RSS

Drive to Canberra

The exciting place in Sydney

Ini hanya berbagi cerita untuk teman-teman Indonesia yang ingin ke Canberra, Australia.

Dari Jakarta saya berangkat naik pesawat Garuda Indonesia pukul 21.55 WIB. Alhamdulillah tidak delay. So pesawat take off sekitar pukul 22.05 WIB. Karena penerbangan internasional, GA 712 yang saya tumpangi menggunakan pesawat berbadan besar yakni Airbuss 330 yang muatannya sekitar 200-an orang, posisi tempat duduknya 2-4-2, maksudnya, cabin dibagi tiga bagian. Di sisi kiri dan kanan terdapat dua seat, sementara di bagian tengah 4 seat. Saran saya, jika ingin terbang dengan nyantai dan apabila pesawat tidak penuh, mintalah seat tengah karena Anda akan bisa tidur dengan merentangkan kaki di 4 kursi bagian tersebut. Sayangnya, saya sendiri ketika berangkat minta duduk di sisi kanan dan dekat jendela, dengan asumsi agar bisa melihat keluar. Hehehe, apa yang hendak dilihat, kan kita terbangnya malam. Sementara penumpang yang sudah berpengalaman, meminta seat tengah dan mereka bisa tidur dengan damai. Garuda telah menyediakan selimut dan bantal plus monitor di depan tempat duduk untuk hiburan selama perjalanan. Anda bisa main game, nonton film (komedi, horor, romantis, drama keluarga, action, dan lainnya), dan bisa pula sekedar mendengarkan musik. Jangan berharap audio monitor tersebut dapat Anda dengarkan secara langsung, melainkan Anda harus menggunakan headset.

Untuk sampai ke Canberra, dari Jakarta kita ke Sydney dahulu. Penerbangannya memakan waktu sekitar 6 jam 10 menit. Jadi kalau berangkat dari Jakarta pukul 22.00 tiba di Sydney sekitar pukul 04.00. Begitu mendarat di Bandara Kingsport Smith Sydney, matahari sudah panas karena waktu setempat menunjukan pukul 08.15. Perbedaan waktu antara Jakarta dengan Sydney sekitar 4 jam jika di Autralia sedang musim panas, sementara musim dingin, perbedaan waktunya hanya tiga jam. Sebelum mendarat, para pramugari Garuda akan memberikan daftar menu breakfast alias sarapan pagi. Untuk kelas ekonomi seperti yang pernah saya alami, menunya hanya terbagi dua yakni western dengan beef dan kentang serta Indonesia dengan nasi gorengnya. Terserah Andalah mau pilih  yang mana. Setelah sarapan, Anda akan dibagikan holder card, semacam kartu masuk Australia yang berisi tentang diri Anda dan barang bawaan. Kartu ini harus Anda isi sebelum landing.

Jangan Bawa Cairan ke Kabin

Perlu diingat, untuk barang bawaan di dalam pesawat, jangan membawa cairan (apapun) yang isinya lebih dari 100 ml. Jika ada obat-obatan, lengkapilah dengan resep dokter. Sebaiknya barang cairan, makanan olahan (rendang, sayur, dll), buah, obat-obatan, diletakan di bagasi. Jika dibawa ke kabin, urusannya bisa repot. Termasuk jangan membawa air minum baik mineral maupun bentuk lainnya karena pasti lebih dari 100 ml. Jika dibawa, petugas bandara akan meminta Anda meminum minuman tersebut sampai habis atau meninggalkannya di konter pemeriksaan. Jangan khawatir takut haus atau lapar karena selama penerbangan, Garuda akan memberikan makanan dan minuman yang cukup untuk penumpangnya. Minta saja dengan para pramugari.

Begitu landing di Kingsport Smith Airport, langsunglah mengikuti penumpang lain untuk pengecekan imigrasi. Semua petunjuk terpampang di dinding atau di atas plafon. So rajin-rajinlah lirik kanan-kiri untuk mendapatkan petunjuk di airport. Selama pemeriksaan, tunjukanlah paspor dan holder cardnya. Setelah urusan imigrasi selesai, Anda akan langsung menuju tempat pengambilan bagasi yang letakkya tepat di belakang counter imigrasi. Nah Holder card akan digunakan dan diambil petugas pemeriksaan barang. Jangan kaget jika koper dan tas-tas Anda dibongkar untuk dilakukan pemeriksaan. Santai saja karena itu hal biasa. Asalkan Anda tidak membawa barang-barang yang dilarang, semuanya akan aman. Saya sarankan, untuk barang-barang yang sangat pribadi seperti pembalut dan pakaian dalam, sebaiknya dibungkus dalam kantong hitam. So ketika koper dibongkar petugas, benda-benda itu tidak berserakan.

Jika urusan barang bawaan tidak bermasalah, langsung saja menuju konter transit domestic. Biasanya dari Sydney ke Canberra menggunakan pesawat Qantas. Meskipun counter check in domestik Qantas masih satu gedung, tapi jaraknya lumayan jauh. So, siap-siaplah ber capek-capek membawa barang (gunakan troli) sendiri karena di airport Sydney tidak ada yang namanya potter.

Setelah check in domestik beres, Anda akan diantar ke terminal penerbangan domestik menggunakan bus. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 1 km. Untuk orang-orang yang tinggi badannya pas-pasan seperti saya (sekitar 150 cm) baiknya cepat-cepat masuk ke dalam bus agar kebagian tempat duduk. Jika tidak, Anda akan berdiri. Anda akan merasa sedih dan kesulitan mencari pegangan, karena pegangan tangan yang biasanya ada di plafon bus, ternyata tidak terjangkau. Tingginya sekitar 180 cm. Jadi bisa dibayangkan, sulitnya mencari pegangan di dalam bus jika posisi berdiri.

Holder Bus yang Terlalu Tinggi

Saya sendiri memang tidak mendapat tempat duduk di dalam bus dan harus berdiri. Waduh….berkali-kali saya hampir terjatuh. Mau tidak mau saya pegang saja penumpang lain yang duduk di kursi di depan saya. Ya tentu saja dengan mengucapkan (sorry…sorry….the hand holder too high for me). Untungnya ada seorang nenek yang duduk di depan saya dan merelakan tas tanggannya saya jadikan pegangan.

Jika pesawat dari Jakarta Anda mengalami penundaan (delay) dan sampai di Sydney pesawat ke Canberra Anda sudah terbang, jangan panik. Tetap lapor ke counter check in domestik karena mereka akan memberikan penerbangan selanjutnya tanpa dikenakan biaya apapun. So….everything is easy…..

Dari bandara Sydney ke Canberra memakan waktu sekitar 1.30 jam. Jika Anda haus, beli saja minuman di bandara tapi jangan dibawa ke pesawat karena dilarang. Untuk jus harganya sekitar 7 dolar Aus.  Selama di ruang tunggu, jangan heran jika Anda menjadi satu-satunya orang Indonesia di tengah-tengah orang bule. Jika di Indonesia, bule selalu menjadi pusat perhatian, nah sekarang waktunya Anda yang menjadi bule dan pusat perhatian bagi mereka. Jangan heran jika Anda menjadi satu-satunya manusia kerdil diantara orang-orang berbadan besar.

Saya telah menunggu di Kingsport Smith Airport selama kurang lebih 3 jam (landing dari Jakarta pukul 8.30 dan take off ke Canberra pukul 11.45). Pesawat domestik Australia ternyata tidak jauh beda dengan Indonesia. Qantas yang saya tumpangi  berjenis pesawat boeing 737-400 dan ketika landing di Canberra, tetap saja seisi pesawat bergoyang-goyang. Plafon dan dinding pesawatnya juga sudah kendor-kendor sehingga berbunyi seperti terkena gempa.

Berebut Bagasi di Landasan

Ada satu hal yang cukup membuat saya heran ketika pesawat mendarat dan para penumpang mulai turun, ternyata bagasi bisa diambil di landasan pesawat dan tidak harus di dalam gedung (tempat pengambilan bagasi). Saya melihat para penumpang berlari-lari dari tangga pesawat menuju mobil pembawa bagasi untuk berebut mengambil koper dan barang lainnya. Karena koper saya berat, ya saya tunggu saja bagasi di baggage claim. (***)

 
Leave a comment

Posted by on May 10, 2011 in Uncategorized

 

Kado Terakhir (puisi dari seorang sobat)

tadi malam dia mengabarkan tanggal pernikahannya. dia berkata sudah menemukan pria tepat untuk menggantikanku. datang ya nanti, katanya.

aku, tentu saja tak bisa berkata-kata. dia memegang tanganku, erat sekali. dia tersenyum, matanya bersinar, binar yang aku suka darinya. jemarinya menyentuh pipiku. dia mencubitku.

jangan bersedih, berbahagialah untukku, katanya. aku, kembali tak bisa berkata-kata. mata kami saling berpandangan. bibirku terkatup. biar mata ini yang berbicara.

buatlah puisi untukku, katanya. puisi terakhir, sebelum malam-malamku diisi puisi-puisi suamiku, ujarnya. aku tersenyum, tetap tanpa suara. berilah aku kado puisi, katanya.

aku, bagaimana mungkin mengiyakannya. bagaimana mungkin aku membuat puisi terakhir. bagaimana mungkin aku berhenti membuat puisi tentangnya.

aku tak sanggup, kataku. dia merajuk, memalingkan wajahnya. kau tahu kenapa aku meminta puisi, katanya. karena kita tak akan bertemu lagi. tak inginkah kau memberi hadiah terakhir untukku, tuturnya. tak inginkah kau menjadi kenanganku, katanya. tak inginkah kau mengabadikan cinta kita. tak inginkah kau… dia tak melanjutkan kata-katanya.

dia berkaca-kaca, aku menangis di dalam. hening tiba-tiba menyergap. kami terdiam cukup lama. masih tak inginkah kau menulis puisi untukku, kata-katanya memecah sunyi. aku memandangnya, ingin masuk ke relung hatinya. aku akan buatkan puisi untukmu. puisi sunyi, yang hanya bisa dimengerti waktu. kau dan aku, biarlah tak pernah membaca puisi itu. dan sampaikan salamku untuk pria beruntung itu. ***

 
1 Comment

Posted by on February 2, 2010 in Uncategorized

 

Just My Wedding Pic

wedding2

wedding1

Happy wedding was held on 29th September 2009 in Tebing Tinggi, Sumut

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Uncategorized

 

Sepenggal Cerita Escobar, Mantan Mafia Kolombia

escobar dan istrinya

Mending Jadi Escobar daripada Koruptor

Bakar Uang Rp 20 Miliar Untuk Menghangatkan Putrinya

Pablo Escobar tipe orang yang sangat mencintai keluarganya. Foto ini diambil tahun 1983 saat Escobar bersama isterinya Victoria Henao, ibu dari putranya, Sebastian Marroqumn, yang telah mengubah namanya Juan Pablo Escobar. Artikel Terkait: * Mafia Kolombia Memikat Perempuan dengan Kemewahan * Penyelundup 100 Ton Kokain Dibekuk Rabu, 4 November 2009 | 11:59 WIB BOGOTA, KOMPAS.com – Ini kisah yang belum pernah terungkap tentang Pablo Escobar, bos narkoba Kolombia yang terkenal kejam. Suatu malam dalam pelariannya, Escobar membakar tumpukan uang tunai senilai hampir Rp 20 miliar agar tubuh putrinya tetap hangat. Escobar membuat api unggun dengan menggunakan tumpukan uang dollar AS di sebuah tempat persembunyian sementara pihak berwajib terus memburunya. Putranya, Sebastian Marroqumn, yang telah mengubah namanya dari Juan Pablo Escobar, mengatakan, ayahnya membakar tumpukan uang itu ketika dia tahu putrinya, Manuela, menderita hipotermia. Api berbahan bakar uang itu juga dimanfaatkan untuk memasak makanan. Sebastian, yang bersama keluarganya pindah ke Argentina setelah ayahnya tewas 15 tahun lalu, membuat pengakuan yang mengemparkan itu dalam sebuah wawancara dengan majalah Kolombia, Don Juan,dan dikutip Dailymail, Selasa (3/11). Sebastian juga mengungkapkan, bagaimana miliader itu melakukan pengamanan gila-gilaan dengan membeli perusahaan taksi sendiri untuk mengetahui kapan orang asing tiba di kota asal mereka di Medellin, dan memindahkan keluarganya setiap 48 jam di antara 15 tempat persembunyian yang dia miliki di seluruh kota. Escobar bahkan menutup mata mereka sebelum setiap perpindahan sehingga mereka tidak pernah tahu daerah sekitar setiap rumah persembunyian dan tidak bisa memberi tahu lokasi itu saat disiksa jika mereka tertangkap. Escobar, mengepalai Kartel Medellin yang terkenal kejam. Ia tertembak mati Desember 1993 ketika berusaha lari dari kejaran polisi. Pada puncak kekuasaanya tahun 1989, dia tercatat oleh majalah Forbes sebagai orang terkaya ke tujuh di dunia dengan perkiraan kekayaan mencapai 270 triliun atau 18 miliar poundsterling. Meski menjadi musuh paling dicari AS dan pemerintah Kolombia, dia adalah pahlawan bagi banyak orang Medellin di mana dia membagi-bagikan uang untuk orang miskin. Sejumlah orang menyatakan, penembak jitu militer AS ambil bagian dalam perburuan terakhir terhadap Escobar, yang dilakukan setelah dia kabur tahun 1992 dari sebuah penjara khusus Kolombia. Dia menempati sebuah penjara yang dibangun berdasarkan perjanjian, dia masih akan tinggal di tempat itu sampai lima tahun, sebelum akhirnya kabur, dan menghindari ekstrasidi ke AS. (diambil ari kompas.com)

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Uncategorized

 

