Chating Pertama Mengubah Aku Jadi Pemberani

Menyeberangi laut Sydney melintasi Opera House.

My First Online experience

KETIKA itu, Maret tahun 2000. Aku baru duduk di semester dua jurusan Hubungan Internasional FISIP Unri, Pekanbaru. Setiap pagi, temen-temen kuliahku selalu heboh dengan cerita-cerita teman barunya di dunia maya. Aku hanya sebagai pendengar dan menjadi kambing congek. Beberapa hari aku ikuti perbincangan mereka, yang semakin seru karena mendapatkan teman ngobrol dari Bandung, Jakarta, dan Medan. Tiga kota yang paling sering menjadi bahan pembicaraan, terutama tentang si Daniel yang kuliah di USU Medan, Dadang anak Unpad Bandung, dan Dodi dari UKI Jakarta. Sepulang dari kampus pun mereka langsung ke lab komputer yang ada di dekat Gedung Rektorat Unri.
Tepat hari Sabtu, suatu pekan, saya memberanikan diri bertanya pada sahabatku Amrullah asal Aceh. “Am memang ngapain sih ke lab? Kok setiap hari temen-temen pada kesana?”. “Mereka pada chating tu. Kan demam chating,”kata Am.
Chating? Apaan tu? Aku masih berfikir. Karena malu bertanya aku cuma berkata “oooooo”. Hari Seninnya, rasa penasaranku semakin besar. Ketika Ayu, sahabatku yang lain, selepas kuliah akan ke lab komputer, aku beranikan diri untuk ikut.
Sampai disana aku lihat aktivitas Ayu dan aku duduk tepat di sebelah kursi komputernya. Aku hanya perhatikan dia yang membuka program mirc. Beberapa saat, aku sudah lihat dia ketawa-ketawa sambil mengetik, seperti orang yang sedang bicara lewat tulisan.
Karena terlihat begitu serius, aku pun hanya memperhatikan Ayu, tanpa bertanya. Setelah menutup pembicaraan lewat tulisannya dengan temannya bernama Dodi dari Yogyakarta, Ayu bertanya kepadaku. “Mau pakai?”
Dengan malu aku jawab, iya tapi tidak tahu gemana caranya. Aku juga sempat jujur dan bertanya pada Ayu, tentang apa yang baru saja dia lakukan. Syukurlah Ayu orangnya sangat baik. Dialah yang menerangkan dan mengajari aku chating lewat program mirc.
Ayu hanya 30 menit berada di lab komputer. Selebihnya aku yang memakai. Karena aku sudah mengetahui bangaimana chating, rasanya sangat berat meninggalkan meja komputer. Tidak terasa ternyata waktu sudah pukul 16.00 WIB, saatnya lab ditutup. Aku berada disana kurang lebih tiga jam. Begitu hendak membayar uang rental internet, dan si penjaga lab mengetahui jam pemakaianku tiga jam, aku dimarah habis-habisan.
Saat itulah aku baru tahu, jatah mahasiswa rental internet di lab komputer kampus hanya satu jam sehari dengan bayaran Rp 1.000. Mengapa dibatasi? Karena setiap jam banyak mahasiswa yang mengantre. Bahkan, untuk pemakaian selepas jadwal kuliah, kira-kira pukul 12.00 WIB, ada yang harus mendaftar dari pagi, jam 08.00. Itupun harus datang 10 menit sebelum jam pemakaian. Jika tidak, bisa-bisa nomor antrean diberikan kepada orang lain.
Rasanya sangat senang bisa chating dengan teman-teman mahasiswa lain di luar kampusku. Dian, adalah teman chatingku yang pertama. Dia mengaku laki-laki dan kuliah di UMY Yogyakarta.
Aku sempat bingung ketika harus menjawab isi chating-annya. Istilah-istilah dan singkatan bahasa chating sama sekali belum aku ketahui, karena Ayu tidak sempat mengajariku sampai ke materi itu. Asl tiga huruf yang ditanyakan Dian ketika kali pertama menyapaku. Aku hanya diam. Kata-kata berikutnya adalah ungkapan kekesalannya dan menyangka aku tidak mau chating dengannya. Walaupun agak-agak malu, dan aku pikir di dunia internet tidak saling mengenal, aku tanya saja ke Dian, asl itu apaan? Ternyata singakatan dari alamat, jenis kelamin, dan umur.
Di hari pertama aku chating, kami janjian untuk bertemu lewat mirc pada esok harinya. Selasa pagi, aku sudah mendaftar untuk pemakaian internet jam 13.00 WIB. Sayang, ketika itu, dosenku memperpanjang waktu kuliah, dan aku sampai di lab komputer 13.05 WIB. Tentu saja si penjaga lab sudah mengunci pintu. Kesal sekali rasanya. Bayangkan saja, kita mendapatkan satu mainan baru dan masih sangat ingin bermain, eh ternyata tidak punya kesempatan. Aku merasa bersalah dengan Dian, karena batal berhubungan. Aku juga tidak bisa memberitahunya karena aku memang belum memiliki HP.
