Feeds:
Tulisan
Komentar

BATAM memang kaya objek wisata pantai. Namanya juga pulau kecil yang dikelilingi laut. Berjalan hanya beberapa kilometer, yang ditemu ujung-ujungnya adalah pantai. Tahukah Anda dimana saja pantai indah di Batam ini?
Dilihat dari jumlahnya, mencapai puluhan. Karena beberapa diantaranya sudah sempat saya kunjungi, cerita yang saya bagikan ini bisa menjadi motivasi Anda memilih tempat berwisata bersama keluarga. Selamat Membaca!!!


Lihat Ikan Berenang dari Pelantar

ANDA ingin melihat terumbu karang tanpa harus menyelam ke dasar laut? Galang Baru bisa menjadi tempat untuk mewujudkannya. Di ujung pulau Galang tersebut, tersimpan keindahan bawa laut yang bisa kita saksikan dari atas pelataran.
Kejernihan air dan terbebasnya dari pencemaran limba, telah menghadirkan sebuah ekosistem bawa laut yang bisa disaksikan siapa saja tanpa mengharuskan kita untuk menyelaminya. Hanya berdiri sepanjang pelataran yang panjangnya sekitar 100 meter dari tepi pantai, kita bisa melihat beragam ikan laut, rumput laut, dan terumbu karang terombang abing disapu gelombang kecil.
Sambil menikmati makanan ringan dan duduk bersantai seraya menikmati hembusan sejuk angin laut di atas pelantar, Anda pun bisa sekaligus membagi makanan kecil tersebut dengan ikan-ikan yang ada dibawahnya. Tapi ingat, makanan yang mengakibatkan sampa dilarang dibawa ke pelantar bila Anda tidak bisa menjaga kebersihan.
Saking jernihnya air laut, saat saya dan teman-teman mengunjungi tempat wisata yang masih asri ini, bisa terlihat dengan jelas binatang-binatang kecil yang hidup di laut, diantaranya beragam ikan, ubur- ubur, dan lintah laut.
Tempat ini, juga cocok sebagai tujuan rekreasi akhir pekan. Anda beserta keluarga atau rekan dan sahabat, bisa bermalam dengan menggunakan sebuah tenda atau menginap di cottage yang tersedia. Sewanya tidaklah begitu mahal. Satu malam setiap orang hanya dikenakan biaya Rp 30 ribu. Dengan uang tersebut, Anda sudah bisa memilihi menginap di tenda atau di cottage. Bila menginginkan perapian di malam hari, api unggun pun telah disiapkan pengelola. Di siang hari, Anda juga bisa bermain ke pulau seberang yang memiliki pantai berpasir putih.
Dari Batam menuju Galang Baru, memerlukan waktu sekitar satu jam bila berkendara dengan mobil pribadi atau taxi. Tetapi bila berkendara dengan sepeda motor, akan memakan waktu sekitar 1,5 jam.
Jika Anda berniat berangkat dengan menggunakan sepeda motor jenis bebek, ada baiknya membawa cadangan bahan bakar sekitar dua liter di dalam jerigen. Sebab, bahan bakar yang terisi penuh di dalam tangki kendaraan tidak akan cukup untuk pergi dan pulang. Di sepanjang jalan, sangat jarang didapati kedai yang menjual bahan bakar.
Tapi jika menggunakan motor sport, satu tangki bahan bakar motor mencukupi untuk perjalanan pergi dan pulang dari Batam ke Galang Baru. (sri murni)

Sembulang, Deru Ombaknya Tak Terlupakan

JARAKNYA hanya 75 km dari Kota Batam. Dengan kecepatan 80 km/jam, mobil dapat sampai ke Sembulang dalam waktu satu jam. Desa matahari terbit ini, terletak di pinggir laut Pulau Rempang, Kecamatan Galang. Setiap akhir pekan, tidak sedikit masyarakat Batam yang datang, khusus menikmati keindahan dan kesejukan Pantai Sembulang. Bagi saya, deru ombak Sembulang memiliki kesan tersendiri karena terasa deras di telinga.
Untuk mencapai desa ini, sekarang jalannya sudah sangat mulus karena pemerintah Kota Batam telah melakukan pengaspalan. Tapi sekitar 4 tahun lalu, jika ingin ke Sembulang, kita harus melewati jalan yang tidak beraspal. Bahkan 14 km, kondisi jalan dipenuhi dengan kerikil dan debu. Bahkan, di sepanjang jalan, sepi dari aktivitas penduduk. Hanya terlihat bentangan tanah merah di atas bukit-bukit yang tidak lagi berpohon.
Beberapa rumah kayu berbentuk panggung, berdiri di pinggir jalan. Namun jarak antara satu rumah ke rumah yang lain cukup jauh. Walaupun demikian, kesunyian di perjalanan akan terobati dengan keramahan penduduk dan keindahan desa yang terletak tepat di tepi laut.
Rumah mungil tersusun rapi di kiri dan kanan jalan desa. Jalan di desa ini sudah beraspal halus. Enaknya, Anda bisa menikmati makanan tradisional melayu yang banyak dijual masyarakat tempatan.

Pantai Telunjuk Pasirnya Selalu Bergerak

MENCAPAI Pantai Telunjuk, memang memerlukan tenaga ekstra. Sebab pantai ini terletak di Pulau Telunjuk, satu pulau yang berjarang kurang lebih 45 menit naik pancung dari Desa Rempang Cate Jembatan Empat Barelang.
Pasir di pantai yang berhadapan dengan Pulau Subangmas ini, memang putih dan bersih. Dari kejauhan tampah indah, apalagi turut dihiasi pohon-pohon kelapa. Satu keunikan dari pantai ini adalah pasirnya yang selalu bergerak.
Tidak heran masyarakat setempat menamai Pantai Telunjuk dengan Pantai Pasir Bergerak. Pergerakan yang dimaksud, kadang-kadang pasir di pantai ini terlihat sangat luas dan memanjang ke arah laut, tapi tidak jarang pasir di pantai tampak menyempit, hingga luasnya hanya beberapa meter dari bibir pantai.
Jika dilihat dari arus gelombang, berubahnya pantai pasir pantai lebih dikarenakan pengaruh pasang. Jika air laut sedang pasang surut, maka tampaknya pantai yang meluas. Begitu pula sebalinya.
Namun menurut Alex, seorang warga Pulau Telunjuk, beberapa kali air surut, pasir di pantai tetap kelihatan menyempit dan hilang dari pantai. Setelah air pasang, justru pasir itu kembali terlihat luas.
“Itu makanya kami warga kampung tidak membolehkan siapapun duduk dan bersantai di pasir yang terlalu dekat dengan air laut. Kalau mau duduk santai agak jauh ke darat. Ditakutkan kalau dekat ke laut, nanti pasirnya menghilang dan kita bisa terbawa air laut,”cerita Alex. (sri murni)


Berkayak

Berkayak

Serasa Mengulang Kejayaan Bahari Nenek Moyang

INGIN mencoba serunya mendayung kayak atau kano di laut ? Cobalah objek wisata satu ini, yang tersedia di Batam. Kayaking! Berkayak disini lebih menantang karena rute yang dilalui laut luas, menyeberangi satu pulau ke pulau lain.

Tidak perlu pandai berenang untuk mengikuti olahraga air ini. Sebab, penyedia atraksi wisata ini, Sekilak Adventure dan Komunitas Budaya Bahari, tela menyiapkan semua peralatan berkayak yang sesuai standar internasional.
Life jacket (jaket pelampung) yang disediakan bisa diandalkan. Saat Anda terjatuh dari kayak ke laut, jangan takut akan tenggelam, karena secara otomatis jaket pelampung yang wajib dikenakan sebelum berkayak, akan mengapungkan Anda.
Bahkan jaket ini bisa mengapung sampai dua bulan. Ditambah lagi, setiap Anda berkayak, regu penolong sudah siap sedia mendampingi perjalanan. Regu penolong itu terbagi dua yakni tim yang menggunakan speed boat sehingga secara cepat bisa menolong Anda jika ada masalah, dan tim penolong yang juga menggunakan kayak.
Ratusan orang pemula, yang sebelumnya tidak pernah mendayung, telah mencoba mengikuti ekspedisi kayak dari satu pulau ke pulau lain. Ingat, Batam ini  memiliki 345 pulau. Anda bisa mengelilinginya setiap akhir pekan atau kapanpun Anda inginkan.
Pengalaman menarik itu dirasakan Neli, seorang peserta ekspedisi. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya begitu berhasil melewati gelombang kuat saat berada di bawah Jembatan Satu Barelang.
Walaupun dirinya baru pertama kali mengenal kayak, juga baru pertama kali mendayung, ternyata arus gelombang yang kuat tidak membuatnya gentar apalagi takut. Justru menjadi petualangan yang tidak akan terlupakan.
“Seru banget. Apalagi saat arus kuat di bawah jembatan satu barelang. Meskipun gan bisa berenang tapi rasanya aman-aman saja,” komentar singkat Neli.
Keterampilan berenang, memang bukan menjadi salah satu persyaratan wajib bagi masyarakat yang hendak mengikuti ekspedisi kayak yang dilakukan Sekilak Adventure setiap akhir pekan. Sebab, masing-masing peserta dibekali gengan pelampung yang berstandar internasional. Seandainya pun terjatuh ke laut, pelampung tersebut bisa menahan beban badan dan tetap mengapungkannya ke permukaan.
Kenyamanan dan keamanan peserta bisa dirasakan karena kayak touring yang digunakan adalah jenis double (dua orang satu kayak). Setiap kayaknya terdiri dari satu peserta baru dan satu instruktur. Peserta ditempatkan di depan sedangkan instruktur di belakang. Merekalah yang memegang kendali kemudi kayak dan sekaligus yang akan memberikan pertolongan pertama jika terjadi sesuatu.
Rute-rute pendek yang biasa dilalui para kayakin, adalah star dari Tiawangkang (Jembatan Satu Barelang) ke Pulau Aur, Pulau Panjang, Pulau Bali, dan pulau lain di sekitar Jembangan Barelang.
Pada momen-momen tertentu (satu kali sebulan) ekspedisi biasanya ke pulau yang lebih jauh. Bahkan pada 2007 lalu, para ekspeditor kayak melakukan ekspedisi dari Batam ke Pulau Penyengat. Rombongan berangkat dari Jembatan Empat Barelang sekitar pukul 05.00 WIB dan sampai ke Pulau Penyengat sekitar pukul 16.00 WIB.
Terbanyangkan jauh dan serunya di perjalanan. Apalagi, di tengah perjalanan kami menyinggahi pulau-pulau kecil, salah satunya Pulau Sorek. Disini kita bisa melakukan snorckling melihat indahnya karang dan ikan-ikan di laut. (sri murni)

Suku Laut

Suku Laut

Anak-Anak Tetap Ingin Menimbah Ilmu Agama

ANDA ingin tahu bagaimana suku asli di Batam ini hidup. Berkunjunglah ke pulau-pulau kecil yang ada di sekitar Batam. Anda pun akan bertemu dengan komunitas masyarakat Suku Laut, salah satu suku tertua yang ada di Batam. Bagaimana kehidupan mereka? Saya membagikan sekelumit cerita tentang aktivitas anak-anak suku laut yang haus pendidikan

ANAK-anak suku laut yang tinggal di pulau-pulau kecil sekitar Batam, ternyata tidak hanya kesulitan mengenyam pendidikan formal. Untuk mendapatkan ilmu agama pun, mereka kesusahan. Guru ngaji yang setiap hari mereka dambakan, tidak kunjung datang.

KETIKA saya bertanya pada Darmawan, apa hal yang paling diinginkannya saat ini? Bocah berusia sembilan tahun itu, tanpa malu-malu dan polos menjawab,”Ingin ngaji lagi.” Loh kok? ternyata keinginannya itu bukanlah tidak berdasar.
Meskipun usianya terbilang sangat belia, tetapi bocah yang hari-harinya akrab disapa Darmi itu sudah bisa merasakan pentingnya ilmu agama. Terlebih lagi, di lingkungannya sekolah, SD 003 Pulau Kubung, penganut agama Islam sangatlah sedikit. Dari sekitar 30-an murid, hanya empat orang yang seaqidah dengannya.
Alhasil, ia selalu merasa iri dengan teman-teman sebayanya yang mendapatkan pelajaran agama saat mata pelajaran agama tiba. “Kalau di sekolah cuma empat orang yang muslim. Semuanya bukan muslim. Jadi kalau pelajaran agama, kami bawa Al Quran sendiri dan gak ada yang ngajari,”ceritanya kepada saya bertandang ke salah satu perkampungan Suku Laut yang ada di Pulau Kubung Kelurahan Ngenang Kecamatan Galang, Kamis pada awal Mei 2008 silam.
Kedatangan saya ke perkampungan tersebut bersama rombongan dari beberapa instansi yang peduli terhadap kehidupan masyarakat Suku Laut yakni Yayasan Hang Tuah, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Batam, Pemuda Muhammadiyah Batam, dan Departemen Agama (Depag) Batam dalam rangka silaturahmi.
Tidak hanya Darmi yang merindukan seorang guru mengaji, tetapi juga belasan anak-anak di Pulau Kubung. Semenjak pemukiman tersebut terbentuk sejak pertengahan 90-an lalu, belum satu pun guru agama Islam mengajar dan berdakwah disana.
Darmi sendiri memperoleh kepandaian membaca kitab suci Al Quran dari sang ayah dan seorang tetangganya bernama Nazri. Sayangnya, Nazri yang berasal dari Selat Panjang sangat jarang berada di rumah karena harus mencari nafkah di luar pulau, tepatnya menjadi buruh bangunan di Batam.
Meskipun Darmi sangat sedikit mendapatkan ilmu agama, namun ia tidak pernah menyia- nyiakan kebisaannya itu yang tergolong langka di Pulau Kubung. Tanpa ragu, hampir setiap hari ia menularkan ilmu membaca Al Quran kepada adiknya, Awi, yang baru berusia lima tahun.
“Kalau aku belajar ngajinya dari abang (Darmi). Aku udah bisa baca Iqra’,”tutur Awi dengan polos. Di perkampungan yang dihuni sekitar 40 kepala keluarga ini, juga tidak terdapat fasilitas rumah ibadah, meskipun hanya berupa Musholah kecil.
Kesulitan mendapatkan guru agama Islam ternyata hampir dialami seluruh warga Suku Laut. Tidak hanya di Pulau Kubung, tetapi juga di Air Mas dan Dapur Arang. Kedua perkampungan terakhir ini letaknya tepat di depan Pulau Ngenang yang menjadi pusat pemerintahan Kelurahan Ngenang.
Di perkampungan Air Mas, sudah terdapat sebuah musholah yang cukup besar. Hanya saja, warga tempatan juga kehilangan guru ngaji. “Sudah tidak tahu berapa orang yang ditugaskan disini. Tapi tidak ada yang bertahan lama. Semuanya pulang ke Batam,”ungkap Ziah, seorang warga Air Mas.
Akibatnya, orang tua warga disana kesulitan harus mencari guru mengaji bagi putra-putri mereka.  “Kalau kami yang tua-tua ini gak bisa membaca Al-Quran. Mana mungkin bisa mengajarkan mengaji anak-anak,”kata wanita berkerudung itu. (sri murni)

Raih Keuntungan saat Jiran Holiday

SETIAP tahun, ada fenomena menarik tentang dunia pariwisata Batam. Hari ini terjadi saat perayaan Hari Buruh Sedunia, yang jatuh pada 1 Mei setiap tahunnya. Di beberapa kota di Indonesia, termasuk Batam, demonstrasi para pekerja memang kerap menghiasi hari buruh.
Namun, disisi lain, bagi Batam hari buruh menjadi berkah karena angka kunjungan wisatawan dari luar negeri meningkat, khususnya wisawatan dari Singapura dan Malaysia.

Dari data Pelabuhan Laut Batam Centre, setiap libur hari buruh arus kunjungan wisatawan dari negeri jiran tersebut naik dari rata-rata 500-an orang per hari menjadi 5.000 orang per hari.
Arus datang dan balik dari dan ke Singapura mencapai puncaknya jika hari buruh bertepatan dengan akhir pekan (weekend). Dari pagi hingga malam, pelabuhan internasional terutama Batam Centre dan Harbour Bay, selalu dipadati dengan antrian penumpang kapal. Pada pagi hari sekitar pukul 07.30 WIB, ratusan penumpang kapal yang hendak berangkat dari Batam ke Singapura sudah mulai berdiri antri untuk check in di konter-konter tiket kapal.
Penumpang yang balik pagi hari, rata-rata wisatawan yang sudah datang ke Batam sehari sebelumnya. Atrian panjang tidak hanya terlihat di depan konter tiket kapal dan pintu imigrasi, tapi hampir di setiap sudut pelabuhan tampak wisatawan berdiri berkelompok-kelompok.
Kepadatan pengunjung juga terlihat di setiap kafe dan tempat makan yang ada di pelabuhan. Seraya menunggu kapal, biasanya para wisatawan menghabiskan waktu di cafe-cafe yang ada di pelabuhan. Tentu saja, aktivitas wisatawan ini mendatangkan berkah tersendiri bagi para pedagang. (sri murni)

Pesta Kembang Api di Malam Tahun Baru

MALAM tahun baru? Setiap orang tentunya ingin melewatinya dengan berpesta. Kita-kita yang tidak memiliki dana yang cukup untuk mengikuti pesta di malam spesial itu, sejak 2007 lalu, punya tempat istimewa tersendiri, yakni Alun-Alun Engku Puteri yang terletak di Batam Centre.

Disini, mulai pukul 19.00 WIB, setiap tanggal 31 Desember, selalu dihadirkan hiburan rakyat. Artis ibukota tentu saja setia menemani warga dari seluruh penjuru Batam. Bahkan tidak sedikit wisatawan mancanegara yang turut hadir, termasuk warga-warga dari luar Batam.
Tujuan mereka tidak hanya sekedar menghabiskan malam seraya menikmati hiburan gratis yang disuguhkan artis-artis ibukota, tapi lebih dari itu, ingin menikmati indahnya kembang api. Pesta kembang api, bagi sebagian besar masyarakat memang masih menjadi satu hal yang istimewa.
Sehingga tidak mengherankan, begitu malam tahun baru, Alun-Alun Engku Puteri penuh sesak. Anda yang ingin ikut menikmatinya, jangan sampai datang di atas jam 21.00 WIB, karena jalanan menuju alun-alun akan macet.
Perayaan malam tahun baru ini benar-benar dinanti masyarakat. Tepung tangan dan teriakan kekaguman tidak henti-hentinya dilontarkan para pengunjung, saat kembang api mulai memecah gelapnya malam tahun baru, tepat pukul 00.00.
“Wah……kembang apinya keran banget…..,”teriak-teriakan ini kerap terdengar dari para pengunjung. Ungkapan serupa juga terlontar dari para pejabat yang hadir di malam perayaan itu. Yang tidak kalah girangnya, tampak anak-anak melompat-lompat dan bertepuk tangan setiap kali kembang api meluncur dan diledakan di udara.
Dalam acara malam tahun baru tersebut paling sedikit 10 ribu warga memadati datangan Engku Putri (sesuai kapasitas alun-alun). Biasanya juga turut hadir para pejabat seperti, Wali Kota Batam Drs Ahmad Dahlan berserta wakilnya Ria Saptarika, Ketua DPRD Batam Soerya Respationo, Ketua DPRD Provinsi Kepri Nur Syafriadi, serta mantan-mantan Wali Kota Batam dan pejabat lainnya.
Sebelum pesta kembang api, tentu saja acara kerap diisi pementasan grup band lokal, kesenian tradisional Melayu, serta lantunan lagu-lagu bernuansa Melayu dan dangdut, serta pop dari artis ibukota. Setiap tahun artis yang diundang selalu berbeda-beda sesuai dengan trend yang sedang in. (sri murni)

Singapura Resesi, Saatnya Menarik Investor ke Batam

“MANFAATKANLAH kesulitan yang sedang mendera tetangga (Malaysia dan Singapura), sehingga krisis ekonomi global bisa diubah dari bencara menjadi peluang.” Inilah sepenggal kalimat berisi pesan dari pengamat ekonomi kenamaan Indonesia, Faisal Basri, untuk Batam. Karena Singapura sedang resesi bahkan angka pertumbuhan ekonominya diperkirakan minus 2,5 persen pada 2009 ini, begitu juga dengan Malaysia, saatnya bagi Batam mengambil peran dan kesempatan. Apa peran dan kesempatan itu? Faisal Basri yang datang ke Batam dalam rangka seminar pembukaan rapat paripurna Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam di Hotel Novotel Batam, Kamis (4/2), mengajak seluruh pihak di Batam baik pemerintah maupun swasta, berusaha menarik investor yang ada di dua negara itu ke Batam. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2009 ini di atas negara-negara Asia. Kalau Singapura minus, ekonomi kita masih bisa tumbuh 5,7 persen,”ujar Faisal yang disambut tepuk tangan peserta seminar. Bagaimana cara menarik investor? Pengimplementasian free trade zone (FTZ) merupakan satu cara jitu. Asalkan pelaksanaannya jangan berlarut-larut karena Batam bisa kehilangan momen. Diperkirakan, Singapura akan mengalami masa resesi dalam masa lama karena ekonominya sangat tergantung dengan Amerika Serikat (AS). Sementara kondisi ekonomi AS saat ini tidak lebih baik dari negeri jiran tersebut. Faisal memaparkan, ekonomi AS mengalami pertumbuhan minus 1,6 persen. Sementara Jepang, minus 2,6 persen. Kedua negara ini merupakan penyumbang investasi terbesar di Singapura. “Jika pertumbuhan ekonomi Singapura minus, mengapa tidak kita giring mereka untuk berpindah ke Batam. Di Batam upah lebih rendah,”tambahnya. Tapi, pemerintah harus serius menggarap momen ini. Jangan setengah-setengah dan mesti memberikan kemudahan birokrasi. Perlu diingat, investasi yang ditarik dari negeri jiran janganlah dalam bentuk saham atau obligasi, melainkan diwajibkan investasi langsung atau Forign Direct Investment (FDI). Jika tidak, akan sangat memudahkan investor meninggalkan Batam bahkan Indonesia. “Kalau sudah FDI, begitu ada masalah tidak mungkin mereka (investor) mudah pergi begitu saja karena mereka memiliki aset-aset. Tapi kalau hanya saham dan obligasi, begitu ada gonjang ganjing, mereka dengan sangat mudah memindahkan investasinya,”tegas Faisal. Perekonomian Indonesia memiliki fundamental yang sangat kuat untuk menghadapi krisis ekonomi sekarang. Sangat berbeda dengan 10 tahun lalu. Setidaknya ada tujuh fundamental kekuatan ekonomi Indonesia, diantaranya, ekonomi Indonesia tidak terkait langsung dengan AS. Selain itu, angka inflasi Indonesia sudah mulai turun seiring dengan turunnya harga minyak dunia dan beberapa komoditas. Peran ekspor Indonesia di dunia juga sangat kecil. Ditambah sektor bisnis keuangan (perbankan) Indonesia dalam keadaan sangat baik. Ini ditandai dengan kecilnya angka kredit bermasalah yang besarnya 4 persen. “Yang membuat kredit macet terbesar hanya ada dua di Indonesia yakni PT Bosowa dan Bukaka milik Wapres (Jusuf Kalla),” ungkap Faisal yang diiringi tawa dari para peserta. Pemerintah juga telah menaikkan dana stimulus pada 2009 ini dari Rp 27 triliun menjadi Rp 73 triliun. Meskipun angka ini sangat kecil dibandingkan stimulus yang disiapkan negara lain, seperti Cina yang mencadangkan 586 miliar dolar AS, namun kebijakan pemerintah sudah lebih maju. “Kalau nilai tukar rupiah kita masih lemah, jangan dijadikan kendala. Justru ini peluang menarik wisatawan asing ke Batam. Kan mereka bisa belanja lebih banyak di Batam karena punya banyak uang,”papar Faisal. Ia menambahkan, sebaiknya Batam tidak hanya berorientasi industri ekspor tapi mulailah melirik pasar dalam negeri. Tidak perlu menyeberang jauh-jauh, pasar Sumatera saja sudah sangat besar. Jika produk yang dihasilkan Batam dipasarkan ke dalam negeri, dampak krisis akan sangat kecil terasa. Acara rapim Kadin Batam dibuka Wali Kota Batam Ahmad Dahlan. Acara ini diikuti lebih dari 100 anggota Kadin Batam. Menurut sang Ketua, Nada Faza Soraya, pada rapim 2009 ini merumuskan beberapa strategi memajukan ekonomi Batam. Pertama, merancang program pariwisata untuk menyukseskan Visit Batam 2010 dan pemberdayaan UMKM masyarakat pesisir. Untuk mendukung pariwisata, Kadin Batam mengundang para investor dari Timur Tengah pada 11 Maret mendatang. “Mereka akan mengunjungi central-central UMKM dan berkeliling objek wisata di Batam. Diharapkan setelahnya ada kerjasama yang saling menguntungkan,”kata Nada. (nix)

Sebelumnya Hanya Rp 1,6 T

MESKI Batam mulai pertengahan 2008 sampai sekarang masih merasakan dampak krisis ekonomi global, yang mengakibatkan penurunan pertumbuhan ekonomi, namun ternyata peredaran uang kartal di kota industri ini justru meningkat tajam.
Tidak tanggung-tanggung, selama 2008 peredaran uang kartal meningkat dua kali lipat dari Rp 1,6 triliun (2007) menjadi Rp 3,4 triliun (2008). Hal tersebut disampaikan Pemimpin Bank Indonesia (BI) Batam Irwan Lubis, saat berkunjung ke Tribun Batam, Selasa (10/2). Menurutnya, peningkatan kebutuhan uang kartal di Batam karena beberapa faktor.
Pertama, mulai awal 2008 sampai pertengahan tahun terjadi penambahan investasi yang cukup besar di Batam. Beberapa pabrik baru dibuka seperti Epcos di Panbil Mall dan kawasan industri lain. Tahun 2008, menurut catatan BI, merupakan tahun pertumbuhan tertinggi (booming) industri galangan kapal. Selain itu, tahun lalu terjadi pertumbuhan sektor perdagangan yang besar, sehingga memerlukan dana segar.
Meningkatnya kebutuhan uang kartal juga diakibatkan banyaknya pemutusan hubungan kerja yang menyebabkan kebutuhan uang di industri meningkat. “Faktor PHK memang ada tapi kecil,”ujar Irwan seraya menambahkan angka PDRB (produk domestik regional bruto) di Batam mencapai Rp 40 triliun.
Kunjungan Irwan Lubis ke redaksi Tribun Batam merupakan jalinan silaturahmi sekaligus pria berkacamata itu pamitan. Terhitung 13 Februari mendatang, Irwan akan berpindah tugas ke Kantor BI Pusat, tepatnya di Direktoran Pengawasan Perbankan.
Irwan membawa tiga staf, Moh Nuryazidi dan Oikos Mando Panjaitan selaku Analis Ekonomi Muda, serta Harso yang bertugas di bidang UMKM. Rombongan diterima langsung Redaktur Pelaksana Tribun Batam Ahmad Suroso, Manager Produksi Eddy Mesakh, dan jajaran redaksi lainnya. (nix)

INDONESIA terancam kehilangan kekuasaan atas laut zona economi ekslusif, jika tidak cepat-cepat membentuk Penjaga Laut dan Pantai Indonesia atau Indonesia Sea and Coast Guart (ISCG). Sebab, tidak lama lagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menetapkan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) empat. Salah satu isinya adalah bagi negara yang tidak mampu mengelola ZEE-nya maka akan diambil PBB guna dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.
Demikian pernyataan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam Nada Faza Soraya kepada sejumlah wartawan, Senin (16/6) di kantornya. Sebab itu, Kadin bekerjasama dengan Pemko Batam dan Yayasan Pendidikan Maritim Indonesia (YPMI) mendesak Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono untuk sesegera mungkin membentuk ISCG sehingga ada badan negara yang tetap menjaga kelautan Indonesia.
“Saya sangat khawatir dengan kondisi dan masa depan kedaulan kelautan Indonesia. Kita sebagai negara kepulauan dan kelautan sampai sekarang belum memiliki ISCG yang merupakan lembaga wajib yang harus dimiliki sebagai negara kepulauan dan kelautan,”kata Nada.
Tidak hanya ISCG yang segera dibentuk, namun, wanita berkerudung itu juga mengusulkan agar secepatnya DPR dan MPR-RI melakukan amandemen Undang-undang Dasar 1945 dengan penambahan di salah satu pasalnya  bahwa Indonesia adalah negara kepualauan yang berwawasan nusantara sesuai dengan Deklarsi Juanda.
“Saya 12 Desember 2004 lalu mengikuti seminar rancangan UNCLOS 4 yang diselenggarakan di Yogyakarta. Salah satu isinya adalah merencanakan pengambil alihan oleh PBB untuk ZEE jika negara yang memilikinya tidak memanfaatkan dengan baik. Ini sangat meresahkan dan harus diantisipasi. Jangan sampai kita kehilangan wilayah kedaulatan di laut,”kata Nada.
Untuk itu, Kadin Batam dan YPMI telah mengirimkan kajian dan rancangan pembentukan ISCG serta usulan amandemen UUD 1945 kepada MPR, sekitar 10  hari lalu. “Sampai sekarang memang belum ada tanggapan,”akunya.
Ditegaskan, desakan kepada pemerintah pusat akan terus dilakukan. Pada Rabu, 25 Juni mendatang, Kadin Batam dan Pemko Batam akan menggelar seminar dan dialog tentang Peranan Penjaga Laut dan Pantai Indonesia atau ISCG dalam Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan, Karimun.
Seminar tersebut dimaksudkan bisa mengumpulkan ide-ide yang nantinya akan dijadikan rekomendasi kepada pemerintah pusat. Secara dasar hukum, Indonesia telah memiliki pegangan untuk pembentukan ISCG dengan telah disahkannya Undang-undang Pelayaran nomor 17 tahun 2008 yang isinya menetapkan pembentukan ISCG untuk menjamin terselenggaranya keselamatan dan keamanan di laut.
Acara seminar yang bakal diselenggarakan di i hotel Batam menghadirkan lima pembicara yakni Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemko Batam Syamsul Bahrum, Kepala Direktorat Pendidikan Angkatan Laut RI Laksda Sunaryo, Ketua Indonesia Nation Ship Owner Assotion Asosiasi (INSA) Batam Zulkifli Amura, dan Ketua Pelayaran Rakyat (Pelra) Asmadi.
“Kami juga mengundang seluruh kepala daerah yang ada di Kepri dan delapan provinsi kepulauan yakni Gorontalo, Bangka Belitung, Sulawesi Utara, NTT, NTB, Maluku, dan Maluku  Utara,”terang Nada. Diharapkan, setelah adanya rekomendasi hasil semenar nantinya, tahun ini ISCG bisa langsung dibentuk presiden. “BBK siap menjadi pilot projeck ISCG karena  kita telah memiliki PP tentang FTZ dan pelabuhan bebas. ISCG juga bertujuan untuk menyukseskan pelaksanaan FTZ,”tambahnya. (sri murni)

Tidak Seorang Pun Bisa Bahasa Indonesia dan Inggris

“Huuuu…Huuu…Huuu,”Sorak sorai itu langsung terdengar bergerumuh ketika rombongan wartawan turun dari mobil yang diparkir di halaman depan barak tahanan Vietnam, Natuna. Sorakan itu bukan bermakna mengejek, tetapi ternyata bentuk komunikasi yang kerap dilakukan para tahanan Vietnam kepada siapa saja yang mengunjungi mereka, sebagai bentuk sambutan.
Sorakan itulah salah satu bahasa komunikasi yang mereka bisa katakan disamping bahasa isyarat. Lain dari itu, mereka tidak bisa mengungkapkan apa-apa karena tidak satupun dari tahanan bisa berbahasa selain bahasa Vietnam, baik bahasa Indonesia maupun Inggris.
Barak itu terletak di belakang bangunan markas Polisi Militer, Jalan Datuk Kaya M Wan Benteng, Ranai, Natuna. Tepatnya berhadapan dengan markas Pangkalan Angkatan Laut Ranai yang jaraknya hanya beberapa meter dari Pelabuhan Udara Ranai (Rantau Nan Indah).
Barak itu sangat sederhana. Seluruhnya terbuat dari kayu dengan luas kurang lebih 10×50 meter. Di dalamnya terdapat 311 tahanan yang ditangkap kesatuan Angkatan Laut dan Polisi Ranai. Mereka adalah anak buah kapal dari 48 kapal asing yang melakukan ilegal fishing dan diamankan di perairan Natuna mulai Desember sampai April lalu.
Tidak seluruh tahanan berasal dari Vietnam, tetapi beberapa ada yang berasal dari Thailand, Philipina, dan Malaysia. Ketiak Tribun berkunjung, hari menunjukan sekitar pukul 10.15 WIB, Minggu (11/5).
Waktu itu penghuni barak sedang bersantai. Beberapa jam sebelumnya mereka telah sarapan, dan sedang menunggu jadwal makan siang. Sebagian mereka tampak duduk-duduk sambil merokok di dalam barak. Beberapa juga terlihat tidur-tiduran di balai yang terbuat dari papan tanpa kasur maupun alas tidur. Tidak sedikit pula yang beristirahat di atas ayunan tali yang dipasang di atas balai kayu di dalam barak. Segelintir tahanan terlihat duduk sambil bercerita bersama rekan-rekannya di belakang barak sambil memandang langsung ke laut Natuna.
Karena tidak satu pun yang bisa bahasa Inggris maupun Indonesia, rombongan wartawan memang agak kesulitan berkominukasi. Untung saja, seorang anggota Angkatan Laut yang mendampingi wartawan Sertu Dwi Joko R bisa berbahasa Vietnam, meskipun hanya mampu menanyakan nama dan umur.
Begitu rombongan masuk ke dalam barak, para tahanan yang semuanya laki-laki, langsung berkumpul dan mengelilingi rombongan. Di antara pria-pria warga negara asing itu, ternyata terdapat dua anak yang masih di bawah umur. Keduanya adalah Dinh The Dan (10) dan Nguyen Thanh Bung (12). Din tertangkap Penjaga Perbatasan Indonesia bersama ayahnya Din Wan Dan (42) dan puluhan pekerja kapal pencari ikan ilegal di laut Natuna.
Sementara Nguyen, tidak memiliki keluarga karena ia ikut melaut bersama para tetangganya di kapal berbendera Vietnam. Dengan bahasa isyarat, Nguyen mengaku masih bersekolah di negaranya dan duduk di kelas 6 SD. Sementara Din, duduk di kelas 5 SD.

Sehari Habiskan 300 Kg Beras

TINDAKAN ilegal fishing oleh kapal-kapal asing, bagai buah simalakami bagi petugas keamanan Indonesia yang bertugas di Natuna maupun pemerintah daerah setempat. Sebab, penangkapan ilega fishing selama ini telah menjadi beban anggaran pemerintah dan instansi keamanan, baik Kepolisan maupun Angkatan Laut.
Sebanyak 48 armaga kapal asing yang tertangkap di perairan Natuna sejak Desember sampai April lalu, di dalamnya memuat sekitar 600 anak buah kapal bersama para pimpinan mereka. Ke-600 ABK tersebut kini ditahan di dua tempat. Sebanyak 311 orang berada di barak tahan Vietnam di Ranai, sedangkan sisanya berada di tahanan Pulau Tarempa.
Ke-600 ABK itulah yang kini menjadi beban pemerintah. Sebab, setiap hari mereka harus diberi makan dan diperhatikan kondisi kesehatannya. Bupati Natuna Daeng Rusnadi dan Komandan Angkatan Laut Ranai Kolonel Laut (P) Deddy Suparli menceritakan, setiap harinya para tahanan itu menghabiskan paling sedikit 300 kg beras. Makanan pokok itu disuplai pemerintah daerah Natuna yang dananya diambil dari APBD.
“Pemerintah memang hanya memberikan beras saja pada mereka. Sementara yang masak mereka sendiri,”tutur Daeng pada Tribun yang berkunjung ke Ranai, Natuna, Minggu (11/5). Sebanyak 300 kg beras itu dialokasikan untuk dua tempat yakni tahanan di Tarempa dan Ranai.
Beras yang diberikan, selanjutnya akan dimasak sendiri oleh para tahanan. Di barak tahanan Vietnam di Ranai, setiap harinya makanan dimasak secara bergantian oleh penghuni. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan kapal yang mereka tumpangi.
Satu kapal diberikan satu dapur. Satu dapur luasnya kurang lebih 50×120 cm. Mereka tidak diberikan perlengkapan masak apapun, baik kompor, periuk, atau wajan. Alat masak diambil dari kapal masing-masing tahanan. Untuk memasak, mereka tidak menggunakan kompor, melainkan tunggu kayu. Tidak mengherankan, jika setiap dapur yang mereka gunakan penuh dengan warna hitam, akibat asap kayu yang mengepul setiap pagi, siang, dan sore.
Siapa saja yang memasak? Semuanya diserahkan kepada ketua kelompok untuk mengatur tugas anggotanya, termasuk tugas membersihkan barak. Para tahanan memang hanya diberikan beras tanpa tambahan lauk. Jika mereka ingin makan dengan lauk, mereka harus mencarinya sendiri di laut.
“Kami memberikan alat tangkap seperti pancing dan kail. Kalau mereka mau makan dengan ikan, tinggal mencarinya sendiri di laut. Kadang-kadang kalau ada dana, kami berikan indomi untuk mereka masak sendiri,”cerita Sertu Dwi Joko R dari kesatuan Angkatan Laut Ranai yang bertugas menjaga barak tahanan Vietnam.
Saat Tribun berkunjung, ternyata dapur tidak hanya digunakan untuk memasak, tetapi sekaligus tempat berinstirahat dan bersantai pada siang hari. Setelah selesai mengolah makanan di pagi hari, api tungku mereka padamkan. Beberapa dari tahanan kemudian memasang ayunan tali di areal dapur.
Untuk menambah pasokan makanan para tahanan, mereka juga diberikan lahan bercocok tanam. Lokasinya berada di belakang Markas Angkatan Laut Ranai. Luasnya cukup lumayan. Di lahan itulah para tahanan menanam sayur mayur, cabai, bawang, dan kebutuhan dapur lainnya.
Meskipun para pelaut itu adalah tahanan, tetapi mereka tidak sepenuhnya diperlakukan seperti tahanan para umumnya. Mereka hanya dilokalisasi di lingkungan Markas PM dan Markas Lantamal Ranai.
Para tahanan dibagi menjadi dua. Pertama adalah tahanan utama yang terdiri atas nakhoda dan pimpinan kapal. Kedua, adalah tahanan yang berisikan para ABK (anak buah kapal). Tahanan utama dipenjara layaknya tersangka di tahanan Markas Lantamal Ranai.
Sementara para ABK ditahan di barak di belakang Markas PM Ranai. Tidak seperti tahanan utama yang tidak diperbolehkan keluar ruang tahanan, para ABK masih diberikan kebebasan beraktivitas di dalam lingkungan Markas PM dan Lantamal yang sekelilingnya dipagar kayu dan terletak di tepi laut.
“Para tahanan ini (ABK) bisa mencari ikan, mancing atau menjaring ke laut di belakang markas PM. Yang penting mereka tidak boleh keluar Markas apalagi sampai bergabung dengan masyarakat sekitar,”kata Joko.
Setiap harinya, para tahanan wajib mengikuti apel pagi sekitar pukul 07.00 dan apel malam sekitar pukul 21.00. Pada setiap apel, selain mengabsen satu per satu tahanan, sekaligus menanyakan kondisi kesehatan mereka. Jika ada tahanan yang merasa kurang sehat akan langsung diperiksa oleh dokter umum yang bertugas yakni Letda dr Abraham dari Angkatan Laut Ranai. (sri murni)

Banyak yang Keenakan Tinggal di Indonesia


“CHACHA…..Vietnam…,”dua kata itu berulang-ulang diucapkan Nguyen Thanh Bung seraya menggerak-gerakan kedua tangannya sehingga membentuk tanda hati. Sejumlah wartawan yang mendatangi barak tahanan Vietnam di Ranai, Natuna, Minggu (11/5) pun saling bertatap dan bingung, apa yang dimaksud bocah berusia 12 tahun itu.
Untung saja, tidak lama berselang Sertu Dwi Joko R dari kesatuan Angkatan Laut Ranai, yang bertugas menjaga barat datang menghampir wartawan yang sedang berkumpul dengan Nguyen dan tahanan lainnya, datang. Ia langsung mengartikan maksud Nguyen.
“Dia bilang, dia (Nguyen) rindu mamanya di Vietnam,”jelas Joko. Kata chacha (bahasa Vietnam) berarti ibu. Tidak heran, bocah bermata sipit itu sangat merindukan ibu, ayah, dan adik-adiknya. Siswa kelas 6 sekolah dasar di negaranya, kini hidup seorang diri di barak tahanan tanpa keluarga.
Ia tertangkap petugas perbatasan Indonesia di perairan Natuna bersama anak buah kapal (ABK) lainnya saat melakukan ilegal fishing (pencurian ikan). Joko menceritakan, beberapa bulan lalu saat Nguyen diperiksa petugas dari Batam yang mengerti bahasa Vietnam sempat mengungkapkan dirinya terpaksa ikut ilegal fishing seorang diri demi membantu ekonomi keluarganya. Nguyen merupakan anak tertua dari lima bersaudara.
Satu hal yang masih membuat Nguyen menikmati hidup di barak karena ia memiliki teman sebaya yakni Dinh The Dan (10). Bedanya, di barak Dinh masih memiliki ayah yang setiap saat mendampinginya. Baik Nguyen maupun Dinh ingin cepat pulang ke Vietnam bertemu seluruh keluarga mereka.
Bagi Nguyen, Dinh, dan seluruh tahanan ilegal fishing yang ditempatkan di barak, pemulangan ke Vietnam sebenarnya bisa dilakukan sesegera mungkin. Hanya saja, yang berkewajiban memulangkan mereka bukanlah pemerintah Indonesia, melainkan pemerintah Vietnam melalui kedutaan besarnya yang ada di Indonesia.
“Kami masih menunggu kapan mereka akan dipulangkan kedutaan besar Vietnam. Kalau kami maunya secepatnya mereka dipulangkan,”kata Komandan Pangkalan Angkatan Laut Ranai yang ditemui Tribun beberapa saat sebelum mengunjungi barak.
Ia menambahkan, semakin lama pemerintah Vietnam dan pemerintah negara lain yang menjadi asal tahanan ilegal fishing, Thailand, Cina, Filipina, dan Malaysia, memulangkan para tahanan, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan pemerintah daerah untuk menanggung makan dan biaya kesehatan mereka.
“Kalau statusnya ABK, mereka tidak kita adili dan bisa dipulangkan kapanpun. Yang tetap kita tahan itu nakhoda dan pimpinan kapal. Mereka harus menunggu proses peradilan,”terang Joko lagi.
Dari 311 tahanan yang ada di barak tahanan Vietnam, ternyata tidak sedikit yang tidak ingin dipulangkan ke negara asal. Nguyen Thanh Phang misalnya. Pria berusia 25 tahun ini, sudah dua kali akan dipulangkan pemerintah Vietnam, namun menolak. Alasannya, ia lebih senang berada di Indonesia, khususnya di barak, karena bisa makan nasi dan ikan lebih banyak daripada di negaranya.
Alasan itu diungkapkan langsung Thanh dalam bahasa isyarat dan tiga kata bahasa Indonesia. Di antara semua tahanan, Thanh merupakan satu-satunya warga Vietnam yang bisa mengungkapkan    bahasa Indonesia, meskipun hanya tiga kata. Ketiga kata itu pun tidak bisa ia ucapkan dengan sempurnya. “Maka, ika, baya,” begitu ia berulang-ulang melafalkannya. Maka berarti makan, ika berarti ikan, dan baya bermakna banyak.
Pertama kali mendengar ucapan Thanh, para wartawan sempat bingung. Tapi setelah diutarakan berulang-ulang oleh Thanh, para kuli tinta pun mereka-reka artinya yang kira-kira,”di Indonesia bisa lebih banyak makan ikan dan nasi ketimbang di Vietnam.”
Hal ini dibenarkan Sertu Dwi Joko R. Dari pemeriksanaan yang pernah dilakukan, alasan beberapa tahanan tidak mau dipulangkan ke negaranya karena merasa sangat enak tinggal di Indonesia.
“Mereka (tahanan) ketika diperiksa tim yang mengerti bahasa Vietnam banyak yang lebih memilih tinggak di Indonesia. Kata mereka disini (Indonesia) bisa lebih banyak makan daripada kerja. Di Vietnam mereka lebih banyak kerja, makannya sedikit. Begitu juga di kapal, mereka hanya istirahat tiga jam sehari semalam, sementara makannya sangat dibatasi,”tutur Joko.
Untuk melakukan pemeriksaan terhadap para tahanan, kepolisian Ranai terpaksa mendatangkan tim pemeriksa dari Batam dan Tanjungpinang yang bisa mengerti bahasa Vietnam, Thailand, dan Filipina. Sebab, para tahanan tidak bisa mengerti ketika diajak komunikasi dengan bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. (sri murni)

Sinyal Kuat, Sepanjang Jalan Bisa Ikuti Kuis

KOMITMEN Telkomsel untuk menjangkau sampai ibukota kecamatan-kecamatan se-Indonesia, sudah dibuktikan dengan perjalanan uji sinyal atau drive test yang dilakukan managemen bersama wartawan se-Sumatera, dengan menempuh perjalanan bus dari Kota Padang-Bukit Tinggi-Pekanbaru.

BUS pariwisata berkapasitas 40 orang, mulai bergerak dari Hotel Ambacang Kota Padang, tempat menginapnya para peserta uji sinyal, sekitar pukul 07.50 WIB, Sabtu (19/4). Bus berwarna hitam itu berisikan 22 wartawan dari berbagai media yang ada di Sumatera, mulai dari Lampung, Palembang, Padang, Pekanbaru, Batam, dan Medan.
Di dalam angkutan ber-AC itu juga terdapat jajaran pimpinan managemen Telkomsel diantaranya, Ahmad Yunus selaku Vice President Telkomsel Area Sumatera, Rukmono (GM Telkomsel Sumatera Bagian Utara), Gatut Hadi Widodo (GM Telkomsel Sumatera Bagian Tengah), Androw Thaft (Vice President Network Operation Telkomsel), Sigit Rianto (GM Network Operation Area Sumatera Bagian Tengah), dan beberapa karyawan lainnya.
Sebelum berangkat, bus telah dilengkapi alat-alat untuk memantau sinyal Telkomsel sepanjang rute yang akan dilalui. Di atas meja di depan tempat duduk paling depan, telah diletakkan dua laptop lengkap dengan program-grogram yang diperlukan. Laptop telah tersambung dengan beberapa unit alat lagi yang diperlukan untuk mengetahui kekuatan sinyal, termasuk diantaranya antena yang dipasang di atas pintu bus bagian depan.
Dua teknisi Telkomsel pun telah berada di depan laptop tersebut yang turut didampingi Sigit Rianto. Para wartawan pun tidak mau ketinggalan. Begitu bus melaju dengan santai dan hanya berkecepatan sekitar 60 km per jam, insan media juga ikut memelototi peralatan uji sinyal yang disediakan Telkomsel, secara bergantian.
Beberapa peserta yang merasa tidak nyaman berdiri untuk melihat kekuatan sinyal melalui laptop di sepanjang jalan, dari tempat duduk masing-masing mereka tetap memperhatikan kekuatan sinyal melalui handphone yang dibawa.
“Dari Padang ke Bukit Tinggi sinyalnya kuat ya. Rata-rata 6-7 bar,”kata Rilis, peserta dari Lampung Pos. Bukti kekuatan sinyal sepanjang jalan kedua kota tersebut juga dibuktikan dengan acara drive quiz yang ditaja Telkomsel untuk para peserta.
Di atas bus, Hadi selaku Corporate Communication Telkomsel Area Sumatera Bagian Selatan yang merangkat MC, memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar Telkomsel. Para peserta menjawabnya melalui SMS yang dikirimkan ke nomor SMS Centre.
Selain menguji pengetahuan peserta tentang Telkomsel, untuk memenangkan kuis diperlukan kecepatan dan jawaban yang benar. “Jawaban yang paling cepat masuk dan benar, akan mendapatkan point. Point tertinggilah yang akan menang,”kata Hadi.
Dengan antusias para peserta menyimak setiap pertanyaan dan menjawabnya seakurat dan secepat mungkin. Gelaran kuis memang cara ampuh menghidupkan suasana di perjalanan. Medan Padang-Bukit Tinggi yang berkelok-kelok tidak begitu terasa, karena perhatian tertuju pada acara kuis, sambil membuktikan kekuatan sinyal Telkomsel.
Selain kuis yang dikirimkan ke SMS Centre, peserta juga disuguhi kuis yang dijawab langsung ke nomor HP salah seorang managemen Telkomsel. Peserta yang jawabannya paling cepat masuk ke nomor panitia dan benar mendapatkan hadiah langsung.
Tidak terasa, sekitar 2 jam 45 menit bus menyusuri jalan-jalan berkelok, rombongan telah sampai di depan pelataran Jam Gadang, Bukit Tinggi. Di tempat ini telah menanti sebuah tenda yang dibawahnya lengkap dengan peralatan video conference.
Program uji sinyal merupakan kegiatan nasional yang dilakukan serempak se-Indonesia. Selain perjalanan Padang-Bukit Tinggi-Pekanbaru, ada beberapa kota yang juga menggelar acara serupa. Yakni dari Malang ke Yogyakarta, Bandung ke Bogor, Makasar, Parepare, Balikpapan.
Di bawah tenda itu pula, uji teknologi 3G (generasi ke-3) dilakukan dengan melakukan video conference antara peserta di Bukit Tinggi dengan peserta di Yogyakarta, tepatnya di Keraton Yogya.
Awalnya, direncanakan video conference dilakukan secara serempak dengan menghubungkan kelima titik di kota-kota tersebut. Sayangnya, beberapa saat hendak dimulai terjadi gangguan alam berupa hujan deras dan angin yang mengakibatkan gangguan teknis. Padahal sebelum hujan, peserta di kelima kota telah tersambung melalui video conference uji coba.
Alhasil laporan dilakukan hanya melalui dua video conference antara Ahmad Yunus di Bukit Tinggi dan managemen Telkomsel di Yogyakarta. Selepas uji sinyal jaringan 3G, perjalanan dilanjutkan ke Pekanbaru. Bus meluncur sekitar pukul 14.45 WIB yang dilepas dengan cucuran hujan sepanjang jalan.
Membuang kebosanan, kuis-kuis tetap dilakukan. Karena medannya lebih berat, tidak hanya jalan yang berkelok-kelok tetapi juga dirimbuni pepohonan dan kanan-kiri hutan lebat, para peserta pun lebih teliti memelototi sinyal Telkomsel sepanjang jalan.
Di sepanjang jalan dari Bukit Tinggi ke Pekanbaru, sinyal Telkomsel memang tidak sekuat rute sebelumnya. Di beberapa titip masih terdapat blank spot alias tidak ada sinyal. Diantaranya di Kelok 9, Hulu Aie, dan memasuki 13 Koto Kampar. Namun blank spot tidaklah berlangsung lama, hanya berkisar 2 menit. (sri murni)
Bagikan Bantuan Rp 82 Juta

UJI SINYAL sinyal atau drive test yang dilakukan managemen Telkomsel bersama 22 wartawan se-Sumatera dari Padang-Bukit Tinggi-Pekanbaru, tidak sekedar menguji kekuatan jaringan, sekaligus melakukan aksi peduli sosial. Telkomsel bersama mitranya Ericson menyerahkan bantuan senilai Rp 82 juta yang direalisasikan Rp 50 juta untuk tong sampah dan Rp 32 juta diberikan kepada empat panti asuhan.

RAUT muka Hj Djusni yang keriput, langsung tampak sumringah begitu pembawa acara Hadi yang juga Corporate Communication Telkomsel Area Sumatera Bagian Selatan, mengumumkan Panti Asuhan Ikhwanu S-Shafa sebagai penerima sumbangan.
Sambil tersenyum-senyum, nenek berusia 77 tahun itu menaiki panggung bersama tiga penerima bantuan lainnya. Gigi putihnya pun tampak bersinar diantara kulit wajahnya yang tak lagi mulus. Senyumnya kian kembang, tatkala Hadi menjelaskan setiap panti asuhan yang akan menerima dana tunai sebesar Rp 8 juta.
“Alhamdulillah…Alhamdulillah…terima kasih Pak,”kata-kata itu berulang diucapkan wanita yang tetap terlihat energik itu saat menerima secara simbolis bantuan yang disampaikan langsung Vice President Telkomsel Area Sumatera Ahmad Yunus. Acara penyerahan berlangsung di pelataran Bukit Tinggi, Sabtu (19/4).
Seusai turun dari panggung, kepada Tribun, Djusni mengungkapkan dirinya sangat senang menerima dana bantuan tersebut. Sebab, saat ini Panti Asuhan Ikhwanu S- Shafa yang beralamat di Desa Ladi Mando Kenagarian Lasi Kecamatan Candung Kabupaten Agam Sumbar, sangat memerlukan suntikan dana.
Panti asuhan yang berdiri sejak 1996 itu memiliki tengah menampung 13 orang lansia (lanjut usia), 45 anak yatim dan piyatu yang tidak mampu, serta enam orang balita yang ditinggal orang tuanya.
“Syukur Alhamdulillah ada bantuan dari Telkomsel. Saya gak nyangka bantuannya sebesar Rp 8 juta. Kami memang sangat memerlukan,”ujar wanita kelahira 1931 itu dengan mata berkaca-kaca.
Dalam bahasa Indonesia yang tidak sempurna dan bercampur bahasa daerah Minang, Djusni menceritakan bantuan itu akan digunakan untuk membeli mesin penggarap sawah. “Harga mesin itu Rp 14 juta. Kami sudah punya Rp 5 juta dan sekarang sudah bertambah menjadi Rp 14 juta. Satu juta lagi, nanti dicari-cari,”tuturnya.
Kok dibelikan mesin? Ternyata Djusni sangat memikirkan sebuah usaha yang bisa membuat panti asuhannya memiliki dana secara kontiniu. Mesin penggarap sawa yang dibeli, nantinya akan disewakan kepada pemilik sawa. Perlu diketahui mayoritas profesi masyarakat Desa Lasi adalah petani sehingga mesin penggarap sawa sangat diperlukan.
Satu hari menggarap sawa, akan menerima uang sewa sebesar Rp 300 ribu. Uang ini nantinya akan dibagikan kepada pekerja Rp 100 ribu, Rp 100 ribu untuk operasional mesin, dan sisanya untuk keperluan panti asuhan. Dengan demikian, panti akan tetap mendapatkan suntikan dana setiap harinya.
Nenek lima cucu itu menjelaskan, biaya operasional panti termasuk untuk uang sekolah anak dan makan serta gaji pengurus, setiap bulannya menghabiskan uang Rp 3 juta. Seorang pengusaha di Bukit Tinggi secara rutin ikut membantu beras untuk panti sebanyak 200 kg.
“Banyak juga warga Lasi yang sekarang berada di luar negeri kalau lebaran pulang kampung dan membantu dana ke panti kami. Alhamdulillah sampai sekarang kami bisa menghidupi anak-anak yang kami tanggung,”tutur Djusni lagi.
Selain memberikan bantuan kepada empat panti, Telkomsel juga menyerahkan bantuan senilai Rp 50 juta kepada Pemko Bukit Tinggi. Bantuan direalisasikan dalam bentuk pemberian tong sampah sebanyak 30 unit yang dibagi 15 tong sampah kering dan 15 tong sampah basah.
Wakil Wali Koto Bukit Tinggi Ismeth Amzis yang hadir pada acara mengatakan, sebagai kota wisata Bukit Tinggi memang harus menjadi kota bersih. “Sejak 28 September 2007 lalu, Pemko telah mencanangkan Bukit Tinggi bebas sampah. Dan Alhamdulillah sekarang kota ini sudah bersih,”ujar Amzis. (sri murni)

Tulisan Sebelumnya »