RSS

Lihat Nasib Buruh di Batam

20 Ribu Buruh Telah Dirumahkan

DI BAWAH teriknya matahari, Rabu (1/2), para pekerja Batamindo masih berbondong-bondong pergi ke Mesjid Nurul Islam guna melaksanakan ibadah Salat Juhur. Tidak diketahui secara pasti jumlah mereka, tapi kira-kira mencapai 500-an orang. Di lain tempat, gerombolan para pekerja juga tampak memadati warung-warung makan yang tersebar di sekitar kawasan industri Mukakuning. Maklum, dari pukul 12.00 WIB hingga 13.00 WIB merupakan waktu istirahat, salat, dan makan siang para pekerja disana.
Di lihat dari aktivitas keseharian para penghuni kawasan industri Batamindo memang tidak ada yang berubah. Setiap pagi sekitar pukul 06.00 WIB, kawasan seluas 320 hektar tersebut sudah ramai dengan hilir mudik kendaraan serta para pejalan kaki yang hendak masuk pabrik.
Rata-rata mereka harus sudah berada di lokasi pekerjaan 15 menit sebelum pukul 07.00 WIB yang menjadi starting jam kerja. Terlambat, merupakan hal yang sangat dihindari para pekerja industri, karena akan berakibat pada pengurangan penghasilan.
“Bila terlambat beberapa menit saja, tidak akan diberikan tunjangan penghasilan dan dilakukan pemotongan gaji,” ungkap Wiwin, seorang karyawan kontrak PT TEAC Electronics Indonesia saat berbincang pada Tribun seusai melaksanakan salat Juhur di Mesjid Nurul Iman.
Setelah pukul 07.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB, hampir di seluruh sudut kawasan ini sepi aktivitas. Yang tampak hanyalah hilir mudik para pengojek, angkutan umum Metro Trans, dan beberapa pencari kerja yang menenteng-nenteng map berisikan lamaran kerja.
Suasana riuh di jalan raya akan tampak lagi saat jam istirahat (12.00-13.00 WIB) dan jam pergantian sip kerja yakni setiap pukul 15.00 WIB, 23.00 WIB, dan 07.00 WIB.
Secara umum, aktivitas di Batamindo memang tiada berbeda mulai awal pengoperasiannya (1990) sampai sekarang ini. Tetapi, jika ditilik lebih dalam, ternyata keramaian umat manusia di sana dari hari ke hari mengalami pengurangan. Kurun waktu tiga tahun terakhir ini, sebanyak 20 ribu tenaga kerja Indonesia sudah tidak lagi dipekerjakan disana.
Tutupnya beberapa pabrik milik investor asing (PMA) merupakan penyebab dirumahkannya 20 ribu tenaga kerja tersebut. Dari data yang dikumpulkan Tribun yang bersumber dari Otorita Batam, pengelola Batamindo, dan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Batam, dari tahun 2000 sampai sekarang, setidaknya tujuh PMA telah menghentikan operasi pabriknya di Batamindo. Diantaranya adalah PT GMAC Batam, PT Greenleaf, PT Chiyoda Electronic Indonesia, PT Cyocera Indonesia, PT TEC, PT Singamip, OKI Electrics, dan PT Omni Precision Batam.
Selama beroperasi sekitar 17 tahun di Batam, kawasan industri Batamindo pernah mencapai kejayaan pada tahun 2000. Jumlah tenaga kerja yang terserap lebih dari 85 ribu orang dengan jumlah PMA 95 perusahaan. Namun saat ini, hanya sekitar 74 PMA yang beroperasi dari 82 yang terdaftar.
Bila sebelumnya hampir seluruh jalan di kawasan Batamindo selalu ramai dengan lalu lalang pekerja saat pergi dan pulang, kini aktivitas teramai hanya ada di sepanjang Jalan Beringin dan Angsana, dimana perusahaan-perusahaan asing ternama dan terbesar beropersi, seperti PT Thompson Multimedia Batam, PT Sony Chemicals Indonesia, PT Singacom Batam, PT Panasonic Shikoku, PT Philips Industries Batam, dan lainnya.
Sementara, di Jalan Randu, tempat beroperasinya PT TEC tampak sepi. Semenjak TEC, salah satu perusahaan komponen elektronok di Batam ini menghentikan produksinya pada , lebih dari 800 orang dirumahkan. Walaupun demikian, sampai kini papan nama perusahaan tersebut belum juga ditanggalkan. Ini sekaligus menandakan, penghuni baru belum juga ada.

