Buruh Makin Sulit Beli Rumah

* Dampak Kenaikan Harga RSH

BEBAN hidup pekerja atau buruh Batam kian hari kian sulit. Setelah terhimpit kenaikan harga bahan makanan, tarif air, dan tidak lama kenaikan tarif listrik, kini harga jual rumah sederhana (RSH) juga telah dinaikan pemerintah dari Rp 49 juta menjadi Rp 55 juta.
Kondisi ini membuat kesempatan buruh di Batam semakin sulit mendapatkan rumah layak huni. Sebab, persyaratan untuk mendapatkan RSH dengan bunga subsidi pemerintah cukup sulit. Gaji calon pembeli rumah (debitur) haruslah antara Rp 1,7 juta sampai Rp 2,5 juta. Sementara upah dasar buruh masihlah Rp 920 ribu.
Situasi ini, menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Provinsi Kepri Hotben Purba, bagai buah simalakama bagi developer.
Di satu sisi, developer memang menghendaki kenaikan harga RSH sebagai dampak kenaikan harga material bangunan yang besarnya antara 10-20 persen. Di sisi lain, kenaikan harga RSH telah menyulitkan developer dalam pemasaran kepada para pekerja karena upah yang tidak mencukupi.
“Dari Apersi Kepri memang mengusulkan kenaikan RSH itu Rp 57 juta. Tapi karena pemerintah menaikannya menjadi Rp 55 juta, saya rasa sudah sangat memadai. Tapi sayangnya, pekerja kita akan semakin sulit mendapatkan rumah karena upah mereka yang tidak mencukupi,”ujar Hotben pada Tribun, Selasa (1/4).
Dalam menetapkan harga baru RSH, pemerintah membagi tiga kelas harga RSH. Kelas pertama adalah Rp 55 juta, kelas kedua Rp 41,5 juta (sebelumnya Rp 37 juta), dan kelas ketiga Rp 28 juta (sebelumnya Rp 25 juta).
Khusus untuk Batam, harga RSH yang berlaku adalah kelas satu. Sementara harga kelas dua dan tiga sudah tidak ada lagi. “RSH di Batam ini memang paling murah Rp 49 juta, itupun sudah sangat jarang. Kalaupun ada pembangunannya sudah lama sebelum adanya kenaikan harga material. Dan lokasinya memang jauh dari pusat kota,”terang Hotben.
Harga RSH yang ditetapkan pemerintah dibarengi dengan penurunan bunga subsidi. Selama lima tahun, bunga KPR yang ditetapkan hanyalah 7,5 persen atau lebih rendah dari sebelumnya yang sebesar 9 persen. Setelah lima tahun masa kredit, debitur akan dikenakan bunga pasar.
Mengatasi kenaikan harga RSH tersebut, tambah Hotben, Apersi Kepri pernah mengajukan proposal pembangunan rumah murah kepada Otorita Batam pada 2007 lalu. Harga rumahanya sangatlah murah hanya Rp 17 juta dan ditujukan khusus kepada para pekerja.
Namun, usulan tersebut sampai sekarang belum terealisasi karena terkendala lahan yang tidak tersedia. “Jika proposal itu disetujui dan lahan 150 hektare yang diminta Apersi bisa tersedia, rumah bisa dijual dengan harga Rp 28 juta. Sehingga para pekerja bisa mendapatkan rumah sederhana yang layak huni,”tambah lelaki asal Sumatera Utara itu.
Di atas lahan 150 hektare tersebut, rencananya Apersi akan membangun 10.500 unit rumah. Pembangunannya dikerjakan oleh beberapa developer anggota Apersi dengan target 1 hektare bisa memuat 70 unit rumah. (nix)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s