Derita TKI Di Negeri Jiran ; Darmini Tidak Sempat Pikirkan Cinta

CERITA duka tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berjuang mencari nafkah di negeri tetangga, Malayisa, seolah tiada pernah berakhir. Di tempat penampungan sementara TKI di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Baharu, Malaysia, cerita-cerita duka itu masih tetap tersimpan dan  menarik untuk disimak.

KERINDUAN Darmini akan orangtua dan keluarga di Indonesia, sudah tidak terkatakan lagi. Bahkan, saking rindunya wanita asal Cilacap itu dengan kampung halaman, ia tak sanggup berkomentar banyak untuk mengungkapkan perasaannya sendiri. Ia hanya bisa meluapkannya lewat air mata yang tak sanggup ia tahan ketika Tribun mengajaknya berbincang di tempat penampungan sementara TKIB di KJRI Johor Baharu, Jumat (2/3) lalu.
“Entahlah mbak. Saya kangen sekali dengan keluarga saya,”kata Darmini singkat membuka cerita dukanya selama 15 tahun bekerja di Malaysia. Wanita berusia 34 tahun itu, pertama kali datang ke Johor Baharu pada 1991 lalu.
Ia bekerja di sebuah tokoh yang menjual kebutuhan harian. Di Malaysia, toko tersebut dikenal dengan istilah kedai runcit. Tempat kerja Darmini terletak di Taman Sentosa Songkek 10, Johor Baharu.
Sebagai pendatang baru, ketika itu, tentu saja ia membawa segudang harapan untuk perbaikan hidup yang lebih baik. Terlebih lagi, kepergiannya ke negeri jiran membawa pesan dan harapan dari orang tua dan adik-adiknya, karena Darmini sebagai tulang punggung keluarga.
“Pastilah dulunya saya kerja di Malaysia dengan harapan bisa membantu ekonomi keluarga,”ujar Darmini. Namun, harapan itu sudah 15 tahun terkubur. Jangankan mengirim jutaan rupiah untuk keluarga di Indonesia, satu sen gaji pun tidak pernah singgah ke tangannya.
Dari 1991 sampai 2006 bekerja di runcit, Darmini tak pernah satu kali pun diberikan upah oleh majikannya yang beretnis Cina. Setiap hari ia hanya menerima jatah makan. Sesekali sang majikan memberikan pakaian, karena sebagai pembantu rumah tangga yang juga merangkap penjaga tokoh, tentu saja sang majikan tidak menginginkan pekerjanya memakai busana yang kusam dan tidak layak pakai dalam melayani pembeli.
“Kalau saya tanyakan gaji kepada majikan, mereka selalu mengatakan gaji saya ditabung. Jadi kalau mau pulang kampung uang saya bisa banyak,”tutur wanita berjilbab itu.
Alasan majikan itu kerap dikatakan setiap kali ditanya Darmini. Bulan pertama, perempuan tengah baya itu sangat mempercayai kata-kata majikan. Dalam pikirannya, memang tidak ada salahnya jika gaji ditabung dengan harapan enam bulan atau setahun sekali bisa diambil untuk dikirim ke kampung halaman.
Setiap hari Darmini harus bekerja di dua bagian. Sebelum pukul 06.00 waktu Malaysia, ia mesti mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari menyapu, mengepel, cuci piring, mencuci pakaian, dan mengurus anak majikan.
Selepas itu, dari pukul 06.00 sampai 22.00 waktu Malaysia, ia harus melanjutkan bekerja di kedai runcit majikan, melayani pembeli. Istirahat hanya diberikan untuk makan. Rutinitas yang padat itu, terus ia jalani dengan tabah.
Tepat setahun ia bekerja (1992), dengan penuh harapan ia pun menanyakan upah jerih payahnya kepada sang majikan. Namun, jawabannya yang didapat tetap sama ketika sebulan ia bekerja.  Upah ditabung majikan agar terkumpul.
“Tapi majikan saya tidak pernah mau memberi tahu kapan gaji itu bisa saya ambil. Mereka hanya bilang, kalau mau pulang  ke Indonesia pasti akan diberikan,”kenang Darmini.