Seperti yang pernah disampaikan General Manager kawasan industri Batamindo Jhon Sulistijawan saat Rapat Pimpinan Kadin Batam pertengahan Januari lalu di Hotel Vista, ada beberapa penyebab PMA hengkang dari Batam ini. Pertama, karena iklim investasi, dimana hampir setiap tahun ketika dilakukan pembahasan upah, terjadi demonstrasi buruh dimana-mana. Bahkan tidak sedikit yang melakukan mogok kerja.
“Para PMA itu sangat tidak senang dengan demo apalagi sampai mogok kerja. Mereka tidak mempermasalahkan kenaikan upah asalkan dibicarakan dengan urung rembuk dan musyawarah dan tidak lewat unjuk rasa,” ujar Jhon.
Faktor kedua, beberapa perusahaan tersebut terpaksa hengkang karena pindah ke kawasan industri lain di Batam. Faktor lain, disebabkan kebijakan pusat asal PMA yang memindahkan pabrik mereka ke negara-negara yang memiliki iklim investasi lebih baik.
“Di China, Malaysia, dan negara lain bukan tidak ada penuntutan kenaikan upah. Setiap tahun mereka juga menuntut tapi tidak dilakukan dengan demontrasi melainkan musyawarah. Inilah yang perlu kita tiru,” harap Jhon seraya menambahkan, ada beberapa PMA yang terpaksa menutup pabriknya karena memang sudah bangkrut. (nix)

Libur Buruh, Batam Banjir Wisatawan
* Jumlah Kunjungan Lebih 5.000 Orang Sehari

Batam,Tribun- Jika Hari Buruh Sedunia dijadikan ajang unjuk rasa para pekerja di Indonesia, tapi bagi buruh Singapura merupakan kesempatan untuk memperpanjang libur akhir pekan. Dampaknya, sangat terasa bagi kota Batam karena kunjungan wisatawan asal Negeri Singa itu melonjak tajam.
Dari data Pelabuhan Laut Batam Centre, selama libur tiga hari ini (Sabtu, Minggu, dan Senin) arus kunjungan wisatawan dari negeri jiran tersebut naik dari rata-rata 500-an orang per hari menjadi 5.000 orang per hari.
“Sabtu dan Minggu, hanya terjadi lonjakan kedatangan dari Singapura ke Batam yang jumlahnya lebih dari 5.000 orang per hari. Sementara keberangkatan masih normal sekitar 500-an orang,”kata salah seorang pegawai Pelabuhan Laut Batam Centre Bagian Pendataan Penumpang, Ade Wendra ketika ditemui Tribun di kantornya, Senin (1/5).
Arus datang dan balik dari dan ke Singapura mencapai puncaknya kemarin. Dari pagi hingga malam, pelabuhan Batam Centre dipadati dengan antrian penumpang kapal. Pada pagi hari sekitar pukul 07.30 WIB, ratusan penumpang kapal yang hendak berangkat dari Batam ke Singapura sudah mulai berdiri antri untuk check in di konter-konter tiket kapal.
Penumpang yang balik pagi hari, rata-rata wisatawan yang sudah datang ke Batam sejak Jumat Sore, Sabtu, dan Minggu. Sementara di terminal kedatangan, sekitar pukul 08.00 juga sudah terlihat antrian panjang penumpang dari Singapura untuk pengecekan paspor oleh Imigrasi Batam.
“Dari pagi sampai malam ini, wisatawan yang datang dan balik sama banyaknya. Saya sampai tak sempat istirahat,”ungkap seorang petugas keamanan pelabuhan yang ditemui Tribun sedang pengatur antrian penumpang di pintu imigrasi pelabuhan.
Dari pantauan Tribun, sore hari sekitar pukul 16.00 WIB, pelabuhan Batam Centre memang sangat ramai. Atrian panjang tidak hanya terlihat di depan konter tiket kapal dan pintu imigrasi, tapi hampir di setiap sudut pelabuhan tampak wisatawan berdiri berkelompok-kelompok. Kepadatan pengunjung juga terlihat di setiap kafe dan tempat makan yang ada di pelabuhan, seperti Morning Bakery dan rumah makan padang. Salah seorang wisatawan asal Singapura, Mr Yan menceritakan, dirinya dan keluarga telah berada di Batam sejak Sabtu pagi untuk berlibur.
Ia mengaku, sangat senang dengan hari buruh karena bisa memperpanjang libur yang seharusnya dua hari menjadi tiga hari. “Enaklah libur di Batam dengan keluarga. Saya baru dari resort Holiday Inn. Sabtu pagi sudah disini,”katanya dalam logat Melayu Singapura.
Saat dijumpai Tribun Yan bersama istri dan tiga anaknya sedang berdiri di dekat eskalator lantai dua pelabuhan sambil menunggu keberangkatan kapal ke Singapura pukul 17.45 WIB.
Lonjakan pengunjung dari Singapura, tentu saja membawa rezeki yang cukup besar bagi tenant-tenant di Mega Mall. Pusat perbelanjaan yang terletak tepat di depan pelabuhan Batam Centre ini menjadi muara arus datang dan balik para wisatawan.
Efek positif ini dirasakan managemen Excelso Cafe. Muhaludin selaku Supervisor Excelso Batam mengatakan, dari hari Sabtu sampai Senin terjadi lonjakan konsumen sampai 30 persen. “Ini merupakan akhir pekan yang sangat menggembirakan. Libur di Singapura menjadi berkah bagi kami,”ujarnya singkat.
Hal senada juga diungkapkan Sri Khalifah pemilik Batik dan Bordir Langen Sari, salah satu peserta Pasuruan Expo. “Dari hari Sabtu memang lebih banyak orang Singapura dan Malaysia yang berbelanja ketimbang orang lokal.” (nix)

