Melihat Aktivitas Suku Laut di Batam

 

Suku Laut

Anak-Anak Tetap Ingin Menimbah Ilmu Agama

ANDA ingin tahu bagaimana suku asli di Batam ini hidup. Berkunjunglah ke pulau-pulau kecil yang ada di sekitar Batam. Anda pun akan bertemu dengan komunitas masyarakat Suku Laut, salah satu suku tertua yang ada di Batam. Bagaimana kehidupan mereka? Saya membagikan sekelumit cerita tentang aktivitas anak-anak suku laut yang haus pendidikan

ANAK-anak suku laut yang tinggal di pulau-pulau kecil sekitar Batam, ternyata tidak hanya kesulitan mengenyam pendidikan formal. Untuk mendapatkan ilmu agama pun, mereka kesusahan. Guru ngaji yang setiap hari mereka dambakan, tidak kunjung datang.

KETIKA saya bertanya pada Darmawan, apa hal yang paling diinginkannya saat ini? Bocah berusia sembilan tahun itu, tanpa malu-malu dan polos menjawab,”Ingin ngaji lagi.” Loh kok? ternyata keinginannya itu bukanlah tidak berdasar.
Meskipun usianya terbilang sangat belia, tetapi bocah yang hari-harinya akrab disapa Darmi itu sudah bisa merasakan pentingnya ilmu agama. Terlebih lagi, di lingkungannya sekolah, SD 003 Pulau Kubung, penganut agama Islam sangatlah sedikit. Dari sekitar 30-an murid, hanya empat orang yang seaqidah dengannya.
Alhasil, ia selalu merasa iri dengan teman-teman sebayanya yang mendapatkan pelajaran agama saat mata pelajaran agama tiba. “Kalau di sekolah cuma empat orang yang muslim. Semuanya bukan muslim. Jadi kalau pelajaran agama, kami bawa Al Quran sendiri dan gak ada yang ngajari,”ceritanya kepada saya bertandang ke salah satu perkampungan Suku Laut yang ada di Pulau Kubung Kelurahan Ngenang Kecamatan Galang, Kamis pada awal Mei 2008 silam.
Kedatangan saya ke perkampungan tersebut bersama rombongan dari beberapa instansi yang peduli terhadap kehidupan masyarakat Suku Laut yakni Yayasan Hang Tuah, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Batam, Pemuda Muhammadiyah Batam, dan Departemen Agama (Depag) Batam dalam rangka silaturahmi.
Tidak hanya Darmi yang merindukan seorang guru mengaji, tetapi juga belasan anak-anak di Pulau Kubung. Semenjak pemukiman tersebut terbentuk sejak pertengahan 90-an lalu, belum satu pun guru agama Islam mengajar dan berdakwah disana.
Darmi sendiri memperoleh kepandaian membaca kitab suci Al Quran dari sang ayah dan seorang tetangganya bernama Nazri. Sayangnya, Nazri yang berasal dari Selat Panjang sangat jarang berada di rumah karena harus mencari nafkah di luar pulau, tepatnya menjadi buruh bangunan di Batam.
Meskipun Darmi sangat sedikit mendapatkan ilmu agama, namun ia tidak pernah menyia- nyiakan kebisaannya itu yang tergolong langka di Pulau Kubung. Tanpa ragu, hampir setiap hari ia menularkan ilmu membaca Al Quran kepada adiknya, Awi, yang baru berusia lima tahun.
“Kalau aku belajar ngajinya dari abang (Darmi). Aku udah bisa baca Iqra’,”tutur Awi dengan polos. Di perkampungan yang dihuni sekitar 40 kepala keluarga ini, juga tidak terdapat fasilitas rumah ibadah, meskipun hanya berupa Musholah kecil.
Kesulitan mendapatkan guru agama Islam ternyata hampir dialami seluruh warga Suku Laut. Tidak hanya di Pulau Kubung, tetapi juga di Air Mas dan Dapur Arang. Kedua perkampungan terakhir ini letaknya tepat di depan Pulau Ngenang yang menjadi pusat pemerintahan Kelurahan Ngenang.
Di perkampungan Air Mas, sudah terdapat sebuah musholah yang cukup besar. Hanya saja, warga tempatan juga kehilangan guru ngaji. “Sudah tidak tahu berapa orang yang ditugaskan disini. Tapi tidak ada yang bertahan lama. Semuanya pulang ke Batam,”ungkap Ziah, seorang warga Air Mas.
Akibatnya, orang tua warga disana kesulitan harus mencari guru mengaji bagi putra-putri mereka.  “Kalau kami yang tua-tua ini gak bisa membaca Al-Quran. Mana mungkin bisa mengajarkan mengaji anak-anak,”kata wanita berkerudung itu. (sri murni)


8 thoughts on “Melihat Aktivitas Suku Laut di Batam

    1. Halo Mas Zam

      Maaf ini saya baru sempat merespon komentar Mas Zam di blog saya setelah 3 tahun berlalu. Saya lagi menggeliati kegiatan sosial untuk anak-anak pulau yang sangat haus pendidikan. Berharap bisa mendapatkan jaringan untuk mewujudkan impian-impian cemerlang mereka…

    1. Hi Saut Boangmanalu

      Maaf untuk very late response. Semoga tetap menjadi blogger. Saya lihat bloknya bagus dan juga banyak memberikan manfaat. Semoga kita tetap bisa bersilaturahmi saling mendukung blog.

  1. berbagai temuan penelitian tentang suku laut dibeberapa negara menunjukan bahwa kehidupan suku laut sangat terkebelakang, menurut Mayron karena mereka tidak memiliki Need for achivement (kebutuhan untuk berprestasi). Oleh karena itu menjadi tanggung jawab stake holder untuk mencari formulasi yang bijak agar suku laut dapat sejajar dengan suku-suku lainnya, Tk.

  2. berbagai temuan penelitian tentang suku laut dibeberapa negara menunjukan bahwa kehidupan suku laut sangat terkebelakang, menurut Mayron karena mereka tidak memiliki Need for achivement (kebutuhan untuk berprestasi). Oleh karena itu menjadi tanggung jawab stake holder untuk mencari formulasi yang bijak agar suku laut dapat sejajar dengan suku-suku lainnya, Tk.by m.syahran jailani

  3. Dear Pak Syahran

    Kalau saya liat etos mereka sangat baik dan semuanya kini sudah banyak berubah. Mental mereka untuk berprestasi itu sangat luar biasa. Tapi memang masih terbentur minimnya network bagi mereka untuk berekspresi dan menyalurkan bakat mereka. Semoga kita bisa membantu mereka walau cuma sedikit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s