RSS

Kisah Perburuhan di Batam ; Studi Kasus PT Livatech

PT Livatech Hengkang
* Nasib 1300 Karyawan Terkatung-katung
* Disnaker Minta Imigrasi Cekal Goh Singhing

Batam, Tribun- Lagi-lagi nasib pekerja di Batam terkatung-katung karena ditinggal kabur pemilik industri. Kali ini nasib kurang beruntung itu menimpah 1300 karyawan permanen PT Livatech Elektronik Indonesia yang beroperasi di Kara Industrial Estate Lot A-8 No 72-80 Batam Centre.
Sudah dua pekan terakhir, managemen perusahaan PMA (penanaman modal asing) itu tidak menampakkan batang hidungnya di tempat kerja. Alhasil, para karyawan pun resah dan bertanya-tanya kejelasan nasib mereka.
Terlebih lagi, satu minggu terakhir ini sebagian karyawan tidak lagi bisa bekerja karena tidak adanya koordinasi dari managemen. Tanda-tanda hengkangnya PMA jelas terlihat pada Minggu (4/1) pagi sekitar pukul 06.45, managemen berusaha mengeluarkan beberapa mesin produksi dari pabrik.
Untungnya, upaya managemen itu bisa digagalkan para karyawan yang sudah seminggu terakhir ini terus berjaga-jaga di industri tersebut. Sampai kemarin, Senin (5/2), masih terlihat ratusan karyawan PT Livatech berjaga-jaga.
Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan yang berseragam kerja berwarna biru lengkap dengan badge nama. Mereka hanya duduk-duduk santai di depan kantor managemen. Pagar industri pembuatan komponen elektronik itu pun, tampak tertutup rapat.
Beberapa orang security yang berada di pos keamanan di dalam pagar, terlihat menjaga ketat pintu masuk. Selain karyawan, tak seorang pun diperbolehkan memasuki areal industri tersebut, termasuk para wartawan.
Menurut Ketua PUK Livantech Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) Batam, Jhon Mauritz Silaban, aksi para karyawan tersebut semata-mata untuk menjaga aset perusahaan agar tidak dibawa kabur si pemilik usaha.
Dikatakan, ada tiga orang warga negara Malaysia yang selama ini mengaku sebagai pemilik dan menjalankan perusahaan yakni Goh Singhing alias Jackson Goh, Danny Soh, dan Teo Lai Ng. “Sementara ini informasi yang kami dengar mereka berada di Singapura dan Malaysia,”kata Jhon yang ditemui Tribun di areal parkir PT Livatech, yang letaknya di luar pagar pabrik, Senin (5/2).
Menurutnya, sudah dua bulan terakhir ini kondisi perusahaan memang mengalami penurunan order yang sangat drastis. Sehingga memaksa mereka merumahkan 190 karyawan tetap. Walaupun demikian, komunikasi tetap berjalan baik antara perusahaan dengan karyawan. Managemen selalu menginformasikan kondisi perusahaan dari waktu ke waktu. Sayangnya, hal itu terhenti sejak dua pekan lalu, sehingga membuat para karyawan resah.
“Kalau memang perusahaan mau tutup bilang saja, kami terima asalkan diselesaikan sesuai aturan terutama pesangon bagi kami-kami ini. Tapi kalau memang perusahaan mau lanjut, kami sangat senang,”kata Jhon yang juga didampingi pengurus SPMI PUK Livatech lainnya.
Saat ini, tidak semua karyawan tidak bekerja. Beberapa bagian masih tetap memproduksi barang beberapa kommponen elektronik. Namun, mereka resah dan takut gaji bulan Februari ini tidak bisa dibayar perusahaan. Mereka tarakhir menerima gaji pada 10 Januari lalu. (nix)

Karyawati yang Dirumahkan Masih Dapat Gaji Pokok

PT Livatech Elektronik Indonesia adalah PMA yang memproduksi komponen elektronik. Perusahaan ini sudah beroperasi 13 tahun lamanya di Batam. Pada tahun 1999-2001, sempat mencapai puncak kejayaan dengan mempekerjakan 6.000 karyawan.
Seorang pekerja yang dua bulan lalu dirumahkan, Asmawarni, menceritakan, sejak dua tahun terakhir ini PT Livatech mulai mengalami kemunduran. Order (pesanan) komponen elektronik yang biasanya menumpuk, terus berkurang yang mengakibatkan pengurangan karyawan terus menerus.
Secara berangsur-angsur dari 6.000 karyawan kini tinggal 1.300 karyawan yang statusnya permanen. Asmawarni sendiri sudah bekerja di perusahaan tersebut selama 12 tahun. Dua bulan lalu ia terpaksa dirumahkan managemen karena order barang yang terus menurun.
Walaupun di rumahkan, Asmawarni mengaku masih tetap mendapatkan gaji pokok sebesar Rp 900-an ribu. “Memang masih terima gaji pokok tapi kan gak enak kalau gak kerja. Status saya jadi tidak jelas disini,”kata ibu satu orang anak itu. (nix)

Hari Ini Bos Livatech Diadukan ke Poltabes
* Dugaan Penggelapan Uang Jamsostek

Batam, Tribun- Hari ini, karyawan PT Livatech Elektronik Indonesia akan mengadukan pemilik perusahaan Goh Singhing alias Jackson Goh ke Poltabes Barelang. Pengaduan berkaitan dengan dugaan penggelapan iuran Jamsostek karyawan selama empat bulan yang tidak dibayarkan Mr Goh kepada PT Jamsostek.
Menurut Ketua PUK Livatech Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) Jhon Mauritz, selain mengadukan dugaan penggelapan iuran Jamsostek, karyawan juga akan mengadukan bos Livatech karena tidak membayar sisa gaji karyawan bulan Januari.
Sesuai perjanjian, gaji karyawan bulan Januari telah dibayarkan pada 21 Februari lalu sebesar 50 persen. Dan sisanya akan dibayarkan kembali pada 28 Februari lalu. Namun, Goh tidak memberikannya karena karyawan tetap mengijinkan managemen mengangkut mesin-mesin produksi.
“Tindakan Goh kan sudah termasuk penggelapan. Hari ini akan kami laporkan kepada polisi agar bisa diproses secara hukum,”ujar Jhon pada Tribun, Senin (5/3). “Malam ini (malam tadi, red) kami sedang menyiapkan berkas-berkas pengaduan,”tambah Jhon.
Seperti yang diberitakan Tribun sebelumnya, sebanyak 1305 karyawan PT Livatech Elektronik Indonesia yang beralamat di Kara Industrial Estate Blok A nomor 72-80 Batam Centre, Rabu (21/2) lalu telah menerima gaji bulan terakhir sebesar 50 persen.
Namun, gaji para karyawan masih dipotong iuran Jamsostek. Padahal sesuai dengan laporan yang pernah diungkapkan Kepala Cabang Jamsostek Batam Idrus 8 Februari lalu, sejak November lalu, managemen Livatech tidak lagi membayarkan iuran Jamsostek yang mereka potong dari karyawan.
Dengan adanya pemotongan pada gaji Februari lalu, berarti managemen Livatech memiliki utang iuran Jamsostek sebanyak empat bulan. Perbulannya, managemen harus menyetorkan iuran Jamsostek karyawan sebesar Rp 145.598.000. Empat bulan menunggak, berarti utang managemen Livatech kepada Jamsostek sebesar Rp 582.392.000.
Dari data Jamsostek, jumlah karyawan Livatech yang terdaftar menjadi peserta Jamsostek bukanlah 1305 orang, melainkan 1398 orang dengan status permanen.
Selain melaporkan Mr Goh kepada polisi, hari ini juga karyawan akan membuat gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) yang berada di Tanjungpinang terkait tuntutan pesangon para karyawan.
Dalam gugatan, karyawan menuntut agar managemen membayarkan pesangon sebesar dua kali ketentuan. Alasannya, sampai sekarang tidak ada audit publik yang menyatakan PT Livatech tutup karena bangkrut. Sehingga, sesuai ketentuan, jika perusahaan tutup tidak disebabkan bangkrut, maka harus membayar pesangon sebesar dua kali ketentuan.
Menurut perhitungan Dinas Tenaga Kerja Kota Batam yang pernah disampaikan Kepala Dinas Pirma Marpaung, total pesangon dua kali ketentuan untuk 1305 karyawan Livatech mencapai Rp 30 miliar.
Sekedar mengingatkan, PT Livatech mulai berhenti beroperasi di Batam pada 5 Februari lalu. Pemilik usaha, Goh Singhing, telah meninggalkan Batam tanpa permisi dua pekan sebelumnya. Sampai sekarang, Goh yang berbangsaan Malaysia, berada di luar negeri dan tidak pernah lagi kembali ke Batam untuk menyelesaikan masalah karyawan. (nix)

Bos Livatech Tak Mau Bayar Gaji
* Karyawan Diminta Jual Aset Perusahaan
* Jackson Goh Sudah Berada di Singapura