Berjuta Potensi Bahari di Pulau Abang

Memberdayakan Guru dan Pelajar Sebagai Agen Penyelamat Terumbu Karangpenyu

ARI, Sukarno, dan Mazni, begitu semangat saat diajak bicara tentang kampungnya, Pulau Abang. Ketiga bocah yang masih duduk di kelas dua SD Negeri 24 Pulau Abang, Galang ini, bahkan langsung mengajak saya jalan-jalan ke Pantai Pasir Merah, yang jaraknya kurang lebih 15 menit jalan kaki dari sekretariat COREMAP, yang tepat berada di tengah perkampungan warga.
Karena keterbatasan waktu, saya dan Ari Cs tidak sempat jalan ke pantai. Kami hanya bercerita sambil duduk di pinggir bangunan sekretariat COREMAP yang dibangun dari kayu. “Kakak mau nyelam ya?” tanya Ari tiba-tiba, ingin mengetahui maksud dan tujuan saya dan rombongan peserta Journalist Writing Competition datang ke Pulau Abang, Sabtu (25/7) lalu.
Belum lagi sempat saya jawab, Mazni sudah menyambar pembicaraan kami dengan cerita seputar terumbu karang. “Kalau kakak mau nyelam di depan sini aja (seraya mengarahkan jari telunjuknya ke laut tepat di depan sekretariat COREMAP). Karangnya masih bagus. Kami sering nyalam-nyelam disana,”cerita Mazni.
Pertanyaan Ari dan celoteh Mazni, yang keduanya berpawakan kurus itu, langsung memberikan gambaran kepada saya, bahwa masyarakat Pulau Abang, termasuk generasi belianya yang notabene masih anak-anak, mulai sadar dengan potensi kampung yang mereka miliki.
Pulau Abang, satu tahun terakhir ini memang menjadi buah bibir. Tidak hanya pembicaraan di kalangan pecinta wisata bahari, khususnya nyelam, tapi juga mulai ramai dipublikasi media massa baik cetak maupun elektronik. Cerita seputar keindahan terumbuh karangnya yang menyamai Bunaken, kian mudah ditemukan di situs-situs internet.
Untuk sampai ke pulau ini, diperlukan waktu kurang lebih 1,5 jam dari pusat kota Batam, Nagoya. Dari sini, kita harus naik kendaraan darat (mobil pribadi, bus, taksi, atau motor), menuju ke pelabuhan rakyat di Jembatan Enam Barelang, kurang lebih 45 menit.
Dari pelabuhan, kita melanjutkan perjalanan menggunakan speedboat atau pompong (perahu kayu bermesin) ke Pulau Abang dengan jarak tempuh sekitar 40 menit. Begitu sampai di Pulau Abang, Anda akan dilabuhkan di pelabuhan yang cukup sederhana dan dibangun dari kayu seadanya.
Meskipun sederhana, tidak perlu khawatir karena kondisinya masih kuat untuk dijejaki. Selayaknya perkampungan nelayan, masyarakat Pulau Abang hidup di dalam rumah-rumah yang mayorotas terbuat dari kayu, didesain panggung yang sederhana, dan dibangun di atas laut.
Di sepanjang jalan perkampungan yang hanya bisa dikelilingi dengan berjalan kaki, Anda akan mendapatkan keramahan penduduk tempatan. “Baru tiba Pak/Ibu/Kakak/Abang,” merupakan sapaan akrab yang biasa dilontarkan warga, baik yang tua, remaja, maupun anak-anak.
Jalan setapak yang telah dibeton dibangun Pemko Batam di sepanjang pemukiman warga. Hanya saja, pemandangan perkampungan ini memang agak tidak sedap, karena masih banyaknya sampah yang berserakan di sekitar perumahan warga.
Padahal ,Pulau Abang yang berpenduduk 215 kepala keluarga (kurang lebih 800 orang), kini didesain sebagai satu pusat wisata bahari, khususnya terumbu karang. Sejak 2004 lalu, pulau ini dijadikan proyek program rehabilitasi terumbu karang atau Coral Reef Rehabilitation and Management Program Phase II (COREMAP II), hasil kerjasama Pemerintah Kota Batam dengan bantuan dana dari Asian Development Bank (ADB).
Menurut Rahmad, tokoh masyarakat tempatan yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Lembaga Pengelola Sumber Daya Terumbu Karang (LPSTK), meskipun sampai sekarang kampungnya belum terbersih dari sampah, tapi kondisi saat ini sudah jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dulu, hampir di setiap rumah sampah berserakan. Ini karena budaya masyarakat sini yang sudah terbiasa membuang sampah di laut dan tidak pernah memiliki keranjang sampah,”cerita lelaki yang berprofesi sebagia nelayan itu.
Namun, sejak dua tahun terakhir, ketika program COREMAP makin giat dilaksanakan, warga sudah mulai sadar untuk mengumpulkan sampah di tempatnya dan membakar (meskipun ada segelintir warga yang masih terbudaya membuang sampah di laut). Di hampir setiap rumah warga, kini sudah tersedia pula keranjang sampah. Hanya saja, di kampung ini belum ada satupun terbangun tempat penampungan sampah yang layak.
Sehingga, sampah warga masih dikumpulkan di halaman depan rumah untuk dibakar.
Mengubah budaya masyarakat untuk tidak membuang sampah di laut memang tidaklah mudah. Padahal, status Pulau Abang yang telah ditetapkan sebagai Kampung Wisata Melayu. Keberhasilan program sangat tergantung dari kebiasaan baik warga setempat. Adalah hal yang ironi, ketika diharapkan wisatawan berkunjung ke Pulau Abang untuk menikmati wisata terumbuh karang, namun mereka tidak merasa nyaman karena pemandangan dan bau yang tidak sedap dari serakan sampah.
Sampah yang dibuang masyarakat, juga sangat mempengaruhi ekonsistem terumbu karang. Jika setiap hari ada 100 kg sampah yang dibuang ke laut, bayangkan berapa juta ton sampah yang akan merusak ekosistem laut selama puluhan tahun warga tinggal di pulau tersebut.
Belum lagi kerusakan yang diakibatkan faktor eksternal seperti penambangan pasir, aktifitas industri dan pelayaran, dan pembangunan di wilayah darat. Dari penelitian yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selama rentang 1996-2007, kondisi terumbu karang di Indonesia menunjukkan, hanya 5,2 persen yang berada dalam kondisi sangat baik. Sementara 24,2 persen dalam kondisi baik, 37,3 persen dalam kondisi sedang, 33,1 persen dalam kondisi buruk. (data dari situs coremap.co.id).
Negeri ini memiliki 42 kilometer persegi terumbu karang atau 17 persen populasi coral reef dunia. Ini menjadikan Indonesia yang kedua terbesar di dunia setelah Australia. Untuk Asia Pasifik, Indonesia menyimpan seperempat (25 persen) terumbu karang wilayah ini.
Penyelamatan terumbu karang sangat perlu dilakukan, karena terumbu karang merupakan ekosistem khas perairan tropik, tempat berlindung aneka biota laut untuk hidup secara seimbang. Di Indonesia, terumbu karang merupakan rumah bagi 2.500 spesies moluska, dua ribu crustaceans, enam spesies kura-kura laut, 30 spesies mamalia laut, dan lebih dari dua ribu spesies ikan.
Di Batam sendiri, monitoring terhadap terumbu karang dilakukan LIPI di beberapa titik, di antaranya, Kelurahan Pulau Abang meliputi Petong, Pulau Abang Besar, Pulau Abang Kecil, Pulau Pengalap dan Dedap. Juga di Kelurahan Karas meliputi Mubud Darat, Pulau Lampu, dan Pulau Karas.
Monitoring yang dilakukan 28 Agustus 2008 lalu menunjukan, lokasi Kelurahan Pulau Abang tepatnya Stasiun Pulau Abang Besar dan Pulau Abang Kecil, terumbu karang cukup rapat dan beraneka ragam jenisnya seperti dari karang dengan bentuk pertumbuhan bercabang (branching), mengerak (encrusting), padat (massive), meja (tabulate), daun (foliose) dan jamur (mushroom).
Kelimpahan ikannya juga beraneka ragam, baik jenis ikan konsumsi seperti famili Lutjanidae, Caesionidae, mullidae, Siganidae, Labridae, Scaridae, Haemulidae, mobulidae dan Mugilidae, maupun ikan hias, antara lain family Pomacintridae, Chaetodontidae, Holocentridae, plotosidae dan Ephippidae . Jarak pandang di stasiun ini mencapai 8-10 m.
Pada lokasi monitoring ini telah dipasang transek permanen sepanjang 70 m (patok, benang tangsi 2 mm sepanjang 10 m x 3, pelampung plastik warna). Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah LIT (Line Intersect Transect).
Dari monitoring itu pula tergambar bahwa perairan Pulau Abang mempunyai potensi laut yang besar dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Disini juga mengandung berbagai jenis ikan pelagis dan demersal (termasuk ikan karang), dan beragam biota laut non ikan, seperti cumi-cumi dan udang kara), serta bakau.

Gunakan Sistem Koperasi
Adalah cita-cita yang sangat mulia, melestarikan terumbu karang dengan memberdayakan masyarakat tempatan. Pemberdayaan ini haruslah dilakukan dan memang tidak bisa instan karena memerlukan proses yang panjang.
Terumbu karang bisa tetap terjaga kelestariannya, jika masyarakat yang berada di sekitarnya sadar dan melakukan hal-hal yang tidak merusak ekosistem laut. Mengurangi bahkan meniadakan kegiatan tangkapan modern menggunakan bahan peledak, dan jaring raksasa yang merusak ekonsistem. Masyarakat haruslah menjadi penjaga terumbu karang. Mereka harus berani menangkap dan mengusir siapa saja yang ingin merusak ekosistem laut.
Satu caranya adalah dengan mengajak masyarakat mencari mata pencarian alternatif (MPA). Di antaranya membudidayakan ikan sehingga nelayan tidak harus menangkap ikan di laut dan menjadikan laut sebagai tujuan wisata bahari.
Di lihat dari lokasinya, Pulau Abang memiliki potensi untuk pengembangan dua bidang MPA tersebut. Pengembangan wisata bahari, merupakan sektor ekonomi yang paling cepat bisa tumbuh, asalkan pengelolaan masyarakatnya serius dan bertanggungjawab.
Kekayaan biota laut dan kehidupan masyarakat yang masih tradisional merupakan modal dasar. Tidak perlu mengubah sistem kehidupan masyarakat menjadi modern seperti di kota besar. Mempertahankan ketradisionalan mereka, justru unik dan menjadi daya tarik.
Pemerintah haruslah melakukan pembinaan dan pendampingan masyarakat. Apalagi saat ini warga sudah membentuk kelompok wisata.
Efendi, seorang tokoh masyarakat tempatan menceritakan, sudah ada 10 rumah warga yang dipersiapkan untuk percontohan kampung wisata bahari. Di setiap rumah tersebut, akan dilengkapi fasiltais kamar yang layak untuk wisatawan menginap. Termasuk sistem sanitasinya.
Setiap wisatawan yang datang, akan diinapkan di rumah warga. Mereka bersantap masakan yang dibuat si pemilik rumah atau memesan makanan sesuai dengan selera (terutama menu-menu seafood). Tamu juga bisa memasak sendiri menu makanannya dari bahan-bahan yang tersedia.
Mengisi aktivitas liburan, tentu saja wisatawan bisa mengikuti kegiatan diving, snorkeling, berenang, dan memancing menggunakan peralatan yang telah disediakan warga. Mereka juga bisa mengikuti aktivitas keseharian warga, termasuk ikut memberi makan ikan yang dibudidaya, menangkap ikan secara tradisional, bahkan ikut bermain permainan tradisional seperti gasing dan kelereng. Bisa pula turut serta membuat kerajinan tangan yang diproduksi warga.
Dengan demikian, para wisatawan (apalagi yang tidak pernah merasakan kehidupan di tepi pantai) benar-benar merasakan satu sisi kehidupan yang lain saat berada di Pulau Abang. Untuk kenyamanan wisatawan, standarisasi pelayanan haruslah dipegang oleh warga yang melayani.
Agar ekonomi masyarakat Pulau Abang tidak dikuasai kelompok tertentu, baiknya pengelolaan dilakukan dengan sistem koperasi. Sehingga, setiap warga merasa lebih dilibatkan dan kesejahteraan bisa dirasakan berasama.
Ada baiknya pula, pengelolaan wisata bahari tidak melibatkan investor tunggal. Sebab, dikhawatirkan, nantinya warga tempatan hanya dijadikan sebagai pekerja, bukan pelaku usaha.
Pengelolaan koperasi bisa dilakukan secara profesional layaknya perusahaan swasta. Asalkan para pengurus beretikad baik dan bertujuan memajukan kesejahteraan bersama. Kontrol dan pendampingan, termasuk subsidi untuk kegiatan kepariwisataan harus tetap dilakukan secara intens, sampai masyarakat Pulau Abang benar-benar mampu mengelola wisata bahari secara mandiri dan profesional.
Yang namanya menangani wisatawan memang gampang-gampang susah. Selera setiap orang bisa berbeda-beda. Intinya hanya satu, bagaimana membuat mereka senang, sehingga uang ysnorkling di Pulau Seribuang keluar dari kantong mereka bisa lebih banyak.

Berdayakan Guru dan Pelajar
Membudayakan masyarakat untuk sadar wisata, adalah hal pokok yang harus dilakukan. Ketika mereka sudah sadar berapa besar uang yang bisa mereka dapatkan dari dunia pariwisata, maka tujuan pelestarian terumbu karang dengan memanfaatkannya sebagai wisata bahari, justru semakin mudah tercapai.
Pembudayaan sadar wisata, tidak hanya ditujukan bagi warga dewasa. Tapi haruslah ditanamkan dari sekarang kepada generasi belia dan anak-anak. Caranya bisa memanfaatkan keberadaan guru dan sekolah. Apalagi saat ini di Pulau Abang sudah tersedia SD dan SMP.
Setiap hari, kecuali hari Minggu, anak-anak usia 7-16 tahun enam jam barada di sekolah. Banyak hal yang mereka dapatkan dari para guru. Kebersamaan antara guru dan pelajar dalam waktu yang begitu panjang merupakan modal untuk bisa membimbing generasi belia mencintai wisata bahari, termasuk di dalamnya melestarikan terumbu karang.
Para guru bisa dijadikan agen pelestarian lingkungan laut. Bekali mereka dengan pendidikan bahari, sehingga mereka bisa mengajarkannya kepada anak didik. Tidak hanya ilmu tentang ekosistem laut tapi juga cara bagaimana menyelam. Bekali pula para guru satu sistem pengajaran yang atraktif yang membuat anak didik antusias mengikuti pelajaran tentang laut.
Bagi guru yang mengajar di kelas satu dan dua SD, setiap pagi bisa memanfaatkan waktu sekitar 15 menit untuk membacakan cerita-cerita (dongeng) seputar terumbu karang. Di perpusatakaan COREMAP II Pulau Abang, telah tersedia buku-buku cerita Si Umbu. Namun, secara sistemik keberadaan buku ini belum dimanfaatkan. Selama ini hanya segelintir anak yang membaca buku cerita itu. Padahal melalui dongeng, bisa menanamkan hal-hal baik kepada anak.
Bagi siswa kelas tiga sampai SMP, sudah bisa diajarkan tentang kerajinan tangan dengan memanfaatkan sampah biota laut. Kerajinan tangan dapat pula dijadikan pendidikan ekstrakurikuler atau muatan lokal, yang memang diwajibkan ada di sekolah.
Mulailah membuat target bahwa kerajinan sekolah tidak hanya sekedar penilaian untuk rapot, tapi sekaligus dimanfaatkan sebagai industri yang hasilnya bisa dijual untuk cinderamata bagi wisatawan yang datang.
Untuk memacu kreativitas anak, banyak upaya yang bisa dilakukan. Di antaranya dengan menggelar festival kerajinan tangan, yang memperebutkan hadiah menarik. Bagi anak-anak yang tidak minat di bidang kerajinan, melainkan minatnya hanya bermain, bisa diarahkan dan dimanfaatkan untuk festival permainan anak tradisional. Begitu pula dengan anak yang memilih hobi memasak. Hobi mereka dijadikan satu nilai tambah. Festival masakan olahan laut bisa melibatkan anak-anak, yang justru membuat acara tersebut lebih unik.
Festival-festival ini akan menjadi satu daya tarik bagi wisatawan. Intinya, buatlah beragam muatan lokal sekolah yang berbasis kelautan. Sehingga sejak belia, di benak anak didik sudah tertanam budaya sadar wisata dan pelestarian lingkungan laut termasuk terumbu karang. Dengan demikian realisasi Pulau Abang sebagai kampung wisata bahari di masa mendatang, akan lebih mudah dilakukan.***

