RSS

Cerita Unik Hanya dari Batam

Sudah Punya 20 Cucu Baru Menikah

Puji dan syukur kepada Tuhan, tak henti-hentinya diucapkan Rahim (46) dan Fatimah (45). Raut kegembiraan dan senyum senang pun terus terpancar dari wajah mereka.
Bagaimana tidak, setelah menikah puluhan tahun dan dikaruniai delapan anak dan 20 cucu, sepasang suami istri (pasutri) Suku Laut yang tinggal di Palau Bertam ini, baru bisa berijab kabul secara Islam dan mencatatkan pernikahan mereka di Kantor Urusan Agama (KUA).
“Alhamdulillah sekarang kami sudah menikah secara Islam. Senang lah walaupun kami sudah tua,”kata Rahim yang mengaku selama ini hanya menikah secara adat dengan Fatimah. Rahim dan Fatimah adalah satu diantara 300 pasutri yang ikut program massal Pemko Batam selama 2006 ini.
Namun, tidak semua pasutri mengikuti acara resepsi yang digelar di hamalam Pemko Batam, Sabtu (16/12) kemarin. Resepsi diikuti 120 pasang yang merupakan perwakilan dari 12 kecamatan se-Kota Batam.
Dari Suku Laut sendiri, resepsi diwakili dua pasutri dari 23 pasutri yang ikut nikah massal. Mereka dinikahkan oleh KUA Kelurahan Kasuh, Kecamatan Belakangpadang pada Rabu (13/12) lalu.
Rahim menceritakan, di kalangan masyarakat Suku Laut yang seumurannya dengannya, banyak pasutri yang sudah beranak cucu tetapi belum menikah secara agama dan memiliki surat nikah. Meskipun sekarang surat nikah Rahim belum berada di tangannya, tetapi ia sangat bahagia karena sudah ada kepastian akan memiliki surat nikah.
“Tujuan saya ikut nikah massal karena memang ingin punya surat nikah. Dan kami ingin hidup seperti orang-orang Islam lainnya,”ungkap Rahim.
Pernyataan serupa juga diungkapkan Mukhtar (50) dan Nurmadiyah (46), pasutri Suku Laut lainnya yang ikut resepsi nikah massal. Pasutri ini telah hidup bersama sebagai suami istri berdasarkan nikah adat selama 25 tahun dan dikaruniai dua orang anak yang sekarang sudah dewasa.
Kegembiraan juga sangat dirasakan pasangan Warya (54) dan Ana (40). Pasutri ini sangat bersyukur akhirnya bisa memiliki surat nikah sehingga bisa mengurus akta kelahiran putra semata wayang mereka, Cucu Kurnia (12) yang sekarang sudah duduk di kelas 5 SD.
“Kami tidak malu ikut nikah massal. Semuanya demi Cucu biar bisa urus akta kelahiran,”kata Warya yang tak kuasa menahan air matanya.
Meskipun mayoritas peserta resepsi nikah massal sudah berusia separuh baya, tetapi pesta pernikahan yang diadakan Pemko Batam cukup meriah, layaknya pernikahan bujang dan dara. Resepsi dijalankan dengan adat Melayu Kepulauan Riau.
Ada tiga pasang yang didandani ala pengantin Melayu sebagai perwakilan pasutri. Sebelum didudukan di pelaminan, para pengantin pria diarak dari Mesjid Raya sampai ke pelaminan yang bertempat di pintu depan Gedung Pemko Batam.
Tidak hanya tiga mempelai lelaki yang mengenakan pakaian pengantin Melayu yang diarak, tetapi seluruh mempelai pria. Walaupun mereka hanya berpakaian biasa dan tidak sedikit yang mengenakan sendal jepit, tetapi tidak mengurangi rasa kegembiraan.
Sesampainya di hadapan pelaminan, dimana mempelai wanita sudah duduk menunggu, prosesi adat Melayu pun dilakukan. Mulai dari pertunjukan pencak silat, berbalas pantun membuka  gerbang selendang, tepung tawar, sampai acara suap-suapan.
Pesta resepsi diakhir dengan lantunan lagu Pengantin Baru yang dibawakan istri Wali Kota Batam Mariana Ahmad Dahlan.
Kepala Dinas Sosial Batam Anwar Ujang, yang ditemui sejumlah wartawan seusai acara mengatakan, program nikah massal akan terus dilakukan pada 2007 mendatang. Targetnya sebanyak 300 pasutri. Pembiayaan program ini telah dianggarkan dalam APBD 2007 sebesar Rp 134 juta. Bagi masyarakat yang hendak mengikuti nikah massal nantinya, tidak akan dibebankan biaya apapun alias gratis. (nix)

Uang Maharnya Hanya Rp 1.000

JIKA pernikahan bujang dan darah selalu dihiasi dengan mahar yang cukup spesial, bahkan tidak jarang angka maharnya (jika berbentuk uang tunai) dipilih sekhusus mungkin sehingga agak sulit dilafalkan. Tetapi tidak demikian bagi Suku Laut yang mengikuti nikah massal.
Mahar yang bisa diberikan mempelai lelaki kepada mempelai perempuan hanyalah Rp 1.000. Loh kok? Besarnya mahar tersebut, bukan karena mempelai pria tidak mampu memberikan lebih tetapi semata-mata karena angka Rp 1.000 adalah angka yang paling mudah mereka lafazkan ketika ijab kabul.
“Kalau Rp 5.000 ngomongnya susah, jadi Rp 1.000 aja biar ijab kabulnya cepat,”ujar Rahim (46) dan Mukhtar (50), dua mempelai pria Suku Laut yang berasal dari Pulau Bertam Kecamatan Belakangpadang.
Padahal Pemko Batam sebagai penyelenggara program nikah massal telah menyiapkan mahar sebesar Rp 5.000 untuk satu mempelai pria, tetapi karena kesulitan mereka melafazkan angka tersebut dipilihlah mahar Rp 1.000.
Di Kota Batam, masyarakat Suku Laut kini memang menjadi masyarakat yang cukup terbelakang ketimbang warga Batam lainnya. Mereka tinggal di pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitar Batam. Empat pulau kecil yang sekarang banyak dihuni Suku laut adalah Air Raja, Todak, dan Kubung, serta Bertam.
Ketiga pulau pertama terletak di Kelurahan Ngenang yang jaraknya sekitar 30 menit dari Pelabuhan Rakyat Punggur dengan menggunakan pancung. Sedangkan Bertam berjarak sekitar 30 menit dari Pelabuhan Belakangpadang.
Suku Laut merupakan salah satu suku tempatan Batam. Sebelum tahun 1995, mayoritas mereka tinggal nomaden dari satu pulau ke pulau lain. Dikatakan Suku Laut karena waktu tinggal mereka memang lebih lama di atas kajang (sebutan khusus bagi sampan Suku Laut) ketimbang di darat.
Bahkan, kajang menjadi rumah utama. Disanalah mereka menjalani hidup layaknya orang-orang yang hidup di rumah daratan. Mulai makan, mandi, memasak, bahkan menikah, melahirkan, dan membesarkan anak. Mereka turun ke darat hanya sesekali, ketika hendak mengambil air bersih dan menguburkan mayat warga Suku Laut yang  meninggal.
Setelah adanya program pemberdayaan Suku Laut yang dilakukan sejak 1990 oleh pemerintah, mereka pun mulai mengenal kehidupan modern dan tinggal di darat. Sejak itu pula mereka mulai mengenal ajaran agama. Ada dua agama yang dianut kebanyakan Suku Laut yakni Islam dan Kristen.
Rahim mengaku, mulai memeluk Islam diatas tahun 1990. “Sebelumnya kami tidak tahu sholat. Kami hanya hidup di atas kajang dan menjalankan kehidupan berdasarkan adat yang kami percayai,”kenangnya.
Rahim dan keluarganya, terhitung sebagai keluarga Suku Laut yang telah lama memeluk Islam. Meskipun demikian, untuk mengucapkan ijab kabul bukanlah perkara mudah. Ia dan mempelai lelaki lainnya yang sama-sama berasal dari Suku Laut harus menghabiskan waktu kurang lebih dua pekan untuk belajar ijab kabul.
“Awalnya kami memang ingin maharnya sesuai dengan yang diberikan pemerintah Rp 5.000. Tapi karena banyak yang tidak bisa mengucapkannya makanya kami sepakat Rp 1.000 aja biar mudah,”kata Rahim.
Hal senada diakui Atan Ridwan, Wakil Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kelurahan Kasuh.  Pria ini bertugas sebagai guru yang mengajari Suku Laut ijab Kabul. “Memang sulit mengajari para mempelai lelaki Suku Laut. Disamping usia mereka yang sudah lumayan tua, mereka juga baru mengenal Islam. Makanya kami memilih mahar yang mudah dilafazkan,”ujar Atan.
Dari 23 pasangan suami istri (pasutri) Suku Laut yang mengikuti nikah massal, peserta tertua berusia 63 tahun. Sampai sekarang, masih banyak pasutri Suku Laut yang baru menikah adat dan belum menikah secara agama, juga belum memiliki surat nikah meskipun sudah memiliki anak dan cucu.
“Kami sangat mengharapkan tahun depan program nikah massal diadakan lagi untuk Suku Laut,”pinta Atan. (sri murni)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: