Berburu Harta Kuno di Kabupaten Lingga

Mangkuk Ribuan Tahun Ditawar Rp 300 Juta

KABUPATEN Lingga memang tersohor sebagai satu tempat penemuan barang-barang antik yang usianya sudah ribuan tahun. Barang-barang bernilai tinggi digali dari dalam lumpur dan pasir di sepanjang perairan kabupaten termuda di Provinsi Kepri tersebut. Sayangnya, hasil penemuan yang mayoritas oleh masyarakat tempatan banyak yang sudah tidak diketahui rimbahnya karena dijual kepada kolektor lokal Indonesia dan asing. Syukurnya, diantara 80 ribuan penduduk Kabupaten Lingga, salah satunya memiliki kesenangan mengkoleksi benda-benda antik yang harganya tidak ternilai.
Dialah Tengku Kelana. Pria kelahiran 12 September 1961 ini memiliki koleksi ribuan benda-benda antik mulai koin kuno dari berbagai negara, mangkuk, keris, pemutar musik kuno, barang pecah bela, jam tangan, jam dinding, kendi, dan lainnya.
Sabtu (5/4) lalu, Tribun bersama beberapa wartawan lokal Batam berkesempatan menemui ayah beranak tiga itu di kediamannya, Jalan Pasar Dabo Singkep. Mencari rumah Tengku Kelana memang tidaklah sulit. Cukup bertanya kepada pedagang di pasar atau supir dan tukang ojek, dengan cepat mereka bisa memberikan alamat lengkap, bahkan mengantarkan sampai di depan pagar rumah Tengku Kelana.
Pria bertubuh tinggi itu memang cukup terkenal di Dabo Singkep. Tidak hanya karena hobinya mengoleksi benda-benda antik, tetapi karena dia juga sebagai ketua asosiasi pengusaha walet untuk daerah tersebut. Kiprahnya di bidang sosial dan politik juga cukup membuatnya tersohor karena dia juga menjabat sebagai bendahara Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Lingga.
Saat Tribun bertandang ke rumahnya, suami dari Ny Linawati ini tampak sangat ramah. Meskipun Tribun datang sudah cukup malam sekitar pukul 21.00, dengan senang hati pria yang ketika itu mengenakan baju koko berwarna krem dan celana panjang biru tua, melayani percakapan seputar koleksi barang antiknya.
Begitu ditanya apa saja koleksi yang dimiliki, dengan cepat ia mengeluarkan mangkuk-mangkuk kuno yang usianya sudah ribuan tahun. Salah satu yang menarik adalah mangkuk dari Dinasti Ming yang umurnya lebih dari 1000 tahun.
Bentuknya sangat sederhana. Mangkuk itu berwarna hijau berkiameter kurang lebih 20 cm. Ia memiliki motif bunga teratai yang dibentuk timbul dengan menggunakan tangan. “Kita bisa lihat ini buatan tangan karena garis-garis pada motifnya tidak rata dan tidak sama persis. Ada yang garisnya panjang ada yang pendek,”terang Tengku.
Sayang, mangkuk tersebut tidak dalam kondisi sempurna karena beberapa bagian pinggirannya, warnanya telah terkikis sehingga menimbulkan bercak-bercak. Warna tanah liat sebagai bahan pembuat mangkukpun mulai terlihat.
“Mangkuk ini ditemukan di dalam pasir di pantai Pulau Teluk Kabupaten Lingga, makanya kondisinya agak rusak. Kalau ditemukannya di dalam lumpur kondisinya pasti masih sempurna,”jelas lelaki berkumis itu.
Selain usianya yang sangat tua, ternyata mangkuk itu memiliki kehebatan, yakni tahan basi. Makanan apapun yang diletakkan di atas mangkung itu bisa bertahan sampai tiga hari dan tidak basi.
Tengku mengaku, hal itu pernah diujicoba bersama beberapa rekannya. Caranya, ia meletakkan sayur bersantai dan nasi di atas mangkuk selama tiga hari. “Setelah tiga hari, kami periksa teranyata makanannya tidak basi,”ungkap Tengku.
Kepastian bahwa mangkuk itu berasal dari Dinasti Ming, didapatkan Tengku dari buku-buku derektori tentang barang-barang kuno. Buku itu dikeluarkan pemerintah Singapura setiap tahunnya.
“Ada salah satu kolektor dari Singapura yang pernah datang ke rumah saya dan menyocokkan barang-barang saya berdasarkan buku derektori yang dikeluarkan pemerintah Singapura, ternyata mangkuk itu memang berasal dari Dinasti Ming,”akunya.
Mendapatkan mangkuk itu, Tengku mengaku tidak menggali sendiri di Pantai Teluk. Melainkan membelinya dari seorang warga di tinggal di Kampung Kute. Bagi banyak warga di Kabupaten Lingga, barang-barang temuan di Pulau Teluk dianggap sebagai barang tidak berguna.
Karena hobi Tengku sejak 1992 adalah mengoleksi barang-barang kuno, ia pun membeli mangkuk itu hanya dengan harga Rp 300 ribu. Tapi sekarang harga mangkuk itu Rp 300 juta.
“Saya tidak mau jual mangkuk ini karena hanya ada satu. Ada yang pernah menawar Rp 300 juta tidak saya lepaskan. Saya hanya mau menjual barang koleksi saya kalau jumlahnya lebih dari satu,”kata Tengku.
Tidak hanya mangkuk yang ia miliki sebagai benda kuno, tetapi masih ada ribuan. Apa sajakah benda-benda itu? Ikuti terus cerita koleksi barang-barang antik Tengku Kelana yang dihadirkan Tribun secara berseri pada edisi selanjutnya. (sri murni)

Miliki 6.000 Koin Kuno Keluaran Mulai 1867

KOLEKSI pribadi barang-barang antik milik Tengku Kelana, memang membuat takjub orang-orang yang melihatnya. Diantara ribuan benda yang ia simpan dengan rapi, terdapat sekitar 6.000 uang koin kuno dari berbagai negara. Beberapa diantaranya adalah uang koin Dolar Victoria yang dikeluarkan tahun 1867 dan pernah digunakan sebagai alat tukar di Hongkong.
Koin Victoria keluaran 1867 memiliki nilai pecahan satu dolar. Koin ini sekaligus menjadi koin tertua yang disimpan Tengku di dalam lemari pajangannya. Selain koin Victoria 1867, di lemari berpintu kaca dengan tinggi sekitar 1,5 meter itu, tersusun rapi koin-koin Victoria lainnya yang nilainya lebih kecil yakni 1/4 sen dengan tahun pembuatan lebih mudah, 1883.
Sebagai kolektor, Tengku Kelana memang memiliki lemari-lemari spesial untuk menyimpan setiap benda yang disenanginya. Ada empat lemari yang berukuran berbeda dipajang Tengku di ruang tamu rumahnya yang beralamat di Jalan Pasar Dabo Singkep Kabupaten Lingga.
Keempat lemari itu, menyimpan benda-benda berbeda sesuai dengan kelompoknya. Untuk kelompok uang baik kertas maupun koin, lemarinya berukuran lebar 50 cm dan tinggi 1,5 meter berwarna krem.
Beberapa uang koin disusun di satu rak teratas. Sementara ribuan uang koin lainnya, ia letakkan di dalam mangkuk. Di rak ketiga dari lemari itu, dijejerkan lembaran uang kertas yang juga berasal dari berbagai negara.
Namun koleksi terbanyaknya adalah uang kertas Indonesia mulai yang dikeluarkan saat Soekarno menjadi Presiden RI pertama dan uang yang dikeluarkan pemerintah Jepang untuk rakyat Indonesia pada masa penjajahannya.
Ciri khusus uang Jepang itu atau yang sering disebut uang perang, adalah tidak memiliki nomor seri karena digunakan khusus pada saat perang. Dari koleksi uang kertas Indonesia yang disimpan Tengku, satu yang banyak mendapat perhatian orang-orang yang berkunjung ke rumahnya, yakni pecahan Rp 600.
Uang itu memiliki gambar Soekarno pada satu sisi saja. Sementara sisi lainnya hanyalah kertas kosong. Selain gambar Soekarno, pada uang itu tertera tahun pengeluarannya yakni 23 Agustus 1948 yang ditandatangani Menteri Keuangan.
“Saya dapatkan uang Rp 600 ini dari seorang warga yang tinggal di Dabo juga,”aku Tengku. Uang yang oleh kebanyakan orang dianggap hanya benda biasa, kini bernilai tinggi. Tengku mengaku uang Rp 600 pernah ditawar Rp 4 juta oleh kolektor yang datang ke rumahnya. Namun, karena Tengku hanya memiliki satu lembar, ia pun enggan memindahtangankan koleksinya itu.
Selain uang, koleksi lain yang kerap mencuri perhatian para tamu adalah tiga buah kendi kuno buatan Cina yang usianya sudah ratusan tahun. Kendi itu bukanlah sembarang kendi karena oleh masyarakat Cina kuno digunakan untuk menyimpan abu jenazah yang sudah dibakar.
Diantara tiga kendi yang memiliki warna coklat dengan motif naga itu, dikatakan Tengku, satu buah sudah pernah digunakan untuk menyimpan abu jenazah. “Yang satu ini memang sudah pernah digunakan. Pernah satu kali saya pindahkan dari tempatnya sekarang, ternyata tengah malam kendi ini bergerak sendiri dan mengganggu orang di rumah. Setelah saya pindahkan barulah kendi ini tidak bergerak lagi,”cerita Tengku seraya menunjukan kendi yang diletakkan di ruang tamu. Tepatnya di depan sofa tamu dan bersebelahan dengan lemari penyimpang uang koin dan uang kertas.
Benda lainnya adalah empat unit pemutar musik tua Gramofon buatan AS yang diproduksiĀ  sekitar tahun 1887. Keempat peti musik yang notabene menggunakan piringan hitam sebagai penyimpan file lagunya, masih bisa berfungsi. “Saya memiliki koleksi sekitar 60-an piringan hitam. Kalau piringannya bagus, suara dari peti musik itu cukup bagus, tapi kalau tidak ya berdayu-dayu jadinya,”ungkapnya.
Hobi menyimpan benda-benda antik, awalnya tidak sengaja dilakukan Tengku. Pria berambut ikal itu menceritakan, mulai menemukan benda-benda antik saat ia berprofesi sebagai pedagang enam keliling sekitar tahun 1989.
Karena tuntutan profesinya, ia kerap berpergian dari satu pulau ke pulau lain di Kabupaten Lingga. Ketika menjajakan emas itulah, ia menemukan barang-barang kuno yang masih disimpan oleh warga. Merasa tertarik dengan benda-benda tersebut, ia pun menawar dan membelinya dari yang memiliki.
“Ada juga barang-barang koleksi saya yang memang dijual langsung oleh warga dengan datang ke rumah. Kalau saya merasa cocok dan serasi dengan benda itu, harganya pun masih terjangkau, biasanya saya beli,”kata Tengku.
Dari ribuan koleksinya, beberapa kali ayah tiga anak itu pernah menjual. Namun, tidak sembarangan benda yang ia relakan berpindah tangan, melainkan jika jumlahnya lebih dari satu.
“Pernah saya jual piring bermotif teratai dari Dinasti Yuan seharga Rp 80 juta. Piring itu saya jual karena saya punya dua,”ceritanya. Selain itu, ia pun pernah memberikan secara cuma-cuma sebuah keris kepada Museum Lingga.
Terhadap hobinya itu, Tengku sesungguhnya memiliki kekhawatiran akan kelangsungan benda-benda antik yang sudah lama disimpan. Usianya yang sudah mendekati setengah abad, tentunya menjadi alasan kekhawatiran tersebut.
Sampai sekarang, belum satupun putra-putrinya menunjukan hobi yang sama dengannya. “Ada satu putri sulung saya yang kelihatannya suka juga dengan barang-barang antik. Namanya Adelia Susanti yang kini sedang kuliah di Universitas Pasundan Bandung. Sementara anak saya yang lain belum peduli. Kalau nantinya tidak satu pun yang mau jadi penerus hobi saya ini, mungkin semua barang antik akan saya jual,”tutur Tengku. (sri murni)


7 thoughts on “Berburu Harta Kuno di Kabupaten Lingga

  1. Saya memiliki barang antik berupa batu yang menyerupai keong yang di kedua sisi bertuliskan huruf arab. Saya berniat utk menjual. Yang serius hub sy di 081310243578

  2. saya memiliki 50 an koin kuno dari berbagai negara, kondisi masih sangat bagus, saya ingin menjualnya, karena saya sangat membutuhkan dana, koin dari tahun 1856, dari negara belanda, indonesia, india, australia, as, thailand, cina, arab, hongkong, ceylon, dll, bagi yang berminat hub saya di 081339596842, 0370-6580568, harga sangat murah, siapa cepat dia dapat….!!!!

  3. saya punya batu antih bentuk pipih warna hitam bertuliskan huruf arab, tulisannya timbul keluar. berminat hubungi 0761 7698263

  4. saya menjual geliga/batu landak.
    supply 3-5 ons/bulan.
    hanya untuk yang serius, silahkan hubungi saya di nomor +6281263644443 ataw email aritonang20@gmail.com.
    Nb : ada juga piring,mangkuk,sendok, dan
    guci porselen dinasti Ming ( China:
    1368-1644)
    Salam

  5. saya punya uang kuno dollar amerika pecahan :

    100,000 tahun 1934
    50,000 tahun 1934
    10,000 tahun01934
    5,000 tahun 1934
    1,000 taun 1928
    500 tahun 1928
    100 tahun 1928

    Bagi yang berminat silahkan hubungi saya di 081933662550.

  6. Sy menemukan 2 keping uang emas segi 8 bertuliskan arab SULTAN ABDUL RAHMAN SYAH,di pantai dekat rumah sy,dan 1 uang coin victoria 1845 HALF CENT,dan beberapa uang terbuat dari timah,semua benda tersebut mau sy jual dgn harga sepantas nya,jika berminat hub 085272599660,posisi sy di tanjung pinang kepri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s