Pada Rabu, aku baru bisa bermain mirc lagi di lab komputer. Itupun setelah aku bela-belain bolos kuliah siang supaya aku bisa ngobrol dengan Dian. Terus terang, chating hari pertama itu rasanya sangat seru dan aku merasakan banyak harapan. Salah satunya, aku sudah punya teman dari Yogyakarta, dan sewaktu-waktu aku ingin kesana, sudah ada tempat yang aku tuju. Itu makanya aku sangat kesal ketika tidak bisa berhubungan dengan Dian di hari Selasa.
Pembicaraan lewat mirc kami terus berlanjut. Aku banyak belajar dari Dian terutama tentang istilah-istilah dalam chating. Hari-hari berikutnya, aku merasa menjadi orang yang sangat percaya diri (pede) karena sudah mengikuti perkembangan teknologi. Aku pun sudah berani nimbrung obrolan temen-temen kampus yang masih suka ngomongi soal chating.
Hampri satu bulan penuh, setiap selesai kuliah aku habiskan waktu untuk chating. Bahkan aku lebih memilih dimarahi penjaga setiap hari karena memakai komputer 2-3 jam dan tidak mau bergantian dengan mahasiswa lain.
Sejak itu pula aku merasa berani untuk memasuki warnet-warnet yang ada di luar kampus seorang diri. Memang tidak banyak warnet ketika itu. Jaraknya dengan tempat tinggalku pun cukup lumayan jauh. Dengan berjalan kaki memakan waktu kurang lebih 20 menit.
Karena kebisaanku ber-chating ria, aku pun merasa perlu berbagi cerita enaknya chating dengan teman-teman satu kos. Rasa penasaran mereka sama besarnya ketika aku pertama kali ingin mengetahui tentang chating. Dengan suka rela aku mengajak mereka ke warnet dan mengajarinya. Tentu saja dengan imbalan, mereka harus membayar biaya rental internet yang aku pakai. Ketika itu, biaya warnet di luar kampus Rp 5.000 per jam.
Aku terus menggali informasi tentang internet. Apalagi yang bisa dilakukan selain chating, sebab, lama kelamaan bosan juga chating melulu. Seorang kakak kelas di kampus mengajari aku tentang web site atau situs. Awalnya aku benar-benar tidak tahu benda apa itu. Bahkan benakku langsung tertuju pada situs peninggalan sejarah dan situs purbakala.
Setelah dijelaskan ternyata web site adalah satu ruang atau alamat tempat kita mencari informasi-informasi. Beberapa kali aku pergi ke warnet dengan kakak kelas yang bernama Dedy. Sampai di warnet, aku tidak bisa duduk di sebelahnya karena dia keberatan. Aku pun membuka satu komputer di warnet. Tapi aku belum tahu harus melakukan apa.
Saat aku tanya, dia langsung membukakanku satu alamat situs yang tertulis http\\www.sex.com. Aku cuma diam. Setelah beberapa saat muncul gambar, ternyata isinya bermacam gaya persetubuhan. Melihat wajahku yang merah, Dedy justru tertawa-tawa. “Wah aku dikerjai ne,”pikirku.
Setelah aku lebih paham tentang web site dan memiliki beberapa alamat situs, aku semakin keranjingan dengan internet. Bahkan, jam ngenetku jadi bertambah. Tidak hanya siang, tapi juga tengah malam. Kebetulan tidak jauh dari tempat kos, ada warnet baru yang buka. Dia menawarkan program ngenet dari jam 00.00 sampai 07.00 WIB, hanya bayar Rp 15.000. Tentu saja momen ini tidak aku lewatkan. Aku sengaja tidur lebih cepat, tepatnya selepas sholat magrib agar bisa terbangun tengah malam dan menelusuri dunia maya.
Bahkan suatu malam, aku harus menembus hujan lebat demi warnet. Ketika itu aku sedang banyak tugas dan harus selesai malam itu juga. Data di internet merupakan satu-satunya jawaban untuk tugas-tugas kuliahku.

Saat aku hendak keluar rumah, sekitar pukul 23.30 WIB, ternyata hujan lebat turun. Warnet di dekat kos tutup karena mati lampu. Aku terpaksa meminjam sepeda teman sebelah rumah, untuk pergi ke warnet yang jaraknya lebih jauh, kurang lebih 3 km. Rasanya hujan lebat bukanlah jadi masalah asalkan bisa berinternet.
Tapi sekarang, internet sudah sangat familiar. Bahkan berinternet bukanlah menjadi trend melainkan kebutuhan. Ngeblog, ikut jejaringan sosial facebook, friendster, dan lainnya menjadi satu bentuk keikutsertaan aku dalam perkembangan teknologi informasi. Dunia jadi lebih dekat karena ada internet. (sri murni)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s