 
Leave a comment

Posted by on August 10, 2009 in Uncategorized

 

Tags:

Chating Pertama Mengubah Aku Jadi Pemberani

Menyeberangi laut Sydney melintasi Opera House.

My First Online experience

KETIKA itu, Maret tahun 2000. Aku baru duduk di semester dua jurusan Hubungan Internasional FISIP Unri, Pekanbaru. Setiap pagi, temen-temen kuliahku selalu heboh dengan cerita-cerita teman barunya di dunia maya. Aku hanya sebagai pendengar dan menjadi kambing congek. Beberapa hari aku ikuti perbincangan mereka, yang semakin seru karena mendapatkan teman ngobrol dari Bandung, Jakarta, dan Medan. Tiga kota yang paling sering menjadi bahan pembicaraan, terutama tentang si Daniel yang kuliah di USU Medan, Dadang anak Unpad Bandung, dan Dodi dari UKI Jakarta. Sepulang dari kampus pun mereka langsung ke lab komputer yang ada di dekat Gedung Rektorat Unri.
Tepat hari Sabtu, suatu pekan, saya memberanikan diri bertanya pada sahabatku Amrullah asal Aceh. “Am memang ngapain sih ke lab? Kok setiap hari temen-temen pada kesana?”. “Mereka pada chating tu. Kan demam chating,”kata Am.
Chating? Apaan tu? Aku masih berfikir. Karena malu bertanya aku cuma berkata “oooooo”. Hari Seninnya, rasa penasaranku semakin besar. Ketika Ayu, sahabatku yang lain, selepas kuliah akan ke lab komputer, aku beranikan diri untuk ikut.
Sampai disana aku lihat aktivitas Ayu dan aku duduk tepat di sebelah kursi komputernya. Aku hanya perhatikan dia yang membuka program mirc. Beberapa saat, aku sudah lihat dia ketawa-ketawa sambil mengetik, seperti orang yang sedang bicara lewat tulisan.
Karena terlihat begitu serius, aku pun hanya memperhatikan Ayu, tanpa bertanya. Setelah menutup pembicaraan lewat tulisannya dengan temannya bernama Dodi dari Yogyakarta, Ayu bertanya kepadaku. “Mau pakai?”
Dengan malu aku jawab, iya tapi tidak tahu gemana caranya. Aku juga sempat jujur dan bertanya pada Ayu, tentang apa yang baru saja dia lakukan. Syukurlah Ayu orangnya sangat baik. Dialah yang menerangkan dan mengajari aku chating lewat program mirc.
Ayu hanya 30 menit berada di lab komputer. Selebihnya aku yang memakai. Karena aku sudah mengetahui bangaimana chating, rasanya sangat berat meninggalkan meja komputer. Tidak terasa ternyata waktu sudah pukul 16.00 WIB, saatnya lab ditutup. Aku berada disana kurang lebih tiga jam. Begitu hendak membayar uang rental internet, dan si penjaga lab mengetahui jam pemakaianku tiga jam, aku dimarah habis-habisan.
Saat itulah aku baru tahu, jatah mahasiswa rental internet di lab komputer kampus hanya satu jam sehari dengan bayaran Rp 1.000. Mengapa dibatasi? Karena setiap jam banyak mahasiswa yang mengantre. Bahkan, untuk pemakaian selepas jadwal kuliah, kira-kira pukul 12.00 WIB, ada yang harus mendaftar dari pagi, jam 08.00. Itupun harus datang 10 menit sebelum jam pemakaian. Jika tidak, bisa-bisa nomor antrean diberikan kepada orang lain.
Rasanya sangat senang bisa chating dengan teman-teman mahasiswa lain di luar kampusku. Dian, adalah teman chatingku yang pertama. Dia mengaku laki-laki dan kuliah di UMY Yogyakarta.
Aku sempat bingung ketika harus menjawab isi chating-annya. Istilah-istilah dan singkatan bahasa chating sama sekali belum aku ketahui, karena Ayu tidak sempat mengajariku sampai ke materi itu. Asl tiga huruf yang ditanyakan Dian ketika kali pertama menyapaku. Aku hanya diam. Kata-kata berikutnya adalah ungkapan kekesalannya dan menyangka aku tidak mau chating dengannya. Walaupun agak-agak malu, dan aku pikir di dunia internet tidak saling mengenal, aku tanya saja ke Dian, asl itu apaan? Ternyata singakatan dari alamat, jenis kelamin, dan umur.
Di hari pertama aku chating, kami janjian untuk bertemu lewat mirc pada esok harinya. Selasa pagi, aku sudah mendaftar untuk pemakaian internet jam 13.00 WIB. Sayang, ketika itu, dosenku memperpanjang waktu kuliah, dan aku sampai di lab komputer 13.05 WIB. Tentu saja si penjaga lab sudah mengunci pintu. Kesal sekali rasanya. Bayangkan saja, kita mendapatkan satu mainan baru dan masih sangat ingin bermain, eh ternyata tidak punya kesempatan. Aku merasa bersalah dengan Dian, karena batal berhubungan. Aku juga tidak bisa memberitahunya karena aku memang belum memiliki HP.
Pada Rabu, aku baru bisa bermain mirc lagi di lab komputer. Itupun setelah aku bela-belain bolos kuliah siang supaya aku bisa ngobrol dengan Dian. Terus terang, chating hari pertama itu rasanya sangat seru dan aku merasakan banyak harapan. Salah satunya, aku sudah punya teman dari Yogyakarta, dan sewaktu-waktu aku ingin kesana, sudah ada tempat yang aku tuju. Itu makanya aku sangat kesal ketika tidak bisa berhubungan dengan Dian di hari Selasa.
Pembicaraan lewat mirc kami terus berlanjut. Aku banyak belajar dari Dian terutama tentang istilah-istilah dalam chating. Hari-hari berikutnya, aku merasa menjadi orang yang sangat percaya diri (pede) karena sudah mengikuti perkembangan teknologi. Aku pun sudah berani nimbrung obrolan temen-temen kampus yang masih suka ngomongi soal chating.
Hampri satu bulan penuh, setiap selesai kuliah aku habiskan waktu untuk chating. Bahkan aku lebih memilih dimarahi penjaga setiap hari karena memakai komputer 2-3 jam dan tidak mau bergantian dengan mahasiswa lain.
Sejak itu pula aku merasa berani untuk memasuki warnet-warnet yang ada di luar kampus seorang diri. Memang tidak banyak warnet ketika itu. Jaraknya dengan tempat tinggalku pun cukup lumayan jauh. Dengan berjalan kaki memakan waktu kurang lebih 20 menit.
Karena kebisaanku ber-chating ria, aku pun merasa perlu berbagi cerita enaknya chating dengan teman-teman satu kos. Rasa penasaran mereka sama besarnya ketika aku pertama kali ingin mengetahui tentang chating. Dengan suka rela aku mengajak mereka ke warnet dan mengajarinya. Tentu saja dengan imbalan, mereka harus membayar biaya rental internet yang aku pakai. Ketika itu, biaya warnet di luar kampus Rp 5.000 per jam.
Aku terus menggali informasi tentang internet. Apalagi yang bisa dilakukan selain chating, sebab, lama kelamaan bosan juga chating melulu. Seorang kakak kelas di kampus mengajari aku tentang web site atau situs. Awalnya aku benar-benar tidak tahu benda apa itu. Bahkan benakku langsung tertuju pada situs peninggalan sejarah dan situs purbakala.
Setelah dijelaskan ternyata web site adalah satu ruang atau alamat tempat kita mencari informasi-informasi. Beberapa kali aku pergi ke warnet dengan kakak kelas yang bernama Dedy. Sampai di warnet, aku tidak bisa duduk di sebelahnya karena dia keberatan. Aku pun membuka satu komputer di warnet. Tapi aku belum tahu harus melakukan apa.
Saat aku tanya, dia langsung membukakanku satu alamat situs yang tertulis http\\www.sex.com. Aku cuma diam. Setelah beberapa saat muncul gambar, ternyata isinya bermacam gaya persetubuhan. Melihat wajahku yang merah, Dedy justru tertawa-tawa. “Wah aku dikerjai ne,”pikirku.
Setelah aku lebih paham tentang web site dan memiliki beberapa alamat situs, aku semakin keranjingan dengan internet. Bahkan, jam ngenetku jadi bertambah. Tidak hanya siang, tapi juga tengah malam. Kebetulan tidak jauh dari tempat kos, ada warnet baru yang buka. Dia menawarkan program ngenet dari jam 00.00 sampai 07.00 WIB, hanya bayar Rp 15.000. Tentu saja momen ini tidak aku lewatkan. Aku sengaja tidur lebih cepat, tepatnya selepas sholat magrib agar bisa terbangun tengah malam dan menelusuri dunia maya.
Bahkan suatu malam, aku harus menembus hujan lebat demi warnet. Ketika itu aku sedang banyak tugas dan harus selesai malam itu juga. Data di internet merupakan satu-satunya jawaban untuk tugas-tugas kuliahku.

Saat aku hendak keluar rumah, sekitar pukul 23.30 WIB, ternyata hujan lebat turun. Warnet di dekat kos tutup karena mati lampu. Aku terpaksa meminjam sepeda teman sebelah rumah, untuk pergi ke warnet yang jaraknya lebih jauh, kurang lebih 3 km. Rasanya hujan lebat bukanlah jadi masalah asalkan bisa berinternet.
Tapi sekarang, internet sudah sangat familiar. Bahkan berinternet bukanlah menjadi trend melainkan kebutuhan. Ngeblog, ikut jejaringan sosial facebook, friendster, dan lainnya menjadi satu bentuk keikutsertaan aku dalam perkembangan teknologi informasi. Dunia jadi lebih dekat karena ada internet. (sri murni)

 
Leave a comment

Posted by on July 24, 2009 in Uncategorized

 

Tags:

Menelusuri Indahnya Pantai-Pantai di Batam

BATAM memang kaya objek wisata pantai. Namanya juga pulau kecil yang dikelilingi laut. Berjalan hanya beberapa kilometer, yang ditemu ujung-ujungnya adalah pantai. Tahukah Anda dimana saja pantai indah di Batam ini?
Dilihat dari jumlahnya, mencapai puluhan. Karena beberapa diantaranya sudah sempat saya kunjungi, cerita yang saya bagikan ini bisa menjadi motivasi Anda memilih tempat berwisata bersama keluarga. Selamat Membaca!!!


Lihat Ikan Berenang dari Pelantar

ANDA ingin melihat terumbu karang tanpa harus menyelam ke dasar laut? Galang Baru bisa menjadi tempat untuk mewujudkannya. Di ujung pulau Galang tersebut, tersimpan keindahan bawa laut yang bisa kita saksikan dari atas pelataran.
Kejernihan air dan terbebasnya dari pencemaran limba, telah menghadirkan sebuah ekosistem bawa laut yang bisa disaksikan siapa saja tanpa mengharuskan kita untuk menyelaminya. Hanya berdiri sepanjang pelataran yang panjangnya sekitar 100 meter dari tepi pantai, kita bisa melihat beragam ikan laut, rumput laut, dan terumbu karang terombang abing disapu gelombang kecil.
Sambil menikmati makanan ringan dan duduk bersantai seraya menikmati hembusan sejuk angin laut di atas pelantar, Anda pun bisa sekaligus membagi makanan kecil tersebut dengan ikan-ikan yang ada dibawahnya. Tapi ingat, makanan yang mengakibatkan sampa dilarang dibawa ke pelantar bila Anda tidak bisa menjaga kebersihan.
Saking jernihnya air laut, saat saya dan teman-teman mengunjungi tempat wisata yang masih asri ini, bisa terlihat dengan jelas binatang-binatang kecil yang hidup di laut, diantaranya beragam ikan, ubur- ubur, dan lintah laut.
Tempat ini, juga cocok sebagai tujuan rekreasi akhir pekan. Anda beserta keluarga atau rekan dan sahabat, bisa bermalam dengan menggunakan sebuah tenda atau menginap di cottage yang tersedia. Sewanya tidaklah begitu mahal. Satu malam setiap orang hanya dikenakan biaya Rp 30 ribu. Dengan uang tersebut, Anda sudah bisa memilihi menginap di tenda atau di cottage. Bila menginginkan perapian di malam hari, api unggun pun telah disiapkan pengelola. Di siang hari, Anda juga bisa bermain ke pulau seberang yang memiliki pantai berpasir putih.
Dari Batam menuju Galang Baru, memerlukan waktu sekitar satu jam bila berkendara dengan mobil pribadi atau taxi. Tetapi bila berkendara dengan sepeda motor, akan memakan waktu sekitar 1,5 jam.
Jika Anda berniat berangkat dengan menggunakan sepeda motor jenis bebek, ada baiknya membawa cadangan bahan bakar sekitar dua liter di dalam jerigen. Sebab, bahan bakar yang terisi penuh di dalam tangki kendaraan tidak akan cukup untuk pergi dan pulang. Di sepanjang jalan, sangat jarang didapati kedai yang menjual bahan bakar.
Tapi jika menggunakan motor sport, satu tangki bahan bakar motor mencukupi untuk perjalanan pergi dan pulang dari Batam ke Galang Baru. (sri murni)

Sembulang, Deru Ombaknya Tak Terlupakan

JARAKNYA hanya 75 km dari Kota Batam. Dengan kecepatan 80 km/jam, mobil dapat sampai ke Sembulang dalam waktu satu jam. Desa matahari terbit ini, terletak di pinggir laut Pulau Rempang, Kecamatan Galang. Setiap akhir pekan, tidak sedikit masyarakat Batam yang datang, khusus menikmati keindahan dan kesejukan Pantai Sembulang. Bagi saya, deru ombak Sembulang memiliki kesan tersendiri karena terasa deras di telinga.
Untuk mencapai desa ini, sekarang jalannya sudah sangat mulus karena pemerintah Kota Batam telah melakukan pengaspalan. Tapi sekitar 4 tahun lalu, jika ingin ke Sembulang, kita harus melewati jalan yang tidak beraspal. Bahkan 14 km, kondisi jalan dipenuhi dengan kerikil dan debu. Bahkan, di sepanjang jalan, sepi dari aktivitas penduduk. Hanya terlihat bentangan tanah merah di atas bukit-bukit yang tidak lagi berpohon.
Beberapa rumah kayu berbentuk panggung, berdiri di pinggir jalan. Namun jarak antara satu rumah ke rumah yang lain cukup jauh. Walaupun demikian, kesunyian di perjalanan akan terobati dengan keramahan penduduk dan keindahan desa yang terletak tepat di tepi laut.
Rumah mungil tersusun rapi di kiri dan kanan jalan desa. Jalan di desa ini sudah beraspal halus. Enaknya, Anda bisa menikmati makanan tradisional melayu yang banyak dijual masyarakat tempatan.

Pantai Telunjuk Pasirnya Selalu Bergerak

MENCAPAI Pantai Telunjuk, memang memerlukan tenaga ekstra. Sebab pantai ini terletak di Pulau Telunjuk, satu pulau yang berjarang kurang lebih 45 menit naik pancung dari Desa Rempang Cate Jembatan Empat Barelang.
Pasir di pantai yang berhadapan dengan Pulau Subangmas ini, memang putih dan bersih. Dari kejauhan tampah indah, apalagi turut dihiasi pohon-pohon kelapa. Satu keunikan dari pantai ini adalah pasirnya yang selalu bergerak.
Tidak heran masyarakat setempat menamai Pantai Telunjuk dengan Pantai Pasir Bergerak. Pergerakan yang dimaksud, kadang-kadang pasir di pantai ini terlihat sangat luas dan memanjang ke arah laut, tapi tidak jarang pasir di pantai tampak menyempit, hingga luasnya hanya beberapa meter dari bibir pantai.
Jika dilihat dari arus gelombang, berubahnya pantai pasir pantai lebih dikarenakan pengaruh pasang. Jika air laut sedang pasang surut, maka tampaknya pantai yang meluas. Begitu pula sebalinya.
Namun menurut Alex, seorang warga Pulau Telunjuk, beberapa kali air surut, pasir di pantai tetap kelihatan menyempit dan hilang dari pantai. Setelah air pasang, justru pasir itu kembali terlihat luas.
“Itu makanya kami warga kampung tidak membolehkan siapapun duduk dan bersantai di pasir yang terlalu dekat dengan air laut. Kalau mau duduk santai agak jauh ke darat. Ditakutkan kalau dekat ke laut, nanti pasirnya menghilang dan kita bisa terbawa air laut,”cerita Alex. (sri murni)


 
3 Comments

Posted by on May 30, 2009 in lomba blog batam 2009

 

Berkayak Mengelilingi Pulau di Batam, Seru Abis!!!

Berkayak

Berkayak

Serasa Mengulang Kejayaan Bahari Nenek Moyang

INGIN mencoba serunya mendayung kayak atau kano di laut ? Cobalah objek wisata satu ini, yang tersedia di Batam. Kayaking! Berkayak disini lebih menantang karena rute yang dilalui laut luas, menyeberangi satu pulau ke pulau lain.

Tidak perlu pandai berenang untuk mengikuti olahraga air ini. Sebab, penyedia atraksi wisata ini, Sekilak Adventure dan Komunitas Budaya Bahari, tela menyiapkan semua peralatan berkayak yang sesuai standar internasional.
Life jacket (jaket pelampung) yang disediakan bisa diandalkan. Saat Anda terjatuh dari kayak ke laut, jangan takut akan tenggelam, karena secara otomatis jaket pelampung yang wajib dikenakan sebelum berkayak, akan mengapungkan Anda.
Bahkan jaket ini bisa mengapung sampai dua bulan. Ditambah lagi, setiap Anda berkayak, regu penolong sudah siap sedia mendampingi perjalanan. Regu penolong itu terbagi dua yakni tim yang menggunakan speed boat sehingga secara cepat bisa menolong Anda jika ada masalah, dan tim penolong yang juga menggunakan kayak.
Ratusan orang pemula, yang sebelumnya tidak pernah mendayung, telah mencoba mengikuti ekspedisi kayak dari satu pulau ke pulau lain. Ingat, Batam ini  memiliki 345 pulau. Anda bisa mengelilinginya setiap akhir pekan atau kapanpun Anda inginkan.
Pengalaman menarik itu dirasakan Neli, seorang peserta ekspedisi. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya begitu berhasil melewati gelombang kuat saat berada di bawah Jembatan Satu Barelang.
Walaupun dirinya baru pertama kali mengenal kayak, juga baru pertama kali mendayung, ternyata arus gelombang yang kuat tidak membuatnya gentar apalagi takut. Justru menjadi petualangan yang tidak akan terlupakan.
“Seru banget. Apalagi saat arus kuat di bawah jembatan satu barelang. Meskipun gan bisa berenang tapi rasanya aman-aman saja,” komentar singkat Neli.
Keterampilan berenang, memang bukan menjadi salah satu persyaratan wajib bagi masyarakat yang hendak mengikuti ekspedisi kayak yang dilakukan Sekilak Adventure setiap akhir pekan. Sebab, masing-masing peserta dibekali gengan pelampung yang berstandar internasional. Seandainya pun terjatuh ke laut, pelampung tersebut bisa menahan beban badan dan tetap mengapungkannya ke permukaan.
Kenyamanan dan keamanan peserta bisa dirasakan karena kayak touring yang digunakan adalah jenis double (dua orang satu kayak). Setiap kayaknya terdiri dari satu peserta baru dan satu instruktur. Peserta ditempatkan di depan sedangkan instruktur di belakang. Merekalah yang memegang kendali kemudi kayak dan sekaligus yang akan memberikan pertolongan pertama jika terjadi sesuatu.
Rute-rute pendek yang biasa dilalui para kayakin, adalah star dari Tiawangkang (Jembatan Satu Barelang) ke Pulau Aur, Pulau Panjang, Pulau Bali, dan pulau lain di sekitar Jembangan Barelang.
Pada momen-momen tertentu (satu kali sebulan) ekspedisi biasanya ke pulau yang lebih jauh. Bahkan pada 2007 lalu, para ekspeditor kayak melakukan ekspedisi dari Batam ke Pulau Penyengat. Rombongan berangkat dari Jembatan Empat Barelang sekitar pukul 05.00 WIB dan sampai ke Pulau Penyengat sekitar pukul 16.00 WIB.
Terbanyangkan jauh dan serunya di perjalanan. Apalagi, di tengah perjalanan kami menyinggahi pulau-pulau kecil, salah satunya Pulau Sorek. Disini kita bisa melakukan snorckling melihat indahnya karang dan ikan-ikan di laut. (sri murni)