Pertanyaan serupa kerap ia lontarkan pada tahun kedua, ketiga, sampai keempat. Karena jawaban majikan tetap sama, wanita berkulit coklat itupun merasa lelah bertanya. Akhirnya ia pun pasrah dan hanya berdoa, semoga suatu saat nanti ia bisa keluar dari jeratan sang majikan.
Pada akhir 2005, Darmini memberanikan diri bercerita kepada seorang teman yang juga TKW asal Indonesia. Sahabatnya itulah yang kemudian melaporkan nasib Darmini kepada KJRI. Januari 2006, doanya untuk keluar dari cengkraman majikan terkabul juga. Staf KJRI datang menjemputnya di kedai runcit.
Dengan kuasa sebagai perwakilan Indonesia di Johor Baharu, Darmini berhasil dikeluarkan beserta dokumen perjalannya yang sudah 15 tahun ditahan majikan. Saat ini, kasus Darmini sedang diproses secara hukum. Menurut Didik Trimardjono selaku Consular Affairs KJRI, kans Darmini menang di pengadilan sangat besar.
Jika pengadilan memenangkan Darmini, ia berkesemptan mendapatkan imbalan gaji sebesar 50.000 ringgil Malaysia atau sekitar Rp130 juta (kurs Rp 2.600). “Kesalahan majikan Darmini sangat besar. Selama ini kasus penggajian ini banyak dimenangkan  pihak TKI. Apalagi Darmini bekerja sebagai TKI yang legal,”ujar Didik.
Darmini memang bukanlah satu-satunya tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia yang tidak sukses. Ribuan warga Indonesia di negeri jiran itu bahkan mengalami yang lebih tragis, penyiksaan sampai pembunuhan.
Ribuan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah (TKIB) yang sudah dipulangkan KJRI Johor Baharu ke tanah air lewat pelabuhan Batam, Tanjungpinang, dan Karimun, mengusik Pemko Batam untuk mengetahui apa sebenarnya menimpah para pahlawan devisa  di negeri jiran itu.
Lewat program rapat kerja satuan tugas (satgas) TKIB Kota Batam 2007, sebanyak 19 perwakilan Pemko Batam berkunjung ke KJRI Johor dan Penjara Kluang pada Kamis dan Jumat (1-2/3) lalu.
DARMINI, tidak hanya hak atas gaji bulanannya yang dirampas sang majikan. Tapi juga haknya sebagai seorang wanita normal ikut terkubur bersama upah kerjanya. Ketika pertama kali berprofesi sebagai pembantu rumah tangga merangkap penjaga tokoh kebutuhan harian atau kedai runcit di Johor Baharu, Malaysia, usia Darmini masih sangat belia.
Tahun 1991, ia baru berumur 18 tahun, sebuah masa dalam siklus kehidupan yang sarat dengan kebahagiaan dan keceriaan. Ibarat setangkai bunga, usia 18 tahun adalah masa paling bersemi. Di usia inilah, biasanya seorang wanita mengenal jatuh cinta dan mulai disibukan dengan urusan asmara bersama pasangan lawan jenisnya.
Sayang, masa-masa indah itu telah berlalu bagi Darmini. Tak ada kenangan cerita cinta yang indah di benak wanita bertubuh agak gempal itu. Yang ada hanya pengalaman pahit, diperjakan majikan selama 15 tahun, tanpa pernah menerima imbalan satu sen pun.
Darmini, satu contoh TKI yang kurang beruntung termasuk untuk urusan yang sangat manusiawi, mencari pasangan. Bukan karena tidak cantik atau kurang menarik, tetapi waktu yang kuran berpihak padanya.
Pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga dan penjaga kadai runcit telah merampas masa mudanya. Keinginan membangun sebuah rumah tangga, layaknya manusia normal lainnya, sampai sekarang masih menjadi angan-angan belaka.
Semasa kerja, Darmini bahkan tidak sempat berpikir untuk menjalin kasih dan mencari suami. Yang ia inginkan hanyalah lepas dari jeratan majikan dan mendapatkan keadilan berupa pembayaran upah atas jerih payanya bekerja selama 15 tahun.
Namun demikian,  duka yang dirasakan Darmini, ternyata masuk dalam kategori masih “beruntung”.
Sebab, walaupun terlambat, ia masih sempat ditolong Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Johor Baharu. Dan ia tidak perlu merasakan derita hidup di penjara seperti rekan-rekan sebangsanya.
Di penjara Johor Baharu yang bernama Penjara Kluang, terdapat 1600 penghuni yang berkebangsaan Indonesia. Mereka adalah TKI yang rata-rata terkena kasus imigrasi, sebagai pendatang haram alias TKI ilegal.
Warga Negara Indonesia (WNI) memang menjadi penghuni mayoritas di Penjara Kluang. Dari 2.800 narapidana yang ada, 57 persennya atau 1.600 orang adalah TKI ilegal.
Penjara Kluang merupakan lembaga permasyarakatan (LP) terbesar dan terlengkap di Malaysia sekaligus dijadikan sebagai penjara percotohan. Dari pusat kota Johor, untuk sampai ke Penjara Kluang diperlukan waktu sekitar 2 jam dengan menggunakan bus.
Luas keseluruhan rumah tahanan ini 300 hektare. Namun yang dimanfaatkan baru 120 hektare. Di dalam penjara yang mulai dioperasikan pada 19 Maret 2001 lalu, terbagi dalam zona-zona. Ada tiga zona besar yakni zona pemukiman pegawai penjara, kantor, dan rumah tahanan. Semua pegawai bermukim di kompleks penjara. Terdapat empat rumah susun (flat) sebagai tempat tinggal pegawai baik yang lajang  maupun yang bekeluarga. Para pegawai yang tinggal di flat adalah yang berpangkat rendah.
Sedangkan yang berpangkat lebih tinggi ditempatkan di rumah-rumah petak dan rumah berstandar menengah dan mewah. Di kompleks pegawai, juga dibangunkan fasilitas olahraga, fitnes, club house, masjid berkapasitas 1000 orang, taman, sarana kesehatan, pasar, food coart,  benkel, serta taman kanak-kanak (TK).
Sementara untuk narapidana sendiri (di Malaysia dikenal dengan istilah banduan), kapasitas bangunan yang disediakan adalah untuk 2.000 orang. Dengan jumlah sekarang, Penjara Kluang sudah kelebihan kapasitas 800 orang. Para banduan terdiri dari 2.400 laki-laki dan 400 perempuan, serta dua balita berusia 4 bulan yang merupakan anak TKI yang dipenjara.
Demi keamanan para pegawai, kaca kantor urusan penjara dibuat dari kaca anti peluru. Di setiap sudut penjara dilengkapi kamera yang dihubungkan ke ruang unit kontrol. Setiap banduan menempati ruangan-ruangan yang disesuaikan dengan klasifikasi kejahatan.
Bagi TKI ilegal ditempatkan di blok kejahatan imigrasi. Jumlah TKI yang tersangkut kasus imigrasi sebanyak 1042 orang. Sementara yang terkait masalah pelacuran atau prostitusi sebanyak 228 orang.
Menurut Jamaludin Bin Saad, Pengarah Penjara Kluang, seorang warga negara Indonesia maupun warga negara lain yang terkait kasus imigrasi masih diperbolehkan kembali bekerja di Malasysia tetapi dengan syarat, harus memiliki dokumen lengkap.
Setelah masa tahanan selesai (untuk kasus imigrasi masa hukuman biasanya empat bulan), TKI akan dipulangkan alias dideportasi ke Indonesia. Jika hendak bekerja kembali di Malaysia, harus memiliki dokumen lengkap dan legal. (sri murni)


2 thoughts on “Derita TKI Di Negeri Jiran ; Darmini Tidak Sempat Pikirkan Cinta

  1. ass… lame tak besua k`🙂 akhirnya ketemunya di dunia maya🙂. dari sekian banyak kalimat yang disampaikan di tulisan ini (Cerita TKI Di Negeri Jiran ; Darmini Tidak Sempat Pikirkan Cinta), banyak menyimpat makna yang besar, ungkapan yang perlu di renungkan, perjuangan yang mesti di wujudkan. ada datanya, ada storynya, ada edukasinya, kayaknya lengkap nih, kayak tulisan di KOMPAS ja🙂. yang jelas dengan alur yang sistematis, rion bacanya ga sampe mengeluarkan kerut di dahi, jadi meski tulisannya panjang, tapi enak di baca. satu hal yang dapat diungkapkan, bisa menuju ke pembuatan novel nih ka hehehehe.

    1. Rioni…. pa kabar? Ya ampun lama banget gak ketemu dan maaf saya baru buka blog lagi setelah sekian tahun….. maaf ya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s