Hanya Diikuti 50-an Orang
* Demo Hari Buruh di Batam

Batam, Tribun- Jika hari buruh di sejumlah kota besar, seperti Jakarta, Medan, dan Surabaya, diperingati dengan menggelar unjuk rasa yang diikuti ribuan orang, di Batam hari buru juga diperingati dengan aksi serupa. Namun, yang ikut berdemonstrasi jumlahnya sangat kecil, hanya sekitar 50-an orang yang berasal dari Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Batam.
Para pengunjuk rasa memulai aksi sekitar pukul 10.00 WIB. Mereka melakukan iring-iringan kendaraan bermotor (roda dua) dari depan Resto Kediri Batam Centre, yang dijadikan starting point menuju Gedung Pemko Batam.
Di depan Gedung Pemko Batam, para pengunjuk rasa yang membawa beberapa poster bertuliskan tuntutan buruh, sempat melakukan orasi dengan menggunakan pengeras suara yang dibawa dalam mobil pick up.
Dalam orasinya, pengunjuk rasa meyampaikan sembilan tuntutan. Pertama, meminta pemerintah SBY-JK menyelesaikan kasus lumpur Lapindo yang telah menyengsarakan ratusan ribu warga. Mereka juga menuntut agar menjadikan tanggal 1 Mei sebagai hari libur buruh nasional.
Tuntutan yang sangat penting adalah penghapusan sistem kerja outsourching dan kontrak karena sudah membuat buruh tertindas dan merupakan praktek perbudakan modern. Banyaknya perusahaan yang mempraktekan sistem kerja outsourching, buruh menuntut agar Wali Kota Batam melakukan audit para perusahaan-perusahaan tersebut dan membekukan izin usaha mereka.
Untuk melakukan pengawasan terhadap perusahaan agar tidak melakukan sistem kerja outsourching, pengunjuk rasa meminta Wali Kota membentuk Dewan Pengawas untuk mengawasi pelaksanaan sistem kerja tersebut.
Seusai berorasi sekitar 15 menit, beberapa perwakilan pengunjuk rasa diterima Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Batam Agussahiman. Pertemuan antara kedua pihak hanya berlangsung sektiar 10 menit. Setelah itu, pengunjuk rasa pun melanjutkan aksinya ke depan Gedung Otorita Batam.
Di depan Gedung OB mereka juga melakukan orasi dan membacakan pernyataan sikap SBSI Batam dan isinya menuntut OB untuk membubarkan diri, karena beberapa alasan. Diantaranya, OB telah menjadi bagian kapitalis yang hanya mementingkan investasi perusahaan tanpa memperhatikan kulitas, kemampuan, dan kesediaan investor untuk mematuhi peraturan tenaga kerja yang berlaku di Indonesia.
Para pengunjuk rasa juga mengatakan, OB tidak bertanggungjawab terhadap hengkangnya perusahaan yang mengakibatkan terlantarnya para buruh, dan OB juga harus bertanggungjawab karena telah menjadikan buruh di Batam berharga sangat murah.
Sementara itu, di beberapa kawasan industri yang tersebar di Kota Batam, tidak tampak aksi peringatan Hari Buruh Internasional. Para pekerja tetap melakukan aktivitas seperti biasa, diantaranya di kawasan industri Muka Kuning, Tunas Karya, Citra Buana Batam Centre, Kara Industri Batam Centre, Cintra Buana Seraya, Citra Buana Batuampar, dan kawasan industri Batumerah, serta kawasan industri Tanjunguncang.
Bahkan, banyak buruh yang tidak mengetahui bahwa kemarin, merupakan Hari Buruh Internasional. “Saya tidak tahu hari ini hari buruh. Kami bekerja seperti biasa. Tidak ada libur dan tidak ada ajakan demonstrasi,”ujar Zakir, seorang pekerja di kawasan Kara Industri. (nix)

