Susahnya Pergi Sekolah di Pulau-Pulau

90 Persen Anak Subang Mas Putus Sekolah
* Gara-Gara Jembatan 200 Meter

GARA-GARA sebuah jembatan penghubung yang panjangnya hanya 200 meter, 90 persen anak usia sekolah di Kelurahan Subang Mas terpaksa tidak melanjutkan pendidikan setelah menamatkan sekolah dasarnya. Setiap tahun, SD 019 yang ada di pulau yang berjarak sekitar satu jam dari Desa Tebing Tinggi Rempang Cate (menggunakan pompong atau kapal kayu bermesin), rata-rata menamatkan 16 orang. Tapi, karena ketiadaan SMP di sana, terpaksa mereka tidak melanjutkan sekolah.
Wajah Fendi dan Wira langsung tersenyum begitu bel sekolah dibunyikan. Dua siswa SMP 15 Air Raja (pulau diseberang Subang Mas) itu bergegas menyimpan buku-buku yang ada di atas mejanya ke dalam tas dan melangkah meninggalkan kelas.
Belum lagi melewati pagar sekolah, seorang guru memanggil mereka. “Wira, Fendi, tolong turunkan bendera dan simpan di dalam,”perintah sang guru tadi. Seketika, keduanya berbalik kanan dan menuju tiang bendera yang tepat berada di depan kelas mereka yang sudah ditinggalkan beberapa menit lalu.
Seusai menunaikan tugasnya, Wira dan Fendi bergerak cepat menelusuri jalan setapak yang ada di kampung Air Raja menuju sebuah hutan bakau. Maklum, hari itu adalah hari Sabtu. Hari dimana mereka berkesempatan pulang ke kampung (Subang Mas) yang letaknya di seberang pulau.
Satu jam lamanya mereka berjalan kaki. Jarak antara sekolah ke hutan bakau yang dimaksud sekitar dua kilo meter.
“Ya siang ini kan pasang naik. Terpaksa lepas sepatu dan gulung celanalah,”keluh Wira singkat, sesampainya di tepi hutan bakau. Untunglah, tidak jauh dari pangkal hutan yang sudah digenangi air laut pasang tersebut, sudah menunggu seorang ibu yang duduk di atas perahu kecil.
Hamini (36) begitulah ia akrap dipanggil. Wanita berkerudung itu memang bukanlah ibu dari Wira ataupun Fendi. Bukan juga sengaja menunggu guna menjemput mereka. Hamini merupakan orang tua dari salah seorang murid SMP 15 yang menjemput anaknya pulang.
Bagi Wira dan Fendi, tidak peduli ibu siapa itu. Yang penting, hari itu bisa menumpang perahu untuk pulang kampung. Mereka merasa sangat beruntung karena tidak harus berenang kali ini.
Di hari-hari biasa, ketika tak satu pun perahu ada di hutan bakau tersebut, kedua bocah lelaki itu harus melewati perjalanan cukup melelahkan jika hendak pulang ke Subang Mas. Bila air surut, mereka bisa berjalan di lumpur laut sambil menenteng sepatu dan menjinjingkan celana. Dalamnya lumpur yang harus ditempuh memang bervariasi.
Saat melewati hutan bakau yang panjangnya sekitar 500 meter, dalam lumpurnya hanya sebetis. Tetapi, begitu melewati sungai (istilah masyarakat tempatan untuk menamai laut pendek yang memisahkan dua pulau), dalamnya lumpur bisa mencapai satu meter.
“Kalau masih lewat hutan bakau yang dilepas mamang cuma sepatu. Sedangkan celana panjang hanya digulung ke atas. Tapi kalau sudah melewati sungai, harus lepas baju semuanya, kecuali celana dalam. Kemudian dimasukkan ke dalam tas dan dibungkus plastik biar tidak basah,”tutur Wira pada Tribun yang mengikuti perjalanan pulang mereka di atas sampan.
Melewati medan berlumpur, masih menjadi keberuntungan bagi mereka. Perjalanan yang lebih sulit harus ditempuh ketika air pasang. Karena hasrat ingin pulang kampung yang begitu besar, mereka pun terpaksa berenang di sungai yang dalamnya bisa mencapai tiga meter.
Sesampainya di tepi pulau Subang Mas, mereka harus berjalan kaki lagi sekitar tiga kilo meter.  Waktu yang dihabiskan bisa satu jam lebih karena melewati jalan setapak yang kanan dan kirinya masih semak belukar. (sri murni)

Perahu Tenggelam, Sekolah pun Gagal

WIRA dan Fendi menjadi gambaran sulitnya anak-anak pulau mendapatkan pendidikan sesuai program Wajib Sekolah 12 Tahun yang dicanangkan pemerintah Soeharto sejak awal 1990. Meskipun program itu sudah terdengar usang, tapi puluhan anak hinterland belum juga bisa menikmatinya dengan layak seperti anak-anak yang ada di Batam atau kota lain.
Wira dan Fendi yang kini duduk di kelas 3 SMP 15, merupakan tamatan SD 015 yang melanjutkan sekolah ke SMP dari 15 anak yang tamat di tahun 2004 lalu. Tingginya angka putus sekolah di Subang Mas, tidak lain dikarenakan jarak ke Pulau Air Raja, dimana SMP 15 terletak, yang cukup jauh dan sulit ditempuh.
“Entah berapa kali kami terpaksa batal ke sekolah karena sampan yang kami tumpangi tenggelam di tengah sungai,”kenang Fendi. Ketika musibah itu terjadi, mereka harus kembali ke rumah karena seragam yang dikenakan basah terkena air laut.
“Kalau dulu hampir setiap hari kami pulang pergi Air Raja ke Subang Mas. Tapi karena capek harus berenang terus, kami memutuskan numpang di rumah keluarga jauh di Air Raja dan pulang seminggu sekali,”kata Wira menimpali.
Di hari Senin, hari pertama masuk sekolah setelah berakhir pekan, mereka pun harus bangun sebelum subuh sekitar jam empat pagi. Setelah mandi, sekitar 04.30 WIB, keduanya sudah mesti meninggalkan rumah, berjalan kaki menuju hutan bakau Subang Mas, menyeberang sungai (terkadang berenang, terkadang menggunakan sampan) dan melewati hutan bakau lagi yang ada di Air Raja. Bila dihitung, perjalanan kedua pulau tersebut memakan waktu sekitar 2,5 jam. Kalau memang tidak ada halangan di jalan, Wira dan Fendi bisa sampai ke sekolah tepat pukul 07.00 WIB. (sri murni)

Perlu Dana Rp 500 Juta

MELIHAT nasib anak-anak Subang Mas ini, telah menggugah masyarakat tempatan untuk meminta pembangunan jembatan yang menghubungkan Subang Mas dan Air Raja kepada Pemerintah Kota Batam. Sudah sejak awal 2000 mereka memperjuangkan pembangunan jembatan yang hanya 200 meter tersebut, namun hasilnya nihil. Sampai sekarang penghubung yang diimpikan tidak jua terealisasi.
Bahkan untuk membuka hati pemerintah dan menunjukan kesungguhan masyarakat tempatan akan keberadaan jembatan tersebut, setiap tahun mereka selalu bergotong royong menebas semak belukar guna membuat jalan setapak.
“Kami berharap, begitu pemerintah meninjau lokasi jembatan, jalan setapaknya sudah terbentuk yang dilakukan swadaya oleh masyarakat sendiri. Jadi pemerintah tidak lagi repot membuat jalan karena sudah kami lakukan,”ujar Muhamad, Ketua RT Subang Mas.
Sayangnya, jalan yang setiap tahun mereka buka itu harus tertutup belukar lagi begitu mendengar tiada anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk mereka. “Entah berapa kali jalan yang kami buka harus tertutup belukar lagi. Mudah-mudahan gotong royong tahun ini, bisa membuahkan hasil dan jalan tidak lagi tertutup belukar,”harap pria yang berprofesi sebagai nelayan ini seraya  menunjukkan pada Tribun jalan setapak yang sudah dibuat.
Minggu (30/4) itu, sekitar pukul 14.00 WIB, puluhan warga Subang Mas tampak mulai bergotong royong melanjutkan pembukaan jalan yang belum rampung tersebut.
Walaupun belum pernah ditinjau pemerintah kota Batam, Muhammad memperkirakan dana yang dibutuhkan untuk membangun jembatan 200 meter tersebut sekitar Rp 500 juta dan sudah berpondasi beton.
“Jika jembatan benar-benar terealisasi, anak-anak Subang Mas yang sudah tamat SD bisa melanjutkan sekolah SMP ke Air Raja karena jalannya sudah bisa ditempuh lewat darat. Tidak lagi harus berenang atau naik sampan yang kadang-kadang tenggelam di tengah jalan,”harap Muhamad. (sri murni/ika maya susanti)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s