Batam, Tribun- Bos PT Livatech Elektronik Indonesia benar-benar tidak bertanggungjawab. Setelah menelantarkan 1300 karyawan permanennya selama dua pekan, kini bos perusahaan PMA (penanaman modal asing) Goh Singhing alias Jackson Goh, tidak mau membayar gaji para karyawan satu bulan terakhir.
Para karyawan dipersilahkan menjual aset perusahaan untuk menutupi utang gaji tersebut. Pernyataan ini dilontarkan pemilik PT Livatech Goh Singhing alias Jackson Goh ketika bertemu dengan perwakilan karyawan di Pelabuhan Harbour Front Singapura, Selasa (6/2) siang waktu Singapura.
Gufron Wiguna, Manager Personalia PT Livatech yang ikut dalam pertemuan tersebut menceritakan, seluruh perwakilan pekerja termasuk dirinya sangat kecewa dengan sikap Jackson Goh. Dalam pertemuan itu, terang Gufron, Jackson Goh yang didampingi pengacaranya menyatakan bahwa PT Livatech Elektronik Indonesia yang beroperasi di Kara Industrial Estate Lot A 8 No 72-80 Batam Centre, bangkrut dan tutup.
“Jackson Goh menyatakan perusahaan bangkrut dan ditutup. Karena itu dia bilang tidak bisa membayar gaji karyawan satu bulan terakhir, apalagi memberikan pesangon. Kami (karyawan) dipersilahkan menjual aset-aset perusahaan. Dia juga mengatakan tidak mau datang lagi ke Batam,”ungkap Gufron pada Tribun sepulang dari Singapura, Selasa (6/2) sore.
“Kami sangat sesalkan mengapa Pak Goh bersikap seperti itu dan tidak mau datang lagi ke Batam untuk menyelesaikan masalah ini,”tambah Gufron lagi.
Dari data yang disampaikan Gufron, perusahaan memang memiliki beberapa aset. Diantaranya, 17 unit mesin SMT tapi dua diantaranya sudah diagunkan, 14 unit bangunan pabrik (12 adalah milik perusahaan dan 2 unit sewa), dan 3 unit rumah (mes) karyawan di Perumahan Duta Mas Blok 08 nomor 13-15.
Dalam pertemuan itu, selain Gufron, para karyawan diwakili juga diwakili pengurus Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) PUK PT Livatech, diantaranya Dody Irawan, Suwartun, dan Parmo.
Sepulang dari pertemuan tersebut, kemarin sore, Dody dan kawan-kawan langsung mengadakan rapat dengan pengurus SPMI PUK PT Livatech dan ratusan karyawan lainnya yang telah berkumpul di depan pabrik dari pagi hari.
Ketua PUK PT Livatech SPMI Jhon Mauritz Silaban memaparkan hasil rapat tersebut. “Dari laporan perwakilan kami dalam pertemuan dengan Pak Goh, Pak Goh meminta maaf atas situasi yang ada saat ini dan harus meninggalkan Livatech. Dia mengatakan tidak dapat membayar gaji kami satu bulan terakhir.”
Jhon menambahkan,”Gaji memang tidak akan dibayar Goh Singhing, tetapi dia berjanji akan memberikan pasangon yang besarnya belum ditentukan. Dia juga berjanji akan membentuk tim untuk menyelesaikan masalah pesangon ini.”
Kapan tim tersebut akan dibentuk ? Tak seorang pun dari perwakilan pekerja yang bertemu Jackson Goh mengetahuinya, karena warga negara Malaysia itu memang tidak menjanjikannya.
Dengan demikian, harapan 1300 karyawan permanen PT Livatech yang sangat menginginkan bayaran hasil kerja keras sebulan ini, pupus sudah. Tanggal 9 dan 10 yang biasanya menjadi hari paling ditunggu, untuk Februari ini merupakan hari yang kelam.
Jhon menceritakan, dalam pertemuan di Singapura, Jackson Goh sempat menceritakan penyebab tutupnya Livatech. Yaitu dikarenakan terus menurunnya order dari perusahaan Singapura bernama PT SIMM yang selama ini memberikan project kepada Livatech.
“SIMM adalah perusahaan yang memberikan project utama kepada Livatech. Ketika SIMM memutuskan untuk mengurangi order bahkan menghentikan order ke Livatech, perusahaan memang goyang dan bangkrut,”ujar Jhon.
Jika para karyawan masih bertahan menunggui pabrik, tidak demikian dengan karyawan yang berasal dari Malaysia. Menurut Jhon, ada beberapa top managemen yang memang diduduki warga negara Malaysia, yakni 4 orang manager produksi, 1 orang Manager Akuntansi, dan 1 orang Manager Pabrik. Semua manager berkebangsaan Malaysia itu sudah meninggalkan pabrik sejak tiga hari lalu. (nix)

Kibarkan Bendera Setengah Tiang

SUASANA di PT Livatech Elektronik Indonesia, Selasa (6/2) tidak ubahnya seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan, jauh lebih parah. Jika Senin (5/2) lalu beberapa devisi di perusahaan milik asing itu masih memproduksi barang, tapi kemarin semua aktivitas produksi berhenti total.
Ratusan karyawan baik perempuan maupun laki-laki hanya duduk-duduk santai di halaman depan gedung utama PT Livatech. Sebagian karyawan juga tampak duduk santai di kantin perusahaan tersebut.
Meskipun tidak bekerja, mereka tetap melakukan administrasi seperti biasa. Setiap karyawan datang tepat waktu sesuai sip kerja (pagi, siang, dan malam) dan melakukan absensi (finger print) sebagaimana biasa, baik waktu masuk maupun pulang.
Keberadaan mereka di pabrik, menurut Jhon Mauritz Silaban selaku ketua PUK Livatech Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) merupakan komitmen dan bentuk solidaritas. Mereka datang ke pabrik tidak untuk bekerja, karena memang tidak ada yang mau dikerjakan, melainkan turut menjaga aset perusahaan. Sehingga, tidak seorang pun, termasuk managemen yang akan membawa aset perusahaan ke luar pabrik.
“Kami disini bukan mogok kerja. Kami datang seperti biasa dan menuntut kejelasan perusahaan ini. Kami tidak bekerja karena memang tidak ada yang mau dikerjakan,”tegas Jhon.
Sebagai bentuk protes atas sikap managemen Livatech yang menelantarkan 1300 karyawannya, bendera perusahaan tersebut dikibarkan setengah tiang. Bendera itu terletak di depan gedung utama Livatech. Tiangnya sejajar dengan tiang bendera Indonesia Merah Putih dan bendera serikat pekerja.
Sementara itu, di kediaman Jackson Goh yang terletak di Perumahan Duta Mas Cluster Oriental Nomor 19, masih terlihat ramai. Rumah bergaya China itu dijaga ketat empat orang body guard. Pagar tampak terbuka. Dari luar rumah terlihat aktivitas penghuni masih cukup sibuk.
Menurut salah seorang penjaga, saat ini yang tinggal di rumah tersebut adalah keluarga Jackson Goh. Sementara Jackson sendiri sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah. Di depan rumah tampak parkir mobil Harrier berwarna coklat.
Sedangkan mes karyawan di Blok 08 No 13-15 yang juga terletak di Perumahan Duta Mas, tampak tidak berpenghuni lagi. Semua pintu dan jendela tertutup rapat dan sampah-sampah dedaunan berserakan di depan rumah. (nix)

Belum Melapor ke KPP Batam

KEPUTUSAN bos PT Livatech Elektronik Indonesia Goh Singhing alias Jackson Goh, belum diketahui Kepala Kantor Pelayanan Pajak Batam Pontas Pane. Pada Tribun, Selasa (6/2), ia mengaku baru mengetahui masalah PT Livatech dari media massa yang terbit kemarin.
“Saya belum mengetahui masalah PT Livatech. Saya tahunya malah dari media massa,”ujarnya. Ia mengungkapkan, sampai kemarin belum ada perwakilan managemen PT Livatech yang memberitahukan rencana penutupan perusahaan tersebut kepada KPP Batam.
Namun demikian, KPP Batam tidak tinggal diam. Mendengar berita PT Livatech dari media massa, KPP langsung melakukan penyelidikan atas berkas-berkas pajak PMA tersebut. Sayangnya, Pane tidak bersedia memberitahukan status pajak PT Livatech dengan alasan kerahasiaan perusahaan.
“Data-data pajak tetang PT Livatech sedang kami susun. Secepatnya akan kami kirimkan ke Jakarta untuk tindakan selanjutnya. Jika nanti perusahaan tersebut memang memiliki utang pajak, akan kami umumkan secepatnya lewat media massa,”janji Pane.
Selama PT Livatech tidak mengajukan pengunduran diri, maka tetap terdaftar sebagai wajib pajak yang sampai sekarang memiliki NPWP (nomor pokok wajib pajak). (nix)

Harus Dinyatakan Pailit Secara Hukum

SEBUAH perusahaan baik PMDN (penanaman modal dalam negeri) maupun PMA (penanaman modal asing) tidak bisa begitu saja menyatakan bangkrut dan menutup usahanya. Secara hukum, perusahaan harus mencabut izin investasi dan izin usahanya dari Departemen Kehakiman.
Sebelum Departemen Kehakiman memberikan pencabutan izin tersebut, perusahaan harus diaudit terlebih dahulu oleh lembaga likuiditas dan dinyatakan pailit.
Hasil audit juga mesti diumumkan di media massa dan menunggu selama tiga bulan. Pencabutan izin baru akan diberikan Departemen Kehakiman setelah perusahaan menyelesaikan hutang-hutangnya, termasuk hutang pajang, gaji karyawan, pesangon karyawan, serta hutang-hutang di bank. Termasuk sudah harus menyelesaikan masalah aset.
Setelah mendapatkan surat dari Departemen Kehakiman, perusahaan melapor ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) guna pencabutan SPPMA. (nix)

Daftar Aset Livatech
Aset Nilai
Tanah Rp 8.890.000.000
Bangunan Rp 10.681.200.000
Bangunan Tambahan Rp 2.095.380.000
Mesin Produksi dan Pendukung Rp 19.085.893.100
Mesin Produksi dan Pendukung Rp 2.480.212.500
Mesin Produksi dan Pendukung Rp 7.035.976.000
Total Rp 50.268.661.600
Setelah dikurangi penyusutan, maka besarnya aset Rp 42.502.100.000

Jumlah Gaji dan Pesangon yang Harus Dibayarkan
- Gaji 1305 karyawan bulan Januari semua tingkatan

Rp 1.200.000.000
- Pesangon 1309 karyawan semua tingaktan (dua kali ketentuan)

Rp 20.000.000.000
Total Rp 21.200.000.000
Sumber : hasil rapat dengar pendapat

Jumlah Gaji dan Pesangon yang Harus Dibayarkan
- Gaji 1309 karyawan bulan Januari semua tingkatan

Rp 2.000.000.000
- Pesangon 1309 karyawan semua tingaktan (satu kali ketentuan)

Rp 17.000.000.000
Total Rp 19.000.000.000

Sumber : Perhitungan Manager Personalia PT Livatech Gufron Wiguna

Karyawan Mengaduh Ke DPRD dan Pemko Batam

Batam, Tribun- Keputusan sepihak pemilik PT Livatech Elektronik Indonesia Goh Singhing alias Jackson Goh yang tidak akan membayar gaji kepada 1309 karyawanya satu bulan terakhir, membuat mereka sangat kecewa bahkan mendekati putus asa.
Kemarin, Rabu (7/2), sekitar 100 orang perwakilan karyawan Livatech mendatangi Gedung DPRD dan Pemko Batam guna mengadukan nasib dan mendapatkan pembelaan. Rombongan sampai ke Gedung Dewan sekitar pukul 08.30 WIB dengan menggunakan bus sewaan dan motor milik pribadi.
Kehadiran mereka tidak langsung diterima anggota Dewan, khususnya Komisi IV yang membidangi kesejahteraan sosial, ketenagakerjaan, dan pendidikan. Sebab pada pukul 08.30 WIB, tak seorang pun anggota Dewan yang sudah hadir di tempat.
Setelah menunggu sekitar 1,5 jam, rombongan karyawan baru bisa diterima oleh empat anggota Komisi IV yakni Mustami Husain selaku Ketua Komisi, Setyasih Priherlina, Raja Abdul Gani, serta Zamhuri Muchtar.
Kehadiran para pekerja, memang tidak untuk demontrasi ataupun unjuk rasa, melainkan menyampaikan aspirasi dalam bentuk pertemuan dengar pendapat (hearing). Sekitar pukul 10.00 WIB, pekerja diterima anggota Komisi IV di ruang rapat Komisi IV. Namun, tidak semua rombongan pekerja bisa ikut pertemuan, melainkan hanya 10 orang dan sisanya menunggu di luar gedung Dewan.
Di hadapan empat anggota Komisi IV, Jhon Mauritz Silaban selaku Ketua PUK Livatech Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) yang mewakili pekerja menyampaikan keluhan. Ia menceritakan, selama 13 tahun PT Livatech beroperasi di Batam selalu terjalin komunikasi yang baik antara pekerja dan top managemen perusahaan.
Termasuk, kondisi perusahaan yang kian mengalami penurunan order dari luar negeri yang memaksa managemen merumahkan ratusan karyawan permanen dan menghentikan kontrak pekerja non permanen. Selama ini, keputusan managemen bisa diterima para pekerja karena alasan yang disampaikan memang penurunan order produk.
“Selama ini kami bisa terima keputusan managemen yang merumahkan pekerja. Tapi yang membuat kami shok, tiba-tiba Mr Goh sebagai pemilik perusahaan meninggalkan Batam tanpa kejelasan status kami. Apalagi, hasil pertemuan Selasa (6/2) lalu di Singapura antara perwakilan pekerja dan Mr Goh menyatakan bahwa Mr Goh tidak akan membayar gaji kami satu bulan terakhir ini. Kemana kami harus mencari uang untuk biaya hidup,”ujar Jhon yang juga didampingi pengurus SPMI Batam, Yusuf dan kawan-kawan. (nix)

Dua Bulan Uang Jamsostek Tak Disetor Perusahaan

Selain tidak terima gaji, para pekerja juga terancam asuransi kesehatan mereka akan segera dihentikan pada 15 Februari mendatang. Pasalnya, setelah perwakilan pekerja mengecek keuangan karyawan di Jamsostek, ternyata sudah dua bulan terakhir managemen Livatech tidak menyetorkan uang Jamsostek. Padahal dari slip gaji Desember dan Januari lalu, potongan Jamsostek tetap dilakukan.
“Setelah kami berbicara dengan managemen Jamsostek, mereka mengatakan sudah dua bulan managemen Livatech tak menyetor uang Jamsostek. Kalau sampai 15 Februari mendatang tidak juga disetor, maka kami tidak bisa menggunakan fasilitas asuransi kesehatan,”tambah Jhon.
Di hadapan anggota Komisi IV, para pekerja menuntut Dewan mendesak pihak Jamsostek untuk segera mencairkan uang Jamsostek karena kondisi sangat darurat, dimana semua karyawan memerlukan uang untuk menutupi kebutuhan hidup.
Mereka juga meminta pengontrolan Dewan terhadap proses pelelangan aset Livatech. Agar, hasil pelelangan nantinya diutamakan untuk membayar gaji dan pesangon pekerja, dan bukan untuk menutupi utang perusahaan.
Setelah mendengar aspirasi pekerja, Priherlina Setyasih, anggota Komisi IV menjanjikan, pada Jumat (12/2) mendatang, Dewan akan melakukan hearing dengan menghadirkan perwakilan pekerja Livatech, PT Jamsostek Batam, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Otorita Batam, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam, Bank Panin dan Bank Niaga sebagai bank yang memberikan kredit ke Livatech sekaligus penerima agunan beberapa aset Livatech. (nix)

Kasus Keempat di Batam

BATAM sepertinya mulai menjadi langganan investor tak bertanggung jawab. Larinya bos PT Livatech Elektronik Indonesia Goh Singhing alias Jackson Goh yang meninggalkan Batam tanpa pamit dan menelantarkan 1309 pekerja, ternyata bukan kasus yang pertama.
Beberap tahun lalu ada tiga kasus serupa yang menimpah para pekerja Batam. Yakni PT Singacom, Singamit, dan Bulpakindo yang beroperasi di kawasan industri Batamindo Mukakuning.
Alhasil, untuk membayar gaji dan pesangon para pekerja, pemerintah harus turun tangan dengan menjual aset-aset perusahaan yang tersisa di Batam. Hal ini diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Perindustrial dan Persyaratan Kerja Disnaker Batam, Emrizal, ketika menerima rombongan pekerja Livatech di ruang rapat lantai IV Gedung Pemko Batam, Rabu (7/2).
Menurut Emrizal, selama ini PT Livatech merupakan PMA yang tidak pernah membuat masalah, terlebih lagi dengan karyawan. Dalam catatan Disnaker, Livatech adalah salah satu PMA percontohan yang sangat jarang terjadi gesekan atau konflik antara menegemen dan pekerja.
“Kami sering membawa para surveyor atau peneliti ke PT Livatech untuk dijadikan sampel baiknya hubungan antara managemen dengan pekerja dalam sebuah industri. Kami juga kaget mengetahui tindakan pemilik PT Livatech yang meninggalkan Batam begitu saja tanpa permisi kepada pemerintah,”ungkap Emrizal.
Dikatakan, dari catatan Disnaker Livatech tidaklah koleps atau bangkrut, sebab pembukan selama ini tetap bagus meskipun mengalami penurunan produksi.
Untuk mengatasi masalah ini, lanjutnya, Disnaker sudah berkoordinasi dengan Poltabes Barelang dan Kantor Imigrasi Batam guna mengamankan Jackson Goh jika ia kembali ke Batam. Langkah selanjutnya, Disnaker akan menyurati Konsulat Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur agar mengkondisikan Jackson Goh yang notaben warga Malaysia untuk kembali ke Batam dan menyelesaikan masalah Livatech.
Jika nantinya bos Livatech tidak juga menyelesaikan masalah ini, maka Disnaker akan mendampingi pekerja untuk menyelesaikan secara hukum. Yakni dengan meminta Pengadilan Negeri Batam menyatakan pailit PT Livatech. Sehingga, bisa ditunjuk kurator yang akan mengurus penjualan aset perusahaan dan menagih piutang yang hasilnya bisa dibayarkan untuk gaji dan pesangon karyawan.
Dari data yang disampaikan Manager Personalia PT Livatech Gufron Wiguna, saat ini PMA tersebut memiliki aset sekitar Rp 50.268.661.600 yang terdiri dari tanah (Rp 8.890.000.000), bangunan (Rp 10.681.200.000), bangunan tambahan (Rp 2.095.380.000), mesin produksi dan pendukung yang jumlahnya 17 unit Rp 28.602.081.600.
Namun, dari total aset tersebut beberapa diantaranya sudah diagunkan ke Bank Niaga dan Panin Bank, seperti 2 unit mesin produksi, 3 unit bangunan mes karyawan yang terletak di Perumahan Duta Mas Blok 08 nomor 13-15, serta 12 unit bangunan pabrik.
Gufron juga telah menghitung kebutuhan gaji karyawan dan pasangon. Total keseluruhan untuk 1309 karyawan dari semua devisi dan jabatan kurang lebih sebesar Rp 19 miliar. Dengan perincian, Rp 2 miliar untuk gaji satu bulan terakhir (Januari-Februari) dan Rp 17 miliar untuk pesangon. (nix)

Dibalik Kaburnya Bos Livatech (1)
“Produsen TV Lokal Batam, Aurum”

MENDENGAR nama PT Livatech Elektronik Indonesia yang beroperasi di Kara Industrial Estate Lot A-8 nomor 72-80 Batam Centre, mungkin tak banyak orang yang mengetahuinya.
Tetapi jika disebutkan salah satu produk unggulannya, akan banyak orang langsung ngeh. Perusahaan asing ini adalah satu-satunya industri yang memproduksi televisi flat lokal Batam, bernama Aurum. Televisi lokal Batam ini mulai diluncurkan di pasaran pada 30 Juni 2006 lalu. Peredarannya sempat luas dan dijual hampir di seluruh toko-toko elektronik di seluruh Batam, Tanjungpinang, dan Karimun.
Meskipun sewaktu peluncuran pertengahan tahun lalu, Aurum didengung-dengungkan hasil produksi PT Indosonic Pratama Batam, tetapi sesungguhnya tontonan audio-visual itu dirakit oleh Devisi Televisi PT Livatech Elektronik Indonesia.
Bahkan, sampai saat ini beberapa unit Aurum masih tersusun rapi di pabrik Livatech dan siap dipasarkan, mulai ukuran terkecil 14, 21, 25, 29, sampai yang terbesar 34 inch. Di pabrik elektronik itu, TV Aurum berukuran 34 inc, juga tengah menjadi tontonan para karyawan yang tetap datang ke perusahaan, meskipun tidak melakukan aktivitas pekerjaan pabrik.
“Inilah hasil produksi barang jadi kami. Daripada kami gak ada tontonan, kami ambil satu TV Aurum dari pabrik jadi ada hiburan,”kata Ketua PUK Livatech Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) Jhon Mauritz Silaban, seraya menunjukan TV Aurum yang sedang ditontong para karyawan, Rabu (7/2).
Televisi itu mereka tempatkan di teras depan pintu masuk gedung utama. Sampai kemarin, ratusan karyawan masih terlihat duduk-duduk santai di areal depan PT Livatech dan kantin perusahaan. Pintu masuk ke gedung utama dan pabrik, tampak terkunci. Tak seorang pun dibenarkan masuk. Menurut Jhon, penguncian gedung dan pabrik merupakan komitmen seluruh karyawan, menjaga keamanan aset-aset perusahaan. Meskipun sudah tiga hari (sejak Senin/8/2) lalu tidak ada lagi aktivitas pekerjaan, tetapi seluruh karyawan masih setia hadir ke pabrik.
Mereka tetap datang sesuai sip kerja dan mengisi absensi. Menurut Heri, seorang karyawan Livatech, kehariannya di pabrik merupakan bentuk solidaritas antara karyawan dalam memperjuangkan nasip seraya menunggu berita-berita baru baik dari serikat pekerja, pemerintah, maupun managemen.
“Kami tetap datang sesuai sip kerja pagi, sore, dan malam. Inikan perjuangan kita bersama. Selain itu saya bisa langsung mendengar kalau-kalau ada berita baru, terlebih tentang gaji kami bulan ini,”ungkap Heri yang ditemui Tribun di lokasi Livatech, Rabu (7/2). (sri murni)