Tuntun 23 Buruh Dipekerjakan Lagi

Batam, Tribun- Sekitar 30 orang anggota Federasi Logam, Mesin, dan Elektronik Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (Flomenik SBSI) Batam, Kamis (1/9) berunjuk rasa ke Gedung Pemko Batam. Mereka menuntut dipekerjakannya kembali 23 karyawan yang dirumahkan (PHK) oleh PT Team Metal yang beroperasi di kawasan Bintang Industri II.
Pengunjuk rasa yang didalamnya juga terdapat karyawan yang di PHK mendatangi kantor Wali Kota Batam sekitar pukul 09.30 WIB. Dengan membawa bendera Flomenik SBSI serta ikat kepala bertuliskan hal yang sama, mereka melakukan orasi di depan pintu masuk gedung, kuran gebih 45 menit.
Dalam orasinya, mereka menuntut Walikota Batam memanggil Kepala Imigrasi untuk mempertanggungjawabkan terjadinya PHK 23 karyawan PT Team Metal. Juga segera mengevaluasi kinerja Disnaker Batam dan bila perlu diganti dengan orang yang lebih profesional serta bertanggungjawab.
Sekitar pukul 10.15 WIB, lima orang perwakilan pengunjuk rasa yang terdiri atas Ketua DPC Flomenik SBSI Batam Ruslin Zainuddin, Masmur Siahaan selaku sekretaris yang juga menjadi salah satu karyawan yang di PHK serta tiga pekerja yang dirumahkan lainnya, diterima Wakil Walikota Batam Ria Saptarika.
Bertempat di ruang rapat lantai lima Gedung Pemko, Ria yang juga didampingi Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam Pirma Marpaung, mendengarkan aspirasi yang dikemukakan para perwakilan pengunjuk rasa.
Pemecatan 23 karyawan PT Team Metal merupakan masalah yang sudah cukup lama berlangsung. Penuturan Masmur, awal cerita masalah ini terjadi pada 9 Maret 2006 lalu, petugas Imigrasi Batam melakukan sidak tenaga kerja asing (TKA) ke PT Team Metal.
Petugas Imigrasi yang sudah didampingi pengelola kawasan Bintang Industri II, Anas, menanyakan kepada Masmur Siahaan dan Karto Sitorus tentang keberadaan TKA yang berada di ruangan produksi, dimana mereka berdua bekerja.
Dengan ancaman dari petugas Imigrasi bahwa kalau tidak mau menunjukkan keberadaan TKA berarti melindungi kejahatan, Masmur dan Karto pun menunjukan keberadaan TKA tersebut. Tindakan kedua karyawan tersebut, dianggap salah oleh managemen PT Team Metal karena telah membawa pihak ketiga (petugas Imigrasi) ke perusahaan.
Pada 11 Maret, pemecatan pun dilakukan kepada Masmur dan Karto. Pada 13 dan 14 Maret, sebagian karyawan melakukan aksi solidaritas karena mereka tidak terima PHK terhadap kedua karyawan itu yang notabene sabagai ketua dan sekretaris SBSI.
Setelah dimeperantarai Disnaker Batam, pemecatan tidak jadi dilakukan melainkan diubah menjadi scorsing. Dan karyawan pun bekerja seperti biasa. Namun, perusahaan memberikan sanksi warning I sampai III dan melakukan pemotongan gaji kepada lebih dari 170 karyawan yang ikut aksi solidaritas.
Karena tidak puas dengan sikap perusahaan, 7 Juni lalu, dilakukan hearing antara karyawan dengan managemen Team Metal, serta pihak Imigrasi Batam yang dimediasi Komisi I DPRD Batam. “Dalam hearing lalu, Pak Ilyas dari Imigrasi telah mengatakan, inforamasi tentang TKA bukan dari Karto dan Masmur, tapi dari Imigrasi sendiri. Tapi mengapa tuduhan itu tetap dijatuhkan sehingga PHK pun dilakukan kepada saya dan Masmur juga 21 karyawan yang ikut melakukan aksi solidaritas,”tanya Karto seraya menambahkan, sangat menyayangkan sikap Disnaker yang menganjurkan agar pemecatan tetap dilakukan PT Team Metal.
Menanggapi tuntutan pendemo, Pirma Marpaung berjanji akan mengadakan pertemuan khusus antara karyawan dan managemen PT Team Metal dalam waktu dekat ini. Jika memang diperlukan, mereka juga akan memanggil dan meminta kesaksian dari petugas Imigrasi.
Tentang tuduhan menganjurkan pemecatan, Pirma tidak mengakuinya.”Kami tidak menganjurkan pemecatan. Kami menerima surat pemberitahuan dari PT Team Metal yang akan memecat 23 karyawan tanpa pesangon. Kami membalas surat itu yang isinya, kalau memang PT Team Metal akan mem-PHK harus ada pesangon yang besarnya satu kali ketentuan.”
Setelah bertemu Ria dan Pirma, pengunjuk rasa melanjutkan aksi penyampaian aspirasi ke Gedung Dewan. Di sana mereka hanya sempat berorasi sekitar 15 menit. Karena bertepatan dengan pelaksanaan Paripurna Badan Kehormatan, tak satupun anggota Dewan yang bersedia menemuinya.
Seorang staf DPRD M Miftakhurozokin memberitahu Ruslin Zainudin dan beberapa pengunjuk rasa, anggota Dewan baru bisa menemui mereka hari ini, Jumat (2/9). Pengunjuk rasa pun langsung membubarkan diri. (nix/noe)

Sejam Hanya Digaji Rp 4.300
* 400-an Orang Pekerja Galangan Kapal Tidak Dapat THR
* SPN Dukung Penghapusan Sistem Kontrak

