RSS

Author Archives: menixnews

About menixnews

Nama asli saya Sri Murni. Tapi saya lebih suka disapa Menix. Menix ini nama sapaan yang akrab sejak masa kuliah. Nama ini diberikan oleh seorang teman baik dan melekatlah nama itu sampai sekarang. Bahkan orang lebih kenal nama Menix ketimbang Sri Murni. Saya hanya gunakan nama asli ketika diperlukan saja. Bukannya tidak menghargai orang tua yang memberikannya, tapi hanya sekedar keasyikan punya nama lain. Saat ini saya sudah memiliki suami dan satu putri berusia 1 tahun. Aktivitas sekarang kuliah di ANU (Master of Art International Relation) dan giat di aktivitas sosial di Canberra.

Refleksi Perjalanan Tiga Benua: Australia, Asia, dan Eropa

The Venezia

In a biggest bridge of Venezia

Berebut Bagasi di Landasan Bandara Canberra-Australia

Perjalanan dari Indonesia-Australia-China-Rusia-dan ke berbagai negara Eropa membawa cerita menarik dari banyak sisi, mulai dari pengalaman terbang, kehidupan di kampus, kehidupan sehari-hari, sampai benturan budaya. Semua cerita menarik selama perjalanan dan kehidupan saya di Australia dan Eropa akan dipaparkan dalam tulisan bersambung ini.

Kesempatan saya berpergian ke luar negeri (Australia dan Eropa) kali ini bukan karena pekerjaan saya sebagai wartawan Tribun, melainkan untuk menambah ilmu dengan melanjutkan pendidikan S2 dengan jurusan Master of Art International Relation (MAIR) di The Australian National University (ANU yang menjadi universitas milik negara Australia. Saya berkesempatan kuliah ke luar negeri setelah lulus seleksi beasiswa dari The Institute of International Education (IIE), sebuah yayasan pemberi beasiswa dari Amerika Serikat yang dimotori oleh Ford Foundation. Ford Foundation sendiri dicikalbalaki oleh perusahaan mobil terbesar Amerika Geral Ford.

Jakarta-Canberra merupakan penerbangan internasional pertama saya selama 30 tahun saya hidup. Ini terjadi pada 23 Maret 2011 lalu. Dari Jakarta saya berangkat dengan pesawat Garuda Indonesia pukul 22.05 WIB. Alhamdulillah pesawat ini terbang sesuai jadwal. GA 712 yang saya tumpangi menggunakan pesawat berbadan besar yakni Airbuss 330 yang muatannya sekitar 200-an orang dengan posisi tempat duduknya 2-4-2, maksudnya, cabin dibagi tiga bagian. Di sisi kiri dan kanan terdapat dua seat, sementara di bagian tengah 4 seat.

Saran saya, jika ingin terbang dengan santai dan apabila pesawat tidak penuh, mintalah tempat duduk di bagian tengah karena Anda akan bisa tidur dengan merentangkan kaki di 4 kursi di bagian tersebut. Sayangnya, saya sendiri ketika berangkat meminta duduk di sisi kanan dan dekat jendela, dengan asumsi agar bisa melihat keluar. Ternyata saya salah karena selama terbang tidak ada matahari alias malam.

Untuk penerbangan internasional, layanan Garuda sangat menyenangkan dan tidak membosankan karena setiap tempat duduk telah dilengkapi fasilitas hiburan seperti monitor di depan setiap tempat duduk . Dengan fasilitas ini Anda bisa main game, nonton film-film terbaru baik Hollywood, bollywood, maupun produksi Indonesia. Banyak genre yang disediakan, mulai dari komedi, horor, romantis, drama keluarga, sampai action. TIdak ketinggalan tontonan untuk anak-anak. Jika tidak ingin melihat tayangan video, Anda bisa sekedar mendengarkan musik atau membaca majalah.

Pesawat dari Jakarta tidak langsung ke ibukota Australia melainkan harus berhenti di Sydney. Australia memang memiliki kebijakan penerbangan dimana pesawat dari luar Australia tidak akan diizinkan langsung mendarat di ibukota melainkan harus berhenti di kota-kota lain di Australia seperti Sydney, Melbourne, Pert, dan lainnya. Dari bandara di kota-kota tersebut, kemudian dilanjutkan dengan pesawat lain ke Canberra.

Dari Jakarta ke Sydney memakan waktu sekitar 6 jam 10 menit. Jika berangkat dari Jakarta pukul 22.00 maka akan tiba di Sydney sekitar pukul 04.00 WIB. Namun begitu mendarat di Bandara Kingsport Smith Sydney, Anda akan mendapati matahari sudah tinggi karena waktu setempat menunjukan pukul 08.15. Perbedaan waktu antara Jakarta dan Sydney sekitar empat jam saat musim panas dana tiga jam saat musim dingin. Sebelum mendarat, Anda akan mendapatkan sarapan pagi dari Garuda. Untuk kelas ekonomi seperti yang pernah saya alami, menunya hanya terbagi dua yakni western (daging dan kentang) dan Indonesia (nasi goring). Setelah sarapan, Anda akan dibagikan holder card, semacam kartu masuk Australia yang berisi tentang diri Anda dan barang bawaan. Kartu ini harus Anda isi sebelum pesawat mendarat agar tidak repot saat urusan pemeriksaan barang.

Jangan Bawa Cairan ke Kabin

Perlu diingat, untuk barang bawaan di dalam pesawat, jangan membawa cairan apapun yang isinya lebih dari 100 ml. Jika ada obat-obatan, lengkapilah dengan resep dokter. Sebaiknya barang cairan, makanan olahan (rendang, sayur, dll), buah, obat-obatan, diletakan di bagasi. Jika dibawa ke kabin, urusannya bisa repot. Termasuk jangan membawa air minum baik mineral maupun bentuk lainnya karena petugas bandara akan meminta Anda meminum minuman tersebut sampai habis atau meninggalkannya di konter pemeriksaan. Jangan khawatir takut haus atau lapar karena selama penerbangan, Garuda akan memberikan makanan dan minuman yang cukup untuk penumpangnya.

Begitu mendarat di Kingsport Smith Airport,  harus memasang mata ke segala penjuru untuk membaca petunjuk arah atau bisa pula langsung mengikuti penumpang lain untuk pengecekan imigrasi. Semua petunjuk terpampang di dinding, lantai dan plafon. Selama proses pemeriksaan imigrasi, tunjukanlah paspor dan holder card. Setelah urusan imigrasi selesai, Anda akan langsung menuju tempat pengambilan bagasi yang letakkya tepat di belakang counter imigrasi.

Nah Holder card akan diminta oleh petugas pemeriksaan barang. Jangan kaget jika koper dan tas Anda dibongkar untuk dilakukan pemeriksaan. Santai saja karena itu hal biasa. Asalkan Anda tidak membawa barang-barang yang dilarang, semuanya akan aman. Saya sarankan, untuk barang-barang yang sangat pribadi seperti pembalut dan pakaian dalam, sebaiknya dibungkus dalam kantong hitam. Sehingga ketika koper dibongkar petugas, benda-benda itu tidak berserakan.

Jangan Harap Ada Potter

Bandara di Australia tidak menyediakan jasa potter seperti di bandara-bandara Indonesia. Anda diharuskan mandiri mengangkat barang bawaan meskipun itu sangat berat. Yang tersedia hanyalah troli. Jika memang Anda tidak kuat mengangkat koper, mungkin bisa meminta tolong penumpang lain untuk memabntu.

Jika urusan barang bawaan tidak bermasalah, langsung saja menuju konter transit domestik untuk melanjutkan penerbangan ke Canberra. Biasanya dari Sydney ke Canberra menggunakan pesawat Qantas. Meskipun counter check in domestik Qantas masih satu gedung, tapi jaraknya lumayan jauh. Bersiap-siaplah untuk bercapek-capek membawa barang .

Jika pesawat dari Jakarta Anda mengalami penundaan  dan sampai di Sydney pesawat ke Canberra Anda sudah terbang, jangan panik. Tetap lapor ke counter check in domestik karena mereka akan memberikan penerbangan berikutnya tanpa dikenakan biaya apapun.

 

Sulitnya Menjangkau Pegangan

Setelah urusan check in domestik beres, Anda akan diantar ke terminal penerbangan domestik menggunakan bus. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 1 km. Untuk orang-orang yang tinggi badannya pas-pasan seperti saya (sekitar 150 cm) baiknya cepat-cepat masuk ke dalam bus agar kebagian tempat duduk. Jika tidak, Anda akan berdiri. Anda akan merasa sedih dan kesulitan mencari pegangan, karena pegangan tangan yang biasanya tergantung di plafon bus, ternyata tidak terjangkau. Tingginya sekitar 170 cm. Jadi bisa dibayangkan, sulitnya mencari pegangan di dalam bus jika posisi berdiri.

Saya sendiri memang tidak mendapat tempat duduk di dalam bus dan harus berdiri. Waduh…berkali-kali saya hampir terjatuh. Mau tidak mau saya pegang saja penumpang lain yang duduk di kursi di depan saya. Ya tentu saja dengan mengucapkan “sorry”. Untung saja ada seorang nenek yang duduk di depan saya dan merelakan tas tanggannya saya jadikan pegangan.

Penerbangan dari bandara Sydney ke Canberra memakan waktu sekitar 1,5 jam. Pesawat domestik Australia ternyata tidak jauh beda dengan Indonesia. Qantas yang saya tumpangi  berjenis pesawat boeing 737-400 dan ketika landing di Canberra, tetap saja seisi pesawat bergoyang-goyang. Plafon dan dinding pesawatnya juga sudah kendor sehingga berbunyi seperti terkena gempa.

Ada satu hal yang cukup membuat saya heran ketika pesawat mendarat dan para penumpang mulai turun. Ternyata bagasi bisa diambil di landasan pesawat dan tidak harus di dalam gedung (tempat pengambilan bagasi). Saya melihat para penumpang berlari-lari dari tangga pesawat menuju mobil pembawa bagasi untuk berebut mengambil koper dan barang lainnya. Karena koper saya berat, ya saya tunggu saja bagasi di baggage claim.

Menjelajah Canberra Lewat Freecycle

MENGENAL medan pertempuran adalah hal wajib dalam peperangan. Begitu juga selaku pendatang baru di Canberra. Sebagai mahasiswa tentu saja hal pertama yang harus dilakukan adalah menjelajah setiap sudut kampus termasuk tempat-tempat strategis untuk kongko dan berdiskusi bersama teman dan profesor. Penjelajahan kampus bukanlah perkarah sulit. Dalam waktu dua hari semua sudut kampus ANU yang luasnya hampir sama dengan Kawasan Industri Batamindo bisa terselesaikan dengan berjalan kaki. Sementara untuk menjelajah Canberra, diperlukan waktu yang cukup panjang dan saya lakukan secara bertahap.

Sebagai mahasiswa, ada dua pilihan cara murah dan mudah berkeliling Canberra yakni dengan bersepeda atau menumpang bus umum. Saya memilih alternatif kedua karena selain menghemat tenaga,  juga akan jauh lebih cepat.

Dibandingkan dengan ibukota negara-negara lain, Jakarta misalnya, Canberra memang bukan ibukota biasa. Pembangunan belum banyak dilakukan dan kota ini masih terlihat sepi dan kosong. Jangan bermimpi melihat gedung pencakar langit disana karena Anda tidak akan menemukannya.

Pandangan subjektif saya ketika kali pertama melihat Canberra, saya mengatakan “welcome to the jungle”. Dibandingkan dengan Batam saja, Canberra tidak ada apa-apanya dari sisi jumlah penduduk, jumlah mall, jumlah hotel berbintang, dan tingkat keramaian. Penduduk Canberra tidak sampai 500 ribu orang. Gedung yang tampak tinggi dan “megah” hanyalah kantor legislatif dan perdana menteri. Sementara bangunan pusat perbelanjaan dan hotel tampak biasa dan jumlahnya pun sangat terbatas.

Tidak mengherankan jika Canberra bukanlah ibukota yang populer di dunia. Bahkan banyak orang beranggapan ibukota Australia adalah Sydney atau Melbourne. Dibandingkan kedua kota tersebut, Canberra sangat jauh tertinggal terutama dalam hal fasilitas transportasi. Di Sydney dan Melbourne terdapat tiga jenis fasitas transportasi umum yakni kereta cepat bawah tanah (sub way), mono real, tram, dan bus. Sementara di Canberra yang ada hanyalah bus umum.

Bahkan ketika saya di Oslo, Norwegia, sempat menonton satu acara kuis yang ditayangan televisi  berjudul “Are you Smarter than 5 Grader” pada 1 November tahun lalu. Dalam acara kuis yang diproduksi Amerika Serikat dan hampir mirip dengan Who wants to be a milliner tersebut si pembawa acara bertanya kepada seorang kontestan yang berprofesi sebagai guru salah satu sekolah di Amerika. Pertanyaannya adalah “Caberra sebagai ibukota negara mana?” Si guru sempat terdiam lama, padahal saat itu posisinya sudah berada di jumlah hadiah sebesar 100.000 dolar Amerika. Akhirnya si guru menjawab, “Mungkin Uzbekistan”. Kontan saja dia gagal dan hadiah 100.000 dolar Amerika pun melayang.

Sabtu-Minggu yang Sangat Lengang

Kota ini akan tampak sangat lengang pada hari Sabtu dan Minggu. Selain banyak took-toko yang tutup, masyarakat Canberra lebih suka menghabiskan akhir pekan mereka di rumah bersama keluarga. Sementara untuk mahasiswa, sebagian memilih berwisata ke Sydney atau Melbourne dan sebagian lagi juga terpaksa berdiam diri di rumah atau bersepeda. Alasannya, bus umum hanya beroperasi satu kali dalam satu jam mulai pukul delapan pagi hingga pukul enam sore. Jika ingin menaiki bus umum ini, jangan anggap remeh dengan jadwal bus. Jika Anda telat hanya beberapa detik saja, Anda harus menunggu bus berikutnya karena si supir bus tidak akan membukakan pintu untuk Anda meskipun Anda sudah berada di depannya tetapi terlambat.

Kejadian seperti ini  sempat saya alami beberapa kali. Yang paling menyedihkan, saat beberapa kali saya melihat nenek-nenek dan kakek-kakek yang berjalan pun menggunakan alat bantu, terpaksa harus kecewa karena pintu bus telah terutup saat ia ingin masuk. Supir-supir bus yang memiliki toleransi tinggi kemungkinan akan membukakan pintu bagi penumpang yang terlambat, namun kebanyakan supir tidak akan menghiraukan dan berlalu begitu saja.

Saat melakukan penjelajahan kota Canberra, saya tidak ingin sebuah perjalanan yang tanpa hasil. Seorang teman memberitahu bahwa masyarakat Canberra memiliki sebuah milis perukaran barang dengan nama freecycle. Milis ini didirikan sebagai wadah bagi penduduk Canberra baik lokal maupun pendatang untuk member dan meminta barang-barang yang dibutuhkan. Melalui milis ini, masyarakat yang memiliki barang tidak digunakan lagi dan masih layak pakai, bisa mempromosikannya lewat milis ini, sehingga anggota milis lainnya yang kebetulan membutuhkan barang tersebut bisa memilikinya dengan cuma-cuma.  Begitu juga sebaliknya, jika ada anggota milis yang membutuhkan sesuatu, tinggal memberitahu ke milis. Jika anggota milis yang memiliki barang tersebut, bisa memberikannya secara cuma-cuma.

Barang yang dipertukarkan sangat beragam dan banyak yang berkualitas tinggi bahkan masih baru. Bagi mahasiswa seperti saya, milis ini sangat membantu terutama jika saya membutuhkan buku-buku kuliah maupun buku umum. Sementara teman-teman dari Indonesia lainnya, sangat terbantu karena bisa mendapatkan sofa, spring bed, perlengkapan dapur, printer, bahkan computer dan laptop gratis. Memberi gratis merupakan perjanjian yang harus dipegang teguh semuang anggota milis ini karena sangat diharamkan berdagang lewat milis ini.

Biasanya, si pemberi barang akan meminta si peminat mengambil sendiri barang tersebut di rumahnya. Ada juga pemberi barang yag tidak keberatan mengantar ke rumah si peminta. Seorang teman dari Jakarta yang juga sedang belajar di Canberra pernah mendapatkan hibah televisi flat 32 inc yang masih baru dan diantarkan langsung oleh pemberinya. Si pemberi mengatakan, ia salah membeli jenis televisi dan tidak ingin TV itu ada di rumahnya.  Saya sendiri lebih memilih mengambil sendiri barang tersebut karena saya ingin menjelajahi sudut-sudut Canberra. Menurut saya, ini adalah strategi yang cukup jitu karena penjelajahan saya member manfaat ganda.

Bagi masyarakat Canberra, memberikan barang yang sudah tidak terpakai lewat freecycle adalah cara termudah ketimbang memberikannya ke Salvation Army (Salvos), sebuah yayasan penerima barang-barang bekas untuk dijual kembali yang dananya digunakan untuk kegiatan social. Sebab, mereka tidak perlu meluangkan waktu dan biaya untuk pengantaran.

Friday Night dan Shopping Day

Jika di Indonesia sangat terkenal istilah “Malam Minggu” atau Sabtu malam sebagai malam anak muda, dimana mala mini selalu dijadikan momen bagi kaum muda untuk ngapel atau pacaran dan jalan-jalan, di Australia momen ini berlangsung pada Jumat malam atau Friday Night. Hari Jumat menjadi hari berhura-hura khususnya setelah jam kantor berakhir hingga Sabtu dini hari. Kebanyakan anak muda Canberra selaku menghabiskan Jumat malam ini dengan bersantai di café atau mabuk-mabukan di bar dan diskotik.

Hari Jumat juga menjadi hari belanja (shopping day). Karena banyak toko yang tutup saat akhir pekan (Sabtu dan Minggu), maka mayoritas warga Canberra menghabiskan waktu berbelanjanya pada hari Jumat. Sudah menjadi kelaziman jika mereka berbelanja satu kali dalam sepekan. Mungkin karena rutinitas harian yang begitu sibuk untuk bekerja, maka mereka sangat jarang berbelanja pada hari kerja (Senin-Jumat).

Pusat-pusat perbelanjaan pun selalu menawarkan diskon besar saat hari Jumat, terutama toko-toko yang menjual sayuran, buah, ikan, dan daging. Karena Sabtu dan Minggu toko-toko tersebut tutup, maka mereka pun ingin menghabiskan barang dagangan yang sifatnya mudah busuk.

Meskipun Sabtu dan Minggu menjadi hari libur, bukan berarti tidak ada toko yang buka. Jika ingin mencari kebutuhan harian seperti sayur, buah, dan daging, bisa mengunjungi pasar segar (fresh market) yang memang kebanyakan dibuka pada hari Sabtu dan Minggu. Pasar ini terkenal juga dengan nama pasar petani (farmer market) karena yang berjualan di pasar ini mayoritas adalah petani yang langsung memasarkan hasil pertaniannya. Produk yang dijual tentu saja lebih segar dibanding supermarket atau toko. Soal harga, relatif murah tergantung dari kualitas barang.

Cuti Melahirkan Sampai 18 Bulan

 

SETELAH sekitar lima bulan mengikuti pendidikan pra perkuliahan di ANU (Maret-Agustus 2011), saya diharuskan kuliah satu semester di Oslo, Norwegia. Ini berarti, saya harus pindah selama kurang lebih enam bulan ke Eropa. Banyak hal menakjubkan selama satu semester kuliah dan hidup di Oslo.

OSLO, ibukota Norwegia hampir setiap tahun menduduki posisi sebagai kota termahal di dunia dan seolah-olah berlomba dengan Tokyo yang juga kerap disebut-sebut sebagai kota termahal. Sementara Norwegia, adalah negara termakmur di dunia versi UNDP (United Nation Development Bank) 2011 lalu dengan tingkat kesejahteraan, kesehatan, dan pendidikan yang terbaik.

Saat kali pertama menginjakan kaki di Oslo, sekitar pertengahan Agustus 2011 lalu, tidak ada yang begitu istimewa dari arsitektur kotanya. Bila dibandingkan dengan kota-kota besar yang ada di Eropa seperti Paris, Roma, Barcelona, Milan, dan Madrid, Oslo tidaklah sebanding dengan mereka, baik dari tata bangunan, jumlah penduduk, dan tingkat keramaian. Pendapat subjektif saya, Oslo itu ibarat “desanya benua Eropa”.

Meskipun dari sisi tata kota dan penduduk Oslo (Norwegia pada umumnya) kalah dengan negara-negara besar lain di Eropa, tapi dari tingkat kesejahteraan, negeri sosialis ini memang paling tinggi. Beberapa hal yang membuat saya tercengang melihat kebijakan pemerintah Norwegia adalah tentang kesetaraan gender dan tunjangan hidup bagi rakyatnya baik warga lokal maupun pendatang.

Untuk kesetaraan gender, Norwegia “mewajibkan” peran yang equal bagi wanita dan pria dalam pengurusan anak. Sehingga, seorang ayah yang bekerja di Norwegia akan mendapatkan hak cuti mengurus anak yang dikenal dengan papa permission selama 13 minggu atau 3 bulan lebih dalam satu tahun. Selama cuti ini, hak ayah sebagai pekerja (gaji dan tunjangan) tidak boleh dipotong alias harus dibayar penuh.

Sementara bagi seorang ibu pekerja yang melahirkan, dapat mengajukan hak cuti selama maksimal 18 bulan (1,5 tahun) dengan gaji dibayarkan 80 persen. Namun jika si ibu hanya memilih mengambil cuti melahirkan berkisar delapan sampai 10 bulan, gaji dan tunjangan harus dibayarkan penuh setiap bulan oleh perusahaan. Kebijakan ini berlaku untuk semua warga baik lokal maupun pendatang yang bekerja di Norwegia.

Seorang warga negara Indonesia, Dimas, yang sudah tinggal dan bekerja bersama keluarganya selama lebih dari lima tahun di Oslo menceritakan, karena adanya hak cuti melahirkan yang begitu panjang, saat sang istri yang juga bekerja di Oslo hendak melahirkan, ia memilih memboyong istri dan anaknya kembali sementara ke Indonesia.

“Persalinan anak kedua kami dilakukan di Indonesia. Selain banyak yang membantu istri mengurus anak, juga lebih ekonomis karena disini (Oslo) gajinya tetap jalan,”ujar Dimas beberapa waktu lalu.

Namun demikian, kebijakan papa permission  yang baru diterapkan beberapa tahun terakhir ini, kini menghadapi kendala. Banyak pekerja yang menyalahgunakan cuti papa permission . Mereka tidak manfaatkannya untuk mengurus anak melainkan untuk hura-hura. Biasanya, saat jadwal mengurus anak tiba, si anak dititipkan kepada kakek-neneknya sementara si ayah pergi berburu, memancing, atau kegiatan lainnya. Menyikapi fenomena ini, pemerintah Norwegia sedang menggodok sebuah sanksi denda bagi seorang ayah yang tidak menggunakan papa permission secara benar.

Setiap Anak dapat Tunjangan

Terkait kesejahteraan si anak, pemerintah Norwegia memberikan tunjangan yang cukup lumayan. Untuk satu anak yang berumur 0-3 tahun, setiap bulannya diberikan tunjangan sekitar 2000 krone (mata uang Norwegia) atau sekitar 3 juta rupiah (kurs Rp 1.500/krone). Sementara untuk anak usia di atas tiga tahun, tunjangan diturunkan menjadi sekitar Rp 2 juta per bulan dengan catatan sekolah si anak gratis alias ditanggung pemerintah.

Besarnya tunjangan juga sangat tergantung dari status dan tingkat pendapatan orang tua. Jika si orang tua masih berstatus pelajar dan bekerja dengan penghasilan yang rendah, maka tunjangan si anak akan semakin besar. Untuk mengetahui besaran tunjangan anak, setiap warga bisa mengakses informasi tersebut lewat situs khusus yang disediakan pemerintah dengan menggunakan nomor penduduk Norwegia (Norwegian ID number). Norwegian ID number ini diberikan kepada penduduk lokal dan pendatang yang tinggal di Norwegia lebih dari tiga bulan. Lewat situs pemerintah tersebut, semua informasi termasuk penghitungan pajak dan tunjangan bisa dilihat per individu.

Pajak Penghasilan Sampai 45 Persen

Tingkat kesejahteraan yang diberikan pemerintah Norwegia ini sebanding dengan tingginya pajak penghasilan dari warganya yang besaran maksimalnya 45 persen dari gaji. Besarnya pajak tersebut sangat tergantung dari jenis pekerjaan. Dibandingkan dengan Indonesia, pajak penghasilan di Norwegia yang sangat tinggi. Namun dibandingkan dengan Denmark, pajak penghasilan di Norwegia belum seberapa karena di Denmark pajak tersebut bisa mencapai 65 persen.

“Kami orang Denmark tidak keberatan untuk membayar pajak sampai 65 persen karena uangnya untuk pendidikan yang gratis, fasiltias umum yang baik, dan kesehatan yang juga gratis,”kata Yorgan, warga negara Denmark yang bekerja sebagai manager apartemen dimana saya tinggal.

Terkait tunjangan kesejahteraan, tidak sedikit pendatang yang memanfaatkan dengan cara tidak bijak. Saya katakana tidak bijak karena banyak imigran yang memanfaatkan tunjangan anak sebagai pendapatan keluarga. Mereka sengaja memiliki lebih dari satu atau dua anak agar mendapatkan lebih banyak tunjangan sementara orang tua malas bekerja. Sementara orang Norwegia sendiri, bisa dikatakan memiliki program satu atau dua anak cukup.

Lebih parahnya lagi, tidak sedikit imigran yang memanfaatkan tunjangan status janda. Modusnya, banyak pasangan imigran yang menikah tetapi memilih cerai secara hokum agar si wanita berstatus janda dan mendapatkan tunjangan. Padahal sesungguhnya si pasangan tersebut tidak cerai bahkan tetap hidup bersama. Secara acak, petugas  pemerintah kerap melakukan inspeksi ke rumah-rumah pasangan yang becerai tersebut. Jika didapati ternyata si istri dan suami tetap tinggal bersama, maka keduanya akan diberikan sanksi. Seorang teman dari Iran yang memiliki paman bertingkah seperti itu menceritakan, biasanya jika ada inspeksi, maka si suami cepat-cepat kabur dari rumah agar tidak sampai ketahuan.

Perilaku negatif imigran tersebut sudah lama menjadi permasalahan di Norwegia dan mengancam kedamaian hidup disana. Banyak warga lokal yang menentang pemberian tunjangan kepada imigran dan pendatang. Mereka beranggapan, penduduk lokal yang mayoritas adalah pekerja keras harus membayar pajak tinggi sementara yang menikmati pajak tersebut adalah orang-orang yang malas bekerja dan memanfaatkan tunjangan sewena-wena.

Sewa Kamar Rp 7 Juta Sebulan

Terkenal sebagai kota termahal, bagi mahasiswa yang hidup di Oslo harus benar-benar mengikat pinggang. Apalagi  jika hidup hanya bergantung pada beasiswa. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah masak sendiri untuk makan sehari-hari. Dengan cara ini, tentu saja biaya makan bisa ditekan dan kecukupan gizi bisa tetap terjaga.

Menurut saja, makan adalah satu-satunya item biaya hidup yang masih bisa dikompromikan di Oslo. Sementara untuk sewa kamar dan transportasi sudah sangat standar. Satu kamar kecil di apartemen sewa paling murah sekitar Rp 7 juta per bulan sudah termasuk listrik, air, dan internet. Jenis kamar sangat bervariasi, ada yang full furnished dan ada pula yang kamar kosong (tidak ada tempat tidur dan perlengkapan lainnya).

Sementara untuk biaya transportasi dalam kota perbulannya sekitar 700 ribu untuk mahasiswa dan Rp 1,1 juta untuk umum. Dengan membayar biaya transportasi bulanan, kita bisa menumpang semua jenis kendaraan umum yang ada seperti tram, subway, dan bus kapanpun.

Akibat Krismon, Akropolis pun Terlantar di Athena

HAMPIR satu semester hidup di Oslo, tidak lengkap rasanya jika tidak bertandang ke beberapa negara Eropa lain. Dengan anggaran yang sangat terbatas yang saya miliki (hanya sekitar 750 dolar AS atau sekitar Rp 7 juta), saya pun nekat menjelajah Paris-Prancis, Berlin-Jerman, Barcelona-Spanyol, Milan-Italia, Athena-Yunani, Venesia, Commo, Roma, Vatikan (Italia), dan Amsterdam-Belanda.

Untuk bisa mengelilingi kota-kota besar Eropa tersebut, menggunakan pesawat adalah cara paling mudah dan murah. Asalkan pemesanan tiket pesawat dilakukan sekitar tiga bulan sebelum keberangkatan, kita bisa mendapatkan tiket promo. Anggaran Rp 7 juta yang saya miliki ternyata mencukupi untuk membayar tiket pesawat, transpotasi dalam kota (kerata api dan bus), hostel, dan makan sehari-hari.

Untuk tiket pesawat, ada dua maskapai penerbangan Eropa yang sangat terkenal dengan tarif murahnya (low price carrier) yakni Ryan Air dan Easy Jet. Dua maskapai ini menawarkan harga tiket satu kali penerbangan dari satu kota ke kota lain Eropa hanya berkisar 25 Euro atau sekitar Rp 300 ribu. Sementara maskapai lain, harganya bisa tiga atau empat kali lipat. Persyaratan utama maskapai murah ini adalah, tidak boleh membawa barang kabin lebih dari 10 kg. Jika lebih, maka harga per kilonya akan dihitung jauh lebih mahal ketimbang harga tiket yakni 50 euro. Hal lain yang harus diingin, penumpang harus melakukan online check in via internet dan mencetak sendiri bukti boarding pass. Semua layanan tersebut tersedia di web site si maskapai. Jika sampai di Bandara si penumpang belum melakukan online check in, maka diwajibkan check in di konter maskapai dengan membayar denda 50 euro.

Satu syarat utama lainnya adalah kepemilikan visa schengen yakni visa yang dikeluarkan salah satu negara Eropa yang bisa digunakan untuk berpergian ke seluruh negara-negara Eropa lainnya terkecuali Inggris dan Irlandia. Para pemegang visa schengen, jika hendak berpergian ke Inggris dan Irlandia diwajibkan mengurus visa tambahan untuk kedua negara tersebut di kedutaan atau konsulat jendral dimana mereka tinggal.  Jika telah memiliki visa schengen, Anda tidak akan dipersulit di setiap bandara sebab Anda tidak perlu melewati pemeriksaan imigrasi. Paspor Anda pun tidak ada distempel imigrasi melainkan hanya diperlihatkan kepada petugas maskapai saat proses boarding pass.

Dari sekian banyak kota-kota Eropa yang saya kunjungi pada Desembera 2011 lalu, Athena-Yunani menyisahkan pengalaman yang paling mengesankan. Selain peninggalan sejarahnya yang luar biasa (kuil-kuil dewa Athena dan Acropolis kota tertua di Eropa dan merupakan pusat peradaban Eropaa), juga karakter masyarakatnya yang lebih ramah ketimbang warna negara lain di Eropa. Hanya saja, akibat krisis ekonomi yang melanda Yunani yang mengakibatkan pemerintah Yunani bangkrut berdampak pada beberapa situs sejarah di Athena, termasuk Acropolis yang terlihat terlantar.

Tidak hanya penghentian proyek-proyek pembangunan situs yang dihentikan, bahkan anggaran kebersihan di situs-situs sejarah pun dikurangi. Tidak mengherankan saat saya berkunjung ke kuil Dewa Zeus, Acropolis, istana kuno Agora, kuil Agora, istana Roman Agora, dan situs sejarah lainnya, tampak tidak begitu terawat. Rumput-rumput mulai tinggi dan areal situs-situs tersebut. Bahkan saat berjalan, saya harus berhati-hati karena banyaknya kotoran anjing di areal tersebut. Beberapa penjaga pintu masuk situs mengatakan, sudah hampir satu tahun terakhir ini perawatan situs-situs bersejarah di Athena tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya. Krisis ekonomi, selain mengakibatkan pemotongan anggaran, juga menyebabkan turunnya jumlah wisatawan. Meskipun mereka tidak menyebutkan angka pasti penurunan jumlah wisatawan, secara kasat mata saya bisa melihat sepinya tamu yang dating ke tempat-tempat bersejarah tersebut. Bahkan di saat saya berada di Acropolis, jumlah wisatawan yang berada disana hanya sekitar 20-an orang. Padahal hari itu adalah akhir pekan.

Acropolis merupakan kota kuno di atas bukit dengan ketinggian 156 meter di atas permukaan laut yang dibangun 1300 sebelum masehi. Disinilah dipercaya sebagai pusat peribadatan Dewa dan Dewi Yunani termasuk tempatnya Parthenon, sebuah kuil persembayangan Dewi Athena setinggi 12 meter yang terbuat dari emas.

Mesjid yang masih Kokoh

Di antara reruntuhan kuil-kuil Dewa Athena dan situs-situs sejarah di kota Zeus ini, masih tersisa sebuah mesjid yang tetap berdiri kokoh. Namanya mesjid Tzidaraki atau Mesjid Fethiye yang terletak satu areal dengan situs Istana Roman Agora. Mesjid yang berkuran sekitar 8×8 meter ini, sudah sangat lama tidak pernah digunakan. Ada dua versi tentang waktu pembangunan mesjid yakni sebagian peneliti mengatakan bahwa mesjid dibangun pada masa kerjaan Konstantinopel Turki tepatnya pada tahun 1458 ketika Raja Mohammed II berkunjung ke Athena. Penelitian lainnya menyebutkan bahwa mesjid ini dibangun pada abad ke-17 oleh kerajaan Ottoman Turki. Masyarakat Athena mengenal mesjid ini sebagai Mesjid Pasar Gandum karena dulu di lokasi mesjid ini memang berdekatan dengan pasar.

Di dekat pintu masuk mesjid, masih terdapat tiga buah kendi besar tempat penampungan air untuk berwudhu. Hanya saja, saat ini kondisinya sudah tidak sempura dan tidak dapat digunakan lagi. Pintu mesjid ini senantiasa tertutup karena tidak difungsikan lagi. Menurut sejarah, mesjid tidak difungsikan lagi sejak mulai runtuhnya kerajaan Ottoman Turki pada  1824 dan mesjid mulai digunakan untuk rumah tahanan. Bahkan mesjid juga sempat digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata militer.

Venesia, Kota Teromantis di Dunia

AGENDA keliling Eropo belum lengkap rasanya jika belum bertandang ke Italia, terutama mengunjungi kota-kota termasyur dimana objek wisata utama dunia bernaung, seperti Collesium dan Vatikan di Roma, gondola di Venesia, Danau Commo di Commo, Menara Miring Pisa di Pisa dan Kathedral Gothik di Milan. Semua kota-kota tersebut saya kunjungi dalam waktu sekitar dua pekan.

Saat menginjakkan kaki saya ke Milan, kota pertama Italia yang saya kunjungi, ada hal yang agak mengejutkan saya alami yakni tentang keramah-tamahan petugas transportasi dan polisi baik di bandara, terminal bus, maupun stasiun kereta api. Ternyata para petugas di Italia tidak seramah  kota-kota di Eropa yang sudah saya kunjungi sebelumnya seperti Berlin, Barcelona, Paris, Amsterdam, maupun Athena.

Mayoritas petugas transportasi dan polisi di Italia tidak dapat dan tidak mau berbahasa Inggris. Sehingga, bagi pengunjung yang tidak mengerti bahasa Italia seperti saya, sangat kesulitan berkomunikasi. Para petugas pun tidak begitu ramah kepada pengunjung yang tidak berbahasa Italia. Alhasil, saya mengalami miss komunikasi dengan mereka. Satu hal lagi, di kota-kota Italia sangat sedikit terdapat pusat informasi turis. Pemerintah Italia juga tidak menyediakan peta kota dan peta objek wisata secara gratis. Dengan kata lain, pengunjung harus membeli sendiri peta kota dan peta objek wisata, padahal di kota-kota lain Eropa, pemberian peta wisata secara gratis menjadi standar pelayanan pemerintah setempat.

Meskipun para petugas tidak ramah bahkan acap kali tidak memberikan senyum saat melayani, namun Italia tetap menjadi negara dengan pesona objek wisata yang mengagumkan. Vatikan city misalnya, memiliki artitektur yang sangat apik dengan desain katedral utama Vatikan yang megah. Saya sendiri berkesempatan menyaksikan perayaan Natal di Pusat keuskupan Katolik ini pada 25 Desember 2011 lalu. Untuk mendengarkan khotbah Paus Benediktus XVI, ribuan pengunjung dari seluruh penjuru dunia rela bermalam di Vatikan. Vatikan merupakan negara khusus dalam kota Roma yang memiliki kekuasaan dan wilayah khusus. Pemisahan kota Vatikan dengan kota Roma ditandai dengan dinding-dinding bangunan Vatikan yang melingkari kathedral utama, Basilica San Pietro. Pengunjung diperbolehkan masuk gereja Vatikan tanpa biaya dengan terlebih dahulu melalui pemeriksaan petugas keamanan dan pintu x-ray.

Di kota Roma, selain Vatikan yang selalu menjadi tujuan wisata utama, terdapat ratusan tempat wisata lain yang tidak kalah menarik. Roma memiliki 300 jenis menumen, 250 macam gereja, dan 100 museum, termasuk situs Collesium dan istana-istana Kerajaan Roma kuno. Untuk mengelilingi ratusan tempat wisata tersebut, tidaklah sulit. Bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau menumpang bus umum dan bus wisata. Saya sendiri lebih memilih berjalan kaki karena dapat melihat lebih detail setiap objek wisata yang jaraknya tidak berjauhan satu dengan lainnya. Jika ingin menumpang bus umum, tarifnya juga tidaklah mahal yakni 1 euro per sekali jalan. Pengunjung bisa pula membeli tiket bus harian, 2 harian, atau satu mingguan.

Selepas mengelilingi kota Roma, perjalanan bisa dilanjutkan ke kota Pisa dimana Menara Miring Pisa berada. Perjalanan dari Roma ke Pisa ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam menggunakan kereta api regular dengan tariff sekitar 18 euro sekali jalan. Kereta api regular merupakan kereta api bertarif paling murah dengan jadwal operasi empat kali dalam satu hari. Selain kereta api regular, pengunjung bisa menumpang kereta api cepat, tentu saja dengan tariff yang jauh lebih mahal.

Di Pisa, tidak begitu banyak objek wisata yang bisa dinikmati karena hanya terdapat menara miring yang dibangun sejak 1173 dan sebuah komplek kathedral lengkap dengan lapangan pelangi yang terkenal dengan kehijauan rumputnya. Objek wisata lainnya hanyalah pantai-pantai di pesisir kota Pisa. Untuk menghabiskan waktu, pengunjung bisa menikmati santapan khas italia, pizza dan pasta, serta menikmati kehidupan pedesaan kota Pisa yang tidak memiliki banyak transportasi selain sepeda.

Meninggalkan Roma dan Pisa, saya menuju Milan, Commo, dan Venesia. Dari Roma ke Milan saya memilih menumpang pesawat ketimbang kereta api atau bus. Selain jarak tempunya yang lebih cepat, biaya transportasinya juga jauh lebih murah. Di Milan, dua opjek wisata utama adalah kathedral Gothik dan Kastel Sforza yang dibangun pada abad 14.

Tidak jauh dari Milan, pengunjung bisa berpergian ke kota teromantis di dunia Venesia. Dari Milan bisa menumpang kerata api regular dengan jarak tempuh sekitar 4 jam. Tarifnya hampir sama dengan Roma ke Pisa yakni 18 euro. Di Venesia, tempat utama yang dikunjungi adalah katedral St Marks Basilica dan beberapa museum. Satu aktivitas yang tentu saja sayang untuk dilewatkan adalah menelusuri lorong-lorong kanal kota Venesia dengan menggunakan perahu tradisional tempatan yang disebut Gondola.  (sri murni)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2012 in Uncategorized

 

Drive to Canberra

The exciting place in Sydney

Ini hanya berbagi cerita untuk teman-teman Indonesia yang ingin ke Canberra, Australia.

Dari Jakarta saya berangkat naik pesawat Garuda Indonesia pukul 21.55 WIB. Alhamdulillah tidak delay. So pesawat take off sekitar pukul 22.05 WIB. Karena penerbangan internasional, GA 712 yang saya tumpangi menggunakan pesawat berbadan besar yakni Airbuss 330 yang muatannya sekitar 200-an orang, posisi tempat duduknya 2-4-2, maksudnya, cabin dibagi tiga bagian. Di sisi kiri dan kanan terdapat dua seat, sementara di bagian tengah 4 seat. Saran saya, jika ingin terbang dengan nyantai dan apabila pesawat tidak penuh, mintalah seat tengah karena Anda akan bisa tidur dengan merentangkan kaki di 4 kursi bagian tersebut. Sayangnya, saya sendiri ketika berangkat minta duduk di sisi kanan dan dekat jendela, dengan asumsi agar bisa melihat keluar. Hehehe, apa yang hendak dilihat, kan kita terbangnya malam. Sementara penumpang yang sudah berpengalaman, meminta seat tengah dan mereka bisa tidur dengan damai. Garuda telah menyediakan selimut dan bantal plus monitor di depan tempat duduk untuk hiburan selama perjalanan. Anda bisa main game, nonton film (komedi, horor, romantis, drama keluarga, action, dan lainnya), dan bisa pula sekedar mendengarkan musik. Jangan berharap audio monitor tersebut dapat Anda dengarkan secara langsung, melainkan Anda harus menggunakan headset.

Untuk sampai ke Canberra, dari Jakarta kita ke Sydney dahulu. Penerbangannya memakan waktu sekitar 6 jam 10 menit. Jadi kalau berangkat dari Jakarta pukul 22.00 tiba di Sydney sekitar pukul 04.00. Begitu mendarat di Bandara Kingsport Smith Sydney, matahari sudah panas karena waktu setempat menunjukan pukul 08.15. Perbedaan waktu antara Jakarta dengan Sydney sekitar 4 jam jika di Autralia sedang musim panas, sementara musim dingin, perbedaan waktunya hanya tiga jam. Sebelum mendarat, para pramugari Garuda akan memberikan daftar menu breakfast alias sarapan pagi. Untuk kelas ekonomi seperti yang pernah saya alami, menunya hanya terbagi dua yakni western dengan beef dan kentang serta Indonesia dengan nasi gorengnya. Terserah Andalah mau pilih  yang mana. Setelah sarapan, Anda akan dibagikan holder card, semacam kartu masuk Australia yang berisi tentang diri Anda dan barang bawaan. Kartu ini harus Anda isi sebelum landing.

Jangan Bawa Cairan ke Kabin

Perlu diingat, untuk barang bawaan di dalam pesawat, jangan membawa cairan (apapun) yang isinya lebih dari 100 ml. Jika ada obat-obatan, lengkapilah dengan resep dokter. Sebaiknya barang cairan, makanan olahan (rendang, sayur, dll), buah, obat-obatan, diletakan di bagasi. Jika dibawa ke kabin, urusannya bisa repot. Termasuk jangan membawa air minum baik mineral maupun bentuk lainnya karena pasti lebih dari 100 ml. Jika dibawa, petugas bandara akan meminta Anda meminum minuman tersebut sampai habis atau meninggalkannya di konter pemeriksaan. Jangan khawatir takut haus atau lapar karena selama penerbangan, Garuda akan memberikan makanan dan minuman yang cukup untuk penumpangnya. Minta saja dengan para pramugari.

Begitu landing di Kingsport Smith Airport, langsunglah mengikuti penumpang lain untuk pengecekan imigrasi. Semua petunjuk terpampang di dinding atau di atas plafon. So rajin-rajinlah lirik kanan-kiri untuk mendapatkan petunjuk di airport. Selama pemeriksaan, tunjukanlah paspor dan holder cardnya. Setelah urusan imigrasi selesai, Anda akan langsung menuju tempat pengambilan bagasi yang letakkya tepat di belakang counter imigrasi. Nah Holder card akan digunakan dan diambil petugas pemeriksaan barang. Jangan kaget jika koper dan tas-tas Anda dibongkar untuk dilakukan pemeriksaan. Santai saja karena itu hal biasa. Asalkan Anda tidak membawa barang-barang yang dilarang, semuanya akan aman. Saya sarankan, untuk barang-barang yang sangat pribadi seperti pembalut dan pakaian dalam, sebaiknya dibungkus dalam kantong hitam. So ketika koper dibongkar petugas, benda-benda itu tidak berserakan.

Jika urusan barang bawaan tidak bermasalah, langsung saja menuju konter transit domestic. Biasanya dari Sydney ke Canberra menggunakan pesawat Qantas. Meskipun counter check in domestik Qantas masih satu gedung, tapi jaraknya lumayan jauh. So, siap-siaplah ber capek-capek membawa barang (gunakan troli) sendiri karena di airport Sydney tidak ada yang namanya potter.

Setelah check in domestik beres, Anda akan diantar ke terminal penerbangan domestik menggunakan bus. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 1 km. Untuk orang-orang yang tinggi badannya pas-pasan seperti saya (sekitar 150 cm) baiknya cepat-cepat masuk ke dalam bus agar kebagian tempat duduk. Jika tidak, Anda akan berdiri. Anda akan merasa sedih dan kesulitan mencari pegangan, karena pegangan tangan yang biasanya ada di plafon bus, ternyata tidak terjangkau. Tingginya sekitar 180 cm. Jadi bisa dibayangkan, sulitnya mencari pegangan di dalam bus jika posisi berdiri.

Holder Bus yang Terlalu Tinggi

Saya sendiri memang tidak mendapat tempat duduk di dalam bus dan harus berdiri. Waduh….berkali-kali saya hampir terjatuh. Mau tidak mau saya pegang saja penumpang lain yang duduk di kursi di depan saya. Ya tentu saja dengan mengucapkan (sorry…sorry….the hand holder too high for me). Untungnya ada seorang nenek yang duduk di depan saya dan merelakan tas tanggannya saya jadikan pegangan.

Jika pesawat dari Jakarta Anda mengalami penundaan (delay) dan sampai di Sydney pesawat ke Canberra Anda sudah terbang, jangan panik. Tetap lapor ke counter check in domestik karena mereka akan memberikan penerbangan selanjutnya tanpa dikenakan biaya apapun. So….everything is easy…..

Dari bandara Sydney ke Canberra memakan waktu sekitar 1.30 jam. Jika Anda haus, beli saja minuman di bandara tapi jangan dibawa ke pesawat karena dilarang. Untuk jus harganya sekitar 7 dolar Aus.  Selama di ruang tunggu, jangan heran jika Anda menjadi satu-satunya orang Indonesia di tengah-tengah orang bule. Jika di Indonesia, bule selalu menjadi pusat perhatian, nah sekarang waktunya Anda yang menjadi bule dan pusat perhatian bagi mereka. Jangan heran jika Anda menjadi satu-satunya manusia kerdil diantara orang-orang berbadan besar.

Saya telah menunggu di Kingsport Smith Airport selama kurang lebih 3 jam (landing dari Jakarta pukul 8.30 dan take off ke Canberra pukul 11.45). Pesawat domestik Australia ternyata tidak jauh beda dengan Indonesia. Qantas yang saya tumpangi  berjenis pesawat boeing 737-400 dan ketika landing di Canberra, tetap saja seisi pesawat bergoyang-goyang. Plafon dan dinding pesawatnya juga sudah kendor-kendor sehingga berbunyi seperti terkena gempa.

Berebut Bagasi di Landasan

Ada satu hal yang cukup membuat saya heran ketika pesawat mendarat dan para penumpang mulai turun, ternyata bagasi bisa diambil di landasan pesawat dan tidak harus di dalam gedung (tempat pengambilan bagasi). Saya melihat para penumpang berlari-lari dari tangga pesawat menuju mobil pembawa bagasi untuk berebut mengambil koper dan barang lainnya. Karena koper saya berat, ya saya tunggu saja bagasi di baggage claim. (***)

 
Leave a comment

Posted by on May 10, 2011 in Uncategorized

 

Kado Terakhir (puisi dari seorang sobat)

tadi malam dia mengabarkan tanggal pernikahannya. dia berkata sudah menemukan pria tepat untuk menggantikanku. datang ya nanti, katanya.

aku, tentu saja tak bisa berkata-kata. dia memegang tanganku, erat sekali. dia tersenyum, matanya bersinar, binar yang aku suka darinya. jemarinya menyentuh pipiku. dia mencubitku.

jangan bersedih, berbahagialah untukku, katanya. aku, kembali tak bisa berkata-kata. mata kami saling berpandangan. bibirku terkatup. biar mata ini yang berbicara.

buatlah puisi untukku, katanya. puisi terakhir, sebelum malam-malamku diisi puisi-puisi suamiku, ujarnya. aku tersenyum, tetap tanpa suara. berilah aku kado puisi, katanya.

aku, bagaimana mungkin mengiyakannya. bagaimana mungkin aku membuat puisi terakhir. bagaimana mungkin aku berhenti membuat puisi tentangnya.

aku tak sanggup, kataku. dia merajuk, memalingkan wajahnya. kau tahu kenapa aku meminta puisi, katanya. karena kita tak akan bertemu lagi. tak inginkah kau memberi hadiah terakhir untukku, tuturnya. tak inginkah kau menjadi kenanganku, katanya. tak inginkah kau mengabadikan cinta kita. tak inginkah kau… dia tak melanjutkan kata-katanya.

dia berkaca-kaca, aku menangis di dalam. hening tiba-tiba menyergap. kami terdiam cukup lama. masih tak inginkah kau menulis puisi untukku, kata-katanya memecah sunyi. aku memandangnya, ingin masuk ke relung hatinya. aku akan buatkan puisi untukmu. puisi sunyi, yang hanya bisa dimengerti waktu. kau dan aku, biarlah tak pernah membaca puisi itu. dan sampaikan salamku untuk pria beruntung itu. ***

 
2 Comments

Posted by on February 2, 2010 in Uncategorized

 

Just My Wedding Pic

wedding2

wedding1

Happy wedding was held on 29th September 2009 in Tebing Tinggi, Sumut

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Uncategorized

 

Sepenggal Cerita Escobar, Mantan Mafia Kolombia

escobar dan istrinya

Mending Jadi Escobar daripada Koruptor

Bakar Uang Rp 20 Miliar Untuk Menghangatkan Putrinya

Pablo Escobar tipe orang yang sangat mencintai keluarganya. Foto ini diambil tahun 1983 saat Escobar bersama isterinya Victoria Henao, ibu dari putranya, Sebastian Marroqumn, yang telah mengubah namanya Juan Pablo Escobar. Artikel Terkait: * Mafia Kolombia Memikat Perempuan dengan Kemewahan * Penyelundup 100 Ton Kokain Dibekuk Rabu, 4 November 2009 | 11:59 WIB BOGOTA, KOMPAS.com – Ini kisah yang belum pernah terungkap tentang Pablo Escobar, bos narkoba Kolombia yang terkenal kejam. Suatu malam dalam pelariannya, Escobar membakar tumpukan uang tunai senilai hampir Rp 20 miliar agar tubuh putrinya tetap hangat. Escobar membuat api unggun dengan menggunakan tumpukan uang dollar AS di sebuah tempat persembunyian sementara pihak berwajib terus memburunya. Putranya, Sebastian Marroqumn, yang telah mengubah namanya dari Juan Pablo Escobar, mengatakan, ayahnya membakar tumpukan uang itu ketika dia tahu putrinya, Manuela, menderita hipotermia. Api berbahan bakar uang itu juga dimanfaatkan untuk memasak makanan. Sebastian, yang bersama keluarganya pindah ke Argentina setelah ayahnya tewas 15 tahun lalu, membuat pengakuan yang mengemparkan itu dalam sebuah wawancara dengan majalah Kolombia, Don Juan,dan dikutip Dailymail, Selasa (3/11). Sebastian juga mengungkapkan, bagaimana miliader itu melakukan pengamanan gila-gilaan dengan membeli perusahaan taksi sendiri untuk mengetahui kapan orang asing tiba di kota asal mereka di Medellin, dan memindahkan keluarganya setiap 48 jam di antara 15 tempat persembunyian yang dia miliki di seluruh kota. Escobar bahkan menutup mata mereka sebelum setiap perpindahan sehingga mereka tidak pernah tahu daerah sekitar setiap rumah persembunyian dan tidak bisa memberi tahu lokasi itu saat disiksa jika mereka tertangkap. Escobar, mengepalai Kartel Medellin yang terkenal kejam. Ia tertembak mati Desember 1993 ketika berusaha lari dari kejaran polisi. Pada puncak kekuasaanya tahun 1989, dia tercatat oleh majalah Forbes sebagai orang terkaya ke tujuh di dunia dengan perkiraan kekayaan mencapai 270 triliun atau 18 miliar poundsterling. Meski menjadi musuh paling dicari AS dan pemerintah Kolombia, dia adalah pahlawan bagi banyak orang Medellin di mana dia membagi-bagikan uang untuk orang miskin. Sejumlah orang menyatakan, penembak jitu militer AS ambil bagian dalam perburuan terakhir terhadap Escobar, yang dilakukan setelah dia kabur tahun 1992 dari sebuah penjara khusus Kolombia. Dia menempati sebuah penjara yang dibangun berdasarkan perjanjian, dia masih akan tinggal di tempat itu sampai lima tahun, sebelum akhirnya kabur, dan menghindari ekstrasidi ke AS. (diambil ari kompas.com)

 
1 Comment

Posted by on November 4, 2009 in Uncategorized

 

Berjuta Potensi Bahari di Pulau Abang

Memberdayakan Guru dan Pelajar Sebagai Agen Penyelamat Terumbu Karangpenyu

ARI, Sukarno, dan Mazni, begitu semangat saat diajak bicara tentang kampungnya, Pulau Abang. Ketiga bocah yang masih duduk di kelas dua SD Negeri 24 Pulau Abang, Galang ini, bahkan langsung mengajak saya jalan-jalan ke Pantai Pasir Merah, yang jaraknya kurang lebih 15 menit jalan kaki dari sekretariat COREMAP, yang tepat berada di tengah perkampungan warga.
Karena keterbatasan waktu, saya dan Ari Cs tidak sempat jalan ke pantai. Kami hanya bercerita sambil duduk di pinggir bangunan sekretariat COREMAP yang dibangun dari kayu. “Kakak mau nyelam ya?” tanya Ari tiba-tiba, ingin mengetahui maksud dan tujuan saya dan rombongan peserta Journalist Writing Competition datang ke Pulau Abang, Sabtu (25/7) lalu.
Belum lagi sempat saya jawab, Mazni sudah menyambar pembicaraan kami dengan cerita seputar terumbu karang. “Kalau kakak mau nyelam di depan sini aja (seraya mengarahkan jari telunjuknya ke laut tepat di depan sekretariat COREMAP). Karangnya masih bagus. Kami sering nyalam-nyelam disana,”cerita Mazni.
Pertanyaan Ari dan celoteh Mazni, yang keduanya berpawakan kurus itu, langsung memberikan gambaran kepada saya, bahwa masyarakat Pulau Abang, termasuk generasi belianya yang notabene masih anak-anak, mulai sadar dengan potensi kampung yang mereka miliki.
Pulau Abang, satu tahun terakhir ini memang menjadi buah bibir. Tidak hanya pembicaraan di kalangan pecinta wisata bahari, khususnya nyelam, tapi juga mulai ramai dipublikasi media massa baik cetak maupun elektronik. Cerita seputar keindahan terumbuh karangnya yang menyamai Bunaken, kian mudah ditemukan di situs-situs internet.
Untuk sampai ke pulau ini, diperlukan waktu kurang lebih 1,5 jam dari pusat kota Batam, Nagoya. Dari sini, kita harus naik kendaraan darat (mobil pribadi, bus, taksi, atau motor), menuju ke pelabuhan rakyat di Jembatan Enam Barelang, kurang lebih 45 menit.
Dari pelabuhan, kita melanjutkan perjalanan menggunakan speedboat atau pompong (perahu kayu bermesin) ke Pulau Abang dengan jarak tempuh sekitar 40 menit. Begitu sampai di Pulau Abang, Anda akan dilabuhkan di pelabuhan yang cukup sederhana dan dibangun dari kayu seadanya.
Meskipun sederhana, tidak perlu khawatir karena kondisinya masih kuat untuk dijejaki. Selayaknya perkampungan nelayan, masyarakat Pulau Abang hidup di dalam rumah-rumah yang mayorotas terbuat dari kayu, didesain panggung yang sederhana, dan dibangun di atas laut.
Di sepanjang jalan perkampungan yang hanya bisa dikelilingi dengan berjalan kaki, Anda akan mendapatkan keramahan penduduk tempatan. “Baru tiba Pak/Ibu/Kakak/Abang,” merupakan sapaan akrab yang biasa dilontarkan warga, baik yang tua, remaja, maupun anak-anak.
Jalan setapak yang telah dibeton dibangun Pemko Batam di sepanjang pemukiman warga. Hanya saja, pemandangan perkampungan ini memang agak tidak sedap, karena masih banyaknya sampah yang berserakan di sekitar perumahan warga.
Padahal ,Pulau Abang yang berpenduduk 215 kepala keluarga (kurang lebih 800 orang), kini didesain sebagai satu pusat wisata bahari, khususnya terumbu karang. Sejak 2004 lalu, pulau ini dijadikan proyek program rehabilitasi terumbu karang atau Coral Reef Rehabilitation and Management Program Phase II (COREMAP II), hasil kerjasama Pemerintah Kota Batam dengan bantuan dana dari Asian Development Bank (ADB).
Menurut Rahmad, tokoh masyarakat tempatan yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Lembaga Pengelola Sumber Daya Terumbu Karang (LPSTK), meskipun sampai sekarang kampungnya belum terbersih dari sampah, tapi kondisi saat ini sudah jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dulu, hampir di setiap rumah sampah berserakan. Ini karena budaya masyarakat sini yang sudah terbiasa membuang sampah di laut dan tidak pernah memiliki keranjang sampah,”cerita lelaki yang berprofesi sebagia nelayan itu.
Namun, sejak dua tahun terakhir, ketika program COREMAP makin giat dilaksanakan, warga sudah mulai sadar untuk mengumpulkan sampah di tempatnya dan membakar (meskipun ada segelintir warga yang masih terbudaya membuang sampah di laut). Di hampir setiap rumah warga, kini sudah tersedia pula keranjang sampah. Hanya saja, di kampung ini belum ada satupun terbangun tempat penampungan sampah yang layak.
Sehingga, sampah warga masih dikumpulkan di halaman depan rumah untuk dibakar.
Mengubah budaya masyarakat untuk tidak membuang sampah di laut memang tidaklah mudah. Padahal, status Pulau Abang yang telah ditetapkan sebagai Kampung Wisata Melayu. Keberhasilan program sangat tergantung dari kebiasaan baik warga setempat. Adalah hal yang ironi, ketika diharapkan wisatawan berkunjung ke Pulau Abang untuk menikmati wisata terumbuh karang, namun mereka tidak merasa nyaman karena pemandangan dan bau yang tidak sedap dari serakan sampah.
Sampah yang dibuang masyarakat, juga sangat mempengaruhi ekonsistem terumbu karang. Jika setiap hari ada 100 kg sampah yang dibuang ke laut, bayangkan berapa juta ton sampah yang akan merusak ekosistem laut selama puluhan tahun warga tinggal di pulau tersebut.
Belum lagi kerusakan yang diakibatkan faktor eksternal seperti penambangan pasir, aktifitas industri dan pelayaran, dan pembangunan di wilayah darat. Dari penelitian yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selama rentang 1996-2007, kondisi terumbu karang di Indonesia menunjukkan, hanya 5,2 persen yang berada dalam kondisi sangat baik. Sementara 24,2 persen dalam kondisi baik, 37,3 persen dalam kondisi sedang, 33,1 persen dalam kondisi buruk. (data dari situs coremap.co.id).
Negeri ini memiliki 42 kilometer persegi terumbu karang atau 17 persen populasi coral reef dunia. Ini menjadikan Indonesia yang kedua terbesar di dunia setelah Australia. Untuk Asia Pasifik, Indonesia menyimpan seperempat (25 persen) terumbu karang wilayah ini.
Penyelamatan terumbu karang sangat perlu dilakukan, karena terumbu karang merupakan ekosistem khas perairan tropik, tempat berlindung aneka biota laut untuk hidup secara seimbang. Di Indonesia, terumbu karang merupakan rumah bagi 2.500 spesies moluska, dua ribu crustaceans, enam spesies kura-kura laut, 30 spesies mamalia laut, dan lebih dari dua ribu spesies ikan.
Di Batam sendiri, monitoring terhadap terumbu karang dilakukan LIPI di beberapa titik, di antaranya, Kelurahan Pulau Abang meliputi Petong, Pulau Abang Besar, Pulau Abang Kecil, Pulau Pengalap dan Dedap. Juga di Kelurahan Karas meliputi Mubud Darat, Pulau Lampu, dan Pulau Karas.
Monitoring yang dilakukan 28 Agustus 2008 lalu menunjukan, lokasi Kelurahan Pulau Abang tepatnya Stasiun Pulau Abang Besar dan Pulau Abang Kecil, terumbu karang cukup rapat dan beraneka ragam jenisnya seperti dari karang dengan bentuk pertumbuhan bercabang (branching), mengerak (encrusting), padat (massive), meja (tabulate), daun (foliose) dan jamur (mushroom).
Kelimpahan ikannya juga beraneka ragam, baik jenis ikan konsumsi seperti famili Lutjanidae, Caesionidae, mullidae, Siganidae, Labridae, Scaridae, Haemulidae, mobulidae dan Mugilidae, maupun ikan hias, antara lain family Pomacintridae, Chaetodontidae, Holocentridae, plotosidae dan Ephippidae . Jarak pandang di stasiun ini mencapai 8-10 m.
Pada lokasi monitoring ini telah dipasang transek permanen sepanjang 70 m (patok, benang tangsi 2 mm sepanjang 10 m x 3, pelampung plastik warna). Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah LIT (Line Intersect Transect).
Dari monitoring itu pula tergambar bahwa perairan Pulau Abang mempunyai potensi laut yang besar dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Disini juga mengandung berbagai jenis ikan pelagis dan demersal (termasuk ikan karang), dan beragam biota laut non ikan, seperti cumi-cumi dan udang kara), serta bakau.

Gunakan Sistem Koperasi
Adalah cita-cita yang sangat mulia, melestarikan terumbu karang dengan memberdayakan masyarakat tempatan. Pemberdayaan ini haruslah dilakukan dan memang tidak bisa instan karena memerlukan proses yang panjang.
Terumbu karang bisa tetap terjaga kelestariannya, jika masyarakat yang berada di sekitarnya sadar dan melakukan hal-hal yang tidak merusak ekosistem laut. Mengurangi bahkan meniadakan kegiatan tangkapan modern menggunakan bahan peledak, dan jaring raksasa yang merusak ekonsistem. Masyarakat haruslah menjadi penjaga terumbu karang. Mereka harus berani menangkap dan mengusir siapa saja yang ingin merusak ekosistem laut.
Satu caranya adalah dengan mengajak masyarakat mencari mata pencarian alternatif (MPA). Di antaranya membudidayakan ikan sehingga nelayan tidak harus menangkap ikan di laut dan menjadikan laut sebagai tujuan wisata bahari.
Di lihat dari lokasinya, Pulau Abang memiliki potensi untuk pengembangan dua bidang MPA tersebut. Pengembangan wisata bahari, merupakan sektor ekonomi yang paling cepat bisa tumbuh, asalkan pengelolaan masyarakatnya serius dan bertanggungjawab.
Kekayaan biota laut dan kehidupan masyarakat yang masih tradisional merupakan modal dasar. Tidak perlu mengubah sistem kehidupan masyarakat menjadi modern seperti di kota besar. Mempertahankan ketradisionalan mereka, justru unik dan menjadi daya tarik.
Pemerintah haruslah melakukan pembinaan dan pendampingan masyarakat. Apalagi saat ini warga sudah membentuk kelompok wisata.
Efendi, seorang tokoh masyarakat tempatan menceritakan, sudah ada 10 rumah warga yang dipersiapkan untuk percontohan kampung wisata bahari. Di setiap rumah tersebut, akan dilengkapi fasiltais kamar yang layak untuk wisatawan menginap. Termasuk sistem sanitasinya.
Setiap wisatawan yang datang, akan diinapkan di rumah warga. Mereka bersantap masakan yang dibuat si pemilik rumah atau memesan makanan sesuai dengan selera (terutama menu-menu seafood). Tamu juga bisa memasak sendiri menu makanannya dari bahan-bahan yang tersedia.
Mengisi aktivitas liburan, tentu saja wisatawan bisa mengikuti kegiatan diving, snorkeling, berenang, dan memancing menggunakan peralatan yang telah disediakan warga. Mereka juga bisa mengikuti aktivitas keseharian warga, termasuk ikut memberi makan ikan yang dibudidaya, menangkap ikan secara tradisional, bahkan ikut bermain permainan tradisional seperti gasing dan kelereng. Bisa pula turut serta membuat kerajinan tangan yang diproduksi warga.
Dengan demikian, para wisatawan (apalagi yang tidak pernah merasakan kehidupan di tepi pantai) benar-benar merasakan satu sisi kehidupan yang lain saat berada di Pulau Abang. Untuk kenyamanan wisatawan, standarisasi pelayanan haruslah dipegang oleh warga yang melayani.
Agar ekonomi masyarakat Pulau Abang tidak dikuasai kelompok tertentu, baiknya pengelolaan dilakukan dengan sistem koperasi. Sehingga, setiap warga merasa lebih dilibatkan dan kesejahteraan bisa dirasakan berasama.
Ada baiknya pula, pengelolaan wisata bahari tidak melibatkan investor tunggal. Sebab, dikhawatirkan, nantinya warga tempatan hanya dijadikan sebagai pekerja, bukan pelaku usaha.
Pengelolaan koperasi bisa dilakukan secara profesional layaknya perusahaan swasta. Asalkan para pengurus beretikad baik dan bertujuan memajukan kesejahteraan bersama. Kontrol dan pendampingan, termasuk subsidi untuk kegiatan kepariwisataan harus tetap dilakukan secara intens, sampai masyarakat Pulau Abang benar-benar mampu mengelola wisata bahari secara mandiri dan profesional.
Yang namanya menangani wisatawan memang gampang-gampang susah. Selera setiap orang bisa berbeda-beda. Intinya hanya satu, bagaimana membuat mereka senang, sehingga uang ysnorkling di Pulau Seribuang keluar dari kantong mereka bisa lebih banyak.

Berdayakan Guru dan Pelajar
Membudayakan masyarakat untuk sadar wisata, adalah hal pokok yang harus dilakukan. Ketika mereka sudah sadar berapa besar uang yang bisa mereka dapatkan dari dunia pariwisata, maka tujuan pelestarian terumbu karang dengan memanfaatkannya sebagai wisata bahari, justru semakin mudah tercapai.
Pembudayaan sadar wisata, tidak hanya ditujukan bagi warga dewasa. Tapi haruslah ditanamkan dari sekarang kepada generasi belia dan anak-anak. Caranya bisa memanfaatkan keberadaan guru dan sekolah. Apalagi saat ini di Pulau Abang sudah tersedia SD dan SMP.
Setiap hari, kecuali hari Minggu, anak-anak usia 7-16 tahun enam jam barada di sekolah. Banyak hal yang mereka dapatkan dari para guru. Kebersamaan antara guru dan pelajar dalam waktu yang begitu panjang merupakan modal untuk bisa membimbing generasi belia mencintai wisata bahari, termasuk di dalamnya melestarikan terumbu karang.
Para guru bisa dijadikan agen pelestarian lingkungan laut. Bekali mereka dengan pendidikan bahari, sehingga mereka bisa mengajarkannya kepada anak didik. Tidak hanya ilmu tentang ekosistem laut tapi juga cara bagaimana menyelam. Bekali pula para guru satu sistem pengajaran yang atraktif yang membuat anak didik antusias mengikuti pelajaran tentang laut.
Bagi guru yang mengajar di kelas satu dan dua SD, setiap pagi bisa memanfaatkan waktu sekitar 15 menit untuk membacakan cerita-cerita (dongeng) seputar terumbu karang. Di perpusatakaan COREMAP II Pulau Abang, telah tersedia buku-buku cerita Si Umbu. Namun, secara sistemik keberadaan buku ini belum dimanfaatkan. Selama ini hanya segelintir anak yang membaca buku cerita itu. Padahal melalui dongeng, bisa menanamkan hal-hal baik kepada anak.
Bagi siswa kelas tiga sampai SMP, sudah bisa diajarkan tentang kerajinan tangan dengan memanfaatkan sampah biota laut. Kerajinan tangan dapat pula dijadikan pendidikan ekstrakurikuler atau muatan lokal, yang memang diwajibkan ada di sekolah.
Mulailah membuat target bahwa kerajinan sekolah tidak hanya sekedar penilaian untuk rapot, tapi sekaligus dimanfaatkan sebagai industri yang hasilnya bisa dijual untuk cinderamata bagi wisatawan yang datang.
Untuk memacu kreativitas anak, banyak upaya yang bisa dilakukan. Di antaranya dengan menggelar festival kerajinan tangan, yang memperebutkan hadiah menarik. Bagi anak-anak yang tidak minat di bidang kerajinan, melainkan minatnya hanya bermain, bisa diarahkan dan dimanfaatkan untuk festival permainan anak tradisional. Begitu pula dengan anak yang memilih hobi memasak. Hobi mereka dijadikan satu nilai tambah. Festival masakan olahan laut bisa melibatkan anak-anak, yang justru membuat acara tersebut lebih unik.
Festival-festival ini akan menjadi satu daya tarik bagi wisatawan. Intinya, buatlah beragam muatan lokal sekolah yang berbasis kelautan. Sehingga sejak belia, di benak anak didik sudah tertanam budaya sadar wisata dan pelestarian lingkungan laut termasuk terumbu karang. Dengan demikian realisasi Pulau Abang sebagai kampung wisata bahari di masa mendatang, akan lebih mudah dilakukan.***

 
Leave a comment

Posted by on August 10, 2009 in Uncategorized

 

Tags:

Chating Pertama Mengubah Aku Jadi Pemberani

Menyeberangi laut Sydney melintasi Opera House.

My First Online experience

KETIKA itu, Maret tahun 2000. Aku baru duduk di semester dua jurusan Hubungan Internasional FISIP Unri, Pekanbaru. Setiap pagi, temen-temen kuliahku selalu heboh dengan cerita-cerita teman barunya di dunia maya. Aku hanya sebagai pendengar dan menjadi kambing congek. Beberapa hari aku ikuti perbincangan mereka, yang semakin seru karena mendapatkan teman ngobrol dari Bandung, Jakarta, dan Medan. Tiga kota yang paling sering menjadi bahan pembicaraan, terutama tentang si Daniel yang kuliah di USU Medan, Dadang anak Unpad Bandung, dan Dodi dari UKI Jakarta. Sepulang dari kampus pun mereka langsung ke lab komputer yang ada di dekat Gedung Rektorat Unri.
Tepat hari Sabtu, suatu pekan, saya memberanikan diri bertanya pada sahabatku Amrullah asal Aceh. “Am memang ngapain sih ke lab? Kok setiap hari temen-temen pada kesana?”. “Mereka pada chating tu. Kan demam chating,”kata Am.
Chating? Apaan tu? Aku masih berfikir. Karena malu bertanya aku cuma berkata “oooooo”. Hari Seninnya, rasa penasaranku semakin besar. Ketika Ayu, sahabatku yang lain, selepas kuliah akan ke lab komputer, aku beranikan diri untuk ikut.
Sampai disana aku lihat aktivitas Ayu dan aku duduk tepat di sebelah kursi komputernya. Aku hanya perhatikan dia yang membuka program mirc. Beberapa saat, aku sudah lihat dia ketawa-ketawa sambil mengetik, seperti orang yang sedang bicara lewat tulisan.
Karena terlihat begitu serius, aku pun hanya memperhatikan Ayu, tanpa bertanya. Setelah menutup pembicaraan lewat tulisannya dengan temannya bernama Dodi dari Yogyakarta, Ayu bertanya kepadaku. “Mau pakai?”
Dengan malu aku jawab, iya tapi tidak tahu gemana caranya. Aku juga sempat jujur dan bertanya pada Ayu, tentang apa yang baru saja dia lakukan. Syukurlah Ayu orangnya sangat baik. Dialah yang menerangkan dan mengajari aku chating lewat program mirc.
Ayu hanya 30 menit berada di lab komputer. Selebihnya aku yang memakai. Karena aku sudah mengetahui bangaimana chating, rasanya sangat berat meninggalkan meja komputer. Tidak terasa ternyata waktu sudah pukul 16.00 WIB, saatnya lab ditutup. Aku berada disana kurang lebih tiga jam. Begitu hendak membayar uang rental internet, dan si penjaga lab mengetahui jam pemakaianku tiga jam, aku dimarah habis-habisan.
Saat itulah aku baru tahu, jatah mahasiswa rental internet di lab komputer kampus hanya satu jam sehari dengan bayaran Rp 1.000. Mengapa dibatasi? Karena setiap jam banyak mahasiswa yang mengantre. Bahkan, untuk pemakaian selepas jadwal kuliah, kira-kira pukul 12.00 WIB, ada yang harus mendaftar dari pagi, jam 08.00. Itupun harus datang 10 menit sebelum jam pemakaian. Jika tidak, bisa-bisa nomor antrean diberikan kepada orang lain.
Rasanya sangat senang bisa chating dengan teman-teman mahasiswa lain di luar kampusku. Dian, adalah teman chatingku yang pertama. Dia mengaku laki-laki dan kuliah di UMY Yogyakarta.
Aku sempat bingung ketika harus menjawab isi chating-annya. Istilah-istilah dan singkatan bahasa chating sama sekali belum aku ketahui, karena Ayu tidak sempat mengajariku sampai ke materi itu. Asl tiga huruf yang ditanyakan Dian ketika kali pertama menyapaku. Aku hanya diam. Kata-kata berikutnya adalah ungkapan kekesalannya dan menyangka aku tidak mau chating dengannya. Walaupun agak-agak malu, dan aku pikir di dunia internet tidak saling mengenal, aku tanya saja ke Dian, asl itu apaan? Ternyata singakatan dari alamat, jenis kelamin, dan umur.
Di hari pertama aku chating, kami janjian untuk bertemu lewat mirc pada esok harinya. Selasa pagi, aku sudah mendaftar untuk pemakaian internet jam 13.00 WIB. Sayang, ketika itu, dosenku memperpanjang waktu kuliah, dan aku sampai di lab komputer 13.05 WIB. Tentu saja si penjaga lab sudah mengunci pintu. Kesal sekali rasanya. Bayangkan saja, kita mendapatkan satu mainan baru dan masih sangat ingin bermain, eh ternyata tidak punya kesempatan. Aku merasa bersalah dengan Dian, karena batal berhubungan. Aku juga tidak bisa memberitahunya karena aku memang belum memiliki HP.
Pada Rabu, aku baru bisa bermain mirc lagi di lab komputer. Itupun setelah aku bela-belain bolos kuliah siang supaya aku bisa ngobrol dengan Dian. Terus terang, chating hari pertama itu rasanya sangat seru dan aku merasakan banyak harapan. Salah satunya, aku sudah punya teman dari Yogyakarta, dan sewaktu-waktu aku ingin kesana, sudah ada tempat yang aku tuju. Itu makanya aku sangat kesal ketika tidak bisa berhubungan dengan Dian di hari Selasa.
Pembicaraan lewat mirc kami terus berlanjut. Aku banyak belajar dari Dian terutama tentang istilah-istilah dalam chating. Hari-hari berikutnya, aku merasa menjadi orang yang sangat percaya diri (pede) karena sudah mengikuti perkembangan teknologi. Aku pun sudah berani nimbrung obrolan temen-temen kampus yang masih suka ngomongi soal chating.
Hampri satu bulan penuh, setiap selesai kuliah aku habiskan waktu untuk chating. Bahkan aku lebih memilih dimarahi penjaga setiap hari karena memakai komputer 2-3 jam dan tidak mau bergantian dengan mahasiswa lain.
Sejak itu pula aku merasa berani untuk memasuki warnet-warnet yang ada di luar kampus seorang diri. Memang tidak banyak warnet ketika itu. Jaraknya dengan tempat tinggalku pun cukup lumayan jauh. Dengan berjalan kaki memakan waktu kurang lebih 20 menit.
Karena kebisaanku ber-chating ria, aku pun merasa perlu berbagi cerita enaknya chating dengan teman-teman satu kos. Rasa penasaran mereka sama besarnya ketika aku pertama kali ingin mengetahui tentang chating. Dengan suka rela aku mengajak mereka ke warnet dan mengajarinya. Tentu saja dengan imbalan, mereka harus membayar biaya rental internet yang aku pakai. Ketika itu, biaya warnet di luar kampus Rp 5.000 per jam.
Aku terus menggali informasi tentang internet. Apalagi yang bisa dilakukan selain chating, sebab, lama kelamaan bosan juga chating melulu. Seorang kakak kelas di kampus mengajari aku tentang web site atau situs. Awalnya aku benar-benar tidak tahu benda apa itu. Bahkan benakku langsung tertuju pada situs peninggalan sejarah dan situs purbakala.
Setelah dijelaskan ternyata web site adalah satu ruang atau alamat tempat kita mencari informasi-informasi. Beberapa kali aku pergi ke warnet dengan kakak kelas yang bernama Dedy. Sampai di warnet, aku tidak bisa duduk di sebelahnya karena dia keberatan. Aku pun membuka satu komputer di warnet. Tapi aku belum tahu harus melakukan apa.
Saat aku tanya, dia langsung membukakanku satu alamat situs yang tertulis http\\www.sex.com. Aku cuma diam. Setelah beberapa saat muncul gambar, ternyata isinya bermacam gaya persetubuhan. Melihat wajahku yang merah, Dedy justru tertawa-tawa. “Wah aku dikerjai ne,”pikirku.
Setelah aku lebih paham tentang web site dan memiliki beberapa alamat situs, aku semakin keranjingan dengan internet. Bahkan, jam ngenetku jadi bertambah. Tidak hanya siang, tapi juga tengah malam. Kebetulan tidak jauh dari tempat kos, ada warnet baru yang buka. Dia menawarkan program ngenet dari jam 00.00 sampai 07.00 WIB, hanya bayar Rp 15.000. Tentu saja momen ini tidak aku lewatkan. Aku sengaja tidur lebih cepat, tepatnya selepas sholat magrib agar bisa terbangun tengah malam dan menelusuri dunia maya.
Bahkan suatu malam, aku harus menembus hujan lebat demi warnet. Ketika itu aku sedang banyak tugas dan harus selesai malam itu juga. Data di internet merupakan satu-satunya jawaban untuk tugas-tugas kuliahku.

Saat aku hendak keluar rumah, sekitar pukul 23.30 WIB, ternyata hujan lebat turun. Warnet di dekat kos tutup karena mati lampu. Aku terpaksa meminjam sepeda teman sebelah rumah, untuk pergi ke warnet yang jaraknya lebih jauh, kurang lebih 3 km. Rasanya hujan lebat bukanlah jadi masalah asalkan bisa berinternet.
Tapi sekarang, internet sudah sangat familiar. Bahkan berinternet bukanlah menjadi trend melainkan kebutuhan. Ngeblog, ikut jejaringan sosial facebook, friendster, dan lainnya menjadi satu bentuk keikutsertaan aku dalam perkembangan teknologi informasi. Dunia jadi lebih dekat karena ada internet. (sri murni)

 
Leave a comment

Posted by on July 24, 2009 in Uncategorized

 

Tags:

Menelusuri Indahnya Pantai-Pantai di Batam

BATAM memang kaya objek wisata pantai. Namanya juga pulau kecil yang dikelilingi laut. Berjalan hanya beberapa kilometer, yang ditemu ujung-ujungnya adalah pantai. Tahukah Anda dimana saja pantai indah di Batam ini?
Dilihat dari jumlahnya, mencapai puluhan. Karena beberapa diantaranya sudah sempat saya kunjungi, cerita yang saya bagikan ini bisa menjadi motivasi Anda memilih tempat berwisata bersama keluarga. Selamat Membaca!!!


Lihat Ikan Berenang dari Pelantar

ANDA ingin melihat terumbu karang tanpa harus menyelam ke dasar laut? Galang Baru bisa menjadi tempat untuk mewujudkannya. Di ujung pulau Galang tersebut, tersimpan keindahan bawa laut yang bisa kita saksikan dari atas pelataran.
Kejernihan air dan terbebasnya dari pencemaran limba, telah menghadirkan sebuah ekosistem bawa laut yang bisa disaksikan siapa saja tanpa mengharuskan kita untuk menyelaminya. Hanya berdiri sepanjang pelataran yang panjangnya sekitar 100 meter dari tepi pantai, kita bisa melihat beragam ikan laut, rumput laut, dan terumbu karang terombang abing disapu gelombang kecil.
Sambil menikmati makanan ringan dan duduk bersantai seraya menikmati hembusan sejuk angin laut di atas pelantar, Anda pun bisa sekaligus membagi makanan kecil tersebut dengan ikan-ikan yang ada dibawahnya. Tapi ingat, makanan yang mengakibatkan sampa dilarang dibawa ke pelantar bila Anda tidak bisa menjaga kebersihan.
Saking jernihnya air laut, saat saya dan teman-teman mengunjungi tempat wisata yang masih asri ini, bisa terlihat dengan jelas binatang-binatang kecil yang hidup di laut, diantaranya beragam ikan, ubur- ubur, dan lintah laut.
Tempat ini, juga cocok sebagai tujuan rekreasi akhir pekan. Anda beserta keluarga atau rekan dan sahabat, bisa bermalam dengan menggunakan sebuah tenda atau menginap di cottage yang tersedia. Sewanya tidaklah begitu mahal. Satu malam setiap orang hanya dikenakan biaya Rp 30 ribu. Dengan uang tersebut, Anda sudah bisa memilihi menginap di tenda atau di cottage. Bila menginginkan perapian di malam hari, api unggun pun telah disiapkan pengelola. Di siang hari, Anda juga bisa bermain ke pulau seberang yang memiliki pantai berpasir putih.
Dari Batam menuju Galang Baru, memerlukan waktu sekitar satu jam bila berkendara dengan mobil pribadi atau taxi. Tetapi bila berkendara dengan sepeda motor, akan memakan waktu sekitar 1,5 jam.
Jika Anda berniat berangkat dengan menggunakan sepeda motor jenis bebek, ada baiknya membawa cadangan bahan bakar sekitar dua liter di dalam jerigen. Sebab, bahan bakar yang terisi penuh di dalam tangki kendaraan tidak akan cukup untuk pergi dan pulang. Di sepanjang jalan, sangat jarang didapati kedai yang menjual bahan bakar.
Tapi jika menggunakan motor sport, satu tangki bahan bakar motor mencukupi untuk perjalanan pergi dan pulang dari Batam ke Galang Baru. (sri murni)

Sembulang, Deru Ombaknya Tak Terlupakan

JARAKNYA hanya 75 km dari Kota Batam. Dengan kecepatan 80 km/jam, mobil dapat sampai ke Sembulang dalam waktu satu jam. Desa matahari terbit ini, terletak di pinggir laut Pulau Rempang, Kecamatan Galang. Setiap akhir pekan, tidak sedikit masyarakat Batam yang datang, khusus menikmati keindahan dan kesejukan Pantai Sembulang. Bagi saya, deru ombak Sembulang memiliki kesan tersendiri karena terasa deras di telinga.
Untuk mencapai desa ini, sekarang jalannya sudah sangat mulus karena pemerintah Kota Batam telah melakukan pengaspalan. Tapi sekitar 4 tahun lalu, jika ingin ke Sembulang, kita harus melewati jalan yang tidak beraspal. Bahkan 14 km, kondisi jalan dipenuhi dengan kerikil dan debu. Bahkan, di sepanjang jalan, sepi dari aktivitas penduduk. Hanya terlihat bentangan tanah merah di atas bukit-bukit yang tidak lagi berpohon.
Beberapa rumah kayu berbentuk panggung, berdiri di pinggir jalan. Namun jarak antara satu rumah ke rumah yang lain cukup jauh. Walaupun demikian, kesunyian di perjalanan akan terobati dengan keramahan penduduk dan keindahan desa yang terletak tepat di tepi laut.
Rumah mungil tersusun rapi di kiri dan kanan jalan desa. Jalan di desa ini sudah beraspal halus. Enaknya, Anda bisa menikmati makanan tradisional melayu yang banyak dijual masyarakat tempatan.

Pantai Telunjuk Pasirnya Selalu Bergerak

MENCAPAI Pantai Telunjuk, memang memerlukan tenaga ekstra. Sebab pantai ini terletak di Pulau Telunjuk, satu pulau yang berjarang kurang lebih 45 menit naik pancung dari Desa Rempang Cate Jembatan Empat Barelang.
Pasir di pantai yang berhadapan dengan Pulau Subangmas ini, memang putih dan bersih. Dari kejauhan tampah indah, apalagi turut dihiasi pohon-pohon kelapa. Satu keunikan dari pantai ini adalah pasirnya yang selalu bergerak.
Tidak heran masyarakat setempat menamai Pantai Telunjuk dengan Pantai Pasir Bergerak. Pergerakan yang dimaksud, kadang-kadang pasir di pantai ini terlihat sangat luas dan memanjang ke arah laut, tapi tidak jarang pasir di pantai tampak menyempit, hingga luasnya hanya beberapa meter dari bibir pantai.
Jika dilihat dari arus gelombang, berubahnya pantai pasir pantai lebih dikarenakan pengaruh pasang. Jika air laut sedang pasang surut, maka tampaknya pantai yang meluas. Begitu pula sebalinya.
Namun menurut Alex, seorang warga Pulau Telunjuk, beberapa kali air surut, pasir di pantai tetap kelihatan menyempit dan hilang dari pantai. Setelah air pasang, justru pasir itu kembali terlihat luas.
“Itu makanya kami warga kampung tidak membolehkan siapapun duduk dan bersantai di pasir yang terlalu dekat dengan air laut. Kalau mau duduk santai agak jauh ke darat. Ditakutkan kalau dekat ke laut, nanti pasirnya menghilang dan kita bisa terbawa air laut,”cerita Alex. (sri murni)


 
5 Comments

Posted by on May 30, 2009 in lomba blog batam 2009

 

Berkayak Mengelilingi Pulau di Batam, Seru Abis!!!

Berkayak

Berkayak

Serasa Mengulang Kejayaan Bahari Nenek Moyang

INGIN mencoba serunya mendayung kayak atau kano di laut ? Cobalah objek wisata satu ini, yang tersedia di Batam. Kayaking! Berkayak disini lebih menantang karena rute yang dilalui laut luas, menyeberangi satu pulau ke pulau lain.

Tidak perlu pandai berenang untuk mengikuti olahraga air ini. Sebab, penyedia atraksi wisata ini, Sekilak Adventure dan Komunitas Budaya Bahari, tela menyiapkan semua peralatan berkayak yang sesuai standar internasional.
Life jacket (jaket pelampung) yang disediakan bisa diandalkan. Saat Anda terjatuh dari kayak ke laut, jangan takut akan tenggelam, karena secara otomatis jaket pelampung yang wajib dikenakan sebelum berkayak, akan mengapungkan Anda.
Bahkan jaket ini bisa mengapung sampai dua bulan. Ditambah lagi, setiap Anda berkayak, regu penolong sudah siap sedia mendampingi perjalanan. Regu penolong itu terbagi dua yakni tim yang menggunakan speed boat sehingga secara cepat bisa menolong Anda jika ada masalah, dan tim penolong yang juga menggunakan kayak.
Ratusan orang pemula, yang sebelumnya tidak pernah mendayung, telah mencoba mengikuti ekspedisi kayak dari satu pulau ke pulau lain. Ingat, Batam ini  memiliki 345 pulau. Anda bisa mengelilinginya setiap akhir pekan atau kapanpun Anda inginkan.
Pengalaman menarik itu dirasakan Neli, seorang peserta ekspedisi. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya begitu berhasil melewati gelombang kuat saat berada di bawah Jembatan Satu Barelang.
Walaupun dirinya baru pertama kali mengenal kayak, juga baru pertama kali mendayung, ternyata arus gelombang yang kuat tidak membuatnya gentar apalagi takut. Justru menjadi petualangan yang tidak akan terlupakan.
“Seru banget. Apalagi saat arus kuat di bawah jembatan satu barelang. Meskipun gan bisa berenang tapi rasanya aman-aman saja,” komentar singkat Neli.
Keterampilan berenang, memang bukan menjadi salah satu persyaratan wajib bagi masyarakat yang hendak mengikuti ekspedisi kayak yang dilakukan Sekilak Adventure setiap akhir pekan. Sebab, masing-masing peserta dibekali gengan pelampung yang berstandar internasional. Seandainya pun terjatuh ke laut, pelampung tersebut bisa menahan beban badan dan tetap mengapungkannya ke permukaan.
Kenyamanan dan keamanan peserta bisa dirasakan karena kayak touring yang digunakan adalah jenis double (dua orang satu kayak). Setiap kayaknya terdiri dari satu peserta baru dan satu instruktur. Peserta ditempatkan di depan sedangkan instruktur di belakang. Merekalah yang memegang kendali kemudi kayak dan sekaligus yang akan memberikan pertolongan pertama jika terjadi sesuatu.
Rute-rute pendek yang biasa dilalui para kayakin, adalah star dari Tiawangkang (Jembatan Satu Barelang) ke Pulau Aur, Pulau Panjang, Pulau Bali, dan pulau lain di sekitar Jembangan Barelang.
Pada momen-momen tertentu (satu kali sebulan) ekspedisi biasanya ke pulau yang lebih jauh. Bahkan pada 2007 lalu, para ekspeditor kayak melakukan ekspedisi dari Batam ke Pulau Penyengat. Rombongan berangkat dari Jembatan Empat Barelang sekitar pukul 05.00 WIB dan sampai ke Pulau Penyengat sekitar pukul 16.00 WIB.
Terbanyangkan jauh dan serunya di perjalanan. Apalagi, di tengah perjalanan kami menyinggahi pulau-pulau kecil, salah satunya Pulau Sorek. Disini kita bisa melakukan snorckling melihat indahnya karang dan ikan-ikan di laut. (sri murni)

 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2009 in lomba blog batam 2009

 

Melihat Aktivitas Suku Laut di Batam

Suku Laut

Suku Laut

Anak-Anak Tetap Ingin Menimbah Ilmu Agama

ANDA ingin tahu bagaimana suku asli di Batam ini hidup. Berkunjunglah ke pulau-pulau kecil yang ada di sekitar Batam. Anda pun akan bertemu dengan komunitas masyarakat Suku Laut, salah satu suku tertua yang ada di Batam. Bagaimana kehidupan mereka? Saya membagikan sekelumit cerita tentang aktivitas anak-anak suku laut yang haus pendidikan

ANAK-anak suku laut yang tinggal di pulau-pulau kecil sekitar Batam, ternyata tidak hanya kesulitan mengenyam pendidikan formal. Untuk mendapatkan ilmu agama pun, mereka kesusahan. Guru ngaji yang setiap hari mereka dambakan, tidak kunjung datang.

KETIKA saya bertanya pada Darmawan, apa hal yang paling diinginkannya saat ini? Bocah berusia sembilan tahun itu, tanpa malu-malu dan polos menjawab,”Ingin ngaji lagi.” Loh kok? ternyata keinginannya itu bukanlah tidak berdasar.
Meskipun usianya terbilang sangat belia, tetapi bocah yang hari-harinya akrab disapa Darmi itu sudah bisa merasakan pentingnya ilmu agama. Terlebih lagi, di lingkungannya sekolah, SD 003 Pulau Kubung, penganut agama Islam sangatlah sedikit. Dari sekitar 30-an murid, hanya empat orang yang seaqidah dengannya.
Alhasil, ia selalu merasa iri dengan teman-teman sebayanya yang mendapatkan pelajaran agama saat mata pelajaran agama tiba. “Kalau di sekolah cuma empat orang yang muslim. Semuanya bukan muslim. Jadi kalau pelajaran agama, kami bawa Al Quran sendiri dan gak ada yang ngajari,”ceritanya kepada saya bertandang ke salah satu perkampungan Suku Laut yang ada di Pulau Kubung Kelurahan Ngenang Kecamatan Galang, Kamis pada awal Mei 2008 silam.
Kedatangan saya ke perkampungan tersebut bersama rombongan dari beberapa instansi yang peduli terhadap kehidupan masyarakat Suku Laut yakni Yayasan Hang Tuah, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Batam, Pemuda Muhammadiyah Batam, dan Departemen Agama (Depag) Batam dalam rangka silaturahmi.
Tidak hanya Darmi yang merindukan seorang guru mengaji, tetapi juga belasan anak-anak di Pulau Kubung. Semenjak pemukiman tersebut terbentuk sejak pertengahan 90-an lalu, belum satu pun guru agama Islam mengajar dan berdakwah disana.
Darmi sendiri memperoleh kepandaian membaca kitab suci Al Quran dari sang ayah dan seorang tetangganya bernama Nazri. Sayangnya, Nazri yang berasal dari Selat Panjang sangat jarang berada di rumah karena harus mencari nafkah di luar pulau, tepatnya menjadi buruh bangunan di Batam.
Meskipun Darmi sangat sedikit mendapatkan ilmu agama, namun ia tidak pernah menyia- nyiakan kebisaannya itu yang tergolong langka di Pulau Kubung. Tanpa ragu, hampir setiap hari ia menularkan ilmu membaca Al Quran kepada adiknya, Awi, yang baru berusia lima tahun.
“Kalau aku belajar ngajinya dari abang (Darmi). Aku udah bisa baca Iqra’,”tutur Awi dengan polos. Di perkampungan yang dihuni sekitar 40 kepala keluarga ini, juga tidak terdapat fasilitas rumah ibadah, meskipun hanya berupa Musholah kecil.
Kesulitan mendapatkan guru agama Islam ternyata hampir dialami seluruh warga Suku Laut. Tidak hanya di Pulau Kubung, tetapi juga di Air Mas dan Dapur Arang. Kedua perkampungan terakhir ini letaknya tepat di depan Pulau Ngenang yang menjadi pusat pemerintahan Kelurahan Ngenang.
Di perkampungan Air Mas, sudah terdapat sebuah musholah yang cukup besar. Hanya saja, warga tempatan juga kehilangan guru ngaji. “Sudah tidak tahu berapa orang yang ditugaskan disini. Tapi tidak ada yang bertahan lama. Semuanya pulang ke Batam,”ungkap Ziah, seorang warga Air Mas.
Akibatnya, orang tua warga disana kesulitan harus mencari guru mengaji bagi putra-putri mereka.  “Kalau kami yang tua-tua ini gak bisa membaca Al-Quran. Mana mungkin bisa mengajarkan mengaji anak-anak,”kata wanita berkerudung itu. (sri murni)

 
8 Comments

Posted by on May 30, 2009 in lomba blog batam 2009

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.