Di Balik Kaburnya Bos Livatech (2-habis)

“Karyawan Masih Setia Menunggu”

PAGI kemarin, Kamis (8/2) tidak ada bedanya dengan pagi-pagi sebelumnya bagi Nina (bukan nama sebenarnya). Wanita berusia 28 tahun itu, tetap bangun tidur pada pukul 05.00 WIB, mandi, dan beribadah sholat Subuh bersama suami Andi (juga bukan nama sebenarnya).
Setelah menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, ia pun ke dapur. Namun, kemarin raut wajah Nina memang tidak seceriah biasanya. Perempuan yang baru empat bulan mengarungi bahtera rumah tangga bersama sang suami, merasa gusar.
Persediaan beras yang ada di dalam kantong plastik makin menipis. Tiga hari sebelumnya, masih tersisa sekitar 5 kg beras, tetapi kini hanya kurang lebih 3 kg. “Kemarin (Rabu) keluarga ngumpul di rumah. Ya gak mungkin tidak dimasakan,”tutur wanita asal Magelang itu.
Dengan tetap tenang dan berusaha mengusir rasa resahnya itu, Nina tetap melanjutkan menanak nasi satu muk (1/4 kg) dengan menggunakan periuk kecil di atas kompor minyak tanah. Sambil menunggu nasi matang, ia pun mulai menggiling cabai dan bawang yang akan dijadikan bumbu sambal.
“Hari ini saya masak sambal telur aja,”katanya singkat. Tiga butir telur yang tersisa di dalam tempat bumbu wanita yang tinggal di rumah sewaan di salah satu perumahan di Batuaji itu pun dimasak. Seusai menyantap sarapan, sekitar pukul 06.30 WIB Nina dan Andi berangkat ke Livatech.
Pasangan suami-istri, tampak tetap semangat mendatangi pabrik elektronik itu. Meskipun sudah dua pekan ini mereka datang dengan tanpa aktivitas kerja. “Masih adalah uang sedikit buat ongkos dan biaya hidup,”tutur Nina yang enggan menyebutkan berapa dana yang saat ini ia dan keluarganya miliki.
Walaupun uangnya terus menipis, tetapi Nina dan suaminya yang sama-sama bekerja di Livatech, mengatakan tetap komit untuk datang ke pabrik, walaupun tidak bekerja. “Kan sudah sepakat semuanya harus datang sesuai sip kerja. Saya hari ini (kemarin) masuk pagi jadi ya harus pagi-pagi ke pabrik,”ungkap wanita berambut sebahu itu.
Nina dan Andi, hanyalah segelintir contoh dari 1398 karyawan Livatech yang tetap memiliki semangat dan solidaritas memperjuangkan kejelasan nasib, tertuma pembayaran gaji dan pesangon.
Beberapa karyawan yang ditemui Tribun di PT Livatech, mengungkapkan, sampai batas kemampuan keuangan, mereka akan tetap hadir ke pabrik sesuai jam kerja. Apalagi, mulai kemarin ada pengumuman yang ditempelkan Pengurus Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) yang berisikan, bagi karyawan diwajibkan hadir sesuai sip kerja. Dan apabila tiga kali berturut-turut tidak datang, maka nasibnya tidak akan diperjuangkan.
“Saya akan tetap datang. Saya masih sangat berharap dapat gaji bulan ini,”kata seorang karyawan Livatech yang enggan disebutkan namanya. Wanita asal Sumatera Utara itu tetap memimpikan hari ini, Jumat (9/2) atau besok, Sabtu (10/2), di kartu ATM nya tetap tertransfer dana kurang lebih Rp 1 jutaan sebagai gaji bulan ini. (sri murni)

Livatech Utang Jamsostek Rp 436,794 Juta
* 15 Februari Layanan Kesehatan Dihentikan

Batam, Tribun- Sudah jatuh tertimpah tangga. Demikianlah nasib para karyawan permanen PT Livatech Elektronik Indonesia yang beroperasi di Kara Industrial Estate Lot A-8 nomor 72-80 Batam Centre. Sudah tiga pekan ditelantarkan pemilik perusahaan Goh Singhing alias Jackson Goh, seminggu lagi tepatnya Jumat (16/2), mereka akan kehilangan pelayanan kesehatan dari asuransi Jamsostek.
Pasalnya, sudah sejak November 2006 lalu ternyata managemen Livatech tidak membayarkan iuran Jamsostek karyawan ke PT Jamsostek Batam, padahal sampai dengan 10 Januari lalu gaji karyawan tetap dipotong iuran Jamsostek oleh perusahaan.
Alhasil, managemen Jamsostek akan menghentikan layanan kesehatan bagi karyawan perusahaan asing tersebut mulai 16 Februari mendatang.
Dari data yang disampaikan Kepala Cabang Jamsostek Batam Idrus Abubakar dalam rapat koordinasi menyelesaikan kasus Livatech bersama Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Syamsul Bahrum, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam, Otorita Batam, dan Imigrasi Batam, Kamis (8/2) di lantai IV Gedung Pemko Batam sekitar pukul 15.00 WIB, managemen Livatech terakhir membayarkan iuran Jamsostek pada Oktober 2006 sebesar Rp 145.598.000.
Jika dijumlahkan, iuran Jamsostek yang harus dibayarkan managemen Livatech kepada Jamsostek selama November, Desember, dan Januari sebesar Rp 436.794.000. Jumlah karyawan Livatech yang sampai saat ini masih terdaftar di Jamsostek sebanyak 1398 orang dengan status karyawan permanen.
Idrus menyampaikan, jika managemen Livatech telah memotong iuran Jamsostek dari karyawan, berarti sudah terjadi penyimpangan dan manipulasi dana pekerja. “Tindakan ini sudah mengarah pada perdata dan pidana,”ujar Idrus di hadapan 15 orang peserta rapat. PT Livatech telah menjadi peserta Jamsostek sejak 1995.
Ia menambahkan, secara aturan dan perjanjian antara Jamsostek dengan peserta (dalam hal ini karyawan Livatech yang secara kolektif dikoordinir managemen Livatech), jika peserta tiga bulan tidak membayar iuran, maka asuransi kesehatan akan dihentikan.
Namun demikian, aturan tersebut bukanlah harga mati. Jamsostek akan mengusulkan kepada managemen Jamsostek di Jakarta untuk memberikan keringanan berupa perpanjangan layanan kesehatan bagi karyawan Livatech yang ditinggal pergi bos-nya.
“Tetapi usulan ini harus disetujui managemen pusat. Saya tidak bisa janji persetujuan itu bisa diberikan sebelum 15 Februari mendatang,”ujar Idris.
Dikatakan, untuk mendapatkan persetujuan dari managemen pusat, diharapkan adanya rekomendasi dari Pemko dan Otorita serta DPRD Batam. (nix)

Uang Jamsostek Belum Bisa Dicairkan
Sebelum Jamsostek mengikuti rapat koordinasi dengan Pemko dan Otorita Batam, kemarin pagi Idrus juga menerima perwakilan karyawan Livatech. Mereka menuntut percepatan pencairan uang jaminan hari tua (JHT) sebagai ganti biaya hidup karena para karyawan tidak mendapatkan gaji satu bulan terakhir ini.
Menanggapi tuntutan pekerja tersebut, Idrus memberikan jawaban yang sama dengan masalah perpanjangan asuransi kesehatan. Kemungkinan pencairan JHT tetap ada, tetapi tetap harus meminta persetujuan dari managemen pusat.
Menurut aturan, JHT baru bisa dicairkan jika masa keanggotaan peserta Jamsostek minimal lima tahun dan berikan enam bulan setelah peserta tidak lagi menjadi karyawan perusahaan. “Bagi karyawan Livatech juga berlaku hal serupa. Mereka akan mendapatkan JHT setelah ada surat yang menyatakan mereka tidak lagi bekerja di perusahaan tersebut. Terkecuali nantinya ada kebijakan khusus,”tegas Idrus. (nix)

Jackson Goh Janji Balik ke Batam

LANGKAH menyelesaikan masalah PT Livatech Elektronik Indonesia, terus ditempuh Otorita Batam bekerjasama dengan Pemko Batam. Rabu (7/2) lalu, perwakilan OB telah menemui pemilik PT Livatech Goh Singhing alias Jackson Goh di Singapura.
Dalam pertemuan tersebut, Mr Goh berjanji akan bersedia kembali ke Batam guna menyelesaikan masalah, terutama menyangkut gaji dan pesangon karyawan. Hal ini diungkapkan Fitra Kamarudin selaku Direktur Pemukiman, Tenaga Kerja, dan Sosial (Kimnakersos) Otorita Batam, dalam rapat koordinasi penyelesaikan masalah Livatech di Gedung Pemko Batam, Kamis (8/2).
“Kami telah mengirimkan utusan bertemu dengan Mr Goh kemarin (Rabu). Dan hasilnya Goh akan kembali ke Batam guna menyelesaikan masalah yang terjadi,”kata Fitra.
Ditegaskan, dari data-data perkembangan usaha Livatech yang dimiliki OB dan hasil pertemuan dengan Mr Goh, PMA tersebut menghentikan operasi bukan karena handak pindah ke China atau negara lain. Tapi semata-mata karena dampak industri elektronik global yang mengakibatkan sepinya order komponen elektronik ke PT Livatech dari rekanan bisnis mereka di luar negeri.
“Pabrik dalam keadaan baik. Isu pindah ke Cina itu hanya omong kosong. Mereka berhenti operasi karena memang sepi order,”tegas Fitra.
Untuk mendatangkan Goh ke Batam, Pemko dan OB telah berkoordinasi dengan Imigrasi Batam. Dalam masalah ini Imigrasi telah menentukan sikap, tidak lagi datang dan amankan, melainkan datang dan dijemput. Sehingga, Goh bisa merasa aman berada di Batam lagi. (nix)

Bos Livatech Janji Bayar Gaji Karyawan 50 Persen
* Jhon : Kami Terima Saja

Batam, Tribun- Para karyawan PT Livatech Elektronik Indonesia yang sudah tiga pekan terlantar karena ditinggal lari pemiliknya, Goh Singhing alias Jackso Goh, tanpa kejelasan status, kini bisa sedikit berlega hati.
Mr Goh yang tidak lain warga negara Malaysia itu telah berjanji akan membayar gaji satu bulan terakhir 1305 karyawan permanen PT Livatech pada 20 Februari mendatang. Tetapi, gaji Januari tersebut tidak dibayarkan penuh melainkan hanya 50 persen.
Janji tersebut disampaikan kuasa hukum Mr Goh, Karolus Kopong Ola SH, saat rapat dengar pendapat antara managemen PT Livatech dengan perwakilan karyawan yang diperantarai Komisi IV DPRD Batam.
Mr Goh juga berjanji akan menyelesaikan tundakan iuran Jamsostek para karyawan yang sejak November 2006 sampai Januari 2007 lalu belum dibayarkan. Padahal iuran tersebut sudah dipotong dari gaji karyawan sampai Januari lalu.
Janji lain yang disampaikan Mr Goh melalui Karolus adalah pembayaran pesangon karyawan yang besarnya satu kali ketentuan. “Perusahaan kan dalam kondisi sulit dan bangkrut, maka besaran pesangon yang bisa dibayarkan Mr Goh adalah satu kali ketentuan,”kata Karolus yang mengenakan pakaian serba gelap.
Rapat berlangsung di ruang serba guna Gedung DPRD Batam, Senin (12/2). Dalam rapat tersebut hadir sekitar 10 orang perwakilan karyawan dan pengurus Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) PUK Livatech, Kota Batam, Provinsi Kepri, serta pengurus pusat.
Juga hadir beberapa anggota Komisi IV seperti Bustamin Husain (Ketua), Prehelina Setyasih (sekretaris), Raja Abdul Gani, Karles Sinaga, dan lainnya. Dari Pemko Batam, diwakili Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) beserta staf, perwakilan OB, Kepala Cabang Jamsostek Idrus Abubakar, Branch Manager Panin Cabang Batam Henry H, Kepala Cabang Bank Niaga beserta Bussiness Manager-nya Ramon Sihombing.
Bank Niaga dan Panin Bank, merupakan bank yang memberikan kredit modal kerja kepada Livatech dan saat ini menguasai beberapa aset perusahaan yang dijadikan jaminan kredit.
Tawaran dari Mr Goh tersebut, sementara waktu ini diterima para karyawan. Ketua PUK Livatech SPMI Jhon Mauritz Silaban yang juga hadir di rapat tersebut mengungkapkan, para karyawan bisa menerima tawaran tersebut, dengan catatan, sisa pembayaran gaji tetap dihitung hutang dan harus dibayarkan managemen.
Jhon juga meminta, janji Mr Goh agar dituangkan dalam surat pernyataan hitam diatas putih. Sebab, dalam penyampaian janji-janji Mr Goh yang disampaikan kuasa hukumnya, Karolus, tidak disertai dengan pernyataan tertulis.
Tentang usulan pembayaran pesangon yang ditawarkan Mr Goh satu kali ketentuan, belum bisa diterima peserta rapat. Kepala Disnaker Batam Pirma Marpaung mengutarakan, dalam pembayaran pesangon sudah diatur dalam undang-undang tenaga kerja.
Jika perusahaan tutup dikarenakan bangkrut, besarnya pesangon adalah satu kali ketentuan. Tetapi, jika tutup karena alasan lain maka besarnya pesangon dua kali ketentuan. Untuk menyatakan bangkrut tidak bisa sekehendak hati si pemilik perusahaan, melainkan harus melalui pengauditan akuntan publik dan dinyatakan pailit oleh pengadilan.
Sehingga, aset-aset yang masih dimiliki perusahaan bisa dilelang untuk membayarkan utang gaji, pesangon karyawan, pajak, serta kredit pada pihak bank.
Untuk merealisasikan pembayaran gaji yang 50 persen tersebut, Karolus yang ditemui Tribun seusai rapat berjanji, hari ini akan meminta cek kepada Mr Goh di Singapura sebesar Rp 800 ribu. Cek tersebut sebagai jaminan janji Mr Goh. Selanjutnya, pembayaran gaji akan dilakukan melalui transfer Bank NISP ke rekening masing-masing karyawan. (nix)

Karolus Dibentak Dewan
RAPAT dengar pendapat untuk menyelesaikan masalah PT Livatech, berlangsung cukup seru dan sedikit panas. Terlebih lagi, ketika kuasa hukum Mr Goh, Karolus Kopang Ola, bertingkah layaknya pimpinan sidang dan menginterupsi sekretaris Komisi IV Prehelina Setyasih selaku pimpinan rapat, yang sedang berbicara.
Melihat prilaku Karolus tersebut, sempat membuat Karles Sinaga (anggota Komisi IV) yang kebetulan duduk di samping kiri Lina, sapaan akrab Prehelina, berang. “Bukan Anda (Karolus) yang memimpin sidang. Jadi Anda diam saja disana. Ini sidang terhormat, semuanya punya mekanisme, bukan asal interupsi,”kata Karles dengan nada agak tinggi.
Mendengar bentakan Karles, Karolus yang didampingi seorang rekannya pun terdiam. Rapat kembali berjalan normal. Dalam rapat tersebut, diberikan kesempatan kepada Kepala Cabang Panin Bank Batam Henry dan Kepala Cabang Bank Niaga Batam Ramot Sihombing, memaparkan kondisi keuangan Livatech.
Henry yang juga didampingi beberapa stafnya mengatakan, PT Livatech menjadi debitur Panin Bank sejak 1 Desember 2006 lalu. PT Livatech diberikan kredit sebesar Rp 480 juta dengan jaminan berupa tiga unit rumah yang terletak di Perumahan Duta Mas Blok 08 nomor 13-15. Menurut Henry, PT Livatech sempat membayarkan cicilan kredit pada Januari dan Februari ini.
Sementara, Kepala Cabang Bank Niaga Ramot Sihombing mengutarakan, di Bank Niaga PT Livatech juga sebagai nasabah debitur terhitung sejak Maret 2006 lalu. PT Livatech diberikan pinjaman modal kerja sekitar Rp 11 miliar dengan jaminan berupa 11 unit bangunan pabrik senilai Rp 14 miliar dan 4 unit mesin produksi senilai Rp 1,8 miliar.
“Dari Maret 2006 lalu sampai akhir Januari lalu, tidak ada masalah dengan pembayaran kredit PT Livatech. Managemen tetap menyetorkan cicilan kredit,”ujar Ramot.
Meskipun demikian, kaburnya bos PT Livatech, Mr Goh, sangat mengkhawatirkan Bank Niaga. Terlebih lagi, sampai saat ini belum ada keputusan apakah perusahaan asing tersebut tutup karena bangkrut atau tidak, sampai adanya ketetapan hukum.(nix)

Tidak Dinyatakan Bangkrut
Hasil rapat dengar pendapat menyatakan, sampai saat ini PT Livatech Elektronik Indonesia belum dapat dinyatakan bangkrut. Keputusan rapat justru menyatakan PT Livatech tutup karena alasan lain, dan diwajibkan membayar pesangon karyawan dua kali ketentuan.
Keputusan ini diutarakan pimpinan sidang Prehelina Setyasih diakhir rapat. Pertimbangannya adalah PT Livatech telah mengajukan perluasan usaha kepada Otorita Batam Juni 2006 lalu, dengan tambahan nilai investasi sebesar 300.000 dolar AS.
Untuk penyelesaian selanjutnya, akan dilakukan pertemuan antara pemilik PT Livatech dengan para karyawan yang dimediasi oleh Pemko Batam, Otorita Batam, serta pengurus Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) Batam.
Pertemuan tersebut juga dijanjikan kuasa hukum Mr Goh, Karolus. “Saya mengupayakan pertemuan selanjutnya antara karyawan dan pemilik Livatech sebelum tanggal 20 Februari ini,”janji Karolus.
Dari perhitungan yang dilakukan Disnaker, untuk membayar gaji bulan terakhir kepada 1305 karyawan, diperlukan uang sebesar Rp 1,2 miliar. Sementara untuk pesangon dengan dua kali ketentuan, dibutuhkan dana sebesar Rp 20-an miliar. (nix)

Tentang PT Livatech
Nama Perusahaan : PT Livatech Elektronik Indonesia/ PMA
Bidang Usaha : Industri sub assy dan komponen elektronik
Jumlah karyawan permanen : 1305 orang
Alamat : Kara Industrial Estate Blok A No. 72-80 Batam Centre
Pemegang Saham Asing :
- Livatech Sdn, Bhd (Malaysia) : US$ 349.999 (99,9997 persen)
- Soh Yong Guan (Malaysia) : US $ 1 (0,0003 persen)
Pemegang Sahan Indonesia : Tidak Ada
Sumber : Badan Otorita Batam