BATAM, TRIBUN- Sungguh mengenaskan nasib para pekerja galangan kapal yang beroperasi di kawasan Tanjunguncang. Mereka bekerja tidak memakai kontrak kerja dan bayarannya pun dihitung per jam yang besarnya hanya Rp 4.300 sampai Rp 5.300 dengan jam kerja antara tujuh sampai depapan jam sehari.
Karena tidak adanya kontrak kerja, perusahaan bisa berlaku seenaknya. Dalam mencari tenaga kerja, pelamar cukup menyerahkan surat lamaran kerja dan selembar foto. Sementara perusahaan akan memberikan selembar kartu identitas dan sebuah helm sebagai pengaman.
Pelamar bisa langsung bekerja jika dikehendaki perusahaan tanpa harus menandatangani kontrak kerja. Perusahaan pun bisa dengan muda memberhentikan pekerja kapan saja tanpa memberikan pesangon apapun.
Kondisi sistem kerja di industri galangan kapal tersebut diceritakan tiga orang pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kota Batam yakni Yanto (ketua), Ronnie P Sianipar (sekretaris), dan Johnson (wakil ketua) ketika berkunjung ke Tribun, kemarin.
Parahnya sistem kerja di industri galangan kapal juga diceritakan Rasidi, mantan pekerja PT Karya Inti Sejati (KIS) yang baru saja dirumahkan. Perusahaan yang berlokasi di Kawasan Industri Naninda Tanjung Uncang tersebut tidak memberikan tunjangan hari raya (THR) kepada para pekerja yang jumlahnya 400-an orang.
Ketika beberapa pekerja menuntut THR, mereka dipecat perusahaan dan dianggap pembangkang. “Yang dipecat ada 11 orang,”cerita Rasidi. Untuk kebutuhan lebaran pekerja, PT KIS hanya memberikan pinjaman uang ketupat yang besarnya hanya Rp 100 ribu. Kasus pemecatan tersebut sudah dilaporkan para pekerja ke Dinas Tenaga Kerja Batam.
Melihat buruknya sistem kerja di industri galangan kapal, SPN Batam sangat mendukung rencana Gubernur Kepri Ismeth Abdullah yang akan menghilangkan sistem kerja kontrak. Sebab, menurut Ronnie, kebijakan itu akan membebaskan pekerja Indonesia dari sistem “perbudakan” di negeri sendiri.
“Bayangkan mereka (pekerja galangan kapal) bekerja tanpa surat kontrak kerja. Perusahaan bisa seenaknya memecat. Kalau pekerja sakit dan tidak bisa datang satu hari saja, perusahaan bisa langsung memberhentikan hanya dengan ucapan lisan dan menarik kartu identitas serta helm. Mereka tidak mendapatkan pesangon. Perlindungan Jamsostek pun tidak ada,” tutur Ronnie.
Dari 12 perusahaan yang pekerjanya menjadi anggota SPN, hanya ada dua perusahaan yang memberikan gaji dan perlindungan yang memadai bagi pekerja galangan kapal, yakni PT Nippon Steel dan Batam Mec yang keduanya berlokasi di Tanjung Uncang.
Dua perusahaan tersebut memberikan gaji lebih tinggi dibandingkan perusahaan lain yaitu Rp 5.300 per jam dan perlindungan Jamsostek. Dalam bekerja pun, pekerja dilengkapi pelindung yang memadai. (nix)

 

13 responses to “Lihat Nasib Buruh di Batam

  1. Agus winoto

    March 3, 2008 at 7:26 am

    Yap,moga-moga di Batam tidak ada pengurangan karyawan lagi
    Buat Disnaker tolong ditindak Pengusaha galangan tsb, jangan takut ditinggal mudk ke Singapore, masih banayk Investor yg mau ke Batam
    BUAT TEMEN YANG MERANTAU DI BATAM
    mumpung kalian di Batam nabunglah dan OT lah sebanyak²nya
    Untuk modal klo dah pulang ke kampung halaman.
    Di Jawa susah cari kerja,maka buatlah lapangan kerja
    saya juga alumnus mukakuning, alhamdulilah pulang dari Batam
    bisa usaha sendiri, walau kecil²an lama-lama jadi guede.
    Selamat Bekerja ….