 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2009 in lomba blog batam 2009

 

Melihat Aktivitas Suku Laut di Batam

Suku Laut

Suku Laut

Anak-Anak Tetap Ingin Menimbah Ilmu Agama

ANDA ingin tahu bagaimana suku asli di Batam ini hidup. Berkunjunglah ke pulau-pulau kecil yang ada di sekitar Batam. Anda pun akan bertemu dengan komunitas masyarakat Suku Laut, salah satu suku tertua yang ada di Batam. Bagaimana kehidupan mereka? Saya membagikan sekelumit cerita tentang aktivitas anak-anak suku laut yang haus pendidikan

ANAK-anak suku laut yang tinggal di pulau-pulau kecil sekitar Batam, ternyata tidak hanya kesulitan mengenyam pendidikan formal. Untuk mendapatkan ilmu agama pun, mereka kesusahan. Guru ngaji yang setiap hari mereka dambakan, tidak kunjung datang.

KETIKA saya bertanya pada Darmawan, apa hal yang paling diinginkannya saat ini? Bocah berusia sembilan tahun itu, tanpa malu-malu dan polos menjawab,”Ingin ngaji lagi.” Loh kok? ternyata keinginannya itu bukanlah tidak berdasar.
Meskipun usianya terbilang sangat belia, tetapi bocah yang hari-harinya akrab disapa Darmi itu sudah bisa merasakan pentingnya ilmu agama. Terlebih lagi, di lingkungannya sekolah, SD 003 Pulau Kubung, penganut agama Islam sangatlah sedikit. Dari sekitar 30-an murid, hanya empat orang yang seaqidah dengannya.
Alhasil, ia selalu merasa iri dengan teman-teman sebayanya yang mendapatkan pelajaran agama saat mata pelajaran agama tiba. “Kalau di sekolah cuma empat orang yang muslim. Semuanya bukan muslim. Jadi kalau pelajaran agama, kami bawa Al Quran sendiri dan gak ada yang ngajari,”ceritanya kepada saya bertandang ke salah satu perkampungan Suku Laut yang ada di Pulau Kubung Kelurahan Ngenang Kecamatan Galang, Kamis pada awal Mei 2008 silam.
Kedatangan saya ke perkampungan tersebut bersama rombongan dari beberapa instansi yang peduli terhadap kehidupan masyarakat Suku Laut yakni Yayasan Hang Tuah, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Batam, Pemuda Muhammadiyah Batam, dan Departemen Agama (Depag) Batam dalam rangka silaturahmi.
Tidak hanya Darmi yang merindukan seorang guru mengaji, tetapi juga belasan anak-anak di Pulau Kubung. Semenjak pemukiman tersebut terbentuk sejak pertengahan 90-an lalu, belum satu pun guru agama Islam mengajar dan berdakwah disana.
Darmi sendiri memperoleh kepandaian membaca kitab suci Al Quran dari sang ayah dan seorang tetangganya bernama Nazri. Sayangnya, Nazri yang berasal dari Selat Panjang sangat jarang berada di rumah karena harus mencari nafkah di luar pulau, tepatnya menjadi buruh bangunan di Batam.
Meskipun Darmi sangat sedikit mendapatkan ilmu agama, namun ia tidak pernah menyia- nyiakan kebisaannya itu yang tergolong langka di Pulau Kubung. Tanpa ragu, hampir setiap hari ia menularkan ilmu membaca Al Quran kepada adiknya, Awi, yang baru berusia lima tahun.
“Kalau aku belajar ngajinya dari abang (Darmi). Aku udah bisa baca Iqra’,”tutur Awi dengan polos. Di perkampungan yang dihuni sekitar 40 kepala keluarga ini, juga tidak terdapat fasilitas rumah ibadah, meskipun hanya berupa Musholah kecil.
Kesulitan mendapatkan guru agama Islam ternyata hampir dialami seluruh warga Suku Laut. Tidak hanya di Pulau Kubung, tetapi juga di Air Mas dan Dapur Arang. Kedua perkampungan terakhir ini letaknya tepat di depan Pulau Ngenang yang menjadi pusat pemerintahan Kelurahan Ngenang.
Di perkampungan Air Mas, sudah terdapat sebuah musholah yang cukup besar. Hanya saja, warga tempatan juga kehilangan guru ngaji. “Sudah tidak tahu berapa orang yang ditugaskan disini. Tapi tidak ada yang bertahan lama. Semuanya pulang ke Batam,”ungkap Ziah, seorang warga Air Mas.
Akibatnya, orang tua warga disana kesulitan harus mencari guru mengaji bagi putra-putri mereka.  “Kalau kami yang tua-tua ini gak bisa membaca Al-Quran. Mana mungkin bisa mengajarkan mengaji anak-anak,”kata wanita berkerudung itu. (sri murni)

 
4 Comments

Posted by on May 30, 2009 in lomba blog batam 2009

 

Hari Buruh Batam Banjir Wisatawan

Raih Keuntungan saat Jiran Holiday

SETIAP tahun, ada fenomena menarik tentang dunia pariwisata Batam. Hari ini terjadi saat perayaan Hari Buruh Sedunia, yang jatuh pada 1 Mei setiap tahunnya. Di beberapa kota di Indonesia, termasuk Batam, demonstrasi para pekerja memang kerap menghiasi hari buruh.
Namun, disisi lain, bagi Batam hari buruh menjadi berkah karena angka kunjungan wisatawan dari luar negeri meningkat, khususnya wisawatan dari Singapura dan Malaysia.

Dari data Pelabuhan Laut Batam Centre, setiap libur hari buruh arus kunjungan wisatawan dari negeri jiran tersebut naik dari rata-rata 500-an orang per hari menjadi 5.000 orang per hari.
Arus datang dan balik dari dan ke Singapura mencapai puncaknya jika hari buruh bertepatan dengan akhir pekan (weekend). Dari pagi hingga malam, pelabuhan internasional terutama Batam Centre dan Harbour Bay, selalu dipadati dengan antrian penumpang kapal. Pada pagi hari sekitar pukul 07.30 WIB, ratusan penumpang kapal yang hendak berangkat dari Batam ke Singapura sudah mulai berdiri antri untuk check in di konter-konter tiket kapal.
Penumpang yang balik pagi hari, rata-rata wisatawan yang sudah datang ke Batam sehari sebelumnya. Atrian panjang tidak hanya terlihat di depan konter tiket kapal dan pintu imigrasi, tapi hampir di setiap sudut pelabuhan tampak wisatawan berdiri berkelompok-kelompok.
Kepadatan pengunjung juga terlihat di setiap kafe dan tempat makan yang ada di pelabuhan. Seraya menunggu kapal, biasanya para wisatawan menghabiskan waktu di cafe-cafe yang ada di pelabuhan. Tentu saja, aktivitas wisatawan ini mendatangkan berkah tersendiri bagi para pedagang. (sri murni)

 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2009 in lomba blog batam 2009

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.