Berkunjung ke Barak Tahanan Vietnam Natuna

Tidak Seorang Pun Bisa Bahasa Indonesia dan Inggris

“Huuuu…Huuu…Huuu,”Sorak sorai itu langsung terdengar bergerumuh ketika rombongan wartawan turun dari mobil yang diparkir di halaman depan barak tahanan Vietnam, Natuna. Sorakan itu bukan bermakna mengejek, tetapi ternyata bentuk komunikasi yang kerap dilakukan para tahanan Vietnam kepada siapa saja yang mengunjungi mereka, sebagai bentuk sambutan.
Sorakan itulah salah satu bahasa komunikasi yang mereka bisa katakan disamping bahasa isyarat. Lain dari itu, mereka tidak bisa mengungkapkan apa-apa karena tidak satupun dari tahanan bisa berbahasa selain bahasa Vietnam, baik bahasa Indonesia maupun Inggris.
Barak itu terletak di belakang bangunan markas Polisi Militer, Jalan Datuk Kaya M Wan Benteng, Ranai, Natuna. Tepatnya berhadapan dengan markas Pangkalan Angkatan Laut Ranai yang jaraknya hanya beberapa meter dari Pelabuhan Udara Ranai (Rantau Nan Indah).
Barak itu sangat sederhana. Seluruhnya terbuat dari kayu dengan luas kurang lebih 10×50 meter. Di dalamnya terdapat 311 tahanan yang ditangkap kesatuan Angkatan Laut dan Polisi Ranai. Mereka adalah anak buah kapal dari 48 kapal asing yang melakukan ilegal fishing dan diamankan di perairan Natuna mulai Desember sampai April lalu.
Tidak seluruh tahanan berasal dari Vietnam, tetapi beberapa ada yang berasal dari Thailand, Philipina, dan Malaysia. Ketiak Tribun berkunjung, hari menunjukan sekitar pukul 10.15 WIB, Minggu (11/5).
Waktu itu penghuni barak sedang bersantai. Beberapa jam sebelumnya mereka telah sarapan, dan sedang menunggu jadwal makan siang. Sebagian mereka tampak duduk-duduk sambil merokok di dalam barak. Beberapa juga terlihat tidur-tiduran di balai yang terbuat dari papan tanpa kasur maupun alas tidur. Tidak sedikit pula yang beristirahat di atas ayunan tali yang dipasang di atas balai kayu di dalam barak. Segelintir tahanan terlihat duduk sambil bercerita bersama rekan-rekannya di belakang barak sambil memandang langsung ke laut Natuna.
Karena tidak satu pun yang bisa bahasa Inggris maupun Indonesia, rombongan wartawan memang agak kesulitan berkominukasi. Untung saja, seorang anggota Angkatan Laut yang mendampingi wartawan Sertu Dwi Joko R bisa berbahasa Vietnam, meskipun hanya mampu menanyakan nama dan umur.
Begitu rombongan masuk ke dalam barak, para tahanan yang semuanya laki-laki, langsung berkumpul dan mengelilingi rombongan. Di antara pria-pria warga negara asing itu, ternyata terdapat dua anak yang masih di bawah umur. Keduanya adalah Dinh The Dan (10) dan Nguyen Thanh Bung (12). Din tertangkap Penjaga Perbatasan Indonesia bersama ayahnya Din Wan Dan (42) dan puluhan pekerja kapal pencari ikan ilegal di laut Natuna.
Sementara Nguyen, tidak memiliki keluarga karena ia ikut melaut bersama para tetangganya di kapal berbendera Vietnam. Dengan bahasa isyarat, Nguyen mengaku masih bersekolah di negaranya dan duduk di kelas 6 SD. Sementara Din, duduk di kelas 5 SD.

Sehari Habiskan 300 Kg Beras

TINDAKAN ilegal fishing oleh kapal-kapal asing, bagai buah simalakami bagi petugas keamanan Indonesia yang bertugas di Natuna maupun pemerintah daerah setempat. Sebab, penangkapan ilega fishing selama ini telah menjadi beban anggaran pemerintah dan instansi keamanan, baik Kepolisan maupun Angkatan Laut.
Sebanyak 48 armaga kapal asing yang tertangkap di perairan Natuna sejak Desember sampai April lalu, di dalamnya memuat sekitar 600 anak buah kapal bersama para pimpinan mereka. Ke-600 ABK tersebut kini ditahan di dua tempat. Sebanyak 311 orang berada di barak tahan Vietnam di Ranai, sedangkan sisanya berada di tahanan Pulau Tarempa.
Ke-600 ABK itulah yang kini menjadi beban pemerintah. Sebab, setiap hari mereka harus diberi makan dan diperhatikan kondisi kesehatannya. Bupati Natuna Daeng Rusnadi dan Komandan Angkatan Laut Ranai Kolonel Laut (P) Deddy Suparli menceritakan, setiap harinya para tahanan itu menghabiskan paling sedikit 300 kg beras. Makanan pokok itu disuplai pemerintah daerah Natuna yang dananya diambil dari APBD.
“Pemerintah memang hanya memberikan beras saja pada mereka. Sementara yang masak mereka sendiri,”tutur Daeng pada Tribun yang berkunjung ke Ranai, Natuna, Minggu (11/5). Sebanyak 300 kg beras itu dialokasikan untuk dua tempat yakni tahanan di Tarempa dan Ranai.
Beras yang diberikan, selanjutnya akan dimasak sendiri oleh para tahanan. Di barak tahanan Vietnam di Ranai, setiap harinya makanan dimasak secara bergantian oleh penghuni. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan kapal yang mereka tumpangi.
Satu kapal diberikan satu dapur. Satu dapur luasnya kurang lebih 50×120 cm. Mereka tidak diberikan perlengkapan masak apapun, baik kompor, periuk, atau wajan. Alat masak diambil dari kapal masing-masing tahanan. Untuk memasak, mereka tidak menggunakan kompor, melainkan tunggu kayu. Tidak mengherankan, jika setiap dapur yang mereka gunakan penuh dengan warna hitam, akibat asap kayu yang mengepul setiap pagi, siang, dan sore.
Siapa saja yang memasak? Semuanya diserahkan kepada ketua kelompok untuk mengatur tugas anggotanya, termasuk tugas membersihkan barak. Para tahanan memang hanya diberikan beras tanpa tambahan lauk. Jika mereka ingin makan dengan lauk, mereka harus mencarinya sendiri di laut.
“Kami memberikan alat tangkap seperti pancing dan kail. Kalau mereka mau makan dengan ikan, tinggal mencarinya sendiri di laut. Kadang-kadang kalau ada dana, kami berikan indomi untuk mereka masak sendiri,”cerita Sertu Dwi Joko R dari kesatuan Angkatan Laut Ranai yang bertugas menjaga barak tahanan Vietnam.
Saat Tribun berkunjung, ternyata dapur tidak hanya digunakan untuk memasak, tetapi sekaligus tempat berinstirahat dan bersantai pada siang hari. Setelah selesai mengolah makanan di pagi hari, api tungku mereka padamkan. Beberapa dari tahanan kemudian memasang ayunan tali di areal dapur.
Untuk menambah pasokan makanan para tahanan, mereka juga diberikan lahan bercocok tanam. Lokasinya berada di belakang Markas Angkatan Laut Ranai. Luasnya cukup lumayan. Di lahan itulah para tahanan menanam sayur mayur, cabai, bawang, dan kebutuhan dapur lainnya.
Meskipun para pelaut itu adalah tahanan, tetapi mereka tidak sepenuhnya diperlakukan seperti tahanan para umumnya. Mereka hanya dilokalisasi di lingkungan Markas PM dan Markas Lantamal Ranai.
Para tahanan dibagi menjadi dua. Pertama adalah tahanan utama yang terdiri atas nakhoda dan pimpinan kapal. Kedua, adalah tahanan yang berisikan para ABK (anak buah kapal). Tahanan utama dipenjara layaknya tersangka di tahanan Markas Lantamal Ranai.
Sementara para ABK ditahan di barak di belakang Markas PM Ranai. Tidak seperti tahanan utama yang tidak diperbolehkan keluar ruang tahanan, para ABK masih diberikan kebebasan beraktivitas di dalam lingkungan Markas PM dan Lantamal yang sekelilingnya dipagar kayu dan terletak di tepi laut.
“Para tahanan ini (ABK) bisa mencari ikan, mancing atau menjaring ke laut di belakang markas PM. Yang penting mereka tidak boleh keluar Markas apalagi sampai bergabung dengan masyarakat sekitar,”kata Joko.
Setiap harinya, para tahanan wajib mengikuti apel pagi sekitar pukul 07.00 dan apel malam sekitar pukul 21.00. Pada setiap apel, selain mengabsen satu per satu tahanan, sekaligus menanyakan kondisi kesehatan mereka. Jika ada tahanan yang merasa kurang sehat akan langsung diperiksa oleh dokter umum yang bertugas yakni Letda dr Abraham dari Angkatan Laut Ranai. (sri murni)

Banyak yang Keenakan Tinggal di Indonesia


“CHACHA…..Vietnam…,”dua kata itu berulang-ulang diucapkan Nguyen Thanh Bung seraya menggerak-gerakan kedua tangannya sehingga membentuk tanda hati. Sejumlah wartawan yang mendatangi barak tahanan Vietnam di Ranai, Natuna, Minggu (11/5) pun saling bertatap dan bingung, apa yang dimaksud bocah berusia 12 tahun itu.
Untung saja, tidak lama berselang Sertu Dwi Joko R dari kesatuan Angkatan Laut Ranai, yang bertugas menjaga barat datang menghampir wartawan yang sedang berkumpul dengan Nguyen dan tahanan lainnya, datang. Ia langsung mengartikan maksud Nguyen.
“Dia bilang, dia (Nguyen) rindu mamanya di Vietnam,”jelas Joko. Kata chacha (bahasa Vietnam) berarti ibu. Tidak heran, bocah bermata sipit itu sangat merindukan ibu, ayah, dan adik-adiknya. Siswa kelas 6 sekolah dasar di negaranya, kini hidup seorang diri di barak tahanan tanpa keluarga.
Ia tertangkap petugas perbatasan Indonesia di perairan Natuna bersama anak buah kapal (ABK) lainnya saat melakukan ilegal fishing (pencurian ikan). Joko menceritakan, beberapa bulan lalu saat Nguyen diperiksa petugas dari Batam yang mengerti bahasa Vietnam sempat mengungkapkan dirinya terpaksa ikut ilegal fishing seorang diri demi membantu ekonomi keluarganya. Nguyen merupakan anak tertua dari lima bersaudara.
Satu hal yang masih membuat Nguyen menikmati hidup di barak karena ia memiliki teman sebaya yakni Dinh The Dan (10). Bedanya, di barak Dinh masih memiliki ayah yang setiap saat mendampinginya. Baik Nguyen maupun Dinh ingin cepat pulang ke Vietnam bertemu seluruh keluarga mereka.
Bagi Nguyen, Dinh, dan seluruh tahanan ilegal fishing yang ditempatkan di barak, pemulangan ke Vietnam sebenarnya bisa dilakukan sesegera mungkin. Hanya saja, yang berkewajiban memulangkan mereka bukanlah pemerintah Indonesia, melainkan pemerintah Vietnam melalui kedutaan besarnya yang ada di Indonesia.
“Kami masih menunggu kapan mereka akan dipulangkan kedutaan besar Vietnam. Kalau kami maunya secepatnya mereka dipulangkan,”kata Komandan Pangkalan Angkatan Laut Ranai yang ditemui Tribun beberapa saat sebelum mengunjungi barak.
Ia menambahkan, semakin lama pemerintah Vietnam dan pemerintah negara lain yang menjadi asal tahanan ilegal fishing, Thailand, Cina, Filipina, dan Malaysia, memulangkan para tahanan, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan pemerintah daerah untuk menanggung makan dan biaya kesehatan mereka.
“Kalau statusnya ABK, mereka tidak kita adili dan bisa dipulangkan kapanpun. Yang tetap kita tahan itu nakhoda dan pimpinan kapal. Mereka harus menunggu proses peradilan,”terang Joko lagi.
Dari 311 tahanan yang ada di barak tahanan Vietnam, ternyata tidak sedikit yang tidak ingin dipulangkan ke negara asal. Nguyen Thanh Phang misalnya. Pria berusia 25 tahun ini, sudah dua kali akan dipulangkan pemerintah Vietnam, namun menolak. Alasannya, ia lebih senang berada di Indonesia, khususnya di barak, karena bisa makan nasi dan ikan lebih banyak daripada di negaranya.
Alasan itu diungkapkan langsung Thanh dalam bahasa isyarat dan tiga kata bahasa Indonesia. Di antara semua tahanan, Thanh merupakan satu-satunya warga Vietnam yang bisa mengungkapkan    bahasa Indonesia, meskipun hanya tiga kata. Ketiga kata itu pun tidak bisa ia ucapkan dengan sempurnya. “Maka, ika, baya,” begitu ia berulang-ulang melafalkannya. Maka berarti makan, ika berarti ikan, dan baya bermakna banyak.
Pertama kali mendengar ucapan Thanh, para wartawan sempat bingung. Tapi setelah diutarakan berulang-ulang oleh Thanh, para kuli tinta pun mereka-reka artinya yang kira-kira,”di Indonesia bisa lebih banyak makan ikan dan nasi ketimbang di Vietnam.”
Hal ini dibenarkan Sertu Dwi Joko R. Dari pemeriksanaan yang pernah dilakukan, alasan beberapa tahanan tidak mau dipulangkan ke negaranya karena merasa sangat enak tinggal di Indonesia.
“Mereka (tahanan) ketika diperiksa tim yang mengerti bahasa Vietnam banyak yang lebih memilih tinggak di Indonesia. Kata mereka disini (Indonesia) bisa lebih banyak makan daripada kerja. Di Vietnam mereka lebih banyak kerja, makannya sedikit. Begitu juga di kapal, mereka hanya istirahat tiga jam sehari semalam, sementara makannya sangat dibatasi,”tutur Joko.
Untuk melakukan pemeriksaan terhadap para tahanan, kepolisian Ranai terpaksa mendatangkan tim pemeriksa dari Batam dan Tanjungpinang yang bisa mengerti bahasa Vietnam, Thailand, dan Filipina. Sebab, para tahanan tidak bisa mengerti ketika diajak komunikasi dengan bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. (sri murni)


2 thoughts on “Berkunjung ke Barak Tahanan Vietnam Natuna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s