     
  2. abiehakim

    March 14, 2008 at 9:38 am

    Wartawan ya? salam kenal aja deh dari batuaji

     
  3. diyah

    August 28, 2008 at 4:34 pm

    aku juga eks mukakuning (PT. Philips Industries Batam). Kini juga telah berwiraswasta walau nggak besar, alhamdulilah stabil. buat pt philips, terima kasih banyak, selama bergabung dengan PT Philips ilmuku tambah terutama ttg komputer. sehingga dapat bermanfaat. buat rekan-rekan eks mukakuning yang kenal dan ingin kenal bisa kontak ke: nisacom1@yahoo.com

     
  4. WillO&G

    January 13, 2009 at 12:09 pm

    jangan biarkan Investor asing (expat) mengganggap manusia indonesia adalah budak.
    Perbudakan di tanjung uncang sepenuhnya didukung oleh orang indonesia sendiri, bahkan pemerintah (depnaker) tahu hal seperti itu kalau tidak tahu tugasnya apa?.
    Membangun investasi dengan membiarkan sistem ketenagakerjaan yang gak becus bukan cara yang baik dan sangat memalukan untuk menarik investasi.
    jika Disnaker dan Pemko tegas dan memliki aturan yang tegas investor pasti datang kemari gak perlu dengan cara yang murahan seperti ini.

    Hiduplah buruh indonesia jangan bersedih kita harus bertahan hidup untuk keluarga kita..
    Buat disnaker perhatikanlah saudaramu di batam ini jangan tutup mata lihat dan rasakan perasaan kami jika anda hidup seperti kami.

    jangan bunuh hati nuranimu.

    Salam dari buruh yang bersedih…

     
  5. SANTI

    March 14, 2009 at 12:51 pm

    ASSALAMUALYKUM WRWB..
    saya jg alumnus mukakuning, pertama saya kerja di PT EX BATAM, finish kontrak trus kerja di PT PHILIPS INDUSTRIES BATAM, saya sampai sekarang kangen bgt ke Batam, tp ga suasana islami nya itu….

     
  6. MHD NUR

    May 18, 2009 at 7:40 pm

    Ass..Buat pekerja d batam.Tabah kan hati kalian semua,jgn biarkan status kalian d perusahaan gk jelas.Laporkan kepada pimpinan dari serikat pekerja yg berada di dekat PANBIL. Bagi serikat pekerja yg berada d panbil tolong selamatkan semua saudara2 kita yg bekerja d batam.Ntar sy jg mau kebatam utk menawarkan Asuransi Kecelakaan & Kematian utk saudara2 sy d batam.Dlu sy pernah bekerja d galangan kapal yaitu d PT.KARYA INTI SEJATI.Di perusahaan itu memang tdk ada toleransi nya sedikit pun,Perusahaan seenak nya aj mengeluarkan saudara2 kita.Uang THR pun gk pernah di berikan kepada pekerja nya.Wassalamm….

     
  7. syifa

    July 24, 2009 at 12:37 pm

    brjuanglah saudara” q yg ad d btm.
    prjuangkan hak kalian sbg pkerja.

     
  8. emilia Agatha

    November 13, 2009 at 12:29 am

    Batam….pertama kl gw cr uang.yg terutama tks to PT Philips Industries Batam yg udah ksh byk2 pengalaman ke gw, yg bs gw terapin di kerjaan gw yg skrg. Ayo maju para buruh di Batam!!TETAP SEMANGAT!!!!GBU

     
  9. hamja sagala

    January 13, 2010 at 2:17 pm

    saya memang blm pernah ke pulau BATAM namun dari tanggapan berbagai orang dan media tentang kehidupan dibatam yang penuh perjuangan/tantangan membuat saya tertarik dan ingin mencoba cari keberuntungan di pulau tersebut meskipun tadinya saya sempat berpikir untuk mencoba dijakarta yang di kenal sebagai kota metropolitan.

     
    • ian

      February 5, 2010 at 2:59 am

      as wr wb batam sangat mahal ,kl gak pintar pintar pulang kampung gak ada duit,batam pekerjannya aku lihat sangat displin,dan kerja terus gak seperti didaerah lain,kl aku tengok pekerja pabrik kasihan aku tengok dia,tapi bagiku bagus banyak lembu 2 tahun disan ,setiap 1 tahun aku kesana,tapi muahall bagi aku

       
  10. Ryan LEo

    April 25, 2010 at 1:36 am

    Assalamu’alaikum.ww
    saya Heran kenapa buruh di indonesia tidak pernah dihargai di rumahnya sendiri ( baca Negri sendiri). Mungkin para pemimpin kita sudah menjual harga dirinya dengan bangsa lain.Buat apa UU TK ada dan isinya bagus.tapi para pemegang kekuasaan tidak pernah bertindak adil kepada buruh, malah ada yang sengaja membantu dan pura2 tidak tahu.kapan bisa para buruh hidup sejahtera.Belum lagi banyak tenaga asing yang datang ke indonesia dengan menggunakan Visa turis atau Visa kunjungan kerja dan menetap di indonesia sampai beberapa tahun. di gaji dengan dolar pula. sementara mereka bayar pajak di negaranya sendiri. ini sangat merugikan negara kita.dan sayangnya di banyak yang memanfaatkan keuntuagan untuk dirinya sendiri. Diriau ini lah buruh nya sangat lemah.tapi saya sangat salut buat buruh yang ada di Batam. Rasa solidaritasnya tinggi.tidak seperti di tempat saya bekerja ( PT.Indah sekali Pulp &Paper) para buruhnya seperti Banci atau bencong. digertak dikit cemen/takut. pokoknya salut buat Batam…Mari berjuang untuk buruh…..Merdeka

     
  11. wian

    November 17, 2010 at 5:24 pm

    aslmlkm
    bagaiman ya kalo kita ngak ad pengalaman krj tapi mo pergi ke batam cari kerja di sana.apa banyak lowongan di sana dan apakah masih mungkin dgn tamata smk cari kerja di sana?

     
  12. Saoloan Naiborhu

    November 23, 2011 at 9:12 pm

    Salam untuk semua Buruh di Indonesia..!!!
    (..oh yaa.. saya sendiri pernah bekarja di Batam 8 tahun di 4 PT bergerak di Manufacturing Electronic…)
    Sebenarnya Masalah Penggajian Tenaga kerja atau Buruh di Indonesia sangat kompleks dan sangat susah ditegakkan peraturannya karena berbagai sebab..!!!
    Penyebabnya yang terutama kalau boleh kita runut atau kita telusuri adalah dari Pemerintah Indonesia sendiri..,
    ==>Contohnya yang pertama adalah kelemahan Pemerintah Indonesia dlm melindungi Buruhnya sebenarnya sudah dimulai secara Nasional mulai dari era presiden Megawati SP, dengan menyetujui dan mensyahkan UU mengenai keberadaan “Outsourching” atau terbentuknya banyak Penyalur tenaga kerja yang secara otomatis mengambil “fee” atau uang jasa dar gaji karyawan itu sendiri.
    ==> Faktor kedua kalau menurut penglihatan saya adalah, faktor oknum-oknum HR yang menganggap dirinya bangga dan sukses dalam bidangnya kalau berhasil membuat gaji karyawannya sangat-sangat minim…!
    ==> Faktor ketiga adalah Laju inflasi Ekonomi yang tidak bisa dikontrol…!!! (…e..eeh.., lagi-lagi masalah Pemerintah). jadi biarpun gaji karyawan/buruh banyak angkanya.atau nomornya., tapi kemampuan daya beli uang tersebut kurang berarti di kehidupan nyata sehari-hari…( e..eeh mari belajar teori macroeconomy…).
    ==>Faktor keempat adalah Jumlah penduduk Indonesia untuk usia angkatan kerja produktif sangat banyak…, dan ini jadi dimanfaatkan oleh investor.,karena kecenderungannya makin banyak orang atau buruh yang tersedia.., maka harganya makin murah… yaa kan…?(ingat hukum pasar..).
    ==>Faktor kelima kuatnya pengaruh “orang-orang yang berpihak ke investor” terhadap Pemerintah pusat maupun daerah.., seperti pemerintah terlau “mengalah untuk kepentingan Pengusaha daripada buruhnya sendiri…! seperti APINDO, dan asosiasi pengusahalainnya..!. ada apa di balik itu..?? kenapa pemerintah terlalu sering mengalah terhadap pengusaha..??…(…jawab ajalah di hati masing-masing..,) hal itu kurang etis untuk dibeberka disini..!

    (..Maaf yaa..klo banyak yang salah ketik atau kurang sempurna…)

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: