Harapan Anak-Anak yang Terinveksi HIV/AIDS

Tulip Ingin Sekolah…..

PENYAKIT HIV/AIDS yang didera seseorang, tidak lantas membuat para ODHA (orang dengan HIV/AIDS) berputus asa. Dengan terapi dan pengobatan secara teratur, virus tersebut bisa ditekan pertumbuhannya sehingga mereka bisa hidup sehat layaknya orang-orang yang negatif HIV. Bahkan seorang ODHA sangat memungkinkan melahirkan seorang bayi yang negatif HIV. Bagaimana kehidupan anak-anak yang lahir dari wanita ODHA di Batam? Wartawan Tribun Sri Murni menelusurinya dan menyajikannya menjadi tulisan bersambung.

SUDAH hampir dua tahun ini, Tulip (nama samaran) tidak bisa berlari-lari dan bermain bersama teman-teman sebayanya. Gadis cilik berusia 5,5 tahun ini terpaksa menjali hari-harinya di rumah dengan derita penyakit aportunis yang menderanya akibat melemahnya sistem kekebalan tubuh dikarenakan virus HIV yang sudah bersarang di tubuh bertinggi 70 cm itu.
Rintihan sakit, panas, dan gatal terus saja dilontarkan Tulip. Nani (49), juga nama samaran, nenek Tulip pun tidak henti-hentinya menggosok-gosok dada dan punggung bocah yang hanya memiliki berat delapan kg itu.
Apa yang dilakukan Nani sudah menjadi rutinitas setiap saat kapanpun dan dimanapun jika memang Tulip merintih sakit. Bahkan, tidak jarang wanita berambut putih itu harus rela tidak tidur semalaman guna menjaga dan menggosok dada cucunya itu.
“Kalau dadanya tidak sakit, biar bisa tidur Tulip ini minta telinganya dibelai-belai dengan menggunakan beberapa helai kapas. Kalau tidak dia tidak akan bisa tidur,”kata Nani seraya terus menggosok pelan dada Tulip yang juga terus merintih sakit.
Bocah yang lahir 30 Oktober 2000, sudah satu tahun lebih menderita terus diserang berbagai penyakit yang berbeda-beda silih berganti. Puncaknya, terjadi pada april 2006 lalu.
Ketika itu, Tulip jatuh sakit dan sangat parah. Batuk, kulit gatal-gatal, diare tak kunjung sembuh, dan tumbuh jamur di sekitar mulutnya. Sang Nenek dan anggota keluarga lain tidak tahu apa yang diderita cucu yang sudah sejak bayi dirawatnya itu.
Beranggapan Tulip menderita sakit biasa, Nani pun membawanya ke klinik dokter di dekat rumah tinggalnya dan Tulip dirawat inap selama dua malam.
Karena perawatan di klinik tersebut memerlukan biaya besar, dua malam Rp 1,6 juta, Nani pun berinisiatif memindahkan perawatan cucunya ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam.
Di RSBK, Tulip diperiksa darahnya. Alangkah kagetnya Nani ketika diberitahu seorang suster bahwa cucunya itu telah terinfeksi HIV positif. “Sebelum mengatakan itu, suster tersebut kelihatan takut dan bingung untuk menyampaikannya. Saya bilang ke dia, saya bisa terima kenyataan apa saja tentang Tulip. Alamak, terkejut saya dengan apa yang disampaikan suster dan saya terus menangis. Saya bertanya-tanya pada diri sendiri kok bisalah cucu saya yang masih sekecil ini terkena penyakit itu,”kenang Nina dengan mata yang berkaca-kaca.
Setelah mendapatkan penjelasan dari suster tersebut tentang penyakit Tulip, apa dan bagaimana HIV itu menjangkiti seseorang, Nina baru teringat akan satu peristiwa yang pernah menimpah, sebut saja Sari, ibu kandung Tulip.
Tahun 2003, saat keluarga Nina masih tinggal di Bangka, Sari tiba-tiba jatuh sakit. Gejalanya sangat mirip dengan Tulip, batuk tidak sembuh-sembuh, mulutnya berjamur, kulitnya gatal-gatal dan diare berkepanjangan. Badannya lemas dan tidak bisa lagi bangun dari tempat tidur.
Tanpa mengetahui penyakit apa yang sedang diderita, Sari dibawah ke rumah sakit. “Dokter di Bangka hanya mengatakan Sari terkena penyakit komplikasi. Tidak lama dia dirawat, kurang lebih satu bulan, badannya langsung kurus kering dan tinggal tulang dan kulit. Ia pun meninggal tepat satu bulan setelah dirawat di rumah sakit tersebut,”tutur Nina seraya menghapus air mata yang mulai menetes di pipinya.
Karena derita Sari mirip dengan Tulip, Nina pun berkesimpulan bahwa putri keduanya itu meninggal karena HIV meskipun tidak pernah dilakukan tes darah selama ia masih hidup.
“Saya yakin Sari tertular virus dari suaminya karena saya tahu suaminya memang suka pergi ke tempat pelacuran sementara Sari hanya kerja di salah satu kantor. Satu hal yang membuat saya khawatir, cucu saya satu lagi yakni abang Tulip jangan-jangan juga bernasip sama. Tapi saya tidak bisa memeriksakannya karena dia diasuh ayah Tulip di Bangka,”ungkap Nina yang sampai sekarang masih merahasiakan penyakit Tulip kepada ayah dan keluarga mereka karena takut akan stigma.
Tulip, hanyalah satu contoh dari sekian banyak anak yang lahir dari wanita ODHA di Batam (penulis sengaja tidak menyebutkan angkanya karena pertambahan terjadi hampir setiap hari) tanpa diketahui status kesehatannya sejak dalam kandungan. Sehingga, mereka lahir sebagai anak dengan HIV positif tanpa bisa dilakukan pencegahan secara dini.
Nasib serupa juga dialami Kamboja, panggil saja begitu. Bocah perempuan berusia 2,5 tahun itu, positif terinfeksi HIV dari ibunya Rani (bukan nama sebenarnya). Rani (21) mengetahui positif HIV ketika usia Kamboja masih dua bulan.
“Awalnya suami saya memeriksakan diri ke dokter di Jakarta dan hasilnya positif. Tapi dia tidak mau cerita sampai tiga bulan kemudian. Itupun setelah melihat aku terbaring di rumah sakit dalam keadaan parah dan mulutku berjamur,”cerita Rani.
Ia pun menjalani pemeriksanaan darah, setelah sebelumnya mengikuti konseling di YPAB, dan hasilnya positif dengan hasil CD4 hanya 9 dan telah terjadi penurunan berat badan dari 38 kg menjadi 25 kg.
Beberapa hari setelah tes tersebut, konselor YPAB meminta kesediaan pasangan tersebut memeriksakan Kamboja. Bisa ditebak, status bocah berkulit coklat itu juga positif.
Masih beruntung, kondisi Kamboja jauh lebih sehat dari Tulip. Bahkan bisa dikatakan ia tidak terkena panyakit aportunis apapun. Dan jumlah CD4-nya masih tinggi, lebih 700.
Kamboja telah mengikuti tes darah dua kali. Pertama dilakukan saat usianya tiga bulan dan hasilnya positif karena antibody dalam tubuhnya masih antibody bawaan sang ibu. Untuk memastikan status kesehatannya, ia dites lagi pada Februari 2006 lalu saat usianya 19 bulan dan hasilnya memang HIV positif.
Karena CD-4 yang masih tinggi, Kamboja tidak diberikan terapi ARV. Sementara Tulip yang memang sempat nge-drop sampai sekarang terus mengikuti terapi ARV. “Aku mau sekolah_..”pinta Tulip ketika ditanya apa kemauannya saat ini. (sri murni)

Cerita lengkap tentang HIV/AIDS dapat Anda nikmati pada halaman “Tetap Servive Walau Terinfeksi HIV/AIDS” di kolom sebelah kanan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s