Menyeberangi Lautan Demi Orgen Tunggal

Menilik Muda Mudi Pulau Mencari Hiburan

MALAM itu, Sabtu (17/2/2007) adalah malam Tahun Baru Imlek. Malam bagi warga Tionghoa melakukan sembahyang kepada para leluhur. Sekaligus malam yang sarat dengan perayaan dan hiburan.
Walaupun Lik (25) bukan salah satu warga Tionghoa, tapi baginya malam Imlek sangatlah penting. Malam yang hanya datang satu tahun sekali itu, begitu ditunggu-tunggu olehnya. Karena malam Imlek merupakan malam dimana ia dan pemuda-pemudi pulau Subangmas bisa menikmati hiburan malam di Pulau Tanjung Kalo, sebuah pulau kecil yang berada di seberang Pulau Subangmas.
Waktu masih menunjukan pukul 19.00 WIB. Selepas makan malam, Lik sudah tampak sibuk mondar-mandir dari halaman depan ke halaman belakang rumahnya yang terletak di tepi pantai Pulau Subangmas.
Ditengah aktivitasnya keluar masuk rumah, sesekali ia menyempatkan melirik jam dinding yang menggantung tepat di atas pintu tengah rumah yang terbuat dari kayu itu. “Mana ini Yaman, Andi, Dani, kok belum datang,”gumamnya terdengar sedikit resah.
Hampir setengah jam ia mondar mandir. Merasa tidak ada kejelasan kabar rekan-rekannya yang janji datang ke rumah Lik pukul 19.00 WIB, ia pun memutuskan pergi keluar. “Aku keluar dulu ya mak,”ucap Lik berpamitan kepada sang ibu yang sedang sibuk di dapur.
Tingkah laku Lik malam itu memang tidak seperti biasa. Lelaki bertubuh jangkung yang biasanya berpawakan kalem, terlihat gusar. Penyebabnya bukan karena putus cinta atau dimarahi orang tua, tetapi ia khawatir tertinggal satu tontonan yang sudah ditunggu-tunggunya sejak lama. Yakni joget keliling di pulau seberang, Pulau Tanjung Kalo.
Sekitar pukul 20.30 WIB, Lik bersama 20 orang teman sekampungnya baik perempuan maupun laki-laki berangkat menuju Tanjung Kalo dengan sebuah sampan bermesin atau yang sering disebut pancung. Sebelum mereka sampai ke pancung, tentu saja mereka harus melewati sebuah pelantar kayu yang panjangnya sekitar 500 meter.
Kondisi pelantar yang menjadi fasilitas utama masyarakat tempatan untuk menyandarkan sampan, pancung, atau pompong, tampak cukup mengiris hati. Tiang-tiang tonggaknya hanya terbuat dari kayu. Begitu juga tapakannya, terbuat dari batang-batang kayu kecil yang mulai lapuk.
Di beberapa bagian di sepanjang pelantar itu, tonggak kayu mulai patah, sehingga setiap yang lewat di atasnya harus berhati-hati karena hentakan kaki yang cukup keras akan bisa membuatnya roboh.
Meskipun muda mudi itu tinggal di Pulau yang berjarak sekitar 2 jam dari Pelabuhan Punggur, dandan mereka cukup modis, tidak ubahnya muda-mudi yang tinggal di kota yang hendak ke pub, cafe, atau diskotek.
Yang perempuan, tubuhnya dibalut celana jeans ketat plus atasan tengtop yang dipadukan cardinan. Dan yang pria, juga mengenakan celana jeans dengan kaos oblong atau kemeja. Namun, dandanan trendy mereka hanya terlibat saat hendak menaiki dan turun dari sampan.
Sebab, diatas alat transportasi laut yang terbuat dari kayu itu, dandanan keren muda-mudi Pulau Subangmas harus dibalut lagi dengan jaket yang lumayan tebal. Saat malam Imlek, angin laut masih masuk lingkaran musim angin utara, dimana tiupannya cukup kencang yang tidak hanya membuat arus laut lebih bergelombang, tetapi juga terasa sangat terasa dingin di kulit.
Di atas pancung itu, tidak hanya ada muda-mudi yang belum menikah. Tetapi juga beberapa pria yang sudah memiliki beberapa orang anak. Untuk sampai ke Pulau Tanjung Kalo, perjalanan pancung memakan waktu sekitar 30 menit.
Kurang lebih pukul 21.00 WIB, pancung merapat ke pelabuhan Tanjung Kalo yang baru saja selesai dibangun Pemko Batam dua bulan lalu. Dari atas pelantar yang sudah dibuat permanen itu, terdengar alunan musik dangdut dengan judul lagu Jablai.
“Eh sudah mulai. Ayu cepat!”seru Mariana yang tampak girang mengajak teman-temannya untuk bergegas menuju sumber lagu. Jarak pelantar ke lokasi digelarnya jodeg keliling tidaklah jauh, hanya sekitar 300 meter.
Yang dimaksud joged keliling oleh masyarakat pulau, ternyata tidak ubahnya seperti pertunjukan orgen tunggal sebuah pesta pernikahan. Hanya saja tampilannya jauh lebih sederhana. Tidak ada panggung ataupun kursi tempat para tamu duduk.
Yang ada hanya tenda plastik berukuran 4×4 meter. Tenda itu pun tak memiliki tonggak, melainkan hanya diikatkan dari satu puhon kelapa ke pohon kelapa lainnya. Di bawah tenda itu, seperangkat sound sistem diletakkah tanpa alas, alias di atas pasir. Begitu juga dengan satu unit orgen tunggalnya .
Dua orang perempuan berganti-gantian menyanyikan lagu yang diminta penonton. Untuk beristirahat penyanyi atau yang sering dipanggil biduan, disediakan dua kursi plastik. Satu hal yang membedakan joget keliling dengan orgen tunggal pesta pernikahan, joged keliling menyeidakan 10 orang penari yang semuanya perempuan.
Para penari itu didudukan berjajar di atas kursi plastik. Mereka duduk di depan kursi dua orang biduan dan pemain orgen tunggal. Bak toko pakaian, mereka dipajang di depan etalase. Di hadapan mereka, berdiri para pria baik yang lajang maupun sudah berkeluarga memandangi satu persatu paras mereka.
Para wanita itu, tidak hanya menjadi pajangan. Mereka siap melayani siapa saja yang hendak berjoged asalkan mentaati aturan mainnya. Aturannya adalah, yang hendak berjoged dengan para penari atau biasa dipanggil dengan sebutan putri, harus membeli tiket seharga Rp 15 ribu.
Dengan tiket itu, setiap orang akan ditemani berjoged oleh satu orang putri. Pemilik tiket berhak memilih putri yang dikehendaki. Joged, tentu saja diiringi alunan musik yang dimainkan pemain orgen tunggal dan lagu yang dinyanyikan biduan.
Musik dan lagu yang dilantunkan, juga disesuaikan dengan permintaan penonton. Tapi mayoritas mereka meminta lagu-lagu dangdut. Lebih hot katanya. Dengan uang Rp 15 ribu, mereka bisa berjoged dalam lima alunan lagu.
Tapi, jangan dikira lagu-lagu itu dinyanyikan sesuai dengan nada dan tempo sebagaimana aslinya. Lima lagu terkadang hanya berdurasi 10 menit. Menurut Yaman (23), salah satu pemuda Subangmas yang kerap hadir menikmati hiburan joged keliling, lamanya lantunan lagu sangat tergantung dari ramainya peminat.
“Semakin banyak yang mengantri untuk berjoget, lagu yang dinyanyikan semakin pendek. Awal-awal, lima lagu bias 10 menit. Tapi semakin malam dan orang yang mau berjoget semakin banyak, lima lagu bisa cuma lima menit,”tutur Yaman saat beristirahat seusai berjodet satu putaran lagu.
Dalam satu kali putaran lagu, biasanya biduan menyanyikan empat judul lagu dangdut. Sementara satu lagu lagi adalah house music yang membuat suasana joget keliling laksana diskotek keliling. Yang ikut berjoget, ternyata tidak hanya kaum lelaki, tetapi juga perempuan dan anak-anak.

 Satu Lagu Dibayar Rp 400

MALAM itu, Dedek (21) merasa cukup lelah. Gawean joged keliling di Pulau Tanjung Kalo lumayan memeras tenaga. Penonton yang banyak berdatangan, memaksa wanita asal Siantar, Sumater Utara itu dan sembilan wanita lainnya, menemani tamu berjoget sebanyak 32 kali putaran joget. Jika dirata-ratakan satu putaran memakan waktu 10 menit maka 32 putaran adalah 320 menit atau sekitar 5,5 jam, mulai pukul 21.15 sampai 02.30 WIB.
Di satu tempat pertunjukan, biasanya dibuka sekitar pukul 21.00 WIB dan berakhir kurang lebih pukul 02.00 dinihari. Namun demikian, jam buka dan tutupnya pagelaran sangat tergantung ramai tidaknya tamu, juga tergantung izin yang diberikan ketua RT/RW setempat.
Di Pulau Tanjung Kalo, kehadiran mereka bukan kemauan sendiri melainkan diundang seorang warga Tionghoa yang tinggal di pulau tersebut. Hiburan sengaja digelar untuk memeriahkan Malam Tahun Baru Imlek 2558 yang jatuh pada 18 Februari lalu.
Satu kelompok joget keliling biasanya terdiri dari 14 orang. Sepuluh adalah penari, 2 orang biduan (penyanyi), dan satu orang pemain orgen yang biasanya juga merangkap sebagai pembawa pancung, serta seorang pimpinan rombongan. Dua biduan pun kadang-kadang merangkap sebagai penari jika memang tamu yang datang sangat ramai.
Untuk mendatangkan grup joged Dedek yang bernaung dibawah Suria Grup Seni Tari Joget Melayu, tarifnya cukup berfariasi antara Rp 800 ribu sampai Rp 1,5 juta tergantung jauh dekatnya pulau. Seorang warga Tionghoa Pulau Tanjung Kaloh mengeluarkan dana Rp 1 juta untuk mengundang Suria Grup selama tiga hari pertunjukan. Group ini beralamat di Jl H Agus Salim, Tanjungpinang Barat.
Dengan dana itu, pengundang dibebaskan biaya transportasi, makan, dan penginapan. Pimpinan rombonganlah yang bertanggungjawab menyediakan rumah, makan, dan keperluan lain anggota kelompok joget. Jika tidak ada yang mengundang, kelompok joget keliling akan tetap datang ke pulau, setelah terlebih dahulu meminta izin kepada ketua RT/RW setempat.
Ani (36), pimpinan rombingan Suria Group menceritakan, jika manggung di pulau-pulau, biasanya dirinya mencari rumah sewa sementara yang memiliki dua atau tiga kamar sebagai tempat menginap. Harga sewa rumah di pulau relatif murah, hanya Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per malam.
Ani mengaku, uang yang diberikan pengundang tidak berarti banyak karena tidak mencukupi biaya operasional. Yang diharapkan adalah uang dari penjualan tiket saat pertunjukan berlangsung.
Rata-rata satu malam pagelaran, mereka bisa memainkan minimal 30 kali putaran joged. Satu putaran mendapatkan penghasilan Rp 150 ribu. Dengan demikian satu malamnya, mereka bisa mendapatkan uang Rp 4,5 juta.
Setiap putaran joged, semua penari harus terpakai atau minimal delapan penari. Jika pembeli tiket belum mencapai delapan orang, makan joget tidak akan dimulai.
Setiap penari dibayar berdasarkan banyaknya lagu yang dimainkan. Satu lagu bernilai Rp 400. Maka, satu kali putaran joged (lima lagu) mereka mendapatkan Rp 2.000. Jika satu malam 30 putaran joged, penghasilan satu penari Rp 60 ribu. Uang itu merupakan penghasilan bersih karena transportasi, makan, dan penginapan ditanggung pimpinan rombongan yang merangkap sebagai pemegang uang.
“Kami ini tak ubahnya seperti pengamen berkelompok yang menyajikan hiburan musik dari pulau ke pulau,”ujar Ani tanpa malu-malu. (sri murni)

Penari Dilatih Empat Bulan di Siantar

MENJADI seorang putri atau penari dalam kelompok joge keliling ternyata tidaklah gampang. Memang tidak ada syarat pendidikan. Bahkan yang tidak bersekolah pun diperbolehkan ikut. Tetapi setiap calon putri harus mengikuti pelatihan selama kurang lebih empat bulan di Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara. Dan rata-rata umur yang bisa ikut tidak lebih dari 25 tahun.
Ani, pimpinan rombongan Suria Gruop bercerita, pelatihan dilakukan di rumahnya sendiri yang juga terletak di Pematang Siantar. Biasanya rekrutmen penari dilakukan setelah Lebaran Idul Fitri.
Ia mencari remaja-remaja putri satu kampungnya atau daerah lain di Sumatera Utara. Sebelum dilatih, ia mengaku meminta izin orangtua remaja tersebut dan mengajukan kontrak kerja yang isinya bahwa putrinya akan bekerja sebagai penari keliling selama satu tahun.
“Sebelum berangkat biasanya calon penari kami pinjamkan uang antara Rp 1 juta sampai Rp 2 juta untuk diberikan kepada orangtuanya. Uang itu adalah utang yang harus dibayar penari secara cicil selama bekerja,”ungkap wanita tengah baya itu.
Selama pelatihan, mereka tidak hanya diajarkan menari atau berjoget. Tetapi juga bernyannyi. Bagi calon penari yang suaranya bagus, bisa merangkap pekerjaan sebagai penari sekaligus penyanyi.
Walaupun pusat pelatihannya di Siantar, tetapi Ani tidak menutup kesempatan bagi remaja putri lainnya untuk bergabung. Di Suria Group, mayoritas penari memang berasal dari Sumater Utara. Namun, dua diantara mereka berasal dari Pulau Kasu dan Karas, dua pulau kecil yang masih masuk wilayah Kota Batam.
Dalam menjalankan profesi sebagai penari keliling, mereka dilengkapi seragam saat bertugas. Untuk tiga malam pertunjukan, seragam yang dikenakan berbeda-beda warna, tetapi satu gaya yakni celana jeans panjang plus atasan kaos press body. Tentu saja setiap penari harus berdandan secantik mungkin, sehingga bisa menarik para penonton untuk berjoget bersamanya.
“Biasanya para penari ini hanya betah satu tahun kerja saja. Saya ambil setelah Lebaran Idul Fitri dan mereka pulang kampung lagi saat Ramadan atau sebelum Idul Fitri. Saya pun harus merekrut penari-penari baru lagi,”tutur Ani yang sudah 13 tahun menggeluti bisnis joget keliling itu.
Menjalankan bisnis hiburan apalagi bentuknya menyajikan musik dan tarian, Ani tidak menampik kemungkinan kerja ganda para penarinya. Tidak sekedar melayani berjoget tetapi juga layanan “plus” selepas tugas.  “Kalau masalah itu mungkin ada. Tapi itu diluar tanggungjawab saya,”ungkapnya.
Soal layanan plus, Yaman (23) pria asal Pulau Subangmas yang kerap menikmati hiburan joged keliling mengaku, beberapa penari bisa saja diajak “gituan” tergantung pendekatan. Semakin pintar merayu, kemungkinan itu semakin besar, bahkan bisa gratisan.
“Tidak semua. Dari 10 penari hanya dua orang,”aku Yaman tanpa mau menyebutkan penari dari kelompok joget keliling mana yang dimaksud. Ia menambahkan, menikmati joget keliling tak ubahnya seperti candu.
Karena di pulau sangat jarang ada hiburan, jadi begitu ada musik dan joget terasa sangat menyenangkan. Uang Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu tidak terasa keluar dari kantong untuk satu  malam pagelaran.
“Semakin malam kan musiknya semakin singkat. Belum lagi puas satu putaran sudah habis. Terpaksa untuk memuaskan batin, nambah terus. Kadang-kadang semalam habis Rp 300 ribu,”tutur lelaki lajang itu. (sri murni)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s