Berjuta Potensi Bahari di Pulau Abang

Memberdayakan Guru dan Pelajar Sebagai Agen Penyelamat Terumbu Karangpenyu

ARI, Sukarno, dan Mazni, begitu semangat saat diajak bicara tentang kampungnya, Pulau Abang. Ketiga bocah yang masih duduk di kelas dua SD Negeri 24 Pulau Abang, Galang ini, bahkan langsung mengajak saya jalan-jalan ke Pantai Pasir Merah, yang jaraknya kurang lebih 15 menit jalan kaki dari sekretariat COREMAP, yang tepat berada di tengah perkampungan warga.
Karena keterbatasan waktu, saya dan Ari Cs tidak sempat jalan ke pantai. Kami hanya bercerita sambil duduk di pinggir bangunan sekretariat COREMAP yang dibangun dari kayu. “Kakak mau nyelam ya?” tanya Ari tiba-tiba, ingin mengetahui maksud dan tujuan saya dan rombongan peserta Journalist Writing Competition datang ke Pulau Abang, Sabtu (25/7) lalu.
Belum lagi sempat saya jawab, Mazni sudah menyambar pembicaraan kami dengan cerita seputar terumbu karang. “Kalau kakak mau nyelam di depan sini aja (seraya mengarahkan jari telunjuknya ke laut tepat di depan sekretariat COREMAP). Karangnya masih bagus. Kami sering nyalam-nyelam disana,”cerita Mazni.
Pertanyaan Ari dan celoteh Mazni, yang keduanya berpawakan kurus itu, langsung memberikan gambaran kepada saya, bahwa masyarakat Pulau Abang, termasuk generasi belianya yang notabene masih anak-anak, mulai sadar dengan potensi kampung yang mereka miliki.
Pulau Abang, satu tahun terakhir ini memang menjadi buah bibir. Tidak hanya pembicaraan di kalangan pecinta wisata bahari, khususnya nyelam, tapi juga mulai ramai dipublikasi media massa baik cetak maupun elektronik. Cerita seputar keindahan terumbuh karangnya yang menyamai Bunaken, kian mudah ditemukan di situs-situs internet.
Untuk sampai ke pulau ini, diperlukan waktu kurang lebih 1,5 jam dari pusat kota Batam, Nagoya. Dari sini, kita harus naik kendaraan darat (mobil pribadi, bus, taksi, atau motor), menuju ke pelabuhan rakyat di Jembatan Enam Barelang, kurang lebih 45 menit.
Dari pelabuhan, kita melanjutkan perjalanan menggunakan speedboat atau pompong (perahu kayu bermesin) ke Pulau Abang dengan jarak tempuh sekitar 40 menit. Begitu sampai di Pulau Abang, Anda akan dilabuhkan di pelabuhan yang cukup sederhana dan dibangun dari kayu seadanya.
Meskipun sederhana, tidak perlu khawatir karena kondisinya masih kuat untuk dijejaki. Selayaknya perkampungan nelayan, masyarakat Pulau Abang hidup di dalam rumah-rumah yang mayorotas terbuat dari kayu, didesain panggung yang sederhana, dan dibangun di atas laut.
Di sepanjang jalan perkampungan yang hanya bisa dikelilingi dengan berjalan kaki, Anda akan mendapatkan keramahan penduduk tempatan. “Baru tiba Pak/Ibu/Kakak/Abang,” merupakan sapaan akrab yang biasa dilontarkan warga, baik yang tua, remaja, maupun anak-anak.
Jalan setapak yang telah dibeton dibangun Pemko Batam di sepanjang pemukiman warga. Hanya saja, pemandangan perkampungan ini memang agak tidak sedap, karena masih banyaknya sampah yang berserakan di sekitar perumahan warga.
Padahal ,Pulau Abang yang berpenduduk 215 kepala keluarga (kurang lebih 800 orang), kini didesain sebagai satu pusat wisata bahari, khususnya terumbu karang. Sejak 2004 lalu, pulau ini dijadikan proyek program rehabilitasi terumbu karang atau Coral Reef Rehabilitation and Management Program Phase II (COREMAP II), hasil kerjasama Pemerintah Kota Batam dengan bantuan dana dari Asian Development Bank (ADB).
Menurut Rahmad, tokoh masyarakat tempatan yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Lembaga Pengelola Sumber Daya Terumbu Karang (LPSTK), meskipun sampai sekarang kampungnya belum terbersih dari sampah, tapi kondisi saat ini sudah jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dulu, hampir di setiap rumah sampah berserakan. Ini karena budaya masyarakat sini yang sudah terbiasa membuang sampah di laut dan tidak pernah memiliki keranjang sampah,”cerita lelaki yang berprofesi sebagia nelayan itu.
Namun, sejak dua tahun terakhir, ketika program COREMAP makin giat dilaksanakan, warga sudah mulai sadar untuk mengumpulkan sampah di tempatnya dan membakar (meskipun ada segelintir warga yang masih terbudaya membuang sampah di laut). Di hampir setiap rumah warga, kini sudah tersedia pula keranjang sampah. Hanya saja, di kampung ini belum ada satupun terbangun tempat penampungan sampah yang layak.
Sehingga, sampah warga masih dikumpulkan di halaman depan rumah untuk dibakar.
Mengubah budaya masyarakat untuk tidak membuang sampah di laut memang tidaklah mudah. Padahal, status Pulau Abang yang telah ditetapkan sebagai Kampung Wisata Melayu. Keberhasilan program sangat tergantung dari kebiasaan baik warga setempat. Adalah hal yang ironi, ketika diharapkan wisatawan berkunjung ke Pulau Abang untuk menikmati wisata terumbuh karang, namun mereka tidak merasa nyaman karena pemandangan dan bau yang tidak sedap dari serakan sampah.
Sampah yang dibuang masyarakat, juga sangat mempengaruhi ekonsistem terumbu karang. Jika setiap hari ada 100 kg sampah yang dibuang ke laut, bayangkan berapa juta ton sampah yang akan merusak ekosistem laut selama puluhan tahun warga tinggal di pulau tersebut.
Belum lagi kerusakan yang diakibatkan faktor eksternal seperti penambangan pasir, aktifitas industri dan pelayaran, dan pembangunan di wilayah darat. Dari penelitian yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selama rentang 1996-2007, kondisi terumbu karang di Indonesia menunjukkan, hanya 5,2 persen yang berada dalam kondisi sangat baik. Sementara 24,2 persen dalam kondisi baik, 37,3 persen dalam kondisi sedang, 33,1 persen dalam kondisi buruk. (data dari situs coremap.co.id).
Negeri ini memiliki 42 kilometer persegi terumbu karang atau 17 persen populasi coral reef dunia. Ini menjadikan Indonesia yang kedua terbesar di dunia setelah Australia. Untuk Asia Pasifik, Indonesia menyimpan seperempat (25 persen) terumbu karang wilayah ini.
Penyelamatan terumbu karang sangat perlu dilakukan, karena terumbu karang merupakan ekosistem khas perairan tropik, tempat berlindung aneka biota laut untuk hidup secara seimbang. Di Indonesia, terumbu karang merupakan rumah bagi 2.500 spesies moluska, dua ribu crustaceans, enam spesies kura-kura laut, 30 spesies mamalia laut, dan lebih dari dua ribu spesies ikan.
Di Batam sendiri, monitoring terhadap terumbu karang dilakukan LIPI di beberapa titik, di antaranya, Kelurahan Pulau Abang meliputi Petong, Pulau Abang Besar, Pulau Abang Kecil, Pulau Pengalap dan Dedap. Juga di Kelurahan Karas meliputi Mubud Darat, Pulau Lampu, dan Pulau Karas.
Monitoring yang dilakukan 28 Agustus 2008 lalu menunjukan, lokasi Kelurahan Pulau Abang tepatnya Stasiun Pulau Abang Besar dan Pulau Abang Kecil, terumbu karang cukup rapat dan beraneka ragam jenisnya seperti dari karang dengan bentuk pertumbuhan bercabang (branching), mengerak (encrusting), padat (massive), meja (tabulate), daun (foliose) dan jamur (mushroom).
Kelimpahan ikannya juga beraneka ragam, baik jenis ikan konsumsi seperti famili Lutjanidae, Caesionidae, mullidae, Siganidae, Labridae, Scaridae, Haemulidae, mobulidae dan Mugilidae, maupun ikan hias, antara lain family Pomacintridae, Chaetodontidae, Holocentridae, plotosidae dan Ephippidae . Jarak pandang di stasiun ini mencapai 8-10 m.
Pada lokasi monitoring ini telah dipasang transek permanen sepanjang 70 m (patok, benang tangsi 2 mm sepanjang 10 m x 3, pelampung plastik warna). Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah LIT (Line Intersect Transect).
Dari monitoring itu pula tergambar bahwa perairan Pulau Abang mempunyai potensi laut yang besar dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Disini juga mengandung berbagai jenis ikan pelagis dan demersal (termasuk ikan karang), dan beragam biota laut non ikan, seperti cumi-cumi dan udang kara), serta bakau.

Gunakan Sistem Koperasi
Adalah cita-cita yang sangat mulia, melestarikan terumbu karang dengan memberdayakan masyarakat tempatan. Pemberdayaan ini haruslah dilakukan dan memang tidak bisa instan karena memerlukan proses yang panjang.
Terumbu karang bisa tetap terjaga kelestariannya, jika masyarakat yang berada di sekitarnya sadar dan melakukan hal-hal yang tidak merusak ekosistem laut. Mengurangi bahkan meniadakan kegiatan tangkapan modern menggunakan bahan peledak, dan jaring raksasa yang merusak ekonsistem. Masyarakat haruslah menjadi penjaga terumbu karang. Mereka harus berani menangkap dan mengusir siapa saja yang ingin merusak ekosistem laut.
Satu caranya adalah dengan mengajak masyarakat mencari mata pencarian alternatif (MPA). Di antaranya membudidayakan ikan sehingga nelayan tidak harus menangkap ikan di laut dan menjadikan laut sebagai tujuan wisata bahari.
Di lihat dari lokasinya, Pulau Abang memiliki potensi untuk pengembangan dua bidang MPA tersebut. Pengembangan wisata bahari, merupakan sektor ekonomi yang paling cepat bisa tumbuh, asalkan pengelolaan masyarakatnya serius dan bertanggungjawab.
Kekayaan biota laut dan kehidupan masyarakat yang masih tradisional merupakan modal dasar. Tidak perlu mengubah sistem kehidupan masyarakat menjadi modern seperti di kota besar. Mempertahankan ketradisionalan mereka, justru unik dan menjadi daya tarik.
Pemerintah haruslah melakukan pembinaan dan pendampingan masyarakat. Apalagi saat ini warga sudah membentuk kelompok wisata.
Efendi, seorang tokoh masyarakat tempatan menceritakan, sudah ada 10 rumah warga yang dipersiapkan untuk percontohan kampung wisata bahari. Di setiap rumah tersebut, akan dilengkapi fasiltais kamar yang layak untuk wisatawan menginap. Termasuk sistem sanitasinya.
Setiap wisatawan yang datang, akan diinapkan di rumah warga. Mereka bersantap masakan yang dibuat si pemilik rumah atau memesan makanan sesuai dengan selera (terutama menu-menu seafood). Tamu juga bisa memasak sendiri menu makanannya dari bahan-bahan yang tersedia.
Mengisi aktivitas liburan, tentu saja wisatawan bisa mengikuti kegiatan diving, snorkeling, berenang, dan memancing menggunakan peralatan yang telah disediakan warga. Mereka juga bisa mengikuti aktivitas keseharian warga, termasuk ikut memberi makan ikan yang dibudidaya, menangkap ikan secara tradisional, bahkan ikut bermain permainan tradisional seperti gasing dan kelereng. Bisa pula turut serta membuat kerajinan tangan yang diproduksi warga.
Dengan demikian, para wisatawan (apalagi yang tidak pernah merasakan kehidupan di tepi pantai) benar-benar merasakan satu sisi kehidupan yang lain saat berada di Pulau Abang. Untuk kenyamanan wisatawan, standarisasi pelayanan haruslah dipegang oleh warga yang melayani.
Agar ekonomi masyarakat Pulau Abang tidak dikuasai kelompok tertentu, baiknya pengelolaan dilakukan dengan sistem koperasi. Sehingga, setiap warga merasa lebih dilibatkan dan kesejahteraan bisa dirasakan berasama.
Ada baiknya pula, pengelolaan wisata bahari tidak melibatkan investor tunggal. Sebab, dikhawatirkan, nantinya warga tempatan hanya dijadikan sebagai pekerja, bukan pelaku usaha.
Pengelolaan koperasi bisa dilakukan secara profesional layaknya perusahaan swasta. Asalkan para pengurus beretikad baik dan bertujuan memajukan kesejahteraan bersama. Kontrol dan pendampingan, termasuk subsidi untuk kegiatan kepariwisataan harus tetap dilakukan secara intens, sampai masyarakat Pulau Abang benar-benar mampu mengelola wisata bahari secara mandiri dan profesional.
Yang namanya menangani wisatawan memang gampang-gampang susah. Selera setiap orang bisa berbeda-beda. Intinya hanya satu, bagaimana membuat mereka senang, sehingga uang ysnorkling di Pulau Seribuang keluar dari kantong mereka bisa lebih banyak.

Berdayakan Guru dan Pelajar
Membudayakan masyarakat untuk sadar wisata, adalah hal pokok yang harus dilakukan. Ketika mereka sudah sadar berapa besar uang yang bisa mereka dapatkan dari dunia pariwisata, maka tujuan pelestarian terumbu karang dengan memanfaatkannya sebagai wisata bahari, justru semakin mudah tercapai.
Pembudayaan sadar wisata, tidak hanya ditujukan bagi warga dewasa. Tapi haruslah ditanamkan dari sekarang kepada generasi belia dan anak-anak. Caranya bisa memanfaatkan keberadaan guru dan sekolah. Apalagi saat ini di Pulau Abang sudah tersedia SD dan SMP.
Setiap hari, kecuali hari Minggu, anak-anak usia 7-16 tahun enam jam barada di sekolah. Banyak hal yang mereka dapatkan dari para guru. Kebersamaan antara guru dan pelajar dalam waktu yang begitu panjang merupakan modal untuk bisa membimbing generasi belia mencintai wisata bahari, termasuk di dalamnya melestarikan terumbu karang.
Para guru bisa dijadikan agen pelestarian lingkungan laut. Bekali mereka dengan pendidikan bahari, sehingga mereka bisa mengajarkannya kepada anak didik. Tidak hanya ilmu tentang ekosistem laut tapi juga cara bagaimana menyelam. Bekali pula para guru satu sistem pengajaran yang atraktif yang membuat anak didik antusias mengikuti pelajaran tentang laut.
Bagi guru yang mengajar di kelas satu dan dua SD, setiap pagi bisa memanfaatkan waktu sekitar 15 menit untuk membacakan cerita-cerita (dongeng) seputar terumbu karang. Di perpusatakaan COREMAP II Pulau Abang, telah tersedia buku-buku cerita Si Umbu. Namun, secara sistemik keberadaan buku ini belum dimanfaatkan. Selama ini hanya segelintir anak yang membaca buku cerita itu. Padahal melalui dongeng, bisa menanamkan hal-hal baik kepada anak.
Bagi siswa kelas tiga sampai SMP, sudah bisa diajarkan tentang kerajinan tangan dengan memanfaatkan sampah biota laut. Kerajinan tangan dapat pula dijadikan pendidikan ekstrakurikuler atau muatan lokal, yang memang diwajibkan ada di sekolah.
Mulailah membuat target bahwa kerajinan sekolah tidak hanya sekedar penilaian untuk rapot, tapi sekaligus dimanfaatkan sebagai industri yang hasilnya bisa dijual untuk cinderamata bagi wisatawan yang datang.
Untuk memacu kreativitas anak, banyak upaya yang bisa dilakukan. Di antaranya dengan menggelar festival kerajinan tangan, yang memperebutkan hadiah menarik. Bagi anak-anak yang tidak minat di bidang kerajinan, melainkan minatnya hanya bermain, bisa diarahkan dan dimanfaatkan untuk festival permainan anak tradisional. Begitu pula dengan anak yang memilih hobi memasak. Hobi mereka dijadikan satu nilai tambah. Festival masakan olahan laut bisa melibatkan anak-anak, yang justru membuat acara tersebut lebih unik.
Festival-festival ini akan menjadi satu daya tarik bagi wisatawan. Intinya, buatlah beragam muatan lokal sekolah yang berbasis kelautan. Sehingga sejak belia, di benak anak didik sudah tertanam budaya sadar wisata dan pelestarian lingkungan laut termasuk terumbu karang. Dengan demikian realisasi Pulau Abang sebagai kampung wisata bahari di masa mendatang, akan lebih mudah dilakukan.***


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s