Karyawan Buka Dapur Umum

SUASANA pabrik PT Livatech Elektronik Indonesia yang terletak di Kara Industrian Estate blok A nomor 72-80 Batam Centre, kemarin, Senin (12/2) memang tidak seramai hari-hari sebelumnya.
Sebanyak 1305 karyawan perusahaan asing tersebut, tidak lagi mendatangi pabrik setiap hari. Melainkan dibagi tiga sip (pagi, sore, dan malam) yang satu sipnya sebanyak 150 karyawan. Hal ini dilakukan guna memperkecil pengeluaran setiap karyawan yang sampai saat ini belum mendapatkan gaji satu bulan terakhir.
Disamping itu, juga memberikan kesempatan kepada setiap karyawan untuk mencari kerja di perusahaan-perusahaan lain. Lagipula, sejak tanggal 10 Februari lalu, kontrak bus yang selama ini mengangkut karyawan dari rumah tinggal mereka ke pabrik, sudah berakhir.
Sehingga, jika karyawan hendak berangkat, kini harus menggunakan angkutan umum yang harus dibayar dari kantong sendiri. Kehadiran mereka ke pabrik, memang bukan untuk bekerja, melainkan berpartisipasi menjaga aset-aset perusahaan, sekaligus berkoordinasi memperjuangkan nasib.
“Selama ini kami kan sewa bus. Yang bayar bus bukan perusahaan tapi kami sendiri. Sejak tanggal 10 lalu, kontrak bus kami habis, jadi harus naik angkutan umum lainnya,”ujar seorang pekerja Livatech yang enggan disebutkan namanya.
Meskipun hanya sebagian karyawan yang datang ke pabrik, tetapi suasana riuh masih tetap terasa. Mereka duduk-duduk santai di depan gedung utama Livatech sambil bersenda gurau. Keriuhan semakin terasa, dengan adanya dapur umum yang dibuka para karyawan sejak Minggu (11/2) lalu.
Kesibukan para kaum perempuan terlihat. Mereka memasak nasi, membuat sambal, dan membagikan makanan kepada karyawan Livatech yang ada di pabrik. Dapur umum itu terletak di sisi kiri gedung utama, dan masih berada di halaman depan.
Menurut seorang karyawati yang bertugas di dapur umum, pembukaan tempat masak masal itu tidak lain untuk mengirit pengeluaran para karyawan yang bertugas menjaga aset. Sejak dibukanya dapur umum, ternyata banyak menggugah hati karyawan dari perusahaan lain.
Melalui aksi peduli yang dikoordinir Serikat Pekerja Metal Indonesia, mereka mendapatkan bantuan berupa uang tunai, bahan makanan, peralatan masak dan makan dari karyawan perusahaan lain seperti Casio, TEAC, Japan Cervo, dan lainnya.
Wakil Ketua I DPRD Kota Batam Aris Hardy Halim, kemarin, juga sempat singgah ke dapur umum karyawan Livatech dan menyerahkan sumbangan. “Besarnya tidaklah saya sebutkan. Uang itu sisa perjalanan dinas saya ke luar kota,”ujar Aris singkat yang ditemui Tribun di Livatech.
Aksi dapur umum ini akan tetap dilakukan, sampai batas waktu yang belum ditentukan. (sri murni)

Utang Bank Livatech Rp 12,3 Miliar
* Pabrik dan Mesin Sudah Diagunkan
* Hari Ini Perundingan Pekerja dan Bos Livatech

Batam,Tribun- Bos PT Livatech Elektronik Indonesia, Goh Singhing alias Jackson Goh, tidak hanya meninggalkan dan menelantarkan 1005 karyawannya tanpa membayar gaji bulan terakhir, tetapi juga meninggalkan utang bank sebesar kurang lebih Rp 12,3 miliar.
Utang tersebut tersebar di dua bank yakni Panin Bank dan Bank Niaga, yang kedua-duanya cabang Batam. Di Bank Niaga besarnya utang Livatech sekitar Rp 11,8 miliar, sedangkan di Panin Bank Rp 480 juta. Utang di dua bank tersebut berupa kredit modal kerja.
Kondisi pinjaman uang perusahaan asing yang beroperasi di Kara Industrial Estate Blo A nomor 72-80 Batam Centre tersebut, disampaikan langsung Kepala Cabang Panin Bank Batam Henry dan Business Manager Bank Niaga Ramon Sihombing pada Tribun, Senin (12/2) di Gedung DPRD Batam.
Henry mengungkapkan, PT Livatech menjadi debitur Panin Bank sejak 1 Desember 2006 lalu. PT Livatech diberikan kredit sebesar Rp 480 juta dengan jaminan berupa tiga unit rumah yang terletak di Perumahan Duta Mas Blok 08 nomor 13-15. Menurut Henry, PT Livatech sempat membayarkan cicilan kredit pada Januari dan Februari 2007 ini.
Sementara, Kepala Cabang Bank Niaga Ramon Sihombing mengutarakan, di Bank Niaga PT Livatech juga sebagai nasabah debitur terhitung sejak Maret 2006 lalu. PT Livatech diberikan pinjaman modal kerja sekitar Rp 11,8 miliar dengan jaminan berupa 11 unit bangunan pabrik di Kara Industrial Estate dan 4 unit mesin produksi. Pinjaman di dua bank dilakukan atas nama PT Livatech dan bukan pribadi Mr Goh.
Dari perhitungan Bank Niaga, ke-11 unit bangunan pabrik memiliki nilai agunan sebesar Rp 14 miliar dan empat unit mesin produksi senilai Rp 1,8 miliar. “Dari Maret 2006 lalu sampai akhir Januari lalu, tidak ada masalah dengan pembayaran kredit PT Livatech. Managemen tetap menyetorkan cicilan kredit,”ujar Ramon.
Kaburnya PT Livatech, Mr Goh, sangat mengkhawatirkan Bank Niaga, karena perusahaan tersebut masih menyisahkan utang, meskipun sudah sempat dicicil 12 bulan. Kekhawatiran bertambah, karena sampai sekarang status perusahaan tersebut belum jelas, apakah ditutup karena bangkrut atau berhenti beroperasi untuk sementara waktu.
“Status perusahaan sangat penting bagi kami. Kami memang ditutup, maka akan dilakukan penyelesaian penjualan aset-aset. Dari penjualan aset tersebut, bukan kami yang akan mendapatkan pengembalian utang pertama, melainkan hasil penjualan aset akan digunakan untuk membayar gaji dan pesangon karyawan, pajak serta tunggakan lainnya. Sementara pelunasan kepada bank, itu nomor terakhir,”tutur Ramon.
Hari Ini Perundingan Pekerja dan Bos Livatech
Hari ini, perwakilan karyawan PT Livatech akan melakukan perundingan dengan Goh Singhing alias Jackson Goh, yang tidak lain adalah pemilik perusahaan. Perundingan akan dilakukan di Pelabuhan Harbour Front, Singapura, siang waktu setempat.
Kabar rencana perundingan tersebut disampaikan Ketua PUK PT Livatech Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) Jhon Mauritz Silaban, pada Tribun, Selasa (13/2). Ia menceritakan, kemarin siang Mr Goh telah menelepon dirinya dan mengajak perwakilan karyawan untuk berunding di Singapura.
“Pak Goh itu tidak mau ke Batam. Dia menelepon saya tadi siang (kemarin) ngajak kami (perwakilan karyawan) bertemu di Singapura untuk membicarakan solusi masalah gaji dan pesangon. Saya heran entah mengapa dia tidak mau ke Batam,”kata Jhon.
Dalam perundingan tersebut, rencananya juga akan melibatkan perwakilan Otorita Batam. Jhon akan berangkat ke Singapura bersama beberapa rekannya dan didampingi pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) SPMI Batam.
“Mr Goh menginginkan penyelesaian secara damai. Kami akan minta janji-janji Mr Goh nanti dituangkan hitam di atas putih, jadi bisa menjadi pegangan dan kami pun bisa menentukan langkah-langkah selanjutnya,”tambah Jhon.
Beberapa poin yang akan dibicarakan adalah pembayaran gaji bulan Januari sebanyak 1305 karyawan permanen PT Livatech, pembayaran pesangon, serta kepastian sikap managemen Livatech, apakah akan meneruskan bisnis di Batam atau menutup perusahaan. (nix)

Poin Perundingan Karyawan dan Bos Livatech
- Pembayaran Gaji 1305 karyawan untuk bulan Januari
- Pembayaran pesangon karyawan
- Kepastian sikap managemen Livatech atas kelanjutan bisnis di Batam (tutup atau tidak)

Bos Livatech Nyatakan Tutup
* Pesangon Tunggu Penjualan Aset
* Karyawan Tolak Gaji 50 Persen

Batam, Tribun- Bos PT Livatech Elektronik Indonesia Goh Singhing alias Jackson Goh, akhirnya angkat bicara tentang status perusahaannya yang berlokasi di Kara Industrial Estate Blok A nomor 72-80 Batam Centre.
Melalui kuasa hukumnya, Karolus Kopong Ola SH, Mr Goh menyatakan menutup PT Livatech Electronik Indonesia Batam terhitung kemarin, Rabu (14/2). Namun, pernyataan tersebut belum disampaikan secara tertulis, baru pernyataan lisan yang disampaikan kepada Karolus untuk selanjutnya diberitahukan kepada pihak-pihak terkait di Batam.
“Karena Mr Goh telah menutup perusahaannya disini, maka mulai besok (hari ini) saya sebagai kuasa hukumnya, akan mencari akuntan publik yang kredibel untuk mengaudit perusahaan,”kata karolus pada Tribun, Rabu (14/2).
Setelah pengauditan, baru dapat diketahui apakah perusahaan merugi atau tidak. Selain menyatakan penutupan perusahaan, lanjut Karolus, Mr Goh juga menyerahkan pengurusan aset-aset perusahaan kepadanya untuk dijual.
Dari penjualan aset itulah, akan digunakan untuk membayar utang gaji karyawan, pesangon, serta utang-utang, termasuk utang perusahaan di dua bank (Panin dan Niaga) yang nilainya sekitar Rp 12,3 miliar.
“Dia (Mr Goh) sudah terus terang kepada saya tidak sanggup membayar uang pesangon dan utang-utang di Batam. Jadi semua utang akan dibayarkan dari hasil penjualan aset,”ujar Karolus yang bertemu dengan Mr Goh Selasa malam waktu Malaysia di salah satu hotel di Johor.
Tentang janji Mr Goh yang akan membayar gaji bulan Januari kepada 1305 karyawan, Karolus mengatakan, kliennya tetap akan membayar pada 20 Februari ini. Tetapi dengan satu syarat, mesin-mesin produksi yang bukan milik Livatech, melainkan milik mitra bisnisnya, harus dikeluarkan dari pabrik dan dikembalikan kepada yang punya.
Menurut Karolus, saat ini ada beberapa mesin produksi milik tiga perusahaan mitra Livatech, diantaranya adalah milik PT TEAC. Seandainya karyawan tidak mengeluarkan mesin tersebut, maka gaji yang 50 persen tidak akan dibayarkan Mr Goh.
“Kalau mesin itu tidak dikembalikan kepada yang punya, klien saya akan tetap harus membayar sewanya dan itu bukan jumlah yang kecil. Kami harap karyawan bisa pro aktif membiarkan mesin itu dikembalikan kepada yang punya,”papar Koralus.
Tidak Berani Tentukan Besarnya Pesangon
Menurut Karolus, dalam waktu dekat ini Mr Goh tidak akan balik ke Batam. Pria yang berwarga negara Malaysia itu, takut kembali ke Batam menghadapi komplain dari karyawan.
“Dia sudah tidak ada darah lagi untuk kembali ke Batam. Takut dengan tuntutan pesangon karyawan katanya,”ujat Koralus. Ternyata Goh tidak hanya takut kembali ke Batam, tetapi dia juga tidak berani menentukan berapa pesangon yang akan diberikannya kepada karyawan.
“Pokoknya dia tidak berani tentukan besar pesangon. Apakah satu kali atau dua kali ketentuan. Besarnya pesangon akan tergantung hasil penjualan aset. Kalau dari sekarang ditentukan satu atau dua kali, tapi ternyata aset tidak cukup, jadi masalah kan,”ungkap Karolus.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam Pirma Marpaung, meminta pemilik PT Livatech membuat pernyataan tertulis jika memang memutuskan menutup usahanya di Batam. Sehingga, bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.
Tentang pesangon, pemilik Livatech harus membayar sesuai dengan ketentuan. Bila memang perusahaan dinyatakan tutup, maka harus dilakukan audit oleh akuntan publik sehingga bisa diketahui tutupnya perusahaan karena rugi atau alasan lain. Jika rugi, maka pesangon yang harus dibayarkan sebesar satu kali ketentuan, tetapi jika tidak besarnya pesangon dua kali ketentuan.
Seperti yang diberitakan Tribun sebelumnya, sebanyak 1305 karyawan Livatech adalah berstatus karyawan permanen yang masa kerjanya, rata-rata di atas lima tahun. Sesuai dengan Undang-undang tenaga kerja nomor 13 tahun 2003, setiap pekerja berhak mendapatkan uang pesangon dengan ketentuan, minimal masa kerja tiga bulan. Bagi yang bekerja lima tahun, maka pesangonnya adalah lima kali gaji. Yang enam tahun kerja, mendapatkan pesangon enam kali gaji, dan seterusnya sampai maksimal sembilan kali gaji.
Selain kelipatan gaji, perusahaan juga harus memberikan uang jasa masa kerja. Perhitungannya, tiga tahun kerja mendapatkan uang jasa dua bulan gaji. Enam tahun kerja, 3 bulan gaji, dan 9 tahun dapat 4 bulan gaji, dan seterusnya.
Karyawan juga berhak mendapatkan uang perumahan dan kesehatan yang besarnya 15 persen dari total pesangon. Serta penggantian uang terhadap masa cuti yang belum diambil pekerja. (nix)

Karyawan Kecewa
KECEWA, kesal, dan marah. Perasaan yang campur aduk itulah yang kini sedang mendera para karyawan PT Livatech. Hasil pertemuan perwakilan karyawan dengan Goh Singhing di Singapura, Rabu (14/2), tidak membuahkan kabar gembira.
Goh yang beberapa waktu lalu berjanji memberikan gaji 50 persen kepada setiap karyawan, ternyata membubuhkan sebuah syarat, yakni pengambilan mesin-mesin produksi yang bukan milik PT Livatech kepada mitra usahanya.
Syarat inilah yang membuat para karyawan kecewa terhadap usulan Goh untuk memberikan gaji 50 persen. Sampai malam tadi, belum ada kata sepakat antara karyawan menerima atau menolak syarat tersebut.
Ketua PUK Livatech Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) Jhon Mauritz Silaban seusai bertemu Mr Goh mengungkapkan, hasil pertemuan telah disampaikan kepada para pekerja. Namun, belum ada kata sepakat menanggapi usulan Goh tersebut. “Kami masih berfikir baik dan buruknya dalam perjuangan hak kami,”ujar Jhon.
Saat Jhon menyampaikan hasil pertemuannya di hadapan para rekannya yang berkumpul di pabrik Livatech, tampak wajah-wajah yang penuh kekecewaan. Gaji 50 persen yang diharapkan bisa mereka terima pada 20 Februari mendatang, nasibnya belum jelas.
Kemarin, suasana di pabrik, memang lebih ramai ketimbang hari sebelumnya. Ratusan karyawan sengaja hadir dengan tujuan mendengar kabar dari hasil pertemuan perwakilan karyawan dengan Goh. (sri murni)

Karyawan Livatech Menolak Kosongkan Pabrik
* Audit Mulai Dilakukan Hari Ini

Batam, Tribun- Hampir dua bulan sudah kasus PT Livatech Elektronik Indonesia bergulir. Namun sampai sekarang, perusahaan komponen elektronik yang ditinggal lari pemiliknya, Mr Goh Singhing alias Jackson Goh, belum juga menyelesaikan masalah pembayaran gaji bulan terakhir dan pesangon kepada karyawan yang jumlahnya 1305 orang.
Kabar terakhir, kasus ini sedang ditangani tim likuidasi yang ditunjuk managemen Livatech yakni Hariara Panjaitan, yang bertugas menjual aset-aset perusahaan dan selanjutnya uang tersebut digunakan untuk membayar utang-utang perusahaan. Terutama utang gaji bulan terkahir yang masih bersisa 50 persen lagi, serta pesangon kepada karyawan.
Namun, selama proses likuidasi, tim dan karyawan mengalami jalan buntu. Menurut seorang pengurus Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) PUK Livatech yang enggan disebutkan namanya, antara karyawan dan tim likuidasi belum terjalin kesepakatan.
Kendalanya, lanjutnya, karyawan menghendaki hasil kesepakatan nantinya harus didaftarkan ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) yang terletak di Tanjungpinang, agar pertanggungjawaban hukumnya lebih jelas.
“Tapi permintaan kami itu tidak disepakati tim likuidasi. Dia keberatan kalau hasil kesepakatan didaftarkan ke PHI dengan alasan mereka tidak mau ada pihak luar yang campur tangan. Mereka minta agar masalah upah dan pesangon diselesaikan secara cincai-cincai,”kata seorang pengurus SPMI tersebut, Senin (19/3).
Selain tidak menginginkan keterlibatan PHI, tambahnya, tim likuidasi juga meminta agar karyawan mengosongkan pabrik terhitung sejak hari ini. Tentu saja tuntutan tim likuidasi tersebut tidak bisa dikabulkan karyawan.
“Tidak mungkin kami mengosongkan pabrik sementara belum ada kesepakatan. Kami akan tetap bertahan sampai ada kejelasan,”ujarnya.
Di lokasi pabril Livatech yang terletak di Kompleks Kara Industrial Estate Lot A-8 No 72-80 Batam Centre, sampai sekarang para karyawan masih setia menunggui aset-aset perusahaan. Penjagaan aset dilakukan secara bergiliran yang satu sipnya berjumlah 50 orang. Aktivitas dapur umum juga masih mereka lakukan.
Permintaan pengosongan pabrik dibenarkan Hariara P Panjaitan, salah satu tim likuidasi. Saat dikonfirmasi Tribun di tempat terpisah, Hariara mengatakan, pihaknya memang meminta karyawan mengosongkan pabrik dengan alasan kerja.
“Saya akan mulai kerja besok di pabrik. Kalau masih banyak karyawan bagaimana kami bisa bekerja dengan baik,”ujar Hariara yang bekerja bersama lima rekannya.
Sampai sekarang, lanjutnya, belum diketahui berapa besar aset PT Livatech yang bisa dijual karena audit belum dilakukan. Untuk menyelesaikan audit, Hariara menargetkan waktu secepatnya antara satu sampai tiga bulan.
“Setelah audit selesai saya akan laporkan ke pengadilan tentang status perusahaan. Apakah pailit atau tidak. Selesai itu saya akan melakukan penjualan aset. Dan pihak pertama yang harus dibayar adalah karyawan. Kalau nantinya perusahaan dinyatakan pailit maka pesangonnya adalah satu kali ketentuan,”ujar Hariara.
Pria asal Sumatera Utara itu juga mengakui, pihaknya tidak setuju usulan karyawan yang hendak mendaftarkan masalah ini ke PHI. Ia menginginkan masalah karyawan bisa diselesaikan antara kedua pihak saja, tanpa melibatkan PHI. (nix)

Minta Sumbangan di Perempatan Jalan
* Mantan Karyawan Livatech Unjuk Rasa

Batam, Tribun- Rasa apatis terhadap pemerintah, kini sedang menggelayuti 1305 mantan karyawan PT Livatech Elektronik Indonesia. Mereka merasa pemerintah tidak bisa memberikan memperjuangkan nasib buruh Livatech yang ditinggal hengkang pemiliknya, Goh Singhing alias Jackson Goh, seorang warga negara Malaysia mulai Februari 2007 lalu.
Alhasil, kemarin sekitar 150 orang mantan karyawan Livatech menggelar unjuk rasa. Kali ini tidak lagi dilakukan di depan Gedung Pemko Batam, OB, maupuan DPRD Batam. Melainkan, aksi tersebut dilakukan di perempatan lampu merah Mesjid Raya dan bundaran Otorita Batam.
Seraya berorasi dan membentang poster serta spanduk yang berisikan tuntutan, pendemo sekaligus membuka kotak amal. Beberapa diantaranya meminta sumbangan kepada pengguna jalan yang lewat.
Aksi dilakukan pagi hari sekitar pukul 07.00 sampai 10.00 WIB. Menurut Jhon Mauris selaku koordinator aksi sekaligus Ketua PUK Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) PT Livatech, aksi sengaja dilakukan jam tujuh pagi dengan tujuan, bisa bertemu dengan warga yang menggunakan jalan raya. Sehingga, masyarakat mengetahui bahwa nasip mereka masih terkatung-katung tanpa kejelasan.
“Kan sudah lama kami tidak melakukan aksi. Selama ini, kami menempuh jalan perundingan dengan pemerintah. Tapi hasilnya, pemerintah seakan tidak memperjuangkan nasip kami. Makanya sekarang kami menggelar aksi di perempatan jalan. Kami tidak lagi mengadukan nasib kepada pemerintah tetapi kepada masyarakat. Biar semua orang tahu, nasip kami belum jelas,”ujar Jhon.
Saat ini, perselisihan antara mantan karyawan Livatech dengan managemen sedang ditangani Pengadilan Hubungan Industri (PHI). Pada 28 Mei lalu, PHI telah mengeluarkan keputusan yang memenangkan gugatan mantan karyawan Livatech, dimana managemen harus membayar pesangon kepada karyawan sebesar dua kali ketentuan.
Namun, managemen tidak pernah memenuhinya. Kamis (19/7) kemarin, PHI yang berkantor di Tanjungpinang, telah mengeluarkan peringatan (almaning) pertama kepada managemen agar membayarkan pesangon.
“Sampai sekarang tidak ada kabar dari managemen. Kami sudah tidak berharap managemen akan membayar. Jalan satu-satunya untuk mendapatkan hak kami adalah dengan penjualan aset perusahaan,”terang Jhon.
PHI juga telah mengeluarkan surat sita untuk aset perusahaan, diantaranya 10 unit bangunan pabrik, 100-an unit televisi, 3 unit mobil, 13 unit mesin SMT berukuran besar, dan 3 unit mess di Taman Duta Mas.
Untuk penjualan aset, karyawan harus menunggu beberapa proses pengadilan lagi. Setelah PHI mengeluarkan almaning pertama, akan ada almaning kedua dan ketiga. Selanjutnya menunggu proses lelang.
Sekedar mengingatkan, pemilik PT Livatech yang notabene perusahaan penanaman modal asing (PMA) pergi meninggalkan Batam tanpa pamit pada awal Januari lalu. Alasannya, perusahaan telah mengalami penurunan order luar negeri yang mengakibatkan turunnya aktivitas kerja di pabrik.
Alhasil, seluruh karyawan kebingungan dengan nasib mereka karena pemilik perusahaan telah pergi dari Batam. (nix)

Gaji Livatech Tetap Dipotong Jamsostek
* Karyawan Bingung

Batam, Tribun- Sebanyak 1305 karyawan PT Livatech Elektronik Indonesia yang beralamat di Kara Industrial Estate Blok A nomor 72-80 Batam Centre, Rabu (21/2) lalu telah menerima gaji bulan terakhir sebesar 50 persen, seperti yang dijanjikan pemilik perusahaan, Goh Singhing alias Jackson Goh ketika menyatakan menutup perusahaan pada 15 Februari lalu.
Namun, ketika karyawan melihat slip gaji yang diberikan managemen, mereka tercengang. Sebab, dalam slip tersebut ternyata gaji masih dipotong iuran Jamsostek. Padahal sesuai dengan laporan yang pernah diungkapkan Kepala Cabang Jamsostek Batam Idrus 8 Februari lalu, sejak November lalu, managemen Livatech tidak lagi membayarkan iuran Jamsostek yang mereka potong dari karyawan.
Dengan adanya pemotongan pada gaji Februari ini, berarti managemen Livatech memiliki tambahan utang iuran Jamsostek sebanyak empat bulan. Perbulannya, managemen harus menyetorkan iuran Jamsostek karyawan sebesar Rp 145.598.000. Empat bulan menunggak, berarti utang managemen Livatech kepada Jamsostek sebesar Rp 582.392.000.
Dari data Jamsostek, jumlah karyawan Livatech yang terdaftar menjadi peserta Jamsostek bukanlah 1305 orang, melainkan 1398 orang dengan status permanen.
“Kami sangat bingung kok gaji kami masih dipotong iuran Jamsostek. Padahal kan managemen sudah gak bayar ke Jamsostek dari November lalu. Kami pun sudah tidak lagi mendapatkan layanan kesehatan,”kata seorang karyawan Livatech yang enggan disebutkan namanya sedikit bingung.
Wanita yang tinggal di Batuaji itu juga bingung dengan slip gaji yang diterimanya. Selain tertera potongan Jamsostek sebesar Rp 16.371, tertulis besaran Rp 854.872. Padahal gaji yang diterima di rekening Bank NISP-nya adalah setengah dari jumlah dalam slip tersebut.
Terkait pemotongan Jamsostek dan besaran gaji dalam slip, ketua PUK Livatech Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) Jhon Mauritz Silaban mengatakan, dirinya telah menanyakan kepada managemen Livatech yang masih mengurusi gaji karyawan.
“Menurut managemen yang masih ada di pabrik, pemotongan itu secara otomatis dari sistem komputer yang mencetak slip gaji. Begitu juga dengan besaran gaji full di slip. Kata managemen, meskipun di slip tertera gaji 100 persen, tetapi dihitung 50 persen. Dan 50 persen lagi masih hutang,”ujar Jhon yang ditemui Tribun di pabrik Livatech, Kamis (22/2).
Sementara itu, Rutmurni Pakpahan sebagai Asisten Manager Livatech yang bertugas membuat printout slip gaji, ketika ditemui Tribun di rumah kosnya, Kompleks Greeland, tidak bersedia memberikan keterangan.
Ia hanya berkomentar kalau pemotongan Jamsostek itu sesuai dengan perintah bosnya, Mr Goh. “Semua yang saya lakukan sesuai dengan perintah bos. Gak mungkin saya bertindak sendiri,”kata Rutmurni singkat.
Hari Ini Berunding Lagi
Perwakilan karyawan PT Livatech, hari ini akan berunding lagi dengan pemilik perusahaan Goh Singhing alias Jackson Goh. Rencananya mereka akan bertemu di Pelabuhan Internasional Harbour Front Singapura.
Beberapa poin yang hendak dibicarakan adalah kelanjutan pelunasan gaji yang masih 50 persen lagi, cara penyelesaian pesangon, dan yang tidak kalah penting karyawan akan mempertanyakan iuran Jamsostek yang tidak dibayarkan managemen dari bulan November 2006 lalu. Padahal uang tersebut sudah dipotong dari gaji karyawan.
Sampai kemarin, suasana pabrik PT Livatech di Kara Industrial Estate Batam Centre masih terlihat sama. Ratusan karyawan masih terlihat mengumpul di pabrik guna menjaga keamanan dan aset perusahaan.
Dapur umum juga masih tampak beroperasi. Sebuah tenda berukuran 30×30 tetap berdiri di depan pabrik. Di tenda itulah para karyawan biasanya menyantap hidangan dari dapur umum. (nix)

SPMI Tunda Demo

Berbeda dengan serikat pekerja lainnya, Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) Batam, memilih untuk menunda aksi demo memperingati Hari Buruh 1 Mei. Wakil Ketua SPMI Batam, Anto Sujanto mengatakan, penundaan demo karena pihaknya sedang disibukan dengan kegiatan musyawarah dan penyelesaikan masalah PT Livatech. Sehingga, aksi akan dilakukan apa minggu pertama Mei.
Namun demikian, SPMI akan tetap konsisten memperjuangkan nasib pekerja. Diantaranya, menyikapi lemahnya pengawasan yang dilakukan Dinas Tenaga Kerja Batam terhadap perusahaan asing yang bermodal kecil.
Akibatnya PMA banyak yang hengkang begitu saja dari Batam tanpa memiliki aset yang dapat dijaminkan untuk membayar gaji dan pesangon karyawan yang ditinggalkan. Contoh nyatanya adalah PT Livatech.
“Sekarang ini banyak investor kecil asal Singapura dan Malaysia yang tidak punya apa-apa membuka pabrik di Batam. Gedung dan mesin, semunya mereka sewa. Jadi begitu perusahaan kabur atau hengkang, tidak ada barang jaminan untuk membayar gaji dan pesangon karyawan,”kata Anto.
Hal lain yang menjadi perhatian SPMI adalah, kejelasan status para karyawan. Anto menilai, di Batam Undang-undang Tenaga Kerja salah penerapan. Terutama tentang outsourching dan kontrak.
Dalam Undang-undang tenaga kerja, ourtsourching bisa dilakukan perusahaan untuk bidang kerja yang tidak berkaitan langsung dengan produksi, seperti, keamanan dan bebersihan. Sementara operator atau tenaga lain yang berhubungan langsung dengan perusahaan tidak bisa di-outsourshing-kan.
“Selama ini operator pun outsourching. Ini sudah menyalahi aturan,”tambah Anto lagi. Satu hal lagi, lanjutnya, adalah ketentuan kontrak. Dalam undang-undang tenaga kerja, kontrak adalah untuk bidang kerja yang habis dikerjakan dalam masa tertentu, misalnya pembuatan satu produksi untuk dua tahun.
Sementara, untuk pekerjaan yang satu jenis dilakukan selama bertahun-tahun tidak dapat dilakukan secara kontrak. Yang terjadi di Batam, adalah semua pekerjaan di pabrik dilakukan secara kontrak oleh pekerja. Sehingga tidak mengherankan, sangat jarang pekerja kontrak dipermanenkan, karena kesalahan penerapan Undang-undang tersebut. (nix)

 

One response to “Kisah Perburuhan di Batam ; Studi Kasus PT Livatech

  1. hendra mahendra

    February 1, 2012 at 9:46 am

    GOOD…………. I LILE IT’S

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: