelah urusan imigrasi selesai, Anda akan langsung menuju tempat pengambilan bagasi yang letakkya tepat di belakang counter imigrasi.

Nah Holder card akan diminta oleh petugas pemeriksaan barang. Jangan kaget jika koper dan tas Anda dibongkar untuk dilakukan pemeriksaan. Santai saja karena itu hal biasa. Asalkan Anda tidak membawa barang-barang yang dilarang, semuanya akan aman. Saya sarankan, untuk barang-barang yang sangat pribadi seperti pembalut dan pakaian dalam, sebaiknya dibungkus dalam kantong hitam. Sehingga ketika koper dibongkar petugas, benda-benda itu tidak berserakan.

Jangan Harap Ada Potter

Bandara di Australia tidak menyediakan jasa potter seperti di bandara-bandara Indonesia. Anda diharuskan mandiri mengangkat barang bawaan meskipun itu sangat berat. Yang tersedia hanyalah troli. Jika memang Anda tidak kuat mengangkat koper, mungkin bisa meminta tolong penumpang lain untuk memabntu.

Jika urusan barang bawaan tidak bermasalah, langsung saja menuju konter transit domestik untuk melanjutkan penerbangan ke Canberra. Biasanya dari Sydney ke Canberra menggunakan pesawat Qantas. Meskipun counter check in domestik Qantas masih satu gedung, tapi jaraknya lumayan jauh. Bersiap-siaplah untuk bercapek-capek membawa barang .

Jika pesawat dari Jakarta Anda mengalami penundaan  dan sampai di Sydney pesawat ke Canberra Anda sudah terbang, jangan panik. Tetap lapor ke counter check in domestik karena mereka akan memberikan penerbangan berikutnya tanpa dikenakan biaya apapun.

 

Sulitnya Menjangkau Pegangan

Setelah urusan check in domestik beres, Anda akan diantar ke terminal penerbangan domestik menggunakan bus. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 1 km. Untuk orang-orang yang tinggi badannya pas-pasan seperti saya (sekitar 150 cm) baiknya cepat-cepat masuk ke dalam bus agar kebagian tempat duduk. Jika tidak, Anda akan berdiri. Anda akan merasa sedih dan kesulitan mencari pegangan, karena pegangan tangan yang biasanya tergantung di plafon bus, ternyata tidak terjangkau. Tingginya sekitar 170 cm. Jadi bisa dibayangkan, sulitnya mencari pegangan di dalam bus jika posisi berdiri.

Saya sendiri memang tidak mendapat tempat duduk di dalam bus dan harus berdiri. Waduh…berkali-kali saya hampir terjatuh. Mau tidak mau saya pegang saja penumpang lain yang duduk di kursi di depan saya. Ya tentu saja dengan mengucapkan “sorry”. Untung saja ada seorang nenek yang duduk di depan saya dan merelakan tas tanggannya saya jadikan pegangan.

Penerbangan dari bandara Sydney ke Canberra memakan waktu sekitar 1,5 jam. Pesawat domestik Australia ternyata tidak jauh beda dengan Indonesia. Qantas yang saya tumpangi  berjenis pesawat boeing 737-400 dan ketika landing di Canberra, tetap saja seisi pesawat bergoyang-goyang. Plafon dan dinding pesawatnya juga sudah kendor sehingga berbunyi seperti terkena gempa.

Ada satu hal yang cukup membuat saya heran ketika pesawat mendarat dan para penumpang mulai turun. Ternyata bagasi bisa diambil di landasan pesawat dan tidak harus di dalam gedung (tempat pengambilan bagasi). Saya melihat para penumpang berlari-lari dari tangga pesawat menuju mobil pembawa bagasi untuk berebut mengambil koper dan barang lainnya. Karena koper saya berat, ya saya tunggu saja bagasi di baggage claim.

Menjelajah Canberra Lewat Freecycle

MENGENAL medan pertempuran adalah hal wajib dalam peperangan. Begitu juga selaku pendatang baru di Canberra. Sebagai mahasiswa tentu saja hal pertama yang harus dilakukan adalah menjelajah setiap sudut kampus termasuk tempat-tempat strategis untuk kongko dan berdiskusi bersama teman dan profesor. Penjelajahan kampus bukanlah perkarah sulit. Dalam waktu dua hari semua sudut kampus ANU yang luasnya hampir sama dengan Kawasan Industri Batamindo bisa terselesaikan dengan berjalan kaki. Sementara untuk menjelajah Canberra, diperlukan waktu yang cukup panjang dan saya lakukan secara bertahap.

Sebagai mahasiswa, ada dua pilihan cara murah dan mudah berkeliling Canberra yakni dengan bersepeda atau menumpang bus umum. Saya memilih alternatif kedua karena selain menghemat tenaga,  juga akan jauh lebih cepat.

Dibandingkan dengan ibukota negara-negara lain, Jakarta misalnya, Canberra memang bukan ibukota biasa. Pembangunan belum banyak dilakukan dan kota ini masih terlihat sepi dan kosong. Jangan bermimpi melihat gedung pencakar langit disana karena Anda tidak akan menemukannya.

Pandangan subjektif saya ketika kali pertama melihat Canberra, saya mengatakan “welcome to the jungle”. Dibandingkan dengan Batam saja, Canberra tidak ada apa-apanya dari sisi jumlah penduduk, jumlah mall, jumlah hotel berbintang, dan tingkat keramaian. Penduduk Canberra tidak sampai 500 ribu orang. Gedung yang tampak tinggi dan “megah” hanyalah kantor legislatif dan perdana menteri. Sementara bangunan pusat perbelanjaan dan hotel tampak biasa dan jumlahnya pun sangat terbatas.

Tidak mengherankan jika Canberra bukanlah ibukota yang populer di dunia. Bahkan banyak orang beranggapan ibukota Australia adalah Sydney atau Melbourne. Dibandingkan kedua kota tersebut, Canberra sangat jauh tertinggal terutama dalam hal fasilitas transportasi. Di Sydney dan Melbourne terdapat tiga jenis fasitas transportasi umum yakni kereta cepat bawah tanah (sub way), mono real, tram, dan bus. Sementara di Canberra yang ada hanyalah bus umum.

Bahkan ketika saya di Oslo, Norwegia, sempat menonton satu acara kuis yang ditayangan televisi  berjudul “Are you Smarter than 5 Grader” pada 1 November tahun lalu. Dalam acara kuis yang diproduksi Amerika Serikat dan hampir mirip dengan Who wants to be a milliner tersebut si pembawa acara bertanya kepada seorang kontestan yang berprofesi sebagai guru salah satu sekolah di Amerika. Pertanyaannya adalah “Caberra sebagai ibukota negara mana?” Si guru sempat terdiam lama, padahal saat itu posisinya sudah berada di jumlah hadiah sebesar 100.000 dolar Amerika. Akhirnya si guru menjawab, “Mungkin Uzbekistan”. Kontan saja dia gagal dan hadiah 100.000 dolar Amerika pun melayang.

Sabtu-Minggu yang Sangat Lengang

Kota ini akan tampak sangat lengang pada hari Sabtu dan Minggu. Selain banyak took-toko yang tutup, masyarakat Canberra lebih suka menghabiskan akhir pekan mereka di rumah bersama keluarga. Sementara untuk mahasiswa, sebagian memilih berwisata ke Sydney atau Melbourne dan sebagian lagi juga terpaksa berdiam diri di rumah atau bersepeda. Alasannya, bus umum hanya beroperasi satu kali dalam satu jam mulai pukul delapan pagi hingga pukul enam sore. Jika ingin menaiki bus umum ini, jangan anggap remeh dengan jadwal bus. Jika Anda telat hanya beberapa detik saja, Anda harus menunggu bus berikutnya karena si supir bus tidak akan membukakan pintu untuk Anda meskipun Anda sudah berada di depannya tetapi terlambat.

Kejadian seperti ini  sempat saya alami beberapa kali. Yang paling menyedihkan, saat beberapa kali saya melihat nenek-nenek dan kakek-kakek yang berjalan pun menggunakan alat bantu, terpaksa harus kecewa karena pintu bus telah terutup saat ia ingin masuk. Supir-supir bus yang memiliki toleransi tinggi kemungkinan akan membukakan pintu bagi penumpang yang terlambat, namun kebanyakan supir tidak akan menghiraukan dan berlalu begitu saja.

Saat melakukan penjelajahan kota Canberra, saya tidak ingin sebuah perjalanan yang tanpa hasil. Seorang teman memberitahu bahwa masyarakat Canberra memiliki sebuah milis perukaran barang dengan nama freecycle. Milis ini didirikan sebagai wadah bagi penduduk Canberra baik lokal maupun pendatang untuk member dan meminta barang-barang yang dibutuhkan. Melalui milis ini, masyarakat yang memiliki barang tidak digunakan lagi dan masih layak pakai, bisa mempromosikannya lewat milis ini, sehingga anggota milis lainnya yang kebetulan membutuhkan barang tersebut bisa memilikinya dengan cuma-cuma.  Begitu juga sebaliknya, jika ada anggota milis yang membutuhkan sesuatu, tinggal memberitahu ke milis. Jika anggota milis yang memiliki barang tersebut, bisa memberikannya secara cuma-cuma.

Barang yang dipertukarkan sangat beragam dan banyak yang berkualitas tinggi bahkan masih baru. Bagi mahasiswa seperti saya, milis ini sangat membantu terutama jika saya membutuhkan buku-buku kuliah maupun buku umum. Sementara teman-teman dari Indonesia lainnya, sangat terbantu karena bisa mendapatkan sofa, spring bed, perlengkapan dapur, printer, bahkan computer dan laptop gratis. Memberi gratis merupakan perjanjian yang harus dipegang teguh semuang anggota milis ini karena sangat diharamkan berdagang lewat milis ini.

Biasanya, si pemberi barang akan meminta si peminat mengambil sendiri barang tersebut di rumahnya. Ada juga pemberi barang yag tidak keberatan mengantar ke rumah si peminta. Seorang teman dari Jakarta yang juga sedang belajar di Canberra pernah mendapatkan hibah televisi flat 32 inc yang masih baru dan diantarkan langsung oleh pemberinya. Si pemberi mengatakan, ia salah membeli jenis televisi dan tidak ingin TV itu ada di rumahnya.  Saya sendiri lebih memilih mengambil sendiri barang tersebut karena saya ingin menjelajahi sudut-sudut Canberra. Menurut saya, ini adalah strategi yang cukup jitu karena penjelajahan saya member manfaat ganda.

Bagi masyarakat Canberra, memberikan barang yang sudah tidak terpakai lewat freecycle adalah cara termudah ketimbang memberikannya ke Salvation Army (Salvos), sebuah yayasan penerima barang-barang bekas untuk dijual kembali yang dananya digunakan untuk kegiatan social. Sebab, mereka tidak perlu meluangkan waktu dan biaya untuk pengantaran.

Friday Night dan Shopping Day

Jika di Indonesia sangat terkenal istilah “Malam Minggu” atau Sabtu malam sebagai malam anak muda, dimana mala mini selalu dijadikan momen bagi kaum muda untuk ngapel atau pacaran dan jalan-jalan, di Australia momen ini berlangsung pada Jumat malam atau Friday Night. Hari Jumat menjadi hari berhura-hura khususnya setelah jam kantor berakhir hingga Sabtu dini hari. Kebanyakan anak muda Canberra selaku menghabiskan Jumat malam ini dengan bersantai di café atau mabuk-mabukan di bar dan diskotik.

Hari Jumat juga menjadi hari belanja (shopping day). Karena banyak toko yang tutup saat akhir pekan (Sabtu dan Minggu), maka mayoritas warga Canberra menghabiskan waktu berbelanjanya pada hari Jumat. Sudah menjadi kelaziman jika mereka berbelanja satu kali dalam sepekan. Mungkin karena rutinitas harian yang begitu sibuk untuk bekerja, maka mereka sangat jarang berbelanja pada hari kerja (Senin-Jumat).

Pusat-pusat perbelanjaan pun selalu menawarkan diskon besar saat hari Jumat, terutama toko-toko yang menjual sayuran, buah, ikan, dan daging. Karena Sabtu dan Minggu toko-toko tersebut tutup, maka mereka pun ingin menghabiskan barang dagangan yang sifatnya mudah busuk.

Meskipun Sabtu dan Minggu menjadi hari libur, bukan berarti tidak ada toko yang buka. Jika ingin mencari kebutuhan harian seperti sayur, buah, dan daging, bisa mengunjungi pasar segar (fresh market) yang memang kebanyakan dibuka pada hari Sabtu dan Minggu. Pasar ini terkenal juga dengan nama pasar petani (farmer market) karena yang berjualan di pasar ini mayoritas adalah petani yang langsung memasarkan hasil pertaniannya. Produk yang dijual tentu saja lebih segar dibanding supermarket atau toko. Soal harga, relatif murah tergantung dari kualitas barang.

Cuti Melahirkan Sampai 18 Bulan

 

SETELAH sekitar lima bulan mengikuti pendidikan pra perkuliahan di ANU (Maret-Agustus 2011), saya diharuskan kuliah satu semester di Oslo, Norwegia. Ini berarti, saya harus pindah selama kurang lebih enam bulan ke Eropa. Banyak hal menakjubkan selama satu semester kuliah dan hidup di Oslo.

OSLO, ibukota Norwegia hampir setiap tahun menduduki posisi sebagai kota termahal di dunia dan seolah-olah berlomba dengan Tokyo yang juga kerap disebut-sebut sebagai kota termahal. Sementara Norwegia, adalah negara termakmur di dunia versi UNDP (United Nation Development Bank) 2011 lalu dengan tingkat kesejahteraan, kesehatan, dan pendidikan yang terbaik.

Saat kali pertama menginjakan kaki di Oslo, sekitar pertengahan Agustus 2011 lalu, tidak ada yang begitu istimewa dari arsitektur kotanya. Bila dibandingkan dengan kota-kota besar yang ada di Eropa seperti Paris, Roma, Barcelona, Milan, dan Madrid, Oslo tidaklah sebanding dengan mereka, baik dari tata bangunan, jumlah penduduk, dan tingkat keramaian. Pendapat subjektif saya, Oslo itu ibarat “desanya benua Eropa”.

Meskipun dari sisi tata kota dan penduduk Oslo (Norwegia pada umumnya) kalah dengan negara-negara besar lain di Eropa, tapi dari tingkat kesejahteraan, negeri sosialis ini memang paling tinggi. Beberapa hal yang membuat saya tercengang melihat kebijakan pemerintah Norwegia adalah tentang kesetaraan gender dan tunjangan hidup bagi rakyatnya baik warga lokal maupun pendatang.

Untuk kesetaraan gender, Norwegia “mewajibkan” peran yang equal bagi wanita dan pria dalam pengurusan anak. Sehingga, seorang ayah yang bekerja di Norwegia akan mendapatkan hak cuti mengurus anak yang dikenal dengan papa permission selama 13 minggu atau 3 bulan lebih dalam satu tahun. Selama cuti ini, hak ayah sebagai pekerja (gaji dan tunjangan) tidak boleh dipotong alias harus dibayar penuh.

Sementara bagi seorang ibu pekerja yang melahirkan, dapat mengajukan hak cuti selama maksimal 18 bulan (1,5 tahun) dengan gaji dibayarkan 80 persen. Namun jika si ibu hanya memilih mengambil cuti melahirkan berkisar delapan sampai 10 bulan, gaji dan tunjangan harus dibayarkan penuh setiap bulan oleh perusahaan. Kebijakan ini berlaku untuk semua warga baik lokal maupun pendatang yang bekerja di Norwegia.

Seorang warga negara Indonesia, Dimas, yang sudah tinggal dan bekerja bersama keluarganya selama lebih dari lima tahun di Oslo menceritakan, karena adanya hak cuti melahirkan yang begitu panjang, saat sang istri yang juga bekerja di Oslo hendak melahirkan, ia memilih memboyong istri dan anaknya kembali sementara ke Indonesia.

“Persalinan anak kedua kami dilakukan di Indonesia. Selain banyak yang membantu istri mengurus anak, juga lebih ekonomis karena disini (Oslo) gajinya tetap jalan,”ujar Dimas beberapa waktu lalu.

Namun demikian, kebijakan papa permission  yang baru diterapkan beberapa tahun terakhir ini, kini menghadapi kendala. Banyak pekerja yang menyalahgunakan cuti papa permission . Mereka tidak manfaatkannya untuk mengurus anak melainkan untuk hura-hura. Biasanya, saat jadwal mengurus anak tiba, si anak dititipkan kepada kakek-neneknya sementara si ayah pergi berburu, memancing, atau kegiatan lainnya. Menyikapi fenomena ini, pemerintah Norwegia sedang menggodok sebuah sanksi denda bagi seorang ayah yang tidak menggunakan papa permission secara benar.

Setiap Anak dapat Tunjangan

Terkait kesejahteraan si anak, pemerintah Norwegia memberikan tunjangan yang cukup lumayan. Untuk satu anak yang berumur 0-3 tahun, setiap bulannya diberikan tunjangan sekitar 2000 krone (mata uang Norwegia) atau sekitar 3 juta rupiah (kurs Rp 1.500/krone). Sementara untuk anak usia di atas tiga tahun, tunjangan diturunkan menjadi sekitar Rp 2 juta per bulan dengan catatan sekolah si anak gratis alias ditanggung pemerintah.

Besarnya tunjangan juga sangat tergantung dari status dan tingkat pendapatan orang tua. Jika si orang tua masih berstatus pelajar dan bekerja dengan penghasilan yang rendah, maka tunjangan si anak akan semakin besar. Untuk mengetahui besaran tunjangan anak, setiap warga bisa mengakses informasi tersebut lewat situs khusus yang disediakan pemerintah dengan menggunakan nomor penduduk Norwegia (Norwegian ID number). Norwegian ID number ini diberikan kepada penduduk lokal dan pendatang yang tinggal di Norwegia lebih dari tiga bulan. Lewat situs pemerintah tersebut, semua informasi termasuk penghitungan pajak dan tunjangan bisa dilihat per individu.

Pajak Penghasilan Sampai 45 Persen

Tingkat kesejahteraan yang diberikan pemerintah Norwegia ini sebanding dengan tingginya pajak penghasilan dari warganya yang besaran maksimalnya 45 persen dari gaji. Besarnya pajak tersebut sangat tergantung dari jenis pekerjaan. Dibandingkan dengan Indonesia, pajak penghasilan di Norwegia yang sangat tinggi. Namun dibandingkan dengan Denmark, pajak penghasilan di Norwegia belum seberapa karena di Denmark pajak tersebut bisa mencapai 65 persen.

“Kami orang Denmark tidak keberatan untuk membayar pajak sampai 65 persen karena uangnya untuk pendidikan yang gratis, fasiltias umum yang baik, dan kesehatan yang juga gratis,”kata Yorgan, warga negara Denmark yang bekerja sebagai manager apartemen dimana saya tinggal.

Terkait tunjangan kesejahteraan, tidak sedikit pendatang yang memanfaatkan dengan cara tidak bijak. Saya katakana tidak bijak karena banyak imigran yang memanfaatkan tunjangan anak sebagai pendapatan keluarga. Mereka sengaja memiliki lebih dari satu atau dua anak agar mendapatkan lebih banyak tunjangan sementara orang tua malas bekerja. Sementara orang Norwegia sendiri, bisa dikatakan memiliki program satu atau dua anak cukup.

Lebih parahnya lagi, tidak sedikit imigran yang memanfaatkan tunjangan status janda. Modusnya, banyak pasangan imigran yang menikah tetapi memilih cerai secara hokum agar si wanita berstatus janda dan mendapatkan tunjangan. Padahal sesungguhnya si pasangan tersebut tidak cerai bahkan tetap hidup bersama. Secara acak, petugas  pemerintah kerap melakukan inspeksi ke rumah-rumah pasangan yang becerai tersebut. Jika didapati ternyata si istri dan suami tetap tinggal bersama, maka keduanya akan diberikan sanksi. Seorang teman dari Iran yang memiliki paman bertingkah seperti itu menceritakan, biasanya jika ada inspeksi, maka si suami cepat-cepat kabur dari rumah agar tidak sampai ketahuan.

Perilaku negatif imigran tersebut sudah lama menjadi permasalahan di Norwegia dan mengancam kedamaian hidup disana. Banyak warga lokal yang menentang pemberian tunjangan kepada imigran dan pendatang. Mereka beranggapan, penduduk lokal yang mayoritas adalah pekerja keras harus membayar pajak tinggi sementara yang menikmati pajak tersebut adalah orang-orang yang malas bekerja dan memanfaatkan tunjangan sewena-wena.

Sewa Kamar Rp 7 Juta Sebulan

Terkenal sebagai kota termahal, bagi mahasiswa yang hidup di Oslo harus benar-benar mengikat pinggang. Apalagi  jika hidup hanya bergantung pada beasiswa. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah masak sendiri untuk makan sehari-hari. Dengan cara ini, tentu saja biaya makan bisa ditekan dan kecukupan gizi bisa tetap terjaga.

Menurut saja, makan adalah satu-satunya item biaya hidup yang masih bisa dikompromikan di Oslo. Sementara untuk sewa kamar dan transportasi sudah sangat standar. Satu kamar kecil di apartemen sewa paling murah sekitar Rp 7 juta per bulan sudah termasuk listrik, air, dan internet. Jenis kamar sangat bervariasi, ada yang full furnished dan ada pula yang kamar kosong (tidak ada tempat tidur dan perlengkapan lainnya).

Sementara untuk biaya transportasi dalam kota perbulannya sekitar 700 ribu untuk mahasiswa dan Rp 1,1 juta untuk umum. Dengan membayar biaya transportasi bulanan, kita bisa menumpang semua jenis kendaraan umum yang ada seperti tram, subway, dan bus kapanpun.

Akibat Krismon, Akropolis pun Terlantar di Athena

HAMPIR satu semester hidup di Oslo, tidak lengkap rasanya jika tidak bertandang ke beberapa negara Eropa lain. Dengan anggaran yang sangat terbatas yang saya miliki (hanya sekitar 750 dolar AS atau sekitar Rp 7 juta), saya pun nekat menjelajah Paris-Prancis, Berlin-Jerman, Barcelona-Spanyol, Milan-Italia, Athena-Yunani, Venesia, Commo, Roma, Vatikan (Italia), dan Amsterdam-Belanda.

Untuk bisa mengelilingi kota-kota besar Eropa tersebut, menggunakan pesawat adalah cara paling mudah dan murah. Asalkan pemesanan tiket pesawat dilakukan sekitar tiga bulan sebelum keberangkatan, kita bisa mendapatkan tiket promo. Anggaran Rp 7 juta yang saya miliki ternyata mencukupi untuk membayar tiket pesawat, transpotasi dalam kota (kerata api dan bus), hostel, dan makan sehari-hari.

Untuk tiket pesawat, ada dua maskapai penerbangan Eropa yang sangat terkenal dengan tarif murahnya (low price carrier) yakni Ryan Air dan Easy Jet. Dua maskapai ini menawarkan harga tiket satu kali penerbangan dari satu kota ke kota lain Eropa hanya berkisar 25 Euro atau sekitar Rp 300 ribu. Sementara maskapai lain, harganya bisa tiga atau empat kali lipat. Persyaratan utama maskapai murah ini adalah, tidak boleh membawa barang kabin lebih dari 10 kg. Jika lebih, maka harga per kilonya akan dihitung jauh lebih mahal ketimbang harga tiket yakni 50 euro. Hal lain yang harus diingin, penumpang harus melakukan online check in via internet dan mencetak sendiri bukti boarding pass. Semua layanan tersebut tersedia di web site si maskapai. Jika sampai di Bandara si penumpang belum melakukan online check in, maka diwajibkan check in di konter maskapai dengan membayar denda 50 euro.

Satu syarat utama lainnya adalah kepemilikan visa schengen yakni visa yang dikeluarkan salah satu negara Eropa yang bisa digunakan untuk berpergian ke seluruh negara-negara Eropa lainnya terkecuali Inggris dan Irlandia. Para pemegang visa schengen, jika hendak berpergian ke Inggris dan Irlandia diwajibkan mengurus visa tambahan untuk kedua negara tersebut di kedutaan atau konsulat jendral dimana mereka tinggal.  Jika telah memiliki visa schengen, Anda tidak akan dipersulit di setiap bandara sebab Anda tidak perlu melewati pemeriksaan imigrasi. Paspor Anda pun tidak ada distempel imigrasi melainkan hanya diperlihatkan kepada petugas maskapai saat proses boarding pass.

Dari sekian banyak kota-kota Eropa yang saya kunjungi pada Desembera 2011 lalu, Athena-Yunani menyisahkan pengalaman yang paling mengesankan. Selain peninggalan sejarahnya yang luar biasa (kuil-kuil dewa Athena dan Acropolis kota tertua di Eropa dan merupakan pusat peradaban Eropaa), juga karakter masyarakatnya yang lebih ramah ketimbang warna negara lain di Eropa. Hanya saja, akibat krisis ekonomi yang melanda Yunani yang mengakibatkan pemerintah Yunani bangkrut berdampak pada beberapa situs sejarah di Athena, termasuk Acropolis yang terlihat terlantar.

Tidak hanya penghentian proyek-proyek pembangunan situs yang dihentikan, bahkan anggaran kebersihan di situs-situs sejarah pun dikurangi. Tidak mengherankan saat saya berkunjung ke kuil Dewa Zeus, Acropolis, istana kuno Agora, kuil Agora, istana Roman Agora, dan situs sejarah lainnya, tampak tidak begitu terawat. Rumput-rumput mulai tinggi dan areal situs-situs tersebut. Bahkan saat berjalan, saya harus berhati-hati karena banyaknya kotoran anjing di areal tersebut. Beberapa penjaga pintu masuk situs mengatakan, sudah hampir satu tahun terakhir ini perawatan situs-situs bersejarah di Athena tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya. Krisis ekonomi, selain mengakibatkan pemotongan anggaran, juga menyebabkan turunnya jumlah wisatawan. Meskipun mereka tidak menyebutkan angka pasti penurunan jumlah wisatawan, secara kasat mata saya bisa melihat sepinya tamu yang dating ke tempat-tempat bersejarah tersebut. Bahkan di saat saya berada di Acropolis, jumlah wisatawan yang berada disana hanya sekitar 20-an orang. Padahal hari itu adalah akhir pekan.

Acropolis merupakan kota kuno di atas bukit dengan ketinggian 156 meter di atas permukaan laut yang dibangun 1300 sebelum masehi. Disinilah dipercaya sebagai pusat peribadatan Dewa dan Dewi Yunani termasuk tempatnya Parthenon, sebuah kuil persembayangan Dewi Athena setinggi 12 meter yang terbuat dari emas.

Mesjid yang masih Kokoh

Di antara reruntuhan kuil-kuil Dewa Athena dan situs-situs sejarah di kota Zeus ini, masih tersisa sebuah mesjid yang tetap berdiri kokoh. Namanya mesjid Tzidaraki atau Mesjid Fethiye yang terletak satu areal dengan situs Istana Roman Agora. Mesjid yang berkuran sekitar 8×8 meter ini, sudah sangat lama tidak pernah digunakan. Ada dua versi tentang waktu pembangunan mesjid yakni sebagian peneliti mengatakan bahwa mesjid dibangun pada masa kerjaan Konstantinopel Turki tepatnya pada tahun 1458 ketika Raja Mohammed II berkunjung ke Athena. Penelitian lainnya menyebutkan bahwa mesjid ini dibangun pada abad ke-17 oleh kerajaan Ottoman Turki. Masyarakat Athena mengenal mesjid ini sebagai Mesjid Pasar Gandum karena dulu di lokasi mesjid ini memang berdekatan dengan pasar.

Di dekat pintu masuk mesjid, masih terdapat tiga buah kendi besar tempat penampungan air untuk berwudhu. Hanya saja, saat ini kondisinya sudah tidak sempura dan tidak dapat digunakan lagi. Pintu mesjid ini senantiasa tertutup karena tidak difungsikan lagi. Menurut sejarah, mesjid tidak difungsikan lagi sejak mulai runtuhnya kerajaan Ottoman Turki pada  1824 dan mesjid mulai digunakan untuk rumah tahanan. Bahkan mesjid juga sempat digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata militer.

Venesia, Kota Teromantis di Dunia

AGENDA keliling Eropo belum lengkap rasanya jika belum bertandang ke Italia, terutama mengunjungi kota-kota termasyur dimana objek wisata utama dunia bernaung, seperti Collesium dan Vatikan di Roma, gondola di Venesia, Danau Commo di Commo, Menara Miring Pisa di Pisa dan Kathedral Gothik di Milan. Semua kota-kota tersebut saya kunjungi dalam waktu sekitar dua pekan.

Saat menginjakkan kaki saya ke Milan, kota pertama Italia yang saya kunjungi, ada hal yang agak mengejutkan saya alami yakni tentang keramah-tamahan petugas transportasi dan polisi baik di bandara, terminal bus, maupun stasiun kereta api. Ternyata para petugas di Italia tidak seramah  kota-kota di Eropa yang sudah saya kunjungi sebelumnya seperti Berlin, Barcelona, Paris, Amsterdam, maupun Athena.

Mayoritas petugas transportasi dan polisi di Italia tidak dapat dan tidak mau berbahasa Inggris. Sehingga, bagi pengunjung yang tidak mengerti bahasa Italia seperti saya, sangat kesulitan berkomunikasi. Para petugas pun tidak begitu ramah kepada pengunjung yang tidak berbahasa Italia. Alhasil, saya mengalami miss komunikasi dengan mereka. Satu hal lagi, di kota-kota Italia sangat sedikit terdapat pusat informasi turis. Pemerintah Italia juga tidak menyediakan peta kota dan peta objek wisata secara gratis. Dengan kata lain, pengunjung harus membeli sendiri peta kota dan peta objek wisata, padahal di kota-kota lain Eropa, pemberian peta wisata secara gratis menjadi standar pelayanan pemerintah setempat.

Meskipun para petugas tidak ramah bahkan acap kali tidak memberikan senyum saat melayani, namun Italia tetap menjadi negara dengan pesona objek wisata yang mengagumkan. Vatikan city misalnya, memiliki artitektur yang sangat apik dengan desain katedral utama Vatikan yang megah. Saya sendiri berkesempatan menyaksikan perayaan Natal di Pusat keuskupan Katolik ini pada 25 Desember 2011 lalu. Untuk mendengarkan khotbah Paus Benediktus XVI, ribuan pengunjung dari seluruh penjuru dunia rela bermalam di Vatikan. Vatikan merupakan negara khusus dalam kota Roma yang memiliki kekuasaan dan wilayah khusus. Pemisahan kota Vatikan dengan kota Roma ditandai dengan dinding-dinding bangunan Vatikan yang melingkari kathedral utama, Basilica San Pietro. Pengunjung diperbolehkan masuk gereja Vatikan tanpa biaya dengan terlebih dahulu melalui pemeriksaan petugas keamanan dan pintu x-ray.

Di kota Roma, selain Vatikan yang selalu menjadi tujuan wisata utama, terdapat ratusan tempat wisata lain yang tidak kalah menarik. Roma memiliki 300 jenis menumen, 250 macam gereja, dan 100 museum, termasuk situs Collesium dan istana-istana Kerajaan Roma kuno. Untuk mengelilingi ratusan tempat wisata tersebut, tidaklah sulit. Bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau menumpang bus umum dan bus wisata. Saya sendiri lebih memilih berjalan kaki karena dapat melihat lebih detail setiap objek wisata yang jaraknya tidak berjauhan satu dengan lainnya. Jika ingin menumpang bus umum, tarifnya juga tidaklah mahal yakni 1 euro per sekali jalan. Pengunjung bisa pula membeli tiket bus harian, 2 harian, atau satu mingguan.

Selepas mengelilingi kota Roma, perjalanan bisa dilanjutkan ke kota Pisa dimana Menara Miring Pisa berada. Perjalanan dari Roma ke Pisa ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam menggunakan kereta api regular dengan tariff sekitar 18 euro sekali jalan. Kereta api regular merupakan kereta api bertarif paling murah dengan jadwal operasi empat kali dalam satu hari. Selain kereta api regular, pengunjung bisa menumpang kereta api cepat, tentu saja dengan tariff yang jauh lebih mahal.

Di Pisa, tidak begitu banyak objek wisata yang bisa dinikmati karena hanya terdapat menara miring yang dibangun sejak 1173 dan sebuah komplek kathedral lengkap dengan lapangan pelangi yang terkenal dengan kehijauan rumputnya. Objek wisata lainnya hanyalah pantai-pantai di pesisir kota Pisa. Untuk menghabiskan waktu, pengunjung bisa menikmati santapan khas italia, pizza dan pasta, serta menikmati kehidupan pedesaan kota Pisa yang tidak memiliki banyak transportasi selain sepeda.

Meninggalkan Roma dan Pisa, saya menuju Milan, Commo, dan Venesia. Dari Roma ke Milan saya memilih menumpang pesawat ketimbang kereta api atau bus. Selain jarak tempunya yang lebih cepat, biaya transportasinya juga jauh lebih murah. Di Milan, dua opjek wisata utama adalah kathedral Gothik dan Kastel Sforza yang dibangun pada abad 14.

Tidak jauh dari Milan, pengunjung bisa berpergian ke kota teromantis di dunia Venesia. Dari Milan bisa menumpang kerata api regular dengan jarak tempuh sekitar 4 jam. Tarifnya hampir sama dengan Roma ke Pisa yakni 18 euro. Di Venesia, tempat utama yang dikunjungi adalah katedral St Marks Basilica dan beberapa museum. Satu aktivitas yang tentu saja sayang untuk dilewatkan adalah menelusuri lorong-lorong kanal kota Venesia dengan menggunakan perahu tradisional tempatan yang disebut Gondola.  (sri murni)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


8 thoughts on “Refleksi Perjalanan Tiga Benua: Australia, Asia, dan Eropa

    1. Iya Mas Akut…. terimakasih masukannya… ini lagi bikin blog baru dan menata ulang semuanya…. maaf ya late response baru buka notifikasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s